
"ZRAAKKK!!! SINGGG!!"
Suara pedang kami yang beradu dengan senjata mereka saling berdentang satu sama lain, memecah keheningan hutan. Sesekali aku terkena tendangan si kepala babi yang dengan bengis menyerangku.
"Na Yeong, bisakah kau menolongku?!" aku berteriak kepada Na Yeong yang berada tidak jauh di belakangku selagi aku berusaha menahan sabit raksasa si kepala babi dengan pedangku.
Aku tidak dapat berbohong, kemampuan dari kepala babi diluar batas ku. Aku kewalahan menahan serangannya yang tanpa henti.
"Apakah kau tidak melihat aku melawan dua idiot ini?! kau hanya melawan dia seorang, tapi tidak juga bisa mengalahkannya!" Na Yeong dengan cepat membalasku dan kembali melakukan perlawanan kepada kepala kijang yang bersenjata gada dan kerbau yang bersenjata palu raksasa.
Aku juga melihat Sazhawa tengah sibuk mengatasi si kepala kambing dengan senjata kapaknya dan si kepala anjing yang bersenjata pedang.
Tidak mungkin mereka akan meluangkan waktu untuk membantuku mengatasi kepala babi.
Na Yeong benar, aku hanya melawan si kepala babi, tetapi justru dia yang terlihat paling mengerikan bagiku. Sesekali lidahnya menjulur panjang dan memutar hingga sampai pada seluruh wajahnya. Jujur saja, itu tidak hanya mengerikan tetapi juga menjijikkan.
"Ikutlah dengan kami, maka tidak akan ada yang terluka...!" ucap kepala babi kepadaku yang kembali fokus dengannya.
"Hanya di dalam mimpimu!"
"Hyaaaaakk!!!" aku kembali menyerangnya.
--
Setelah lama bertarung, aku dan kedua putri tidak juga mampu mengalahkan mereka.
"Tenaga mereka seperti tidak terbatas...!" ucap Sazhawa terengah-engah.
Kami tengah bertumpu dengan punggung yang saling beradu di pertengahan, sementara kelima mahluk berkepala binatang mengelilingi kami dengan seringai mereka yang mengerikan.
"Haruskah aku ingatkan lagi ini semua salah siapa?!" Na Yeong terdengar masih kesal dengan penyebab semua ini.
"Apakah maksudmu ini semua salahku!" kembali Sazhawa menaikkan nada bicaranya selagi mengamati para kepala binatang.
Ya! di saat-saat seperti ini mereka masih sempat bertengkar. Aku bahkan muak mendengar pertengkaran mereka.
"Bisakah kalian tidak membahasnya sekarang? kita sedang menghadapi para siluman sialan ini! mengertilah sedikit...!"
Tegurku dengan kesal agar mereka kembali memusatkan perhatian kepada lawan pertarungan.
"Na Yeong yang memulainya!"
"Kamu yang memulainya!"
Terjadi lagi...
__ADS_1
Saat Na Yeong dan Sazhawa tengah sibuk menyalahkan satu sama lain, sebuah serangan tiba-tiba datang dari si kepala kijang, membuatku tersentak dan cepat mengambil tindakan.
Kami menjauh satu sama lain dan kembali mengambil posisi menyerang. Dan sekali lagi, pertarungan berlanjut.
"Energi mereka seperti tak terbatas. Aku harus memikirkan cara...!" gumamku sambil mengamati stamina mereka yang tidak juga menurun setelah sedikit menjauh.
Bahkan pertarungan kami yang sudah berlangsung selama hampir tiga jam tidak juga membuat mereka kelelahan. Justru hal sebaliknya terjadi padaku, Na Yeong dan juga Sazhawa.
Kami harus menyerang mereka sebagai sebuah tim!
Sesaat setelah memperhatikan keadaan, aku akhirnya memiliki pemikiran. Benar, kita harus melawannya secara bersamaan, seperti saat mengalahkan monster ular. Tetapi kali ini, aku harus lebih memperhatikan kemampuan mereka, kedua putri yang ada bersamaku. Selain itu, kami harus menghemat energi, terutama energi Sazhawa.
"Apakah kamu memiliki ide?" Na Yeong menghampiriku dengan terengah-engah sembari menatap para mahluk berkepala aneh itu.
"Hm ya...! Aku rasa kita harus melawan mereka dengan menjadi satu." aku mengangguk meresponnya.
"Menjadi satu? a-apa maksudmu?" terlihat wajah Na Yeong memerah dan gelagapan dalam meresponku. Ah, mungkin dia belum mengerti.
"Ah, itu... jadi kita harus membentuk tim, kamu dan Sazhawa memiliki keahlian bertarung di atasku, maka kalian yang harus memancing mereka terlebih dahulu..." jelasku kepadanya, berharap dia memahami maksudku.
"Maksudmu, kau mau mengorbankan kami lagi??" Na Yeong terlihat seperti tidak senang dengan ideku ini. Aku harus menyampaikan dengan baik agar dia mengerti.
"Apakah ini saat yang tepat untuk kalian bermesraan?!" teriak Sazhawa yang ternyata saat ini tengah menghalau kelima mahluk buas itu.
"Si-siapa yang bermesraan!" Na Yeong terlihat tidak terima dengan ucapan Sazhawa.
Aku melihat Sazhawa yang kewalahan, akhirnya mengundurkan diri dari kerumunan makhluk kepala hewan yang menyerangnya secara brutal. Dia terbang mendekat kepadaku dan Na Yeong.
"Lalu apa ini?! kalian mengorbankan ku sementara berduaan disini, kalian pikir aku buta! Ha!"
Sesampainya Sazhawa dihadapan kami, dia langsung memborbardir kami dengan prasangka konyolnya.
"Berhentilah berkata bodoh, Sazha! ini bukan saatnya untuk bertengkar!" sahut Na Yeong yang lelah dengan sikap Sazhawa.
Di saat seperti ini, bahkan Sazha masih sempat berpikir seperti itu, sungguh menyedihkan.
Sementara, aku melihat geng mahluk berkepala aneh itu sedang menatap kami dengan mulut yang menganga seperti sekelompok iblis yang kelaparan.
"Na Yeong benar, Sazha, kami sedang memikirkan cara... maaf jika aku merepotkanmu..." ujarku kepadanya untuk menghentikan amarahnya.
Sejauh ini, dia adalah sosok yang manis dan menyenangkan bagiku. Tidak disangka, masih banyak sisi lain yang belum aku ketahui darinya, tetapi bukan dari sudut pandang negatif. Dia masih tetap Sazhawa untukku, gadis pertama yang kulihat setelah bangun dari kematian saat itu.
"Lalu apakah kamu menemukan cara?" terlihat amarahnya sedikit mereda. Meskipun masih saling beradu tatapan kesal dengan Na Yeong, dia masih mempedulikan keadaan saat ini.
"Hm, dia menemukan... tetapi masalahnya, dia ingin kita menghadapi mereka, sedangkan dia, entahlah..." Na Yeong dengan acuh menjelaskan apa yang tadi kukatakan padanya.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku..." aku menghembuskan napas dengan lelah kepada mereka berdua.
"Oy!! apakah kalian mau melanjutkan perkelahian, atau mau pacaran bertiga disana?!"
Aku benar-benar terkejut mendengar kepala babi mengatakan itu. Begitu pula dengan kedua gadis di sampingku.
Setelah kupikir lagi, sepertinya mereka bisa diajak untuk bernegosiasi. Karena dari yang kulihat, tubuh mereka memanglah manusia, hanya bagian kepalanya saja yang menyerupai binatang.
Aku terpikirkan sesuatu...
Aku memberanikan diri untuk memulai negosiasi kepada mereka. Sepertinya, kepala babi adalah ketua dari rombongan mereka.
"Dengar! aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian, bisakah kita berbicara?!"
Aku dapat merasakan bahwa saat ini Na Yeong dan Sazhawa yang sedari tadi belum juga berhenti terperangah, kini semakin dibuat heran dengan ucapan ku barusan.
"Hah! setelah berlagak kuat, kau ingin memintaku melepaskanmu? lihatlah betapa sempit isi kepalamu manusia!"
Sial, dia benar. Si kepala babi membuatku tidak sanggup lagi berkata-kata. Tetapi aku tidak akan berhenti sampai disini.
"Kalian pikir itu adil, kalian berlima sedangkan kami hanya bertiga... ditambah lagi, seperti yang kalian lihat... yang bersamaku hanya dua gadis bodoh yang bisanya hanya bertengkar...!" sahutku mencari alasan. Namun siapa sangka, justru perkataanku tadi mengundang kemarahan yang luar biasa dari kedua putri.
"Apa yang kau katakan?!!!" bentak mereka secara serempak.
Aku tidak berpikir dua kali... ini semakin sulit.
"Kalian tenanglah dulu, aku hanya ingin bernegosiasi dengan mereka..." bisikku kepada mereka.
"Tapi mengapa harus mengatakan kami dua gadis bodoh?!" ucap Sazhawa dengan bisik keras kepadaku.
"Maafkan aku, aku tidak memiliki cara lain" pintaku dengan tulus kepada mereka.
Aku harap mereka mengerti
Terlihat kepala babi dan yang lainnya saling menatap, beberapa mengangguk dan lainnya menggelengkan kepala mereka.
Setelah beberapa saat, akhirnya kepala babi maju untuk menuju ke arahku.
Hatiku gemetar, seakan mau copot. Tetapi ini suatu kesempatan bagi kami, aku harus bertahan.
Sazhawa dan Na Yeong sedikit melangkah mundur, khawatir jika terjadi penyerangan dadakan. Sedangkan aku hanya berdiri sambil menghilangkan semua kekhawatiranku.
Aku yakin, dia bisa ku andalkan, setidaknya untuk saat ini.
__ADS_1