Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
39. Monster Penghangus


__ADS_3

Moon Gi Tae POV.


Lelah begitu nampak pada wajah-wajah para putri yang tertidur lelap. Aku tidak bisa menyangkalnya, bahkan kami semua tetaplah manusia bukan.


Namun seseorang diantara mereka masih terjaga. Aku melihat Ji-hyeon duduk termenung sendirian di atas batang kayu besar depan perapian, wajahnya begitu sendu. Aku berniat menghampirinya dan memecah keheningan.


"Sepertinya musim dingin sudah hampir tiba... Udaranya begitu menusuk." gumamku menghampiri Ji-hyeon dengan mengusap-usap kedua tanganku pada masing-masing lengan, agar menciptakan sedikit rasa hangat.


"Mengapa kamu masih terbangun?" tanya Ji-hyeon dengan suara yang begitu lembut. Dia tidak terkejut dengan kedatanganku, sepertinya dia juga mengetahui bahwa aku masih terjaga.


"Seharusnya itu yang kutanyakan padamu... apakah sesuatu mengganggu pikiranmu?"


Sudah jelas bahwa pikirannya tengah terganggu Gi Tae! mengapa masih bertanya.


Yaa... mungkin aku memang sedikit buruk dalam berbasa-basi, tetapi setidaknya aku sudah mencoba.


Ji-hyeon hanya tersenyum kecil melihat wajahku.


Tunggu, apakah ada sesuatu yang lucu? kenapa dia tertawa melihatku?!.


"Duduklah... kamu seperti orang kebingungan.." ucapnya sambil tetap tersenyum kecil.


Sesaat kemudian pandangannya kembali terfokus ke perapian dihadapannya.


Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya, selain menghangatkan, juga agar obrolan kami nantinya tidak mengganggu yang lainnya.


"Apakah kejadian ini begitu mengganggumu?" kembali aku bertanya kepadanya yang tengah fokus menatap perapian.


Terdengar dia menarik napas panjang dengan mata yang berkedip pelan.


"Entahlah... aku merasa buruk menjadi pemimpin untuk rakyatku. Aku belum menemukan titik terang dari peristiwa ini, dan itu sangat menggangguku"


Aku terdiam sejenak untuk menikmati keindahan dihadapan ku. Matanya yang sayu dengan refleksi api didalamnya, sungguh sesuatu yang sulit untuk dilewatkan.


"Jangan menyulitkan dirimu sendiri... kamu sudah melakukan yang terbaik sejauh ini, ratu Ji-hyeon" godaku dengan menyebutkan gelar ratu.


Dia hanya merespon dengan senyuman kecil lalu kembali mengarahkan matanya ke perapian. Entahlah, senyuman itu lama-lama bisa membunuhku.


Aku mengikuti pandangan Ji-hyeon, menatapi perapian dihadapan kami.


Sunyi menyelimuti kami sekali lagi, hanya suara kayu terbakar api yang mengisi keheningan yang terasa nyaman ini.


"Apakah kamu yakin, para abdi istana tidak boleh tahu soal ini?" aku kembali bertanya kepadanya, berharap dia akan merubah pikirannya.


"Tidak Gi Tae... tidak ada yang boleh mengetahui hal ini kecuali kita. Jika mereka tahu, maka kekacauan besar akan terjadi... jadi kita harus menyelesaikan ini bersama tanpa melibatkan pihak istana manapun." jelasnya dengan wajah yang terlihat khawatir.


Ada benarnya yang dia katakan. Jika para menteri dan abdi istana lainnya mengetahui hal ini, mereka pasti akan membahayakan keberadaan para putri. Tidak hanya itu, seluruh Daegun akan kacau mendengar ini. Dan dapat dipastikan, Daegun akan mengalami kehancuran lebih cepat dari waktu yang ditentukan.


Dewa... apakah yang harus aku lakukan...


"Ssshhrrrrkkkkkk..."


Terdengar bunyi dari balik rerimbunan yang memecah keheningan kami. Seperti sesuatu tengah mendesis, hingga membuat kami berdiri seketika.


"Kamu mendengarnya kan?" tanya Ji-hyeon dengan khawatir.


Aku mengangguk dan kembali waspada. Suaranya tidak terlalu keras tetapi dapat kupastikan, itu adalah sosok yang mengerikan. Karena dari bunyinya sendiri dapat membuat siapapun merinding.


Sementara mata Ji-hyeon menyapu seluruh semak yang membatasi camp kami, aku memejamkan mata untuk memusatkan energiku agar dapat merasakan energi dari sosok ini.


"Ji-hyeon, arah jam 14" ucapku setelah mengetahui keberadaan persembunyian sosok tersebut.


Akupun kembali membuka mata dan menatap arah yang kusebutkan.


Jantungku berdegup dengan kencang, menantikan sesuatu muncul dari balik semak. Kulihat di sebelahku Ji-hyeon juga tengah mempersiapkan dirinya, menatap tajam semak-semak rimbun yang berjarak sekitar 12 meter dari kami.


Ji-hyeon mengambil dua buah batu dan menggenggamnya di masing-masing tangannya. Tunggu, apakah dia mau melempari sosok itu dengan batu kecil yang dia genggam?


Oh ternyata bukan... Dia mengeluarkan mantra dan dalam sekejap mata, dua pedang muncul di masing-masing tangannya.


"Pegang ini!" perintahnya sembari mengulurkan salah satu pedang kepadaku.

__ADS_1


Aku mengangguk dan menerima pedang pemberiannya.


"Apakah kita harus membangunkan mereka?" tanyaku merujuk kepada para putri yang sedang tertidur.


"Kita harus memastikan dulu sosok apa itu..." pungkasnya.


"Tapi ini terlalu berbahaya!" bantahku kepada perintahnya.


"Gi Tae, kamu percaya kepadaku kan?"


Hatiku seakan mengkhianati bibirku. Belum lama tadi aku meyakinkannya bahwa dia pantas memerintah, tetapi sekarang aku tidak yakin dengan tindakannya.


"Gi Tae..." kembali dia memanggilku dengan wajah penuh harap.


"Aku percaya kepadamu, Ji-hyeon..." "meskipun belum sepenuhnya" tambahku dalam hati.


Setelah kami cukup lama menunggu, tidak ada satupun sosok yang keluar dari balik semak, lalu kami memutuskan untuk memeriksanya.


Kami melangkahkan kaki secara perlahan. Tubuh dan seluruh kesadaran telah kami persiapkan untuk mencari tahu sosok dibalik belukar.


Setelah tersisa beberapa langkah dari semak, Ji-hyeon mengisyaratkanku untuk memeriksanya, sedangkan dia bersiaga dibelakangku.


Aku sangat membenci ini. Ketika harus melakukan sesuatu yang membahayakan nyawaku. Tetapi apa mau dikata, aku harus melakukannya bukan?.


Aku memegang beberapa rumput tinggi yang menutupi penglihatanku dan perlahan menyibaknya.


"SSSHHRRRRKKKKKK!!! KHIIIIIIIKKK...!!!"


Namun tiba-tiba, kepala seekor monster ular yang teramat besar keluar dari balik semak dan mendesis keras dihadapan ku. Mulutnya yang terbuka lebar dengan lidah bercabang yang menjulur, membuatku terkejut dan jatuh kebelakang.


"AAAHH!!!"


Ji-hyeon yang melihat ini sontak berteriak melengking hingga membangunkan seluruh manusia yang ada di tenda.


Aku mundur dengan bantuan pantat dan kedua kakiku yang menempel di tanah, sembari meneguk ludahku sendiri dengan panik.


Monster ular ini terlihat menyeramkan, dengan mata yang menyala hijau di kepala yang begitu besar dan mirip king kobra. Kulit seperti baja dengan tubuh yang besar dan memanjang.


"Sial!!" aku menyumpahinya dengan rasa takut dan panik.


"Gi Tae! pergi dari sana!" teriak salah satu putri. Aku tidak dapat memfokuskan diriku, sepertinya tadi itu suara Chaeyun, entahlah.


Dan saat ini, monster ular ini tengah berdiri di hadapanku. Siap untuk menyantapku kapan saja.


Saat dia membuka mulutnya lebar-lebar hendak memangsaku, aku hanya menutupi tubuhku dengan lenganku.


Ketakutan bukan lagi kata yang bisa menggambarkan perasaanku. Nyawaku seakan melayang saat mulut monster itu terasa tepat di hadapanku.


Apakah ini akhir dari hidupku?


Sesaat setelah aku bersiap untuk disantap, aku tidak merasakan sesuatu. Lalu aku menyadari, Sazhawa telah membawaku bersamanya. Dia berteleportasi ke arahku dan berpindah ke gerombolan kami dengan waktu yang cepat.


"Apakah kamu bodoh! tidak bisakah kamu menyelamatkan diri?!" bentak Sazhawa setelah menyelamatkanku.


Aku tidak menggubrisnya dan kembali memusatkan perhatianku kepada monster ular tadi.


Namun tidak kusangka dengan yang kusaksikan ini. Hyujin, orang yang selama ini tidak kusukai, berada di tempatku sebelumnya dan sedang menahan serangan monster itu dengan sihirnya. Dia membentuk sebuah kubah sihir dengan kedua tangannya.


Jadi, Sazhawa dan Hyujin menyelamatkanku...


Saat aku hendak berlari ke arah Hyujin, Mizhawa menarik lenganku. Dia tentu tahu apa yang tengah kupikirkan.


"Jangan kesana! kamu tidak akan terselamatkan untuk kedua kalinya!" perintahnya dengan ekspresi mata yang jarang kulihat.


Tapi aku tidak bisa membiarkan Hyujin begitu saja, aku harus membantunya.


Aku mengibaskan tangan Mizhawa dan berlari untuk melakukan serangan kepada Monster ular itu.


"GI TAE!" aku mendengar mereka memanggilku histeris.


Setelah sampai di hadapan monster ular, aku mengumpulkan energiku dan ini terasa berbeda dari energi sihir hitamku sebelumnya.

__ADS_1


Benar, aku masih memiliki energi lain di tubuhku, pasti ini energi biru yang sebelumnya aku gunakan untuk menaklukan Hyujin.


Dan benar saja, gumpalan asap biru muncul di telapak tanganku. Tanpa berpikir panjang, aku mengarahkan energi itu kepada monster ular yang ada di hadapan kami. Dan beruntungnya, seranganku terjadi bersamaan dengan pecahnya kubah perlindungan Hyujin, hingga dia dapat terselamatkan.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku saat membantunya berdiri.


"Yah... terimakasih karena telah menolongku" dia mengangguk kepadaku.


"Aku hanya merasa bersalah, itu saja, jadi jangan harap aku sudah berubah pikiran" ucapku lagi dengan dingin kepadanya.


Walau bagaimanapun, aku tetap belum bisa menerimanya bergabung dalam rombongan kami.


Setelah monster ular kembali mendapatkan fokusnya, dia memekik keras hingga membuat telinga kami berdengung.


"KHIIIKKKKKKK!!"


"Sial! suaranya sangat mengganggu!" gumamku kesal.


Saat aku dan Hyujin tengah bersiap melakukan perlawanan, terlihat sebuah anak panah melesat cepat ke arah tubuh monster ular. Namun sangat disayangkan, anak panah yang dilontarkan Mizhawa tidak bisa menembus kulit baja sang monster.


Justru hal itu membuat monster ular mengalihkan perhatiannya kepada rombongan para putri.


"Mereka dalam bahaya!" aku cepat menyadari hal ini. Monster ular hendak melakukan penyerangan kepada mereka.


"PERGI!!"


Teriakku menyuruh mereka untuk pergi dari sana tepat sebelum ular itu mengeluarkan semburannya. Namun anehnya, itu bukan semburan bisa biasa, melainkan kepulan asap hitam yang terasa panas hingga dapat membakar siapapun yang terkena olehnya.


Beruntungnya para putri telah pergi menjauhi serangan monster ular, menyebabkan serangannya hanya mengenai tenda kami.


Hal berikutnya yang membuat kami merinding ialah, tenda tempat kami berteduh tadi langsung lenyap dan hanya tersisa kayu pilar yang hangus menjadi arang.


"Ini dia..." gumamku lirih menyaksikan kehebatan monster ular itu.


"Teman-teman! kita harus menangkapnya!" pekikku kepada para putri yang telah berpencar sebelumnya.


"Apakah kamu gila?!" teriak Na Yeong dari arah yang berlawanan.


Saat ini, monster ular sedang berada di tengah-tengah kami.


Tapi bagaimana cara menaklukannya? apakah sihirku mampu melakukannya?


Aku kembali memusatkan energiku dan mengumpulkannya pada kedua lenganku. Dari telapak tangan terlihat dua gumpalan cahaya biru yang berputar membentuk bola biru terang.


Aku mengarahkan kedua tanganku kepada monster ular untuk menyerangnya.


Energi itu mengenai tubuhnya, tetapi monster ular itu hanya bergeming di tempatnya.


Energiku tidak memberikan reaksi apapun...


"Lebih baik kita pergi dari sini!" ucap Mozhawa menarik perhatian kami.


Mozhawa ada benarnya, tetapi dengan menangkap monster ini akan dapat memecahkan teka teki desa Chongsu.


Beberapa mengangguk setuju dengannya, tetapi sisanya seperti Ji-hyeon, Chaeyun, Chu Yi dan Jeong Ra sepertinya memiliki pendapat yang berbeda.


"Gi Tae benar, kita harus menangkapnya...!" ucap Ji-hyeon yang setuju dengan pendapatku sebelumnya.


"Ji-hyeon... ini menyangkut keselamatan kita bersama...!" bantah Mozhawa yang lebih menghawatirkan mereka semua.


Aku tidak bisa melihat ini, sementara monster ular kembali memusatkan perhatiannya. Kali ini Dayeon menjadi incarannya.


"Bahaya! Dayeon dalam bahaya!" gerutuku menyaksikan situasi.


"Dayeon, Chaeyun! waspada!" teriak Jeong Ra yang juga menyadari pergerakan sang monster ular.


Tepat setelah Jeong Ra berteriak, monster ular segera bergerak cepat mendekati Dayeon dan siap memangsanya.


Beruntung Dayeon segera membuat dinding es untuk mencegah serangan ular itu. Namun disayangkan, dinding es buatan Dayeon yang tebal dan tinggi itupun juga hancur ditabrak oleh kepala monster ular, hingga membuat kami terkesiap.


Nyawa Dayeon dalam bahaya!

__ADS_1


 


__ADS_2