
Moon Gi Tae POV.
Semua telah disepakati dan ditetapkan, aku akan pergi menuju portal dimensi yang berada di kedalaman hutan perbatasan Cho Gu, ditemani oleh Sazhawa dan juga Na Yeong.
Setelah perencanaan selama dua hari dan juga menerima beberapa penjelasan dari mereka, aku lebih mengetahui gambaran kondisi negri kabut hitam.
Negri itu hanya berisikan istana kabut hitam yang konon berukuran sangat besar dan dipenuhi dengan kegelapan. Belum ada yang bisa masuk ke sana, kecuali orang-orang yang dibawa oleh sang penguasa sihir hitam dan pemuda pemilik sihir pemusnah yang telah hilang berabad lalu.
Aku semakin tidak sabar untuk melihatnya, namun tida bisa kupungkiri bahwa aku juga merasa gugup secara bersamaan.
"Kami berharap semuanya berjalan sesuai dengan rencana..." Ji-hyeon membelai lenganku dan menatapku dengan mata sendunya.
"Aku akan berusaha mendengarkan semua nasihat dan arahanmu... aku berjanji tidak akan mengecewakanmu." Aku menunduk untuk membalas tatapannya dengan senyum terbaikku.
Di antara yang lainnya, bagiku Ji-hyeon adalah putri yang ambisius. Terkadang dorongan darinya jugalah yang membuatku terpicu untuk dapat melakukan yang terbaik untuk mereka.
Hatiku selalu merasa damai ketika Ji-hyeon mengkhawatirkanku, maksudku itu pertanda dia sangat peduli padaku bukan. Tidak lama kemudian dia memelukku dengan hangat dan penuh kasih sayang, bagaimana aku tidak luluh dengan perlakuannya kepadaku yang seperti itu.
Lalu aku bergeser ke sebelahnya, dan saat ini aku tengah berhadapan dengan Mozhawa, gadis penyayang dan penuh kepedulian.
"Aku tidak dapat memberikanmu apa-apa, tetapi aku selalu berdoa kepada sang dewa agar perjalanan kalian berhasil..." setelah mengungkapkan perasaannya, Mozhawa memelukku dengan erat dan hangat.
"Aku sangat berterimakasih kepadamu, tolong jaga dirimu baik-baik" balasku kepadanya sembari memeluknya erat.
"Cepatlah laksanakan tugasmu dan segera kembali, agar aku bisa menggodamu lagi...!" kali ini aku bergeser dan berhadapan dengan Jeong Ra. Dia memelukku dengan penuh suka cita.
Dari semua putri, Jeong Ra yang terlihat begitu menonjol dengan kemampuan bela dirinya. Dia adalah sosok yang rela berjuang demi keselamatan rekannya. Aku penasaran, bagaimana dia melalui masa kecilnya hingga dapat tumbuh menjadi gadis yang tidak hanya cantik, tetapi juga berkemampuan luar biasa.
"Tenanglah... sepulang dari negri kabut hitam kau akan puas mengejekku...!" balasku dengan penuh main-main.
Senyuman kecil terpampang dibibirnya dengan mata yang menyipit seperti tidak sedang melihat.
Lalu aku bergeser menuju Chu Yi, si gadis pendiam. Belakangan aku menyadari bahwa sebenarnya dia bukanlah pendiam, tetapi dia lebih mendahulukan orang lain untuk mengeluarkan pendapat mereka sembari mengamatinya. Dia memiliki tekniknya sendiri, dan itu adalah salah satu hal yang menarik darinya.
Aku terdiam dan menaikkan salah satu alisku saat dia hanya menatapku dengan mata dinginnya yang sebenarnya hangat.
"Tidakkah kau ingin menyampaikan sesuatu padaku?" aku bertanya padanya untuk memastikan, membuat lainnya ikut menatap Chu Yi.
"Ini bukan akhir dari pertemuan kita, jadi tidak ada yang perlu disampaikan..." jawabnya singkat. Membuatku mengangguk dan tersenyum dengan paksa kepadanya.
Bukan berarti aku tidak menyetujui perkataan Chu Yi, tetapi aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa kembali kepada mereka.
Dari yang ku dengar, dengan adanya energi dari kegelapan yang ada ditubuhku, aku bisa saja lupa diri, tidak sadar dengan tujuan utamaku. Aku hanya berharap semua berjalan sesuai rencana kami.
Chu Yi tidak segera memelukku, hingga aku berinisiatif untuk memeluknya terlebih dahulu.
"Kamu sudah banyak kemajuan, Gi Tae... aku senang melihat perkembanganmu..." Dayeon dengan senyum indahnya mengekspresikan sanjungan kepadaku.
"Semua ini berkatmu juga... tolong jaga diri baik-baik, Dayeon" aku membalas pelukan Dayeon dengan hangat.
Aku beralih ke Chaeyun, dia adalah yang terpendek dari kedelapan putri lainnya. Tetapi justru itu yang membuatnya terlihat menggemaskan. Dengan tinggi hanya sebatas dibawah ketiakku, akupun langsung memeluknya untuk bermain-main.
"Yah!! Oy!! lepaskan aku!" Chaeyun memberontak dari pelukanku yang sangat erat kepadanya.
"BUUUKKK!! BAKKK!!!"
Dengan segala upaya dia berusaha untuk dapat terlepas dariku. Memukuli dan mendorongku, namun pelukanku justru semakin menguat.
__ADS_1
"Ahahaha...! lihatlah betapa menggemaskannya dirimu, Chaeyun...! bahkan aku bisa memasukkanmu kedalam sakuku...!" Godaku yang menahan pemberontakannya.
Meskipun tidak melihat ekspresi para putri satu persatu, tetapi dapat kupastikan bahwa saat ini mereka hanya menggelengkan kepala padaku.
"Apakah kamu lupa aku ini seorang putri...!"
Sial, dia selalu memakai kartu tersembunyinya.
"Baiklah-baiklah....! hhhh..." aku menghela napas karena lelah tertawa.
Akupun melepaskannya dari cengkraman ku.
"Tadinya aku ingin menyampaikan simpatiku, tetapi melihatmu memperlakukanku barusan... aku jadi ingin membunuhmu...!" dia jelas teramat kesal kepadaku.
"Jika aku menghilang, maka kutukanmu juga tidak akan terselesaikan..."
"Persetan...!"
Setelah wajahnya memerah, dia segera berjalan menjauhiku dengan kesal.
Hendak pergi kemana dia?
Kini aku berhadapan dengan Mizhawa, gadis dingin dan tanpa ampun. Dia hanya terdiam menatapku.
Terkadang sifatnya hampir mirip dengan Chu Yi, tetapi menurutku Chu Yi masih memiliki empati.
Aku yakin tanpa mengatakan apapun, dia sudah mengetahui apa yang aku pikirkan. Tetapi itu tidak adil, aku bahkan tidak mengetahui apa yang tengah dia pikirkan.
"Pergilah dan kembali dengan kabar baik." kalimat yang singkat itu terkesan sangat dingin bagi siapapun yang mendengarnya. Tetapi aku? huhhh... aku sudah terbiasa dengan semua itu.
Tanpa mengatakan apapun, aku langsung menariknya kedalam dekapanku. Aku rasa kalimat saja tidak akan cukup untuk menyampaikan kekesalanku kepadanya.
Akupun tidak dapat memilih. Aku hanya manusia yang terlahir dengan kutukan dan energi dari ilmu hitam, yang ditakdirkan untuk menghancurkan Daegun. Mereka adalah para putri, penerus kekuasaan Daegun.
Aku hanya akan membantu mereka hingga Daegun dan isinya menjadi kembali tentram.
"Gi Tae, apakah perpisahannya masih lama?" terdengar Na Yeong memanggilku.
"Ohh... ya, maafkan aku..."
Seiring dengan kulepasnya pelukanku kepada Mizhawa, aku menatapnya untuk yang terakhir dan berpamitan kepada mereka.
Aku tidak dapat mengatakan lagi, betapa beruntungnya pria bodoh sepertiku ini, yang bisa berdampingan dan mendapatkan keyakinan dari kesembilan putri Daegun.
Aku berjanji akan kembali kepada kalian...
--
"Apa kamu bilang!! hentikan spekulasi ngawurmu!"
"Tapi itu benarkan, Sazha?! kamu dan Gi Tae-"
Dari kejauhan aku mendengar Sazhawa dan Na Yeong saling berteriak dengan marah.
"Apalagi yang mereka perdebatkan kali ini... hhhh" aku segera berlari menghampiri keduanya.
"Kalau kamu tidak bisa menghentikannya, maka aku akan-"
__ADS_1
"Ada apa Sazhawa?" tanyaku setelah berjarak beberapa meter dari mereka.
"Gi Tae..." aku melihat keduanya memanggilku secara bersamaan.
"Aku hanya meninggalkan kalian sebentar saja, tapi ini yang kalian lakukan?"
Apakah aku berhak memarahi mereka? tentu saja, karena mereka saling berteriak dengan suara lantang hingga mengganggu ketenangan hutan.
"Na Yeong memulainya duluan...!" Sazhawa terlihat tidak terima saat aku menyalahkan mereka berdua.
"Kamu tidak mau mengatakannya dengan jujur!" Na Yeong ikut terbawa suasana dan menyalahkan Sazhawa.
"Apakah kalian lupa tujuan utama kita? memangnya masalah apa lagi ini, hingga aku yang berada di sungai saja dapat mendengar suara kalian dengan jelas?" tanyaku dengan suara yang berat karena menahan emosiku.
Tetapi keduanya justru terdiam, hingga membuatku berulang kali mengerutkan alisku saat menatapi mereka secara bergantian.
"Adakah yang bisa menjelaskannya? mengapa kalian terdiam?!" aku mulai tidak sabar dengan mereka.
"Jadi-"
"Uh... itu bukan apa-apa, Gi Tae. Apakah kamu sudah selesai? mari kita lanjutkan perjalanan, sepertinya kita sudah berada di sekitar portal..."
Saat Na Yeong ingin menjelaskan, tiba-tiba Sazhawa menyerobot dan memotong pembicaraan, membuatku semakin penasaran.
Tapi ya, mungkin itu tidak sepenting yang terlihat. Bahkan aku tidak heran jika mereka berdua nantinya bukan hanya beradu argumen, tetapi juga beradu tenaga. Semua orang tahu bahwa Na Yeong dan Sazhawa adalah dua gadis yang jarang akur.
Aku hanya membiarkan masalah ini terselip begitu saja dan mengikuti perkataan Sazhawa.
"Jauh-jauh kami mencari, akhirnya kau sendiri yang mendatangi...!"
Saat hendak melanjutkan perjalanan, kami dikejutkan dengan kedatangan segerombolan mahluk aneh dengan kepala menyerupai binatang tetapi bertubuh layaknya manusia.
Ah... ini pasti karena pertengkaran mereka berdua!
"Binatang apakah mereka?! ini kali pertama aku melihatnya!" dengan nada panik dan ngeriku, aku bertanya kepada kedua putri yang ada di sisi kiri kananku.
Aku juga dapat mendengar degup jantung mereka yang ikut terkejut dengan kunjungan tiba-tiba ini.
"Mereka adalah orang-orangnya penguasa sihir hitam. Mahluk yang tidak boleh mati dan tidak layak hidup...!" aku mendengar Na Yeong mengatakan hal yang mengejutkan padaku.
Tentu aku pernah mendengar tentang mereka, itupun dari para putri sebelum kami melakukan perjalanan kemari. Tetapi tidak pernah terbayang olehku, bahwa mereka akan terlihat semengerikan ini.
Mahluk yang berjumlah 5 orang itu menyeringai kejam kearah kami. Mereka memiliki wujud kepala babi, kijang, anjing, kambing dan juga kerbau.
"Ku kira kutukanku yang paling mengerikan, ternyata mereka lebih dari sekedar mengerikan...!" gumamku dengan horor.
"Berhenti berdiskusi! akan kuserahkan kau kepada raja kami!" aku melihat si kepala babi mengisyaratkan temannya untuk menyerang kami.
"Slinggg...."
Aku mengatur posisiku dan mengeluarkan pedangku dari sarungnya. Begitu pula dengan kedua putri, mereka melakukan hal yang sama.
"Ingat, jangan mati!" aku mendengar Sazhawa mengatakan itu kepadaku dengan bersungguh-sungguh sebelum melakukan perlawanan.
"Aku tidak akan mati! tidak sampai saatnya aku menyelesaikan tugasku kepada kalian...!" aku bergumam dan langsung melawan si kepala babi yang sedari tadi mengincar ku.
"HIYAAAAAAAK!!!"
__ADS_1