Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
42. Sang Pelindung


__ADS_3

Menyatunya dua energi yang teramat berbeda di tubuhku, apa yang terjadi kepadaku.


Perlahan mataku terbuka, namun pandanganku terlihat samar.


"Dimana aku?" gumamku saat menyadari bahwa aku sudah berada di tempat asing.


"Kepalaku! aahhh!!!" kepalaku terasa berdenyut kencang, ini sangat menyakitkan.


Perlahan aku berusaha untuk bangkit dari tidurku dan mulai mengamati sekitar. Namun rasa sakit di kepalaku tidak kunjung mereda.


"Aku terbangun di tempat asing lagi... huhhhh..." gumamku saat aku mulai menenangkan diriku.


Sebuah gubuk kayu yang terlihat begitu tua, bahkan kayunya seperti telah lapuk. Meskipun begitu, bangunan ini terlihat cukup kokoh.


"Dimana lagi aku berada..." desahku saat menyisiri ruangan kecil yang hanya berisikan sebuah ranjang kayu dan kendi di atas meja kayu.


"Aku sangat haus, apakah kendi itu aman?"


Entah berapa lama aku tertidur disini, hingga tenggorokanku terasa begitu kering.


Persetan dengan prasangka buruk, aku sudah sangat kehausan.


Tanpa berpikir panjang, aku mengambil kendi tersebut dan menenggaknya dengan cepat.


"Gluk.. glukk... glukkk.... ahhhh..." akhirnya dahagaku lenyap.


Tidak kusangka hanya dengan minuman ini aku seakan merasakan kebahagiaan seumur hidup.


"Kamu telah meminum racun buatanku, anak muda..."


Mataku terbelalak setelah mendengar seseorang menaruh racun pada minuman yang baru saja ku tenggak.


Dengan cepat kendi yang berada di tanganku terjatuh dan pecah. Aku memegangi leherku yang mulai terasa sakit.


"Akkhhhhh....!!!" aku tidak dapat bersuara! leherku "uhukkk!!!" ini juga tidak dapat kumuntahkan! apa ini?! mengapa rasanya seperti sedang tercekik!


Kulitku! saat kulihat kedua lenganku, terlihat kulitku membiru, aku terkena racun! mengapa tubuhku seperti tengah dipukuli? aaakkhh!!! sakit sekali!


"T-ttolong- hhhaakkk--- tolong aku!!" dewa, ini sungguh menyakitkan! leherku semakin tercekik, mustahil bagiku untuk bisa selamat!


"Aaaahhhkkk!!" apakah ini akhir hidupku, nyawaku terasa meninggalkan tubuhku.


Semuanya gelap! tolong aku, siapapun! Ji-hyeon! Mozhaw--


--


--


--


Apa ini? rasanya seperti sesuatu tengah menarik kakiku. Tanganku mencoba untuk meraih permukaan, tetapi aku justru semakin tenggelam! aku tidak dapat bernapas.


"Haaahkkkkk!!!" Aku terbangun lagi dengan kepanikan menyertaiku.


Apakah tadi itu hanya mimpi? leherku? dengan cepat aku meraba leherku dan anehnya itu sudah tidak terasa sakit.


Aku meraba bagian tubuhku lainnya, dan semuanya masih normal, tidak terasa sakit sama sekali.


Karena masih penasaran, aku mencoba berdiri dan memeriksa kembali tubuhku. Dan benar saja, tidak ada sedikitpun bercak biru dan rasa sakit yang tertinggal.


Akhirnya aku bisa bernapas lega dan kembali duduk di ranjang kayu tempat sebelumnya aku terbangun.


Sesaat mataku menyapu ruangan dan terhenti pada pecahan kendi yang berserakan tidak jauh dariku.


"Sebentar... kendi itu?" gumamku ragu-ragu "apakah aku tidak bermimpi? berarti aku memang telah meminum racun!" hentakku dengan kaget "bagaimana mungkin...?"


"Kamu sudah bangun rupanya?"


Seseorang membuka pintu reyot ruangan ini dan menyadarkan ku dari lamunan.


Dia adalah petapa tua yang pernah kutemui di salah satu mimpiku. Sebentar, jika dia pernah muncul di mimpiku, bukan tidak mungkin jika sekarang ini aku juga sedang bermimpi. Benar, aku pasti bermimpi lagi.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu, Moon Gi Tae... kamu saat ini sepenuhnya sadar dan tidak sedang bermimpi." sambungnya seakan mengerti pikiranku.


"Jika aku tidak bermimpi, mengapa aku berada disini?" banyak sekali pertanyaan yang ingin kusampaikan padanya.


"Butuh waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan semua ini kepadamu, tetapi untuk saat ini kamu harus keluar dan bertemu dengan teman-temanmu terlebih dahulu" ucapnya lembut dengan suara khas seorang kakek "mereka telah menunggumu selama dua hari" sambungnya hingga membuatku terjaga.


"Dua hari? aku tertidur selama dua hari?"


"Lebih tepatnya, kamu tidak sadarkan diri..."


Ah benar, jika hanya tertidur mungkin aku tidak akan selama itu.


--


Saat keluar dari gubuk kecil, aku melihat para putri tengah berceceran dengan aktivitas mereka.


Di halaman yang cukup lapang, aku melihat Na Yeong dan Mozhawa sedang memotong sayuran di atas sebuah bale-bale dengan bermacam jenis umbi-umbian disekitar mereka. Tidak jauh dari sana, Ji-hyeon sedang mengolak-alik nasi yang dimasaknya di atas tungku api. Sedangkan di hadapannya, Sazhawa terlihat sibuk membenahi kayu perapian. Jeong Ra dan Chu Yi bertugas mengumpulkan kayu bakar yang telah terbelah. Sedangkan Chaeyun, Dayeon dan juga Mizhawa, mereka sepertinya baru pulang dari suatu tempat.


"Moon Gi Tae...!" Chaeyun orang pertama yang memanggilku sesaat setelah aku keluar dari ruangan kecil itu.


Ternyata mereka semua ada disini. Tunggu, apakah mereka menghawatirkanku?


"Apa lagi yang membuat kami melakukan semua ini jika bukan karenamu?" Mizhawa menjawab pertanyaan yang belum sempat kusampaikan.


Ck... dia tidak menyenangkan, kapan aku diberi kesempatan untuk berbicara!


"Itu karena kamu hanya memikirkannya dan TIDAK mengatakannya...!" sambungnya dengan malas.


"Kalian, bisakah ngobrol selayaknya manusia?" Sazhawa memotong obrolan tidak normal kami "dan Gi Tae, kami semua bukan Mizhawa yang bisa mendengar pikiranmu..." tambahnya kesal.


"Baiklah, aku minta maaf untuk itu. Andaikan saja dia tidak mengetahui pikiranku, maka aku sudah menanyakannya tadi..." aku menyalahkan Mizhawa untuk ini. Haha rasakan kekesalanmu sendiri.


Mizhawa terlihat kesal dan berjalan menjauh, dengan tidak lupa untuk memutar bola matanya yang justru semakin terlihat sensual.


Oy, apa yang aku pikirkan?!


"Apakah kamu sudah baikan?" Na Yeong menghampiriku dan membelai lenganku dengan lembut.


"Hummm... ini jauh lebih baik" ujarku sembari membalas senyuman Na Yeong.


"Syukurlah... kami semua menghawatirkan mu, bahkan Mizhawa tidak bisa tertidur lelap memikirkan keadaanmu!" sambungnya dengan antusias.


Hal ini membuat Mizhawa membalikkan badannya dan menatap Na Yeong tajam.


"Benarkah?" aku cukup terkejut mendengar fakta ini.


"Aku tidak pernah melakukan itu!" pungkasnya dengan marah.


"Sudah-sudah... Na Yeong, kamu selalu mengada-ngada..." lerai Ji-hyeon sembari menggelengkan kepalanya. Aku melihat sosok keibuan di diri seorang ratu itu.


"Tapi itu benar~" timpalnya tidak terima.


Tidak kusangka, aku merindukan mereka. Aku rindu tingkah mereka yang seperti ini.


"Oiya, aku tidak melihat Hyujin sedari tadi... dimana dia?" aku menanyakan ini saat kurasa kehadiran Hyujin tidak nampak di mataku. Biasanya dia sosok pertama yang akan membuatku kesal dan merusak suasana hatiku.


Namun sesuatu terlihat diwajah-wajah mereka saat kusebut nama Hyujin.


--


Pada siang hari yang hangat ini, Ji-hyeon meminta kami semua untuk berkumpul di pondok tak jauh dari gubukku berada. Dan kakek petapa yang tadi menghampiriku, aku tidak tahu kemana perginya saat ini.


Ternyata disinilah mereka tinggal selama dua hari belakangan ini. Sedikit yang kutahu, kakek tua yang menyediakan tempat ini untuk mereka.


"Minumlah terlebih dahulu Gi Tae..." pinta Ji-hyeon setelah memberiku segelas air putih.


Sejak kapan mereka bersikap seperti ini kepadaku? maksudku mereka terkadang memang baik, tetapi langka bagiku melihat Ji-hyeon atau bahkan yang lainnya menyuguhiku minuman secara khusus.


"Ck...! minumlah selagi kami baik kepadamu!" Mizhawa kembali kesal mengetahui isi kepalaku.


Membuat yang lainnya bertanya-tanya dengan tingkah Mizhawa.

__ADS_1


"Berhentilah membaca pikiranku! itu sangat menggangguku...!" timpalku yang turut kesal kepadanya. Apa yang bisa membantu, bahkan aku tidak bisa menyembunyikan pikiran ini darinya.


Tanpa memperpanjang urusan, aku segera meminum air yang diberikan Ji-hyeon hingga habis.


Saat ku tatap gelas kosong yang kini berada ditanganku, aku kembali teringat dengan racun yang sebelumnya kuminum. Aku belum mendapat penjelasan dari kejadian itu, tetapi kakek petapa tua itu entah kemana perginya.


Aku menghela napas dalam setelah memikirkannya, beriringan dengan ku taruh kembali gelas kayu di atas meja.


"Apakah sesuatu mengganggu pikiranmu?" Mozhawa bertanya padaku.


Aku tidak tahu isi kepala mereka layaknya Mizhawa, tetapi dapat kukatakan, wajah mereka berkata bahwa mereka tengah khawatir kepadaku.


"Aku baik-baik saja... tidak ada yang perlu dikhawatirkan" jawabku untuk menenangkan mereka.


Aku cukup takjub, kali ini Mizhawa tidak mencampuri urusan kepalaku dan hanya terdiam padahal mendengar fakta lain.


"Kau tahu, kamu bisa mengatakan semuanya kepada kami, karena kamu adalah bagian dari kami..." kembali Mozhawa mengatakan hal yang membuatku tersentuh. Semakin terharu saat yang lainnya mengangguk, mengiyakan kalimatnya.


"Baiklah... ngomong-ngomong, dimana Hyujin?" tanyaku kembali kepada mereka.


"Kukira kamu membencinya? tidak kusangka kamu juga merindukannya~" lagi-lagi Jeong Ra menggodaku. Dia sangat tahu letak kesalahanku.


"Walaupun aku tidak menyukainya, tetapi dia selalu bersama kita... jadi sangat kontras saat dia tidak ada." timpalku mencari alasan.


Mizhawa terkekeh kecil hingga membuatku melirik sadis kepadanya.


Setelah itu, wajah mereka kembali mendung dan terlihat seakan menyembunyikan sesuatu dariku.


"Sebenarnya--" Ji-hyeon mengatakan sesuatu yang langsung menarik perhatianku "dia tidak bisa bersama kita lagi..." sambungnya ragu-ragu.


"Ya dia memang tidak bersama kita, lalu dimana dia?" jujur saja, aku merasa bingung dengan perkataannya.


"Dia terluka cukup parah saat melindungi kita semua, dan sekarang dia sudah berada di tempat lain" Na Yeong mengatakannya dengan raut wajah yang terlihat... sedih?.


Aku juga melihat yang lainnya tertunduk sedih, seakan menahan air mata. Apa yang terjadi? memangnya dia kemana.


"Tempat lain, dimana maksudmu? apakah dia pulang ke Kang Gu?" Kang Gu adalah tanah kelahirannya, tepatnya desa Seongsu. Tidak heran jika dia salah satu orang baik, karena melihat lagi, kerajaan Kang Gu terkenal dengan orang-orang baiknya.


"Gi Tae... Min Hyujin sudah pergi selamanya"


"Min Hyujin, pergi--" aku terbungkam sesat.


Hatiku, mengapa hatiku seperti tengah dipukuli saat Ji-hyeon mengatakan itu. Dia pasti berbohong bukan? untuk apa membuat lelucon seperti ini?.


"Ji-hyeon, jika kamu ingin membuat lelucon, jangan mengambil garis itu. Jeong Ra lebih cocok dengan lelucon ngomong-ngomong..." ucapku dengan terkekeh canggung.


Aku menghentikan yang kulakukan saat melihat Sazhawa tidak bisa membendung lagi air matanya. Sementara yang lain masih tertunduk haru dan sesekali mengusap air mata yang menetes.


Apakah itu benar? Hyujin... sudah tiada?


"Tap-tapi-- bagaimana bisa?!" tanyaku gugup dan tidak percaya.


"Dia mempertaruhkan nyawanya saat melindungi kami dari paparan gas beracun yang keluar bersama asap semburan monster ular. Ditambah lagi dengan benturan energi kalian, terutama energimu..." Mizhawa yang terlihat seperti tidak terganggu dengan keadaan, mencoba menjelaskannya kepadaku "kedua energi yang kamu keluarkan menciptakan efek pemusnahan yang mengerikan, sedangkan kamu belum bisa mengontrolnya secara keseluruhan... dan kamu tahu saat energi kalian beradu?" tambahnya dengan pertanyaan pada akhir.


"Apakah itu bisa menyebabkan peleburan kepada kalian?" jawabku sesaat sembari berpikir dalam-dalam.


"Tepat sekali! dan Min Hyujin mempertaruhkan nyawanya untuk membuat kubah besar hingga di sisa energinya untuk menyelamatkan kami, termasuk kamu juga"


Mizhawa benar-benar mengatakan sesuatu yang sulit untuk kupahami. Jika menyelamatkan mereka, aku masih menalarnya, tetapi menyelamatkan aku? bagaimana caranya?.


"Mungkin tidak terlihat olehmu saat kamu sedang terfokus pada satu hal. Tetapi kami melihat sendiri, dia memberikan perisai perlindungannya kepadamu agar panas yang kamu terima saat itu tidak melebur dirimu sendiri." Mizhawa mengakhiri kalimatnya dengan tegas.


Min Hyujin, dia mempertaruhkan segalanya untuk kami. Dia adalah orang yang rela mati untuk menyelamatkan para putri. Mengapa baru sekarang aku merasa kehilangan. Dia memang bukan siapa-siapa bagiku, tetapi aku seperti kehilangan sosok yang sudah seperti keluarga.


Mengapa baru sekarang aku teringat saat dia berusaha tetap tersenyum meskipun yang kuberikan hanya perkataan yang menyakitkan? saat aku yang bersalah telah memukulnya tetapi dialah yang meminta maaf kepadaku? aku belum sempat memperbaiki semua itu. Mengapa dia secepat ini untuk pergi!.


"Itulah mengapa, kamu harus hidup untuk hari ini... bukan hari kemarin" Dayeon dengan menahan segala kesedihannya, berhasil menyentuh tempat terburukku.


Maafkan aku Min Hyujin...


----

__ADS_1


__ADS_2