
Moon Gi Tae akhirnya keluar dari wilayah istana Hira dengan keadaan utuh, tanpa sisa gantung ataupun penggal, dewa masih baik kepadanya. Akan tetapi ada satu hal yang dia sayangkan saat dirinya menyadari bahwa dia tidak bisa berpamitan dengan Sazhawa untuk terakhir kali, walau bagaimanapun Sazhawa sudah baik kepadanya bukan.
Saat ini dia memang berhasil lepas dari para putri Hira, akan tetapi dia bukanlah penduduk Hira yang berada di wilayah Timur Laut Daegun ini. Dia tidak mampu mengetahui arah jalan layaknya di wilayah otoritas kerajaan Sun Gu dimana dia tinggal. Dan, lagi-lagi dia tersesat di kerumunan pusat kota wilayah Hira.
Hira yang merupakan salah satu kerajaan dengan pemimpin dan penduduk yang bukan suku asli penduduk Daegun ini sangat asing bagi Gi Tae. Walaupun wajah-wajah mereka masih terbilang serumpun, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa mereka terlihat berbeda. Dan saat ini, hampir setiap orang yang berpapasan dengannya tidak segan untuk memperhatikannya dengan pandangan tertentu. Bukan menghakiminya, tapi memang suku asli penduduk Daegun seperti rakyat kerajaan Jang Gu, Yang Gu, Cho Gu dan lainnya sangat jarang atau bahkan langka untuk tinggal di wilayah otoritas kerajaan Hira.
Gi Tae hanya terus berjalan di kerumunan mengikuti langkah kakinya. Pemuda yang lebih memilih untuk diam satu ini terlihat begitu tidak nyaman dengan pandangan orang disekitarnya. Sesekali dia hanya menundukkan kepala dan melirik kiri kanan.
Seharusnya dia bertanya saja kepada salah satu penduduk disana bukan, supaya dia tahu kemana arah menuju kerajaan Sun Gu. Dia ingin melakukan hal itu. Tetapi dia juga tidak ingin mengambil resiko jika nanti orang bertanya dengannya siapa nama dan marganya, atau bahkan lebih parahnya lagi dia khawatir jika nanti orang yang dia datangi merupakan salah satu penyihir yang menginginkannya. Pikirannya saat ini sedang bertarung di dalam kepalanya.
Saat Gi Tae sedang terus berjalan menghiraukan sekelilingnya sampai tiba-tiba dia mendengar suara ledakan dan api bergumpal sesaat setelahnya yang terlihat berasal dari sebelah barat pusat kota. Tidak hanya dia, para penduduk di pusat kota juga melihat hal tersebut. Empat orang penjaga terlihat berlari ke arah ledakan, Gi Tae sontak berlari mengikuti mereka.
Sesampainya di lokasi, ternyata terdapat satu bangunan besar yang terlihat seperti residen dari salah seorang kaum bangsawan yang tengah terbakar, dapat dikatakan seperti itu karena beberapa orang berpakaian indah layaknya bangsawan terlihat menangisi rumahnya, dan para pesuruhnya lari kocar-kacir untuk memadamkan bara api yang menggumpal menutupi langit di atas residen menggunakan ember kayu.
Penduduk yang melihat kejadian ini sontak dibuat merinding. Betapa tidak, seorang gadis yang berpakaian sederhana, tidak terlalu terlihat layaknya kaum bangsawan namun auranya memancarkan bahwa ia adalah salah satunya, mengeluarkan api dari kedua telapak tangannya. Api itu semula menyala dengan tenang, tetapi seiring dia berjalan mendekati seorang pemuda yang sedang gemetar ketakutan dihadapannya, api itu perlahan membesar. Gadis mungil dan cantik itu perlahan mengangkat kedua telapak tangannya di kedua sisi dengan terus sambil berjalan.
Keempat prajurit yang berlari bersama Gi Tae tadi juga melihat kejadian ini, mereka terlihat begitu terkejut setelah mengetahui siapa pelakunya dan mencoba menghentikan gadis mungil itu.
"Tuan putri, mohon hentikan ini akan berbahaya bagimu nanti." satu dari empat prajurit memberanikan diri untuk berbicara padanya.
__ADS_1
Si gadis yang memiliki api di kedua telapak tangannya terlihat geram karena seseorang menghentikannya.
"Menjauh dariku jika kau tidak ingin terbakar!" gadis itu dengan penuh amarah memerintah para prajurit Hira untuk tidak ikut campur.
"Tidak tuan putri, anda harus menghentikan ini, jika tidak, kami yang akan menghentikanmu." pangkas salah satu rekan prajurit dengan berani.
"Oh... kamu mau menghentikanku??" ucap si gadis dengan seringai dan senyum remeh "hah! cobalah jika kamu bisa!" tambahnya sembari mengarahkan telapak tangannya kepada dua prajurit di hadapannya. Bola api terbang dengan pesat menghantam kedua prajurit yang tadi berbicara dengannya, membakar dada mereka hingga membuatnya terpental.
Sedangkan dua prajurit lainnya terperangah melihat peristiwa ini. Sontak mereka membantu rekan prajuritnya yang terhantam bola api dengan keras tadi dan menariknya berdiri.
Gadis api menyeringai puas melihat ketakutan diwajah mereka, begitu pula dengan para penduduk yang sedang menontonnya, mereka semakin dibuat merinding dengan pemandangan dihadapan mereka saat ini.
Sampai pada akhirnya sesuatu mengalir ditubuhnya, dia tidak tahu apa itu karena energi tersebut terasa asing untuknya. Tubuhnya tidak merasakan sakit saat menerima energi asing tersebut, justru dia merasa lebih kuat dari biasanya.
Gi Tae mengamati kedua lengannya, aliran energi asing tersebut terasa begitu kuat hingga mungkin dapat menarik perhatian energi lainnya yang berada didekatnya.
Gadis dengan api yang hendak menyusul serangan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia merasakan energi hebat sedang berada didekatnya, sang gadis menyapu penglihatan nya ke penduduk sekitar yang sedang menyaksikan kejadian. Hingga pada akhirnya mata sang gadis api terhenti kepada Moon Gi Tae, pemuda yang memancarkan energi kuat yang hanya bisa dirasakan olehnya, gadis dengan ilmu sihir tinggi.
Tidak lama kemudian terlihat seorang gadis lain berpakaian layaknya pendekar wanita mengenakan baju putih terbang dengan anggun dan cepat melintasi penduduk, dan sontak hal itu menarik perhatian mereka.
__ADS_1
"whusssh!!!"
Gadis yang terbang itu mengeluarkan sesuatu dari telapak tangan kanannya kearah bangunan yang terbakar, seketika bangunan yang tadinya dikerubuti oleh api, kini membeku didalam bekukan es.
Semua orang yang menyaksikan hal itu tersentak kagum. Meskipun diantara mereka banyak yang menguasai ilmu sihir, tetapi hanya orang-orang dengan kekuatan sihir sangat tinggi yang bisa melakukannya. Sihir yang biasa dilakukan oleh orang normal hanya sebatas mengeluarkan percikan api atau memindahkan barang dengan mata batin, level yang lebih tinggi yang bisa dilakukan oleh penyihir biasa adalah terbang atau memadamkan api kecil dengan memanipulasi angin, itupun butuh pelatihan hingga puluhan tahun lamanya, mustahil bagi gadis yang terlihat cukup muda ini melakukan pelatihan tersebut.
Untuk level seperti kedua gadis yang bisa mengeluarkan bola api hingga membakar sebuah bangunan dan terbang dengan membekukan kobaran api menjadi es, tentu hanya dimiliki oleh penyihir dengan keturunan ilmu sihir murni yang terjaga sejak berabad-abad lalu.
--
Setelah memastikan bahwa tidak ada bara yang tersisa, gadis yang memiliki sihir es tersebut terbang pesat menjauhi perhatian penduduk.
"Bu, aku ingin seperti kakak itu..." seorang anak perempuan kecil menggoyangkan tangan ibunya dan menunjuk ke arah perginya gadis es dengan kagum.
Gi Tae yang mendengar hal ini juga tidak dapat menutupi rasa kagumnya, sama seperti para penduduk lainnya.
Namun di tengah-tengah rasa kagumnya, tiba-tiba Gi Tae merasakan seseorang merangkul dan membawanya terbang. Itu terjadi begitu cepat sehingga dia tidak sempat memproses apa yang terjadi.
----
__ADS_1