
Moon Gi Tae POV.
Hidup bukan hanya tentang mempertaruhkan tetapi juga tentang tujuan. Jika selama ini aku hanya hidup untuk mempertaruhkan keberlangsungan nyawaku, kini aku semakin memiliki tujuan.
Meskipun belum mengetahui cara mengatasi ini semua, setidaknya aku memiliki tekat untuk menjadi penyelamat Daegun. Menyelamatkan Daegun juga berarti menyelamatkan diriku sendiri dan para putri.
Aku dan juga para putri dari ketujuh kerajaan telah saling membuka rahasia. Aku menceritakan segala yang kutahu dari semasa hidupku. Mulai dari kisah hubungan orang tuaku yang tidak direstui hingga melahirkan ku yang ditimpakan kutukan.
Mereka juga telah menceritakan bagaimana kehidupan mereka berlalu. Mulai dari Cho Ji-hyeon yang telah naik tahta di usia remajanya karena sang raja yang wafat, sampai pada bagaimana mereka bisa bersamaku saat ini yang ternyata menyembunyikanku dari jangkauan penyihir ilmu hitam.
Tidak hanya itu, mereka juga bahkan melatih kemampuanku agar bisa membangkitkan energi yang tersimpan didalam tubuhku untuk membantu mereka melawan kutukan dari penguasa sihir hitam.
Diketahui bahwa raja Cho Nam dari kerajaan Cho Gu menemui ajalnya sejak lima tahun lalu, dikarenakan kutukan yang telah ditentukan oleh sang penguasa sihir hitam kepada para putri. Hingga menjadikan Ji-hyeon ratu Cho Gu hingga saat ini.
Mereka bercerita banyak mengenai hidup dan ramalan yang mereka dengarkan. Sampai pada akhirnya, sulit untuk kupercayai bahwa kehidupan para putri yang terlihat begitu sempurna ternyata jauh dari kata itu.
Dibalik kewibawaan, senyuman, dan optimisme mereka, masa kelam masih tetap terbawa hingga saat ini.
"Ramalan itu mengatakan, bahwa kedatangan sang 'Blessing Curse' akan menghancurkan negri kami, Daegun. Dan kutukan kami adalah, menerima nasib buruk untuk menyaksikan dan merasakan kehancuran Daegun secara perlahan hingga saatnya sang 'Blessing Curse' tiba untuk memberikan akhir segalanya."
Aku masih ingat bagaimana Ji-hyeon mengatakan itu dengan menahan segala kepedihan yang dia rasakan dari setiap kata yang dia keluarkan.
Begitu pula dengan ke delapan putri lainnya yang hanya memiliki pandangan kosong saat Ji-hyeon mengatakan semua itu. Kesedihan mereka juga turut kurasakan.
Bagaimana kaum muda seperti kami harus menerima kutukan dari dunia yang kejam ini.
Bukankah kesalahan hanya terletak kepada mereka para pendahulu? mengapa kami harus ikut menanggung hutang masa lalu! mengapa dunia bersikap tidak adil kepada kami.
Jang Na Yeong yang terbiasa dengan senyum manisnya hingga terkadang mengingatkanku akan ibuku, dia juga seketika lupa cara tersenyum saat itu.
Yang Jeong Ra yang biasanya menggerutu karena ulah kebodohanku, juga sama sekali tidak menampakan emosinya.
Ketiga putri Hira yang biasanya saling beradu argumen, seketika juga terdiam mengingat kehancuran yang tengah mereka rasakan.
Kang Dayeon yang terbiasa dengan sikap dewasanya, juga terdiam ikut menahan pilu yang mereka bagikan.
Sun Chaeyun yang biasanya gemar mengusik ketenanganku, seketika mematung sendu dan tidak menghiraukan sekitarnya.
Zhao Chu Yi yang selalu menempel dengan kata tenang, juga ikut terhanyut dengan kesedihan yang ada.
Dan yang terakhir, sebenarnya aku tidak ingin memasukkannya kedalam daftar, tetapi karena dia juga banyak berkontribusi untuk melindungi para putri jadi ya baiklah... Min Hyujin sosok yang belum lama bergabung bersama kami, hanya terdiam menyaksikan kekacauan para hati dihadapannya. Ironisnya, hanya dia dan akulah pria yang ada, yang tidak tahu harus melakukan apa untuk menghibur mereka.
Hari-hari terasa cepat berlalu, saat ini aku lagi-lagi tengah menyendiri di tepi danau yang sama dengan sebelumnya. Aku tidak tahu mengapa kakiku mengajakku kemari. Sedikit kutahui, danau ini menjadi tempat ternyamanku saat ini.
Malam terasa begitu dingin, hanya bulan sabit yang menyala indah memantulkan cahaya ke permukaan danau yang mampu mengurangi sedikit kesunyianku.
Meski pertemuan penting kami yang membahas tentang kutukan dan ramalan telah terjadi dua hari lalu, tetapi kepalaku belum juga berhenti memikirkannya.
Aku masih ingat bagaimana Ji-hyeon mengatakan bahwa para raja dari keenam kerajaan saat ini tengah bersembunyi di pengasingan agar terhindar dari kutukan penguasa sihir hitam, hingga membebankan tampu kekuasaan kepada para putri dan abdi istana.
Sejatinya mereka para raja masih menjadi pimpinan, tetapi dengan keberadaannya yang saat ini tersembunyi, maka para putrilah yang mengambil alih pemerintahan. Dan ini sudah terjadi sejak tujuh tahun lalu.
__ADS_1
Raja Cho Nam yang saat itu tidak kuasa melihat putrinya menjalankan tugas yang berat sebagai pemimpin ketika dirinya berada di pengasingan, hingga akhirnya dia memaksakan diri untuk kembali memimpin Cho Gu. Saat dia kembali memegang kepemimpinan, maka ketika itu dia tewas di atas tahtanya.
Seluruh mata yang menyaksikannya kaget bukan main, hingga tidak ada yang berani untuk mengambil alih pemerintahan melainkan putrinya sendiri, Cho Ji-hyeon.
Itulah salah satu kutukan yang mengerikan yang harus ditanggung oleh mereka. Saat kesembilan putri menginjak usia dewasa, maka efek dari kutukan itu akan bekerja.
Bahkan hingga saat ini, keenam raja lainnya masih berada di pengasingan. Menyaksikan putri mereka dengan susah payah mengatur keseimbangan pemerintahan sembari menemukan kunci agar telepas dari kutukan.
Dan aku disini, tidak tahu harus melakukan apa. Kepalaku terasa berhenti berpikir, aku belum mengetahui bagaimana kutukan mereka bisa dihentikan.
Saat aku tengah menatap biasan cahaya bulan di permukaan danau, aku merasa seseorang tengah mengamatiku dari belakang. Tetapi sepertinya dia tidak begitu membahayakan untukku.
Semenjak aku bisa mengeluarkan energi dari bayangan hitam, aku merasa semakin sensitif terhadap energi disekitarku.
"Kemarilah Ji-hyeon, mengapa kamu harus mengamatiku dari sana?"
Ucapku yang aku rasa energi khas ini berasal dari Ji-hyeon. Energinya tidak terlalu besar, tetapi jiwanya yang menggambarkan kepemimpinan menjadikanku merasa damai berada disekitarnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau ini aku?" Ji-hyeon jelas keheranan karena aku menebaknya tanpa menatap kebelakang.
Dia mendekatiku perlahan dan sambil tetap memasang raut tidak percaya terhadap dugaanku.
Aku hanya tersenyum tipis dengan pertanyaannya.
Benarkah aku telah memiliki kemampuan sehebat ini? maksudku untuk menebak energi yang ada disekitar kita hanya dengan merasakannya dan tanpa melihatnya, itu keren bukan?.
"Aku juga tidak tahu... tetapi energi yang kurasakan mengatakan kedamaian, jadi aku yakin itu kamu." ucapku sambil mengarahkan pandanganku kepadanya yang saat ini ikut duduk bersamaku.
"Kamu banyak berubah, Gi Tae..." kembali Ji-hyeon mengungkapkan sesuatu yang membuatku tersentuh.
"Apakah menurutmu itu baik untukku?" aku kembali membuka topik pembicaraan agar kehangatan ini berlangsung lama.
"Menurutku, selagi kamu tidak membahayakan keberadaan yang lainnya... maka itu masih baik untukmu"
Benar, dia selalu memikirkan orang lain diatas dirinya sendiri. Itulah mengapa aku bisa merasakan bahwa dia akan menjadi pemimpin yang baik suatu saat nanti. Bahkan saat ini dia telah membuktikannya sedikit demi sedikit.
Aku tidak bisa menahan senyuman yang ingin keluar dari bibir tipisku. Mungkin ini aneh, tetapi menatapnya seperti ini bisa membuatku selalu tersenyum.
"Berhenti menatapku seperti itu, Gi Tae... Kamu terlihat sangat aneh saat ini!"
Dia tidak berani menatapku. Sepertinya aku terlalu berlebihan hingga membuatnya merasa tidak nyaman. Aku memang bodoh! mengapa aku harus terus menerus menatapnya. Tetapi, memang tidak dapat ku tolong. Wajahnya bisa mengalihkan seluruh perhatianku.
"Kamu terlihat begitu indah saat ini..." entah apa yang merasukiku, hingga membuatku berani mengatakan hal senekat itu kepadanya.
Meski pencahayaan hanya terbatas oleh cahaya bulan dan dia mengalihkan pandangannya dariku, tetapi aku dapat memastikan bahwa saat ini wajahnya tengah merona. Itu justru menambah kecantikannya dibawah sinar rembulan.
"Mengenai ramalan yang kalian dengarkan. Apakah menurutmu aku bisa mengubahnya?" aku mengalihkan pembicaraan saat kurasa alam bawah sadarku semakin melangkah jauh. Aku tidak ingin memberikan kesan 'pria mengerikan' kepada Ji-hyeon. Karena sejujurnya, aku tidak memiliki niat apapun kepadanya.
Ku akui aku sempat memikirkan hal lain ketika bibirnya menyita perhatianku.
"Jika untuk merubah mungkin sulit untukmu, tetapi aku yakin kamu pasti bisa jika untuk mengatasinya..." senyuman itu lagi.
__ADS_1
Mengapa dia harus terus tersenyum ketika selesai mengatakan sesuatu. Bagaimana aku bisa menahannya jika dia terus tersenyum manis seperti itu.
"Ji-hyeon...--"
"Apakah kamu mendengarkan ku, Gi Tae...?"
Ji-hyeon menatapku dengan sungguh-sungguh. Dia memotong kalimatku, hingga aku kembali tersadar dan memusatkan lagi pikiranku kepada pembicaraan kami.
Apa yang tengah kamu pikirkan Gi Tae! jangan bertindak aneh! Aku memarahi diriku sendiri.
"Oh... tentu saja aku mendengarkanmu" jawabku dengan tersenyum canggung kepadanya "hanya saja... aku tidak tahu harus dari mana memulainya" tambahku dengan menghela napas dan kembali menatap ke danau.
Jujur saja, ini semua baru bagiku. Aku yang tadinya hidup dengan persembunyian dan pelarian, kini menerima sebuah kenyataan besar bahwa aku adalah sumber petaka. Tidak hanya itu, aku juga harus bisa mengatasi ramalan kehancuran atas kedatanganku.
"Bukankah jika kuhapus kutukan kalian maka Daegun akan hancur? dan jika kutukan kalian tidak juga menghilang maka Daegun akan tetap hancur? jadi apa poinnya?!"
Aku sungguh tidak mengerti dengan kutukan yang aneh ini. Ramalan dan kutukan, keduanya adalah sakit di pantat.
Siapa sebenarnya orang bodoh yang memberikan kutukan aneh ini. Jika aku bertemu dengannya, pasti akan kumarahi habis-habisan dia.
"Bukankah kamu bilang kamu sering bermimpi aneh?"
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Ji-hyeon kembali bertanya kepadaku.
"Sangat sering, bahkan itu terasa begitu nyata..." jawabku sambil merinding mengingatnya.
"Adakah mimpi yang mengingatkanmu tentang ramalan ataupun kutukan?"
"Semua mimpiku itu kutukan bagiku, kecuali mimpi ketika bersamamu waktu itu.... ehh..."
"Gi Tae, aku tidak sedang bergurau!" Ji-hyeon kembali menatapku dengan serius.
Sempat terlupakan olehku, gadis satu ini juga bisa berbahaya ketika marah. Aturan 245 Jangan membuat dia marah!.
"Mm-maksudku, aku baru ingat aku sempat bertemu dengan petapa tua di dalam mimpiku..." tatapannya membuatku sedikit terbata. Matanya memiliki power yang luar biasa.
"Benarkah? dia berkata apa?" dengan antusias Ji-hyeon tertarik dengan kalimatku.
Saat ini dia terlihat begitu menggemaskan dengan matanya yang bulat pada wajah manisnya.
Aku harus fokus
"Aku sedikit lupa, jika tidak salah saat itu dia berkata bahwa aku harus menyatukan kesembilan cahaya..." jawabku sembari mengingat-ingat mimpiku saat itu "sepertinya itu terjadi saat aku keluar dari penjara Hira dan sesuatu membawaku kepada petapa tua itu." tambahku sambil kembali menatapnya.
"Sembilan cahaya?? mengapa kamu baru mengatakannya?!" Ji-hyeon menaikkan nada bicaranya hingga membuatku tersentak kaget.
"Itu... karena kamu tidak bertanya padaku??" dan akupun juga tidak memiliki alasan lain.
"Kita harus ke kerajaan Jang Gu!"
Dia bergegas bangkit dan meninggalkanku tanpa petunjuk.
__ADS_1
"Ji-hyeon! tunggu! apa maksudmu?!"