
Di dunia lain yang dipenuhi dengan kegelapan, hanya terdapat kebisingan yang rancu dan kabut hitam dimana-mana. Di dunia yang terletak diantara kehidupan dan kematian, sang Penguasa Sihir Hitam mulai kembali menuju singgasananya untuk memimpin kembali negri kabut hitam. Jiwanya kembali bangkit dan menyatu dengan kegelapan. Hanya menunggu waktu yang tepat baginya untuk menjadi sempurna.
"Aku merasakan kesegaran yang belum pernah kudapatkan selama berabad-abad... ahhh..." penguasa sihir hitam meregangkan otot-otot di tubuhnya dan bergumam.
Dia merasa puas dengan kinerja Moon Gi Tae. Tanpa mengingatkannya kembali, Gi Tae telah melakukan sesuatu yang sangat berharga untuk kekuatan yang akan menjadi miliknya kembali.
"Gi Tae adalah senjata andalanku... manusia memang sangatlah naif. Dia adalah jiwaku yang sejati! hahahaha...!" gelak tawa sang penguasa sihir hitam terdengar dari seluruh istana kabut hitam.
Para pengikutnya yang berbaris di sisi kiri kanan turut mengangguk dan tertawa, mengikuti kesenangan sang pemimpin.
Pengikut dari kabut hitam merupakan mahluk-mahluk yang dikutuk oleh para dewa. Mereka menyerupai wajah-wajah binatang yang mengerikan namun dengan perawakan layaknya manusia. Mereka adalah kaum buangan yang tidak layak hidup dan tidak boleh musnah.
Keserakahan akan kekuasaan dan kekuatan adalah jawaban mengapa mereka memperdaya manusia dan menyebarkan angkara murka. Menghasut manusia untuk menanamkan bibit-bibit kutukan kepada sesamanya.
Inilah jawaban, mengapa kakek dari Moon Gi Tae menyumpahkan hal yang tidak semestinya dia lakukan kepada cucunya yang seharusnya terlahir menjadi sang pembawa keadilan.
Lalu bagaimana kesembilan cahaya memiliki kaitan dengan kabut hitam?
--
Waktu untuk berlatih telah ditentukan, dan saat ini Gi Tae harus melatih kemampuan fisiknya bersama Chu Yi.
Bisa diibaratkan dalam perkumpulan para putri dari ketujuh kerajaan, Chu Yi dan Jeong Ra adalah ksatrianya. Tidak salah jika mereka memilihnya untuk menjadi guru utama Moon Gi Tae, karena dengan postur tubuh dan kecakapan dalam berperang, Jeong Ra dan Chu Yi terlihat sangat mumpuni.
Terlebih lagi Chu Yi dan Jeong Ra lebih memiliki banyak pengalaman, baik dalam berguru maupun dalam perjalanan menunaikan tugas.
__ADS_1
Meskipun kesembilan putri memiliki kemampuan sihir dan kecakapan bertarung masing-masing, tetapi Chu Yi dan Jeong Ra berada di level yang berbeda.
"Apakah kau yakin bahwa kau sedang tidak menghukumku? karena dari yang ku rasakan, kau seperti tengah merencanakan kematian untukku!" gerutu Gi Tae dengan wajah masamnya.
Saat ini Moon Gi Tae tengah melakukan posisi kuda-kuda di bawah terik matahari siang. Dengan kaki yang melebar diikuti dengan lutut yang menekuk dan kedua tangan yang mengepal di sisi perutnya, dapat terlihat bahwa dia tengah meringis kepanasan. Tidak hanya itu, Chu Yi juga meletakkan tiga buah papan persegi yang tidak terlalu besar di atas kepala Gi Tae untuk menjaga keseimbangan badannya.
Sedangkan Chu Yi sendiri tengah duduk di atas sebuah batu dengan menyilangkan salah satu kaki di atas kakinya yang lain dengan begitu santai di bawah sebuah pohon rindang.
Pada 10 menit pertama dan 30 menit pertama, ketiga buah papan persegi sempat terjatuh dari kepala Gi Tae, dan Chu Yi tentu menghukumnya dengan membuat Gi Tae berlari mengelilingi halaman pondok yang cukup luas sebanyak 10 putaran.
Dan kini Gi Tae telah berhasil menahan papan-papan di atas kepalanya agar tidak terjatuh selama lebih dari satu setengah jam.
"Kamu sama sekali tidak mempercayai kami bukan?" helaan napas malas terdengar dari mulut Chu Yi.
Tiga buah papan persegi kembali melayang dan mendarat di tumpukan papan di atas kepala Gi Tae.
Gi Tae kembali meringis karena kepalanya saat ini terasa berat dan nyeri. Bagaimana tidak, latihan fisik semacam ini belum pernah dia lakukan. Ini adalah kali pertamanya, dan dia harus berjemur di bawah terik siang dengan enam buah papan persegi. Sungguh pengalaman pertama yang mengerikan.
"Chu Yi! apakah kamu serius?!" tanya Gi Tae dengan menahan beban di kepalanya.
Chu Yi hanya mengangkat kedua pundaknya dan mengalihkan pandangan ke sekitarnya dengan tidak bersalah.
Kaki Gi Tae tidak bisa berbohong dan terus gemetar merasa tidak sanggup lagi. Dan akhirnya setelah tujuh menit berselang, Gi Tae kembali tumbang.
Badannya terjatuh menyebabkan papan-papan berjatuhan mengikuti gerakkannya.
__ADS_1
Helaan napas dalam-dalam dari Chu Yi kembali terdengar.
"20 kali putaran!" perintah Chu Yi tanpa ampun.
Gi Tae kembali berdiri dan menatap Chu Yi dengan kesal.
"Kau wanita gila!" ucapnya dengan geram. Namun setelahnya, Gi Tae juga mengikuti perintah Chu Yi, yaitu berlari mengelilingi halaman pondok sebanyak 20 kali.
Putaran pertama dapat dilaluinya dengan mudah. Kedua juga masih sama, meskipun kelelahan Gi Tae masih bisa bertahan. Ketiga... keempat... kelima, dan saat Gi Tae mencapai putaran keenam, staminanya tidak dapat berbohong. Dia sudah berjemur selama lebih dari dua jam, dan kini tubuhnya benar-benar kelelahan.
"Aku... sudah.. hhh.. tidak sanggup..!" ucap Gi Tae setelah berhenti pada putaran keenam dengan napas yang terengah-engah.
"Jika kamu berhenti, maka akan kutambah 30 lagi!" ucap Chu Yi dengan senyum yang indah namun mematikan.
Mendengar hal itu membuat Gi Tae membuka matanya lebar-lebar.
"Chu Yi kumohon...." pinta Gi Tae dengan memasang ekspresi memelasnya "kamu bukan tipe orang seperti ini bukan? bahkan aku sangat mengagumimu... kau ingat pertama kali kita bertemu? aku melihatmu sebagai seseorang yang berhati mulia dan berkharisma!" Gi Tae mencoba meluluhkan hati Chu Yi yang sama sekali tidak peduli dengan wajah lelahnya.
"Aku menghargai kata-katamu, Gi Tae... Tetapi seperti yang kamu lihat. Kali ini tugasku tidak untuk mendengar rayuanmu, tetapi untuk melatihmu..." dengan dahi yang mengkerut dan ekspresi penuh perhatian, Chu Yi menjelaskan tujuannya. Memberikan Gi Tae tanpa pilihan kecuali menyerah.
"Baiklah... aku akan selesaikan 14 putaran lagi, tapi kumohon jangan beri aku 30 lagi..." pintanya dengan memelas.
Jauh di dalam lubuk hati Chu Yi, dia juga dapat merasakan ekspresi Gi Tae. Dia tidak seperti Jeong Ra yang bisa dengan tegas melakukan hal yang seharusnya dilakukan, dia juga bukan seperti Sazhawa yang bisa mengekspresikan perasaannya melalui wajah atau senyumnya, dia hanyalah Zhao Chu Yi yang pendiam namun memiliki rasa peduli, terutama kepada orang-orang yang banyak membawa beban hidup seperti Gi Tae.
Ini seperti Chu Yi sendiri juga pernah merasakan hal-hal seperti itu sebelumnya.
__ADS_1
Banyak hal tersembunyi yang bisa terbaca melalui mata dari tiap-tiap orang.