Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
45. Siasat Tersembunyi


__ADS_3

Aku mendengar bahwa Hyujin sempat menyampaikan sesuatu sebelum hembusan napas terakhirnya. Dia mendapatkan sebuah penglihatan bahwa penduduk desa Chongsu telah dipindahkan sebelum monster ular membakar desa mereka. Tetapi dia tidak tahu pasti dimana penduduk desa Chongsu itu berada, dia hanya berkata "jeruji besi dengan ukuran besar sedang menahan mereka."


Siapa yang memiliki jeruji besi sebesar itu sehingga semua penduduk desa Chongsu bisa berada di tempat yang sama.


"Aku yakin akan ada penyanderaan penduduk lagi dalam waktu dekat, tetapi siapa yang bisa mengusik monster ular yang tertidur selama ribuan tahun hanya untuk membakar sebuah desa yang telah kosong?" Jeong Ra mengutarakan pendapatnya. Layaknya seorang ahli peperangan, dia mengamati peta Daegun yang terbentang lebar di atas meja di dalam pondok dengan seksama.


Hanya dengan ditemani beberapa cahaya lilin, kami mencoba memecahkan teka teki yang masih berkaitan ini. Di luar hujan terdengar begitu deras namun menenangkan.


Aku memang tidak terlalu ahli dalam membaca taktik, tetapi dapat kupastikan, orang yang menculik penduduk desa Chongsu masih berkaitan dengan orang yang memerintahkan monster ular untuk membuat kekacauan. Sedangkan monster itu kini berhasil melarikan diri, semakin banyak tugas kami kedepannya.


Aku rasa, mereka semua juga memiliki pemikiran yang sama sepertiku.


"Dia pasti orang yang memiliki kuasa besar... monster ular sendiri tidak memiliki tuan, tetapi dia bisa tunduk kepada orang tersebut. Jelas dia memiliki pengaruh besar di kehidupan ini..." Chaeyun turut berkomentar.


Siapa orang yang memiliki pengaruh besar? atau mungkin dia bukan seseorang?


"Apakah kalian memiliki pemikiran yang sama sepertiku? maksudku, mereka masih berkaitan, orang yang berada dibalik penyanderaan penduduk Chongsu dan pembakaran desa..." tanyaku kepada para putri yang menghasilkan anggukkan pelan dan serempak dari mereka "apakah mungkin mereka-- penguasa sihir hitam??" tambahku dengan pandangan tajam kepada mereka.


"Jika memang seperti itu yang terjadi, kita tidak mungkin bisa melawannya...!" seru Chaeyun dengan wajahnya yang kecewa.


Yang lain hanya ikut tertunduk getir jika memang itu faktanya. Mereka bukanlah lawan yang sebanding dengan penguasa kegelapan.


"Permasalahannya bukan itu saat ini, tetapi tujuannya menyandra semua penduduk? apa yang dia inginkan...?!?" tanyaku kepada diriku sendiri. Jujur saja, aku juga tidak tahu apa yang dia rencanakan dengan semua ini.


Daegun tidak memiliki musuh dari negara lain, hanya satu yang paling berkuasa di antara yang lainnya, dan itu adalah ancaman terbesar Daegun. Ya... dia adalah sang penguasa sihir hitam. Tidak mungkin negara lain yang tidak memiliki urusan dengan penguasa sihir hitam membantu kami. Karena mereka tidak ingin terjadi kekacauan juga di negri mereka.


"Apakah mungkin mereka menggunakan penduduk untuk mengancam kita?" Dayeon mengemukakan dugaannya.


"Itu mungkin saja... tetapi sepertinya ancaman kecil bukanlah jalan dia. Aku merasa ada sesuatu yang lebih besar yang dia rencanakan. Mengetahui kita berhasil mengalahkan monster ular, dia pasti menyiapkan hal lain di hadapan kita." Chu Yi dengan pengamatannya berhasil membuatku takjub.


"Apakah kalian memiliki ide untuk disampaikan?" Ji-hyeon terlihat setuju dengan praduga Chu Yi dan Dayeon, begitupula dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Mungkin kita harus mencari tahu dulu apa yang tengah dia rencanakan?" kali ini Sazhawa terlihat berpikir keras dalam menyampaikan pendapatnya.


"Itu benar... tapi kita tidak memiliki akses untuk bisa menuju negri kabut hitam, itu terlalu beresiko..." Ji-hyeon mengungkapkan fakta yang ada.


"Memangnya kenapa? apanya yang beresiko?" jujur saja, aku belum mengetahui banyak tentang penguasa sihir hitam dan negri kabut hitam yang belakangan banyak mereka bicarakan.


"Negri kabut hitam hanya bisa ditempuh oleh jiwa yang memiliki sihir ilmu hitam, dan tempat yang terletak diantara kehidupan dan kematian itu bukanlah tempat yang bisa disinggahi atau diinjak oleh manusia." jelas Ji-hyeon kepadaku.


Sekali lagi, keheningan kembali menghampiri kami, hanya suara gemercik hujan yang terdengar sedikit mereda.


"Tapi aku memiliki ilmu hitam juga di diriku, bukankah itu berarti aku bisa memasukinya?" tanyaku kepada mereka. Tentu saja aku memilikinya, mereka semua juga tahu tentang fakta itu.


"Itu tidak semudah yang kamu bayangkan Gi Tae... udara yang ada di sana tidak bisa untuk di hirup oleh manusia seperti kita... itu tidak akan ada kesempatan bagimu untuk bernapas..." lanjut Mozhawa dengan wajah teduhnya.


"Aku ingin mencobanya... karena tidak ada kesempatan lain, hanya aku yang memiliki kekuatan dari sihir ilmu hitam diantara kita. Mungkin saja ini akan berhasil...!" tegasku kepada mereka. Apalagi yang bisa kita lakukan, kita tidak bisa hanya berdiam saja disini, sementara penguasa sihir hitam dengan leluasanya membuat kekacauan.


"Gi Tae, kita harus memikirkan semuanya matang-matang... ini menyangkut keselamatan bersama..." Ji-hyeon mengungkapkan kekhawatirannya.


"Aku setuju dengan pendapatnya... dia mungkin saja bisa memasukinya karena dalam dirinya mengalir dua energi berbeda. Itu pertanda, separuh dari jiwanya masih menyatu dengan kegelapan..." Mizhawa menyilangkan kedua lengan di atas dadanya dan memberikan pendapatnya dengan acuh tak acuh.


"Mizha--" Mozhawa hendak memarahi adiknya lagi setelah melihat ekspresi ku.


"Mizhawa mungkin saja benar, Mozha" Ji-hyeon mencegah Mozhawa untuk membuka argumen dengan Mizha "siapa disini yang setuju dengan Gi Tae?" dan disinilah, Ji-hyeon mulai membuka pengumpulan suara.


Aku tidak marah kepada Mizha, karena yang dia katakan benar. Separuh dari diriku masihlah bagian dari kegelapan. Aku justru hanya menunduk lemah mendengar kembali fakta itu.


Andai saja aku tidak dilahirkan dengan kutukan ini. Apakah aku bisa memiliki sihir baik yang bisa berguna untuk mereka?


"Kamu justru lebih banyak berguna dengan seperti ini..." Mizhawa menyampaikan hal yang mengagetkanku dengan wajah dinginnya, membuatku menatapnya sekali lagi. Setelah itu dia pergi meninggalkan diskusi.


"Tapi ini masih terlalu beresiko... mungkin kita harus memikirkannya lagi" ucap Dayeon yang terlihat lebih khawatir dari biasanya, mengabaikan kepergian Mizhawa seolah itu hal biasa.

__ADS_1


"Aku pastikan kepadamu, kali ini aku akan lebih berhati-hati..." entah mengapa, setelah mendengar Mizhawa mengatakan hal itu, aku seolah mendapatkan semangat baru. Maksudku, yang dia katakan ada benarnya kan? dengan adanya energi dari sihir ilmu hitam yang bersumber dari kegelapan di dalam diriku, aku jadi memiliki kesempatan untuk mengetahui lebih banyak hal yang tersimpan di dalam kegelapan.


"Gi Tae, jika Hyujin tidak menyelamatkanmu kemarin--"


"Aku akan menemaninya menuju portal kabut hitam." Sazhawa mencegah Dayeon untuk melanjutkan kalimatnya.


Mungkin saja Sazha menjaga agar aku tidak kembali terlarut dalam rasa bersalahku. Aku berterimakasih untuk itu, walaupun sebenarnya aku tidak akan menyalahkan Dayeon karena telah membawa hal itu kembali.


"Jadi apakah ini sudah kesepakatan?" Ji-hyeon menyisir pandangannya kepada para putri yang tersisa.


Mereka hanya bisa menghela napas dalam-dalam dan mengangguk pelan.


Baiklah, inilah saatnya... Negri kabut hitam! aku akan menginjakkan kakiku kesana.


--


POV. Orang Ketiga


Di dalam istana kabut hitam, penguasa sihir hitam tidak dapat melihat perkembangan dari Gi Tae dan rombongannya. Sesuatu menghalangi penglihatannya.


"Aaarrgghhh!!!! Sial! siapa yang berani ikut campur dalam urusanku! siapa yang menghalangi pandanganku!"


Penguasa sihir hitam terus menerus berteriak marah. Kegagalannya dalam melihat situasi Gi Tae membuatnya murka.


Para pengikutnya hanya tertunduk ketakutan saat melihat penguasa mereka murka dan menendang apapun yang ada di dekatnya, termasuk anak buahnya sendiri.


"Cari tahu apa yang mereka lakukan! dan kabarkan kepadaku! aku tidak mau mereka menggagalkan rencanaku! Haaarggggh!!!" dengan kasar dan mata terbelalak, penguasa sihir hitam menunjuk beberapa pengikutnya.


Mereka yang ditunjuk lalu mengangguk dan bergegas pergi untuk menjalankan perintahnya. Mereka tidak ingin menjadi korban amukan dari sang penguasa sihir hitam lagi.


----

__ADS_1


 


__ADS_2