
Sejak kapan Gi Tae menjadi sosok yang iri kepada kebahagiaan orang lain. Sejauh ini, dia dikenal dengan orang yang rela menanggung derita demi kebahagiaan yang tidak ditakdirkan untuknya. Sejak kapan dia menjadi seseorang yang serakah?.
"Hey, Chu Yi, apakah menurutmu aku juga bersalah?" tanya Gi Tae kepada Chu Yi memecah keheningan malam.
Saat ini Gi Tae tengah berbaring di atas tanah dengan menatap langit. Dia sedang beristirahat di hadapan Chu Yi yang masih juga duduk di atas sebuah batu sembari memperhatikannya diam-diam.
"Menurutmu bagaimana?" jawab Chu Yi yang kembali bertanya kepadanya.
"Aku hanya melihat dia adalah seseorang yang harus kuhilangkan dari kehidupanku" ucap Gi Tae sembari menatap kosong ke langit malam dengan menggunakan salah satu lengannya sebagai bantalan.
Chu Yi paham dengan yang dimaksud oleh Gi Tae, dia tentunya sedang membahas tentang Hyujin.
Tentu kalimat ini membuat Chu Yi merasa khawatir. Jika dibiarkan seperti ini, maka semua usaha mereka akan sia-sia.
Chu Yi harus menghentikan pikiran buruk Gi Tae yang seperti itu.
"Ketika menghilangkan nyawa seseorang, apakah yang kamu rasakan?" Chu Yi kembali bertanya dengan tenang. Dia ingin membawa pembicaraan ini kepada sesuatu yang lebih bermakna.
Gi Tae mengalihkan pandangannya, saat ini dia tengah menatap Chu Yi dengan heran.
"Bagaimana aku tahu, aku bahkan belum pernah membunuh seekor babi hutan..." jawabnya dengan mengerutkan dahinya.
Bukankah itu jelas bahwa Gi Tae belum pernah menyakiti seseorang, kecuali sebuah pukulan yang dia berikan kepada Hyujin waktu itu. Itupun dengan catatan emosinya sedang tidak terkendali.
"Hmmh..." Chu Yi ikut menghela napas dalam-dalam sembari meletakkan kedua tangannya kebelakang sebagai tumpuan badannya "lalu apa yang kamu rasakan ketika kamu membantu melepaskan kutukan sihir hitam?" tambahnya dengan perlahan menatap ke langit.
Bintang-bintang yang berkerlipan dapat menghipnotis pikiran seseorang. Cahayanya begitu indah seperti mengisi sebuah ruang kosong pada seseorang yang tidak bisa ditembus oleh siapapun.
Gi Tae kembali menatap ke langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.
Udara malam yang dingin memberikan ketenangan bagi mereka yang merasakan kegundahan hati dan pikiran. Ini terasa seperti sesuatu yang melegakan.
"Ketika mereka datang padaku, aku seperti ikut merasakan kesulitan yang mereka rasa... dan ketika aku berhasil menghilangkan kesulitan mereka, aku ikut terbawa senyum yang mereka berikan... itu melegakan..." senyum tipis nampak pada bibir Gi Tae tanpa dia ketahui.
"Kamu terlahir sebagai penolong... kutukanmu bukan untuk membunuh, tetapi untuk menghapus kutukan lain. Meskipun banyak kejahatan yang menginginkanmu, kamu tetaplah dirimu..." ucap Chu Yi yang serta merta membuat Gi Tae kembali menatapnya dengan sungguh-sungguh "mau bagaimana nantinya, yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan ini dengan versi terbaik kita bukan?" tambahnya dengan tersenyum tulus kepada Gi Tae.
Gi Tae ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Percakapannya dengan Chu Yi malam itu adalah salah satu yang terbaik. Dia teramat bersyukur bisa bertemu dengannya.
--
Pagi hari saat Gi Tae terbangun, Hyujin sudah tidak ada di tempat tidurnya. Ya, Gi Tae dan Hyujin diperintahkan untuk berbagi kamar.
__ADS_1
Meskipun menurut Chu Yi ini adalah tindakan yang sangat beresiko, tetapi mereka perlu melakukan ini untuk melatih kontrol emosional Gi Tae.
Bagi Gi Tae sendiri, berbagi kamar dengan Hyujin merupakan hal yang sulit untuk dia terima, tetapi dengan terpaksa dia harus menuruti mereka dengan alasan sudah tidak tersedia lagi kamar untuk Hyujin.
Jika tidak tersedia lagi mengapa Hyujin tetap diizinkan untuk tinggal disini?
Sedangkan untuk putri yang lain, mereka telah membagi tiga kamar berukuran kecil yang tersisa. Seperti ketiga putri Hira, Mozhawa, Sazhawa dan Mizhawa berada di satu kamar yang sama. Untuk Ji-hyeon, Jeong Ra dan Chu Yi menempati kamar yang bersebelahan dengan kamar dimana Gi Tae dan Hyujin berada. Sedangkan untuk Dayeon, Chaeyun dan Na Yeong bersebelahan dengan kamar para putri Hira dan berhadapan dengan dua kamar lainnya.
Meskipun pondok yang mereka tinggali cukup kecil, tetapi pembagian tiap-tiap ruangan seperti sudah di rancang sebaik mungkin oleh yang mendirikannya. Hingga bangunan kayu berwarna coklat itu tampak begitu rapi dan asri.
"Kamu sudah bangun?" tanya Na Yeong yang tengah memasak makanan di dapur yang terletak tepat setelah lorong kamar. Kali ini Na Yeong sendirian karena yang lain sedang memiliki pekerjaan lainnya.
Gi Tae sontak teringat dengan ibunya yang selalu tersenyum hangat seperti Na Yeong. Jika dilihat lagi, Na Yeong dan ibunya memiliki banyak kesamaan. Itu membuat Gi Tae semakin merindukan ibunya.
Entah apa yang tengah merasuki Gi Tae, karena tanpa disadarinya, Gi Tae berjalan mendekatinya dan memeluknya dari belakang dengan menyandarkan dagunya di atas kepala Na Yeong. Dia hanya sedang begitu merindukan ibunya.
Gerakan Gi Tae yang secara tiba-tiba sontak membuat otak Na Yeong berhenti bekerja. Hatinya berdegup kencang seperti hendak berlari keluar dari dalam dadanya.
Mata dan mulut Na Yeong terbuka lebar dan tangannya berhenti dari kegiatan yang tengah dia lakukan.
"Gi--- Gi Tae... apa yang kamu la-lakukan?" dengan terbata Na Yeong berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Meskipun Na Yeong gemar menggoda Gi Tae sejak pertemuan mereka, tetapi saat Gi Tae melakukan hal ini kepadanya membuat Na Yeong benar-benar melupakan dirinya sendiri.
"Merindukan ibunya?" ucap Na Yeong dalam hati "kukira dia menyukaiku! dasar!" tambahnya dengan kecewa.
Tiba-tiba Na Yeong tersadar dan melepaskan Gi Tae dengan menggoyahkan punggungnya dimana Gi Tae tengah memeluknya dengan hangat.
Wajah kecewa Gi Tae begitu nampak saat Na Yeong melakukan itu. Dia sadar dia telah bertindak kurang ajar kepada salah satu putri dari ketujuh kerajaan itu. Ditambah lagi Jang Na Yeong adalah putri dari Jang Gu yang merupakan pusat kepemimpinan dari ketujuh kerajaan.
"Maafkan aku..." ucap Gi Tae dengan tertunduk lesu disertai wajah masamnya.
Na Yeong merasa bersalah setelah melihat ekspresinya. Dia juga tidak bermaksud membuatnya kecewa, hanya saja dirinya sendirilah yang kecewa.
Na Yeong hanya bisa menganggukkan kepalanya.
--
Pagi yang cerah adalah saat yang tepat untuk memulai pelatihan tenaga dalam bersama dengan Chaeyun.
Setelah pelatihan fisik bersama Chu Yi kemarin, badan Gi Tae terasa remuk redam. Tetapi kewajibannya untuk melanjutkan pelatihan tidak bisa ditinggalkan, atau Ji-hyeon dan Mozhawa dan mungkin putri lainnya akan kecewa kepadanya. Dia tidak bisa melihat orang-orang yang dia sayangi kecewa.
"Aku dengar kamu sudah berhasil membuka energi asing ditubuhmu? aku penasaran dengan itu... bisakah kamu memanggilnya kembali?" tanya Chaeyun setelah Gi Tae selesai melakukan pemanasan.
__ADS_1
"Aku belum bisa memanggilnya, itu hanya akan keluar disaat-saat tertentu..." jawab Gi Tae yang tidak tertarik.
"Pagi yang cukup cerah untuk wajah yang masam sepertimu!" Chaeyun berdecak melihat kemalasan di wajah Gi Tae "ayolah, jangan merusak semangatku untuk melatihmu..." tambahnya dengan melipatkan kedua lengan di atas dadanya.
Meskipun Chaeyun tidak sehebat Chu Yi dan Jeong Ra, tetapi dia juga cukup mahir dalam penguasaan tenaga dalam, sama halnya dengan Dayeon.
Gi Tae hanya menghela napas malas sebagai respon.
"Baiklah... akan aku coba" gumam Gi Tae dengan pasrah.
Gi Tae mengibaskan kedua tangannya beberapa kali sembari menarik napas untuk memusatkan kekuatan.
Dia berusaha menyatukan energi yang dirasakannya di dalam tubuhnya dan mengalirkannya menuju kedua telapak tangannya.
Setelah beberapa lama dia mencoba, namun tidak ada hasil yang keluar.
"Koakk... koakk... koak!!"
Hanya suara seekor burung gagak yang terdengar mengisi pagi yang sepi.
Membuat Chaeyun tersadar dengan kebodohan mereka.
"Hmm... bagaimana kalau kita mulai dengan pembelajaran tentang pengaturan pernapasan?" ucap Chaeyun dengan agak canggung.
"Aku sudah pernah melakukannya... tapi yah, baiklah mari kita coba lagi" sahut Gi Tae dengan pangkas.
Latihan pernapasan yang dimaksud oleh Chaeyun ternyata berbeda dengan yang diketahui oleh Gi Tae.
Saat ini Gi Tae tengah mengikuti gerakan pengaturan pernapasan yang dilakukan oleh Chaeyun.
Ini tidak hanya mengatur pernapasan, tetapi juga mampu mengolah ilmu kanuragan. Karena selain ilmu sihir yang hebat, sebuah fondasi yang kokoh untuk berpijaknya sebuah energi adalah hal yang sangat penting.
Semua praktisi sihir mengetahui hal ini, baik dari sihir hitam maupun sihir baik.
Chaeyun menggerakkan kedua tangannya dengan lentur tetapi pasti di atas kuda-kuda yang sangat kokoh dari kedua kakinya. Gi Tae mengikutinya dari belakang dengan terus mencoba untuk memusatkan pikiran sesuai dengan instruksi dari Chaeyun.
Kedua tangan Chaeyun meregang di masing-masing sisi tubuhnya lalu berputar keatas dengan lentur dan dilanjutkan dengan dorongan kedepan. Setelah itu diikuti dengan putaran pergelangan tangan kedalam saat sejajar dengan pundak dan menghempaskan energi kedepan dengan hanya ibu jari dan jari telunjuk yang berdiri, sedangkan ketiga jari lainnya menekuk untuk membantu pusat energi. Gerakan ini dilakukan secara berulang hingga metabolisme tubuh dan pernapasan terolah dengan baik.
Menurut Gi Tae ini hal yang lebih mudah dilakukan dari pada harus menarik batang kayu yang besar dan mengamuk untuk menolak perintah aneh.
Gi Tae yakin bisa melakukan hal seperti ini seharian. Ini membuatnya tenang dan damai.
__ADS_1