
Aku memutuskan untuk pergi bersama Chu Yi dalam pencarian kami. Aku dan Chu Yi menyusuri desa hangus ini ke arah Barat, sedangkan yang lainnya berpencar menuju pilihan masing-masing.
"Bukankah Mizhawa benar, Chu Yi... disini tidak ada tanda-tanda penduduk yang tersisa..." ucapku memecah keheningan diantara aku dengannya.
Lelah tak bisa aku hindarkan, dengan kedua tangan yang berada di pinggang, aku terus-terusan menghela napas sembari melihat keadaan desa yang tidak lagi memiliki harapan.
Aku sebenarnya sangat setuju dengan Mizhawa. Ini hanya membuang-buang waktu.
"Berhentilah rewel... bahkan kita belum melakukan pencarian se-lama yang kamu bayangkan...!" pungkas Chu Yi dingin dengan memberikan penekanan di kata lama.
Dia terus-menerus membuka beberapa tumpukan kayu yang telah menghitam. Siapa orang yang bakalan bertahan hidup dengan kondisi seperti ini? Mungkin dia berharap akan menemukan jasad hangus dari seseorang.
"Bukankah kamu tahu bahwa sekarang aku lebih sensitif terhadap energi disekitarku? aku bisa merasakan bahwa saat ini tidak ada satupun yang tersisa dari tragedi ini!" bantahku dengan sedikit kesal kepadanya. Mengapa dia sangat keras kepala, keuletannya bisa menjadi penyakit baginya.
"Jika yang tersisa itu manusia biasa, maka kamu memang tidak akan merasakan energi mereka idiot!" sahutnya dengan acuh.
"Brukkk...!!"
Beberapa tumpukan kayu hangus kembali dibuka dan dibalik olehnya.
"Ck, hhhhh...! susah berbicara dengan orang yang tidak mengerti situasi" entah mengapa aku merasa tidak ingin kalah dalam perdebatan kami.
Akupun melanjutkan pencarian di balik reruntuhan kayu yang telah menghitam.
Jika sebelumnya hawa panas begitu terasa, tetapi kali ini hawa panas itu sudah menghilang. Bahkan kayu arang yang kami bolak balik sedari tadi juga sudah tidak terasa panas seperti sebelumnya.
"Mengapa energi ini bekerja dengan sangat cepat? sihir apakah ini?" gumamku lirih sembari menatap kayu arang yang saat ini tengah ku pegang.
Desa Chongsu yang terletak di pinggiran bukit ini masih sangat jauh dengan pusat kota Cho Gu, namun dekat dengan perbatasan Hira.
Sebenarnya, apa yang tengah diincar pelaku dari penghangusan desa ini?
--
Terik hangat matahari siang semakin terasa. Sesuai perjanjian, kami kembali berkumpul di titik temu.
"Apakah kalian mendapatkan sesuatu?" tanya Ji-hyeon setelah duduk dan menenggak botol minuman kayunya.
Kami tengah berteduh di bawah pohon rindang yang berada di tepian desa, yang masih tersisa dari hangusnya desa Chongsu.
__ADS_1
"Hanya ini yang aku temukan..." Dayeon menunjukkan sebuah bulu yang mirip seperti bulu burung Phoenix di tengah-tengah mereka.
Aku bisa mengatakan, bahwa saat ini semua mata yang tertuju pada bulu yang berukuran besar itu mulai bertanya-tanya. Bahkan tidak ada hewan lain yang memiliki bulu secantik itu bukan?
"Bukankah ini bulu Phoenix?" ucap Na Yeong saat mengambil dan mengamati bulu itu dengan seksama. Itulah yang tengah aku pikirkan juga.
"Dari mana kamu mendapatkannya?" kembali Ji-hyeon bertanya kepada Dayeon.
"Dari sebelah barat desa ini..." jawabnya singkat.
"Tunggu... sebelah barat? aku dan Chu Yi juga berada di barat, tetapi bagaimana bisa kami tidak melihatnya?" tanyaku keheranan kepada Dayeon.
"Itu karena kamu selalu mengeluh...! oleh karena itu fokusmu terganggu...!" sahut Chu Yi dengan nada sarkasnya.
"Jika kamu juga fokus harusnya kamu menemukannya juga bukan?" bantahku tidak terima.
"Ckckck... bukan karena kurang fokus kepada pencarian, tetapi kalian terlalu fokus untuk saling memandangi satu sama lain..." lagi-lagi Jeong Ra mengeluarkan kalimat yang membuat kami malas mendengarnya.
"Memandangi wajah idiot yang mengerikan itu? sangat tidak mungkin..." Chu Yi membela dirinya dengan menggelengkan kepala menatapku remeh.
Aku hanya membalas Chu Yi dengan melirik tajam dan mengatupkan rahangku.
"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang kita menemukan salah satu petunjuk dari kejadian ini" lerai Ji-hyeon untuk menghentikan perdebatan kami "apakah ini saja?" tambahnya dengan mata yang menjelajahi kami satu persatu.
Setelah saling pandang antara satu dengan yang lainnya, sepertinya hanya itu saja petunjuk yang kami dapatkan.
Tidak apa, setidaknya kami masih memiliki harapan untuk menemukan titik terang dibalik penghangusan desa Chongsu ini.
Aku yakin jika para penduduk masih selamat. Dan saat ini pasti mereka berada di suatu tempat, karena tidak ada satupun kerangka tulang manusia yang kami temukan disini.
--
POV. Orang ketiga
Di istana kabut hitam teradapat sekumpulan manusia yang merintih meminta tolong dari jeruji besi.
Mereka mulai dari para lelaki tua, para ibu, pemuda dan gadis, hingga anak-anak kecil yang berpakaian lusuh dan dipenuhi kotoran arang. Semua terbagi kedalam tiga sel besar yang berbentuk persegi.
"Lihatlah manusia-manusia bodoh itu...!" ucap penguasa sihir hitam dengan suara yang menggema saat melihat rombongan Gi Tae dari singgasananya "HAHAHA!!! Mereka melakukan hal yang tidak berguna!"
__ADS_1
Gelak tawa terdengar di istana kabut hitam. Penguasa sihir hitam merasa terhibur dengan apa yang tengah dilihatnya dari dunianya. Dia menyaksikan rombongan Gi Tae yang tidak memiliki petunjuk apapun tentang penculikan penduduk desa Chongsu.
"Dengan berkumpulnya manusia ini disini, maka akan menambah jumlah pasukan kabut hitam!! Ahahaha! dan aku... akan dengan mudah menguasai mereka!" penguasa sihir hitam mengepalkan jemarinya dengan geram "Daegun... tunggulah! sebentar lagi aku akan membalaskan sumpahku! Aahahahahah! haaaa!!!" dengan membentangkan kedua lengannya, penguasa sihir hitam mengisi seluruh istana dengan sumpah ambisinya.
--
Setelah berdiskusi mengenai permasalahan desa Chongsu, Ji-hyeon memutuskan untuk membuat camp sementara di pinggiran desa, membuat perjalanan mereka menuju Jang Gu tertunda.
Mereka tidak akan menyerah untuk menemukan titik terang dibalik peristiwa ini. Terutama Ji-hyeon, karena ini menyangkut wilayah dari administrasinya.
Malam telah tiba, setelah selama setengah hari mereka mendiskusikan tentang kaitan bulu Phoenix dengan hangusnya desa Chongsu, akhirnya mereka mengumpulkan beberapa teori.
Didalam tenda sederhana yang hanya berpilarkan beberapa batang kayu dan dibalut kain sebagai pelindung dari udara luar, mereka tengah serius melakukan pembahasan di tengah redupnya cahaya lilin.
Hyujin melakukan penjagaan diluar serta bertanggung jawab untuk menjaga perapian agar tetap menyala.
"Dari yang aku ketahui Phoenix merupakan hewan suci yang menggambarkan kehormatan. Tetapi mengapa bulunya ada di sini?"
Sambil tetap mengamati bulu berwarna keemasan yang ada di atas meja sederhana, Jeong Ra mengutarakan rasa penasarannya.
Tidak hanya dia, semua yang ada di dalam tenda juga tengah berpikir, bagaimana mungkin itu terjadi.
"Mungkinkah burung Phoenix yang melakukannya?" terdengar Sazhawa bertanya kepada rekan putri lainnya.
"Aku rasa burung Phoenix tidak akan melakukan hal seperti itu. Dia cukup terkenal dalam menjaga kehormatannya..." jawab Dayeon setelah berpikir cukup lama "lagi pula, burung Phoenix juga sangat langka dalam menunjukkan dirinya ke bumi. Jika itu terjadi, maka seharusnya keberkahan yang kita terima, bukan kehancuran..." tambahnya dengan terus mengerutkan keningnya.
Mereka terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Dayeon.
"Apakah ini suatu pancingan?" gumam Gi Tae lirih sembari mengusap dagunya dengan perlahan. Membuat para putri mengalihkan matanya menuju Gi Tae. "Apakah menurut kalian penduduk desa Chongsu sedang berada di tempat lain?" tambahnya memecahkan keheningan malam.
"Dari yang kuperhatikan sepertinya mereka memang telah dipindahkan... jika tidak, seharusnya terdapat jejak mereka yang tertinggal dalam kondisi yang seperti ini." Mozhawa angkat bicara dan mengutarakan teorinya.
"Dan untuk alasan hangusnya desa Chongsu, mungkin saja itu memang suatu trik" Chu Yi menatap mereka satu persatu "ini antara burung Phoenix dibuat marah lalu menghanguskan desa ini, atau seseorang meninggalkan jejak agar kita berpikir bahwa Phoenix yang melakukannya." tambahnya dengan mantap.
"Tapi... siapa yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan burung Phoenix hingga dia memiliki bulunya?" kembali Na Yeong bertanya-tanya.
"Itulah yang harus kita cari tahu saat ini."
__ADS_1