
Pagi buta, aku dan rombongan yang berisi kesembilan putri Daegun dan juga Hyujin melakukan perjalanan menuju Jang Gu yang berada di pusat Daegun.
Kami menaiki 6 kuda dengan membagi setiap kuda oleh dua penunggang, hanya si monster Hyujin yang menunggangi kudanya seorang diri.
Hmm... sebenarnya aku juga ingin menunggangi kuda sendirian, jika berdua seperti saat ini, rasanya agak sempit ya walaupun Ji-hyeon tidak memakan ruang yang banyak.
Mengapa tidak menggunakan sihirnya Sazhawa agar kita bisa langsung sampai disana?
Mungkin bayangan kalian terlalu jauh jika menganggap Sazhawa sehebat itu. Memang ku akui dia memiliki ilmu sihir yang luar biasa yang bisa berpindah tempat sesuai keinginannya. Tetapi kekurangan dari sihirnya yang pertama, dia sering kehabisan energi untuk mengeluarkan sihir itu, dan yang kedua dia tidak bisa membawa orang dengan jumlah banyak, maksimal hanya 3 orang terhitung dirinya. Hahaha... terlalu lemah.
Dan kalian tahu apa yang akan terjadi jika dia menggunakan sihirnya untuk bolak balik Cho Gu ke Jang Gu? ya! dia akan kehabisan energi dan kelelahan. Tentu saja kedelapan putri lainnya tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan lebih memilih untuk melakukan perjalanan bersama-sama.
Selain menjaga agar energi Sazhawa tetap stabil, mereka juga bisa sembari melihat perkembangan kerajaan mereka. Alasan klasik.
Aku tidak meremehkannya, hanya saja kekuatan sihir seperti miliknya bukankah seharusnya mampu lebih dikembangkan lagi?
Maksudku, Sazhawa memiliki sihir yang keren, jika dia bisa memaksimalkan itu bukankah akan dapat membantu kita dikemudian hari? misalnya disaat penyerangan penguasa sihir hitam datang? karena dari yang kudengar, kekuatan penguasa sihir hitam tidak tertandingi, maka jika nanti kita dalam keadaan genting dan kita tidak dapat melakukan perlawanan, Sazhawa bisa membantu untuk menyelamatkan kami bukan?
Pikiranku selalu berdebat entah itu untuk memperbaiki mereka atau untuk membiarkan mereka sebagaimana adanya.
Hhh... persetan dengan mereka.
Mau bagaimanapun, hanya mereka sendiri yang mampu mengubah milik mereka.
Tinggalkan masalah Sazhawa dan sihirnya. Saat ini aku tengah terkesima dengan alam disekitarku. Betapa tidak, Cho Gu yang terkenal dengan kearifan penduduk dengan perbukitan indahnya mampu memberikan kesan damai dihatiku.
Aku menunggangi Ji-hyeon- maksudku, aku menunggangi kuda bersama Ji-hyeon yang duduk dibelakangku. Dia terus-terusan menjelaskan bagaimana kondisi Cho Gu dan rakyatnya selepas kepergian sang raja.
Meski kadang kala aku hanya menggumam dan mengangguk untuk merespon semua kalimatnya, dia tetap antusias melanjutkan ceritanya.
"Aku selalu berusaha menjaga agar rakyatku tetap stabil, dari kebutuhan pangan mereka hingga tempat tinggal... aku selalu berharap agar mereka tidak terpengaruh oleh isu kutukan penguasa sihir hitam."
Isu kutukan? bukankah rakyat tidak mengetahui apapun tentang mereka?
"Tapi Ji-hyeon, bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa seluruh rakyat yang hidup di Daegun tidak mengetahui tentang kutukan itu?" tanyaku kepadanya dengan sedikit heran.
"Memang benar... tapi kita juga tidak bisa menghilangkan fakta bahwa kehidupan manusia biasa dan para penyihir saling berdampingan, baik itu sihir jahat maupun sihir baik..." jawabnya dengan nada yang berbeda.
"Yang pastinya, diantara mereka sudah banyak yang mengetahui bahwa saat ini kondisi setiap kerajaan di Daegun sedang tidak baik-baik saja... Mau sebodoh apapun seseorang, suatu saat pasti akan menyadari jika sesuatu sedang tidak beres..." aku sedikit terkejut saat kuda yang ditunggangi Na Yeong dan Sazhawa tiba-tiba datang dari belakang. Dia ikut bergabung dalam pembicaraan kami tanpa aba-aba.
"Ditambah dengan pengasingan para raja di keenam kerajaan yang telah berlangsung lama, yaah... meskipun kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keseimbangan kelangsungan hidup, tetap saja, alam akan menentukan takdirnya." sambung Na Yeong dengan wajah santainya.
Jika sebelumnya Ji-hyeon terlihat begitu antusias, kali ini suasana hatinya menurun, sesaat setelah mendengar ucapan Na Yeong. Meskipun dia berada dibelakangku, aku bisa memastikan bahwa saat ini dia sedang tertunduk.
__ADS_1
Tangannya yang mungil mencengkram bajuku erat-erat, berusaha menahan agar emosionalnya dapat ia kendalikan.
Pasti berat menjadi mereka.
"Maafkan aku jika pertanyaanku menyinggung kalian..." aku memalingkan wajahku untuk menatap Na Yeong. Walaupun saat ini dia terlihat tegar, tetapi aku yakin jauh didalam itu, hatinya juga sedang menahan sesuatu.
"Apakah maaf saja cukup? bukankah kamu seharusnya mengecup kami?" Jeong Ra yang berjalan didepan kami memperlambat kudanya, menyambut perkataan maafku dengan balasan yang unik.
Dia tentu hanya ingin mempermalukanku. Aku juga sudah terbiasa dengan mulut absurdnya.
"Jangan bilang kamu sangat ingin merasakan bibir kotor orang idiot itu, Jeong Ra?" Chaeyun memukul bahu Jeong Ra dengan main-main dari belakangnya.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat tingkah mereka.
Sementara Chu Yi yang berbagi kuda bersama Dayeon beriringan dengan Hyujin di barisan paling depan. Mereka sepertinya tengah membicarakan sesuatu juga, sama seperti kami. Lebih tepatnya Dayeon dan Hyujin yang lancar mengobrol, karena dari yang kulihat, Chu Yi lebih banyak terdiam.
Perlahan aku sedikit melirik Mizhawa yang tengah menunggangi kudanya bersama dengan Mozhawa. Dia tidak memberikan respon apapun dengan kalimat Jeong Ra dan hanya memfokuskan pandangannya kedepan.
Sejauh ini, kami belum mengatakan apapun tentang kejadian di danau malam itu kepada mereka. Itulah salah satu alasan yang masih membuatku gelisah.
"Lalu..., mengapa kalian masih membiarkan penyihir ilmu hitam tetap hidup berdampingan dengan kalian? bukankah seharusnya kalian mengusir mereka?"
Aku kembali mengalihkan pembicaraan absurd Jeong Ra.
"Tapi... bukankah dahulu para penyihir ilmu hitam sempat melanggar janji, seperti yang telah kamu ceritakan?"
Matahari telah menyapa dari ufuk Timur, memberikan kesan segar di penghujung musim gugur. Kami masih tetap menunggangi kuda dengan perlahan dalam perjalanan.
Rakyat Cho Gu telah menyebar melakukan aktivitas mereka, dan sepertinya tidak ada diantara rakyat Cho Gu yang menyadari bahwa Ji-hyeon, ratu Cho Gu, sedang berada di tengah-tengah mereka saat ini.
Itu hal yang wajar, karena hanya orang-orang tertentulah yang bisa memiliki keberuntungan untuk mengetahui bagaimana wajah asli para penduduk istana. Karena dahulu akupun sama sekali tidak tahu jika Chaeyun juga putri dari Sun Gu.
"Mereka memang sempat melakukan keonaran, tetapi aku yakin itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Pasti terdapat kesalahpahaman yang memantik percikan permusuhan itu..." terdengar seperti Ji-hyeon juga sedang bertanya kepada dirinya sendiri.
Mungkin jika peristiwa 3000 abad itu tidak terjadi, maka saat ini Daegun menjadi negara paling tersohor di seluruh jagat raya.
"Tapi bukankah kita tidak seharusnya mempercayai mereka? maksudku, dari awal mereka tetaplah penyihir ilmu hitam yang selalu menginginkan hal-hal yang bukan milik mereka?"
Mungkin aku terdengar tidak terima dengan kenyataan yang ada. Tapi bukankah itu yang sebenarnya terjadi? mereka tetaplah buruk, jadi untuk apa menyisakan tempat untuk kejahatan? benar-benar diluar nalar.
"Dahulu, hampir seluruh wilayah Daegun berisi penyihir ilmu hitam... Kamu ingin tahu mengapa?" tanya Na Yeong yang kembali tertarik dengan topik percakapan.
Sementara itu Sazhawa tetap membungkam mulutnya, sedikitpun tidak tertarik dengan pembahasan kami. Aku berpikir bahwa dia masih belum memaafkanku karena tidak sengaja mencelakainya.
__ADS_1
"Memangnya apa yang terjadi?" aku benar-benar penasaran dengan cerita Daegun yang menyimpan begitu banyak misteri ini.
"Itu karena populasi dari manusia biasa semakin berkurang sedangkan penyihir baik--"
"BAMMMMM!!!"
Belum sempat Na Yeong melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang begitu dahsyat dari sebrang desa yang sedang kami lewati. Membuat kami terkejut dan menatap arah datangnya suara itu.
Kepulan asap hitam terlihat usai ledakan, membuat kami kembali waspada.
"Jika ledakan dari sebrang desa itu bisa terdengar hingga kesini. Itu pasti bukan sihir biasa!" Jeong Ra mengatakan sesuatu yang sama dengan pikiranku.
Terlihat yang lainnya mengangguk lalu kami memacu kuda-kuda yang tengah kami tunggangi dengan kecepatan maksimum menuju lokasi terjadinya ledakan.
--
Sesampainya di lokasi, kami semakin dibuat merinding melihat sebuah desa yang telah hancur berserakan. Tidak ada api yang membakarnya, tetapi semuanya telah hangus menjadi arang.
Bagaimana mungkin itu terjadi?
Kami turun dari kuda di tengah-tengah desa yang hangus.
Hawa panas masih terasa, tetapi anehnya tidak ada sedikitpun api yang menyala. Bahkan untuk waktu tempuh yang kami lewatipun tidak begitu lama dari ledakan yang sebelumnya kami dengar.
"Tidak ada api yang membakar disini, tetapi semuanya hangus menjadi arang...! sihir apa ini?" tanya Chaeyun yang mendekati salah satu rumah kayu yang telah hancur dan hangus.
Itulah yang saat ini aku pikirkan. Tidak, tidak hanya aku, tetapi mereka juga tengah bingung dengan situasi yang ada.
Sebelumnya aku berpikir bahwa sihir ini hampir sama seperti sihir api Chaeyun, tetapi bahkan Chaeyun sendiri mempertanyakan hal yang sedang dilihatnya.
"Hanya satu untuk membuktikannya, kita harus mencari warga desa yang tinggal disini" ucap Ji-hyeon dengan wajah seriusnya.
"Bukankah itu konyol? bagaimana seseorang masih tersisa dalam kondisi seperti ini?" lagi-lagi, hanya Mizhawa yang berani mengeluarkan kalimat kematiannya itu.
"Kita harus mencari yang tersisa. Kita harus menyusuri seluruh tempat yang ada di desa ini, siapa tahu terdapat seseorang yang masih selamat!" bantah Sazhawa yang terlihat kesal dengan pertanyaan Mizhawa.
Mizhawa hanya membalasnya dengan memutarkan bola matanya, pertanda malas berdebat.
"Sazhawa benar, kita harus berpencar untuk menemukan petunjuk..." Chu Yi yang sedari tadi terdiam akhirnya turut memberikan pendapatnya.
Dari yang kulihat, Chu Yi adalah tipe orang yang senang melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu. Itu terlihat menarik.
----
__ADS_1