Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
48. Lorong Dimensi


__ADS_3

POV. Orang Ketiga


"Aku tidak menyangka, mereka semudah itu untuk menyerah... ahahaha!" gelak tawa si kepala babi mengisi kesunyian sebuah lorong gua yang mengarah menuju negri kabut hitam.


"Sudah aku katakan, mereka tidak akan bisa melawan kita berlima, manusia memang selalu lemah...! hahahah!" respon setuju oleh si kepala anjing, diikuti oleh ketiga iblis lainnya.


Gi Tae, Sazhawa, dan juga Na Yeong kini menjadi tawanan para mahluk terkutuk itu. Mereka akan segera diserahkan kepada sang penguasa sihir hitam.


Tetapi, mengapa sang penguasa sihir hitam menginginkan Gi Tae saat ini, apakah sesuatu sudah semestinya terjadi?


Hanya berjarak beberapa langkah dari kelima mahluk terkutuk itu, dengan tangan yang terikat dibelakang tubuh mereka, serta tali ikatan yang saling menyambung agar ketiganya tidak kabur ataupun berpencar, ketiga anak manusia itu hanya bisa mendengarkan apapun yang para utusan penguasa sihir hitam itu katakan. Mereka harus bisa menahan segala amarah, jika tidak maka rencana Gi Tae akan gagal.


Tidak, mereka tidak boleh gagal, mereka sudah pergi sejauh ini.


Kelima iblis terkutuk tengah duduk melingkar, menikmati daging yang mereka dapatkan dari memburu babi liar. Darahnya pun mereka tenggak tanpa wadah, langsung dari leher sang babi. Dagingnya mereka santap mentah-mentah, memotongnya dengan tangan kosong. Mereka seperti monster yang menikmati kematian kawanannya sendiri.


"Mengapa kamu memakannya?" dengan memasang wajah polosnya, Gi Tae mengusik makan malam kelima mahluk mengerikan yang tengah menikmati waktu mereka.


"Apa maksudmu!? tentu saja kami butuh makan!" sahut si kepala babi dengan suara dan wajah yang tidak menyenangkan.


"Mengapa kau memakannya, bukankah dia saudaramu?" lanjut Gi Tae yang membuat kedua gadis dengan tangan-tangan yang terikat turut mengernyitkan alis mereka.


"Aku tidak memiliki saudara, kau manusia! tidak perlu ikut campur urusan kami!" balas kepala babi dengan emosi yang terlihat.


"Oh, jangan tersinggung, aku hanya berkata. Karena kalian sesama babi jadi kupikir kalian masih satu kawanan?" sambung Gi Tae yang belum juga menghentikan wajah acuhnya.


"Lebih baik kau diam sebelum ku habisi nyawa kalian!" si kepala kerbau seperti mengeluarkan asap dari kedua hidungnya, dia tidak terima temannya dihina.

__ADS_1


"Gi Tae, kalau kau memiliki rencana tambahan, jangan lakukan itu sekarang...!" bisik Sazhawa memperingatkan pemuda bodoh yang juga terikat di sebelahnya.


"Baiklah-baiklah... aku kan hanya bertanya..." gumam Gi Tae dengan memonyongkan mulutnya kesal.


"Apakah kau menginginkan kematian dini?!" si kepala kerbau melontarkan pertanyaan dengan geram, dia sepertinya sangat ingin mencabik-cabik tubuh Gi Tae.


"Lupakan perkataan ku," lanjut Gi Tae dengan terpaksa kepada mereka "lagi pula aku hanya bertanya... mengapa kalian begitu marah?" lanjutnya dengan gumaman yang terdengar begitu jelas.


Kedua putri yang terikat hanya memutarkan mata mereka dengan bosan. Meski lapar dan lemas melanda mereka, namun dengan keras mereka menutupinya dengan memasang wajah kesal kepada Gi Tae.


Mereka berdua tidak ingin Gi Tae khawatir dengan keadaan mereka. Tetapi mau bagaimanapun, Gi Tae kini lebih dapat merasakan energi disekitarnya, hingga dia bisa merasakan bahwa kedua putri yang ada disampingnya mungkin sedang kehabisan energi. Ini akan sangat berbahaya bagi kelangsungan rencananya.


Dua hari tanpa makanan jelas membuat mereka bertiga kelaparan, tidak ada tenaga yang mengaliri tubuh mereka. Hanya minuman yang diberikan sesekali ketika mereka mulai melemah dalam perjalanan.


Gi Tae dapat menahan semua itu, tetapi bagaimana dengan kedua putri yang bersamanya. Hal ini membuat Gi Tae cukup tersayat saat melihat dua putri yang bersamanya terlihat begitu menahan lapar dan lelah.


- Dua hari sebelumnya -


Moon Gi Tae POV.


Setelah semua terlihat mengatur posisi, di kepala babi dengan angkuh berjalan mendatangi kami bertiga. Wajahnya yang menjijikan membuatku ingin sekali meludahinya, tetapi aku harus bisa menahan semua umpatan yang ada di kepalaku. Ini semua demi berlangsungnya rencana ku.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan?!" si kepala babi dengan angkuhnya bertanya kepadaku.


Jika boleh jujur, sebenarnya aku ingin sekali merobek seringai jeleknya itu dari wajahnya. Tetapi aku harus bisa mengontrol emosiku untuk saat ini.


"Begini, em... aku akan ikut denganmu, tetapi bisakah mereka juga ikut denganku? aku hanya akan menuruti kalian jika kalian mengizinkan mereka untuk pergi juga bersamaku."

__ADS_1


Terlihat mereka saling bertatapan seperti tengah bertukar pikiran.


Apakah keputusanku ini benar? aku tidak sedang menempatkan kedua putri yang bersamaku ini dalam bahaya bukan?


Sebenarnya apa yang tengah aku pikirkan, aku sendiri juga kurang tahu. Yang jelas, aku ingin membuat rencana baru dengan kemampuan Na Yeong dan juga Sazhawa. Karena aku belum mengetahui jelas kekuatan sihir dari energiku, aku hanya bisa memanfaatkan sesuatu yang sudah ada bukan?


Sebelumnya kami memang sudah memiliki rencana. Ketika berkumpul di gubuk utama, kami berencana untuk menyusup melalui portal dimensi lain yang terletak di kedalaman hutan Cho Gu. Tetapi justru keadaan berbalik, keberuntungan sedang tidak berpihak kepada kami, hingga aku harus menyusun siasat baru.


Dengan adanya negosiasi ini, aku berharap mereka bisa terkecohkan. Tetapi konsekuensi yang harus kami hadapi, kami harus menerima ikatan yang dengan sakitnya menggulung tangan kami.


- Saat ini -


Usai beristirahat, kelima mahluk berkepala binatang itu membawa kami kembali melakukan perjalanan. Aku tidak menyangka bahwa lorong yang terletak di dalam portal dimensi ternyata cukup panjang, hingga menghabiskan waktu selama dua hari perjalanan.


Sebelumnya, saat memasuki portal dimensi yang merupakan pembatas antara Daegun dan negri kabut hitam, aku merasakan sesuatu membawaku, bukan, itu seperti sesuatu tengah menyedot kami dan tiba-tiba kami sudah berada di dalam lorong gua yang gelap dan mencekam.


Perbedaan suhu udara yang meningkat juga terjadi. Disini terasa sumpek dan panas, hingga sepertinya tekanan udara berpengaruh besar dalam kondisi kesehatan tubuh dan mental kami.


Karena aku memiliki energi hitam di dalam tubuhku, aku pastinya dapat dengan mudah menghirup udara di negri kabut hitam. Tetapi bagaimana dengan kedua putri yang bersamaku.


Di rencana kami sebelumnya, mereka hanya akan menemaniku sampai pada perbatasan portal, yang berarti mereka akan menetap di dalam lorong gua ini. Tetapi kini mereka juga terikat dan ikut menjadi tawanan bersamaku, apakah mereka bisa bertahan hidup di dalam negri kabut hitam?


Aku melihat kekhawatiran juga nampak di wajah mereka. Mereka pasti memiliki pemikiran yang sama sepertiku. Apakah kami harus melakukan sesuatu?


Kaki kami terus melangkah, mengikuti ketiga mahluk yang berada di depan kami, sedangkan kedua lainnya berada di belakang kami, sepertinya untuk menjaga agar kami tidak melakukan tindakan yang merugikan mereka.


----

__ADS_1


__ADS_2