Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
44. Kehangatan Sebuah Rumah


__ADS_3

Sudah tiga hari lamanya aku mengunci diri. Setiap saat mereka akan mengetuk pintu dan memanggilku, dan beberapa hari terakhir hujan semakin sering turun. Aku mulai semakin kelaparan, karena hanya menyelinap untuk makan ketika malam hari saat mereka tertidur. Egoku tidak mau mengalah, aku tetap malu kepada mereka.


"Tok... tok... tok...!" pintuku kembali diketuk.


"Gi Tae, apakah kamu di dalam?! apakah kamu terluka lagi? kami diberitahu tiga hari lalu bahwa kamu sudah sembuh! apa yang terjadi?!" aku mendengar suara Sazhawa yang tidak sabar untuk mendengar jawabanku dari balik pintu.


"Apakah aku harus keluar? nah mungkin tidak... jika aku keluar aku harus memiliki alasan yang tepat!" gumamku kebingungan.


"Gi Tae! kamu melebihi anak perempuan yang sedang ngambek! jadilah laki-laki yang sesungguhnya!" kembali aku mendengar sebuah teriakan yang membuat telingaku terangkat.


Jujur saja, aku sedikit tidak terima dengan ucapan Sazha. Memangnya untuk masalah hati hanya anak gadis saja yang boleh melakukan ini dan itu? walaupun aku laki-laki, aku juga berhak menentukan apakah aku harus mengurung diri atau tidak.


Hingga tanpa aku sadari aku bergegas membuka pintu untuk menghadap Sazhawa dengan wajah kesal.


Namun hal tak terduga terjadi saat aku membuka pintu reyot itu, karena Sazhawa langsung terjatuh dan menimpa tubuhku.


Akibat dari tidak seimbangnya kakiku saat menerima berat tubuhnya, kamipun terjatuh dengan Sazhawa berada diatasku. Kedua telapak tangannya terjepit diantara tubuh kami.


Aku masih memegangi pinggulnya dengan jantung yang berdegup keras, sangat keras hingga telingaku dan mungkin telinganya juga ikut mendengarnya. Begitupula dengan jantungnya, aku merasakan detak jantung kami seirama, berdegup bersamaan hingga menciptakan melodi aneh tetapi menenangkan.


Wajahnya terlalu cantik dengan jarak sedekat ini, bahkan aku bisa merasakan hangat napas yang keluar dari mulutnya yang sedikit terbuka.


Bibirnya tampak sedikit bergetar, lalu saat kulihat sorotnya, matanya bulat dan indah dengan hidung yang sempurna untuknya. Mataku kembali menatap bibirnya, entah mengapa itu seperti mengundangku.


Semakin ku tatap bibirnya, semakin terlihat indah dan menggoda?


Seperti melambai-lambai dan memohon kepadaku untuk segera mengklaimnya.


Apa ini, mengapa aku ingin sekali mengecupnya? apakah ini normal?


"Apa yang kalian lakukan?"


Seketika kami terbangun saat mendengar suara panik dari seseorang.


"Gi Tae, Sazha! kalian sedang apa?!" Na Yeong bergegas menuju ke arah kami.


Benar, dia adalah Na Yeong, gadis cantik yang mengesalkan yang telah mengganggu imajinasiku.

__ADS_1


Tunggu, apakah aku telah berimajinasi terlalu jauh?


Aku melihat Sazhawa gugup dengan pertanyaan Na Yeong barusan.


"Ehmmm... jadi, Na Yeong, aku membuka pintu dan Sazhawa terjatuh tepat kepadaku... Kami tidak melakukan apapun...!" aku dengan tegas menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Meskipun sebenarnya aku juga gugup, tetapi aku bisa menguasai kembali akal sehatku.


Na Yeong menatap kami curiga dan tidak percaya dengan penjelasanku, dia justru kembali bertanya kepada Sazha yang belum sembuh dari momen sebelumnya.


"Benarkah yang dia katakan, Sazha? mengapa wajahmu memerah? apakah terjadi sesuatu diantara kalian?" kecurigaannya semakin menjadi dengan memeriksa kami secara seksama.


"I-- itu-- itu..." Sazhawa terlihat kesulitan dan malah menambah curiga kepada Na Yeong.


"Sazhawa, ayo katakan padanya yang sesungguhnya..." pintaku kepadanya.


"Gi-gi Tae benar..." akhirnya Sazhawa mengatakannya dengan sedikit kesulitan "tidak terjadi apapun kepadaku, maksudku, kami, uh... aku, ya... aku tidak sengaja jatuh diatasnya." terlihat dia menelan ludahnya dengan bersusah payah.


Aku mengangguk setuju dengan penjelasannya dan kembali menatap Na Yeong yang telah menatapku dengan tajam. Sangat tajam hingga membuat jantungku kembali berdegup.


"Walaupun posisi kalian barusan itu mencurigakan, tapi aku akan mencoba untuk mempercayai kalian... dan aku percaya kepadamu Sazha, kamu tidak akan melanggarnya." Na Yeong menyerah dan mengajak kami untuk mengikutinya.


Dan aku menghargai itu, kecuali... saat aku belum mengetahuinya, yaitu yang telah terjadi antara aku dan Mizhawa.


Bahkan hingga saat ini, aku belum memiliki cara untuk menyampaikan hal ini kepada Ji-hyeon ataupun salah satu diantara mereka.


--


"Gi Tae... aku sungguh tidak percaya ini...!" Ji-hyeon menggelengkan kepalanya dengan berdecak keheranan akan sikapku belakangan ini. Bagaimana tidak, dia pasti sedang berpikir bahwa aku ini bocah yang sedikit-sedikit melakukan tindakan bodoh.


Aku hanya bisa tertunduk diam di hadapan mereka. Ya, para putri dari ketujuh kerajaan sedang mengadili ku di pondok mereka. Betapa memalukannya ini.


Apakah hanya aku, pria dewasa yang tunduk kepada sembilan dewi cantik yang terlihat menakutkan ini.


"Mengapa kamu melakukan itu? kamu bukan lagi anak kecil yang merajuk lalu mengunci diri di kamarnya!" Ji-hyeon kembali mengambil kalimat yang semakin mempermalukanku.


Apa yang bisa kulakukan?! melawannya? atau mungkin kabur dari mereka? tidak mungkin ku lakukan lagi. Kalau dipikir-pikir, aku memang labil, ck!.

__ADS_1


"Baguslah kamu sadar!" semua mata tertuju kepada Mizhawa saat dia mengatakan itu kepadaku.


Seakan bertanya, Mizhawa memberikan mereka penjelasan. Sedangkan aku? tetap tertunduk diam.


"Dia merasa malu karena sudah bertingkah bodoh seperti anak kecil! dan lebih parahnya lagi, dia ingin kabur seperti sebelumnya...!" Mizhawa dengan seringai sinisnya menatapku remeh.


Membuatku menatapnya dengan tajam, kekesalan pasti terlihat padaku saat ini. Tapi beberapa yang dia katakan juga ada benarnya. Aku memang berpikir untuk lari.


"Aku tidak akan lari lagi! aku hanya membutuhkan waktu untuk memproses segalanya...!" bantahku tidak terima kepada Mizhawa.


Membuatnya hanya memutar bola matanya dengan malas.


"Jika kamu membutuhkan waktu, kamu bisa mengatakannya kepada kami semua... kau membuat kami khawatir, Gi Tae...!" dengan lembut Mozhawa mengungkapkan kepeduliannya. Aku bisa merasakan ketulusan dari kedua matanya.


Tatapan tulus Mozhawa kembali membuatku menundukkan kepala malu, aku sungguh tidak berhak bersama mereka.


"Aku minta maaf... aku sudah berlebihan kepada kalian..." akhirnya aku memberanikan diri untuk menjelaskannya kepada mereka "aku sangat merasa bersalah atas kepergian Hyujin, dan aku juga nyaris membuat kalian semua terluka... aku tidak seharusnya memaksakan diri untuk mengajak kalian melawan monster ular itu... aku benar-benar menyesal..."


Aku kecewa kepada diriku sendiri, Hyujin adalah orang baik, dia tidak seharusnya pergi secepat ini.


Aku melihat ekspresi mereka melembut, mungkin mereka juga menyesal.


"Disini tidak ada yang bisa kita salahkan... itu sudah menjadi pilihan kita bersama, resiko yang harus kita terima adalah konsekuensi dari pilihan kita..." Dayeon mendekat dan memegang bahuku untuk membuatku kembali tegar "Gi Tae, kamu sudah menjadi bagian dari kami... apapun yang menjadi pilihanmu, itu juga pilihan kami karena kita bersama-sama dalam melakukannya..." tambahnya dengan senyum haru.


"Dayeon benar, Gi Tae... jangan menyimpan semuanya sendirian. Jika kamu sendiri saja, yang sudah mengalahkan monster itu justru merasa bersalah, bagaimana dengan kami yang hanya terdiam melihat pengorbanan kalian berdua?" Jeong Ra turut angkat bicara untuk menghiburku.


"Kalianlah yang mengalahkannya, aku hanya mengambil bagian akhir saja..." sahutku sambil tersenyum kecil kepadanya.


"Bagian kecil yang berdampak besar..?!" tambah Chu Yi dengan menyenggol bahuku tetapi tersenyum setelahnya.


Terimakasih dewa, kau telah mengirimkan mereka untukku.


"Ak-aku..." aku menyayangi kalian... aku ingin mengatakan ini, tetapi terlalu sulit untuk dikeluarkan "aku bersyukur dengan adanya kalian bersamaku..." justru hal lain yang ku katakan.


"Begitupula dengan kami..." Chaeyun tersenyum tipis dan menghampiriku.


Dia memelukku dengan erat, lalu diikuti dengan yang lainnya. Mereka memberikan pelukan hangat layaknya sebuah rumah yang belum pernah kurasakan.

__ADS_1


Aku rasa, aku siap untuk menghadapi apapun yang menghadangku.


 


__ADS_2