
Usai sarapan bersama para putri melakukan pertemuan di sebuah ruangan khusus untuk berdiskusi. Aku sebagai manusia yang tahu diri tentu saja mengundurkan diri untuk sekedar beristirahat sejenak di ruangan yang disiapkan khusus untukku.
Padahal sebelumnya terasa begitu melelahkan, tetapi saat berada di kamar yang cukup lenggang ini justru aku merasa kesepian dan tentunya tidak bisa beristirahat dengan tenang. Aku tidak perlu mengingatkan beberapa faktor yang membuatku seperti itu, yang pasti tingkat keamanan yang tinggi di sebuah kerajaan justru membuatku merasakan bahwa itu adalah tempat yang paling tidak aman untukku.
Saat aku tengah duduk di pinggiran ranjang tidur, terdengar suara dari pintu yang terbuka memanggilku.
"Hey Gi Sung!" itu adalah Sazhawa, dia menghampiriku dengan wajah penuh senyum ceria.
Hal itu spontan membuatku berdiri menyambutnya dan ikut tersenyum.
"Apa yang membawamu kemari putri Sazha?" tanyaku keheranan kepadanya. Bukan aku tidak suka, aku justru senang bisa memiliki waktu lagi dengannya, tetapi bukankah mereka sedang melakukan diskusi penting, lalu mengapa Sazhawa ada disini.
"Kamu tidak senang dengan kedatanganku?" Sazhawa bertanya dengan wajah cemberut. Sekarang aku merasa tidak enak dengannya.
"Uh, bukan begitu putri, maksudku... bukankah kalian sedang ada pertemuan?" aku mencoba terdengar lebih sopan kepadanya dengan bertanya dengan sangat berhati-hati.
"Jangan panggil aku putri, panggil aku seperti mereka memanggilku, cukup Sazhawa saja, maukah kamu?" dia mengangkat kedua alisnya dengan diiringi senyum tipis dibibir manisnya.
"Aku takut jika itu terdengar kurang sopan" aku menggaruk tengkukku dengan canggung.
"Kamu datang kembali bersama teman-temanku, tandanya kamu juga salah satu dari mereka, dan... hmmhh" dia menghela napas yang terdengar agak kecewa "aku tidak sempat berbicara lebih kepadamu kemarin, jadi aku menyelinap pergi dari pertemuan dan berniat untuk membawamu berjalan-jalan sekitar istana, karena tadi aku melihat bahwa wajahmu merasa tidak nyaman disini."
Sekarang aku merasa bersalah karena meninggalkannya tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadanya, mengingat secara teknis dia telah membantuku sebelumnya.
Aku melihat, dia sangat perhatian baik itu kepada keluarga, teman, atau bahkan aku orang asing yang baru saja dikenalnya, terlebih aku berbohong kepadanya bahwa namaku Gi Sung. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku, yang pasti aku berharap bahwa semua kebohongan ini bisa aku selesaikan dengan baik.
"Kamu orang yang tulus put- maksudku Sazha, aku bersyukur bisa berjumpa denganmu" tanpa sadar, aku memberikan dia senyuman yang tulus dari dasar hatiku.
"Berhentilah tersenyum seperti itu, kamu membuatku berdegup kencang... oh dewa, aku tidak boleh hilang kendali, jika tidak aku bisa-" Sazha tiba-tiba terhenti dari kalimatnya dan melebarkan matanya menatapku seperti seseorang yang tengah kaget.
Dia bisa dengan mudahnya mengatakan itu, apakah dia tidak memikirkan efek yang dia berikan kepadaku.
"Bisa apa Sazha??" tanyaku keheranan. Jelas dia tadi hendak melanjutkan sesuatu tetapi terhenti, apa yang terjadi padanya.
"Oh bukan, aku hampir mengatakan yang tidak-tidak heheh..." sambungnya terkekeh canggung.
"baiklah..." aku mengangguk perlahan dengan tatapan curiga kepadanya.
--
"Jadi ini adalah balai pertemuan yang digunakan oleh kerajaan untuk sekedar bersantai dengan tamu penting istana" Sazha menunjuk ke sebuah bangunan dihadapan kami dengan ceria.
__ADS_1
Tidak kusangka, senyumannya bisa membuatku menjadi lebih tenang. Bahkan semalam hanya wajahnya yang tergambar di langit diantara bintang.
Dia telah menjelaskan satu persatu tempat-tempat yang telah kita kunjungi di sudut-sudut istana. Mungkin tidak semua, karena istana ini cukup besar dan aku cukup menyadari bahwa aku masihlah orang asing.
"Itu terlihat begitu keren dan nyaman" ucapku sembari menatap kagum bangunan dihadapan kami.
"Kamu mau mencoba kesana?" ajak Sazhawa
"Uhmm tapi aku bukan tamu penting dari sebuah kerajaan" ucapku sambil meringis canggung kepadanya.
"Shh!" Sazhawa mendesis dan spontan menarikku menuju balai pertemuan.
Sesampainya di balai pertemuan, aku benar-benar takjub. Bangunan yang hanya terdiri dari pilar-pilar kayu besar dengan cat merah tanpa dinding penutup dan dengan pemandangan yang langsung menuju taman dan kolam istana benar-benar tampak mengagumkan. Tidak hanya itu, suara gemericik aliran air yang jatuh ke kolam dan kicau burung liar di sekitar pepohonan menambah suasana damai diseluruh tubuhku. Aku benar-benar bisa merasakan relaksasi alam, seperti saat aku berada di danau dekat dengan hutan di Sungujeon. Tapi ini jauh lebih hangat.
"Hey! kamu melamun lagi, apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?"
Sazhawa membangunkanku dari khayalan. Tentu aku tidak kaget jika aku merasa rindu rumah saat ini. Ini semua seperti mimpi bagiku, bertemu dengan para putri dari Daegun dan berdiri disini mengobrol lepas dengan seorang putri yang cantik dan tulus, terlebih dari kerajaan sekelas Hira.
"Oh, bukan apa-apa Sazhawa, aku hanya teringat sesuatu" ucapku dengan tenang untuk menghilangkan kekhawatirannya.
"Hmm... biar kutebak" dia berpikir sesaat, lalu hal selanjutnya dia benar-benar hilang akal "kamu pasti teringat dengan kekasihmu bukan?" dia bertanya dengan penuh main-main.
"Uh-oh! bukan, bukan itu!" sambungku dengan gugup "aku- aku tidak memiliki itu..." bagaimana bisa dia memikirkan hal itu, sedangkan aku sama sekali belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki kekasih.
Aku benar-benar bisa jatuh hati kepadanya jika dia terus-terusan seperti ini.
"Oh kalian disini rupanya"
Obrolan kami terpotong saat mendengar suara Na Yeong dari luar bangunan yang terlihat tengah mencari seseorang.
Na Yeong lalu menghampiri kami dengan sedikit berlari.
"Sazhawa, kamu sedang dicari oleh Mozhawa, katanya ada hal penting yang harus dia sampaikan kepadamu." Na Yeong langsung menyampaikan alasannya mencari Sazha.
"Memangnya ada apa?" Sazhawa terlihat penasaran dengan sesuatu itu.
Akupun ikut penasaran dengan apa yang terjadi. Mungkinkah ini mengenai sikap Mizhawa, atau mungkin tentang diriku? atau tentangku yang tidak memiliki kesan baik dengan Mizha?.
"Aku kurang tahu, kamu bisa menanyakannya sendiri padanya" sambung Na Yeong dengan berkurangnya kesabarannya.
"Ck...! ya baiklah!" Sazha ikut terbawa suasana buruk yang baru saja ditampilkan wajah Na Yeong "Gi Sung, aku pergi dulu, kita sambung lain kali ya" dia mengembalikan senyum di bibirnya dengan mengarahkan pandangannya padaku.
__ADS_1
"Tentu, sampai ketemu lagi" jawabku dengan juga tersenyum tipis kepadanya.
"dan ingat! jangan pernah pergi lagi tanpa seizin ku" Sazha dengan imut mengancamku. Aku tidak tahu haruskah aku takut atau haruskah aku mencubit pipinya, karena saat ini dia terlihat begitu menggemaskan "terlebih lagi kamu Na Yeong! jangan pernah menyuruhnya untuk keluar dari istana ini lagi!" dia mengarahkan pandangannya ke Na Yeong dengan kesal.
Eh, sejak kapan aku bertemu dengan Na Yeong, setahuku ini kali pertama aku bertemu dengannya.
Sazha meninggalkan kami berdua dengan tidak lupa menatap Na Yeong dengan mengarahkan jari telunjuk dan tengah ke matanya lalu ke mata Na Yeong seraya mengancam.
Aku tersenyum dan menggelengkan kepala kepada tingkahnya, sementara Na Yeong menatap aneh Sazhawa.
Setelah Sazhawa pergi suasana benar-benar sepi senyap. Aku tidak berani membuka pembicaraan kepada Na Yeong, secara ini adalah kali pertama kami berdua berada ditempat yang sama dan hanya dengan aku dan dia.
"Apakah kamu menyukai Sazha?" setelah beberapa saat dia memecahkan keheningan dan tentu saja membuatku terkaget.
Bagaimana mungkin dia bisa berpikiran seperti itu, apakah dia tidak melihat bahwa aku hanya terlihat seperti seorang gelandangan yang baru saja kehilangan rumah dan hanya mengikuti orang lain kesana-kemari. Bagaimana bisa aku menyukai Sazha.
"Apa?! Apakah kamu sungguh-sungguh mengatakannya?" mungkin aku terdengar kurang sopan dengan suara terkejut ku "ma-maksudku- aku tidak mungkin memiliki keberanian untuk menyukai Sazhawa, aku bahkan hanya rakyat rendahan yang kebetulan memiliki keberuntungan untuk mengenalinya" jelasku dengan gugup.
"Benarkah? huh... dengan caramu berbicara, seakan justru kamu mengakuinya, ckckck..." Na Yeong menggelengkan kepalanya dengan menatapku prihatin.
Aku hanya bisa menghela napas sedalam-dalamnya.
"Kamu tahu? tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kamu dipertemukan dengan ketiga putri Hira dan putri dari kerajaan lainnya, bukankah itu suatu kebetulan yang aneh?" tambah Na Yeong dengan mengangkat salah satu alisnya.
Dia menatapku dengan mengharapkan jawaban, tapi sepErti biasa, justru aku malah tenggelam dalam tatapan Na Yeong. Seorang putri dari kerajaan Jang yang teramat jauh, aku bisa bertemu dengannya disini. Dengan kondisinya yang sempurna, maksudku, dia sangat sempurna. Matanya begitu tenang namun menghanyutkan, bibirnya membentuk hati dengan gigi yang terlihat seperti kelinci manis ketika tersenyum. Wajahnya kecil dan tirus, hidungnya mancung dengan keunikannya sendiri. Dia benar-benar menawan.
"Oy! aku memang cantik, tapi tidak bisakah kamu tidak terus terang seperti itu? air liurmu hampir menetes."
"Eh?" aku mengusap bibir bawahku dengan tanganku dan segera mengeceknya, tetapi tidak ada air liur disana.
"Hahaha... aku mengerjaimu, kamu terlihat sangat lucu dan menggemaskan... ahahaha!" dia tertawa terbahak-bahak dengan memegangi perutnya.
Haiss putri satu ini memiliki kepribadian aneh, eh, bukankah jika dipikir lagi mereka semua aneh? entahlah. Tapi satu hal yang tengah mengganjal pikiranku.
"Oh, aku ingin bertanya satu hal padamu putri Na Yeong... seperti yang telah kamu katakan tadi, apakah Mizhawa terkena sihir hitam?"
"Tentang itu..."
Dia terlihat kebingungan untuk mencari jawaban yang kutunggu-tunggu.
__ADS_1
----