Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
21. Kutukan Mengerikan


__ADS_3

Sihir langka yang telah menghilang? apa maksud Jeong Ra sebenarnya?


Aku terus bertanya-tanya di dalam benakku hingga saat ini, dalam pekerjaan yang aku lakukan. Aku tengah memotong kayu menggunakan kapak. Terima kasih kepada Ji-hyeon, karena sihirnya bisa menciptakan kapak besi dengan kedua sisi yang tajam ini.


Ya, kemampuan sihir Ji-hyeon adalah transfigurasi. Dia bisa mengubah atau membentuk benda dan suasana menjadi bentuk yang sesuai dengan keinginannya. Terdengar mengagumkan bukan? aku sungguh ingin memiliki kekuatan sihir semacam itu.


"Crakk!!"


Kapak yang kuayunkan kembali menancap pada permukaan kayu bulat yang kuletakkan di atas kayu yang lebih besar sebagai alas dan membelahnya menjadi dua bagian.


Senja hari ini tidak terlalu buruk, terasa cerah sebagaimana mestinya dengan semburat emas menyinari pepohonan di sekitarku. Aku tidak tahu kemana perginya para putri yang cantik namun gila itu. Mereka hanya akan mencari dan menyuruhku jika mereka memerlukan kemampuan manusia normal sepertiku saat ini, membuat kayu bakar.


Kusebut gila karena mereka selalu membuatku kualahan dalam menanggapi mereka.


Tetapi lebih bersyukurnya lagi mereka mau menuntunku menjadi lebih baik dan menganggapku sebagai bagian dari mereka. Mereka adalah teman dan guru sekaligus keluarga bagiku sekarang ini.


"Hmhhh..." aku mengeluarkan desah napas berat seakan permasalahan ku juga turut keluar bersamanya "semoga orang tuaku baik-baik saja saat ini..." gumamku dengan menengadahkan kepalaku ke atas menatap langit jingga. Mulut sedikit terbuka, merasakan udara sore yang menjanjikan.


"Apakah aku sudah selama itu tidak bertemu mereka? mengapa aku begitu merindukan mereka?" tambahku dengan sedikit kecewa "kuharap aku tidak menyusahkan ibu dan membuatnya terlalu menghawatirkanku"


Aku mengangkat kapak yang kugenggam tinggi di atas kepalaku dan mengayunkannya lagi.


"Craakkk!!"


"Gi Tae...!"


Saat kapakku berhasil membelah kayu menjadi dua bagian, sebuah suara memanggilku dari arah kiri membuatku mengalihkan perhatian ke sumber suara.


"Oh, Sazhawa..." aku menyambutnya dengan senyum saat mengetahui dia adalah Sazhawa "ada apa kau kemari?" tanyaku kepadanya.


Aku bisa memastikan. Dari sikapnya, dia terlihat tengah memikirkan sesuatu, seperti hendak mengatakan atau meminta sesuatu tetapi dia tidak yakin untuk memintanya.


"Ada apa Sazhawa... apakah kamu menginginkan sesuatu?" tanyaku dengan baik-baik, mencoba mengetahui alasannya.


"Ermmm..." dia mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat dan matanya kesana kemari, tidak berani menatapku.


Mengapa dia bersikap aneh seperti ini? sepengetahuanku, dia adalah putri yang selalu berterus terang dalam keadaan apapun.


Apakah sesuatu menghalanginya? bahkan aku sudah menganggapnya orang yang paling dekat denganku. Apa yang terjadi padanya?


Aku terus menatapnya heran dengan menaikkan kerutan di dahi dan alisku.


"Gi Tae..." dia menelan ludahnya perlahan, aku bisa melihat lehernya bergerak saat dia melakukan itu.

__ADS_1


Mengapa dia sangat gugup?


"Kamu terlihat sens- maksudku! kamu terlihat sangat lelah... yah lelah! ini ada kain untuk menyeka keringatmu!" dengan gugup dia menyodorkan kain berwarna putih kepadaku.


Sens? sens apa? sensitif... sensasi... atau sensual?


Tidak mungkin, apakah dia menyebutku terlihat sens--sual. Dewa, mengapa badanku tiba-tiba terasa panas.


"Terimakahshshd! maksudku terimakasih Sazha!" aku segera menarik kain yang ada ditangannya dan langsung menyeka keringatku tanpa memperhatikannya.


Hey hey! kenapa aku ikutan gugup, apa yang terjadi! gadis ini benar-benar tidak terduga.


Jika dia canggung seperti ini, aku juga jadi ikutan canggung. Kenapa dia malah diam saja dan hanya bermain dengan jemarinya.


"Ehmm.." aku berdehem untuk menarik perhatiannya "jika aku boleh menanyakan sesuatu... apakah kamu tahu sesuatu tentang sihir langka?" aku menanyakan hal yang mengganggu pikiranku kepadanya. Tidak ada salahnya kan, dan aku harap Sazha bisa menjawab rasa penasaranku.


Dia menatapku kembali sambil menyelipkan helai rambut kebelakang telinganya sebelum menjawabku.


Dewa, dia terlihat begitu sempurna. Rona merah muda dipipinya begitu manis dan menggemaskan, aku ingin sekali mencubitnya.


Saat dia membuka mulutnya dan hendak menjawab pertanyaanku, seseorang datang mengganggu kami.


"Kau harus ikut denganku!" suara lain mengganggu momen dan mengalihkan perhatian kami.


Aku merasa tidak enak dengan Sazhawa, padahal aku ingin lebih berlama-lama dengannya. Meskipun hari ini dia terlihat agak aneh, tetapi aku bisa merasakan kenyamanan walau dia hanya diam dan malu seperti itu.


--


Petang telah tiba, aku bersama dengan Mizhawa dan Sazhawa masuk ke kedalaman salah satu hutan besar di wilayah kerajaan Cho Gu di mana pondok kami juga berada.


Sebelumnya Mizhawa menyuruhku untuk ikut dengannya mencari akar rempah untuk campuran minuman kami malam nanti. Tetapi karena aku akan kecewa jika meninggalkan Sazhawa sendirian, maka aku mengajaknya untuk ikut bersama kami.


Hanya obor kecil yang menjadi sumber pencahayaan kami dengan Mizhawa yang memimpin didepan.


"Kamu harus berhati-hati, Gi Tae...! aku dengar di hutan ini ada seseorang yang terkena kutukan karena telah memasuki wilayah hutan larangan lalu melarikan diri ke sini" ucap Sazhawa di tengah keheningan dalam perjalanan kami.


"Benarkah? tetapi sepertinya hutan besar yang ada di Cho Gu ini terlihat damai dan aman?" tanyaku penasaran dengan cerita Sazhawa.


Mizhawa tidak memberikan perhatian apapun kepada percakapanku dan Sazhawa, dia hanya fokus pada pencarian akar rempah pada setiap jengkal tanah yang kami lewati.


"Itu benar! dia pernah memasuki hutan larangan dan dia dikutuk oleh penyihir ilmu hitam yang berada di sana. Setelah itu dia lari ke hutan ini karena ketakutan!" Sazhawa terlihat begitu antusias dalam bercerita "dan kau tahu? orang itu dikutuk menjadi binatang buas yang mengerikan!" tambahnya dengan wajahnya yang sangat ekspresif.


"oh benarkah?! lalu bagaimana keadaannya?" akupun semakin penasaran dengan yang terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Pada suatu hari, ada segerombolan pemburu yang sempat bertemu dengannya. Tetapi mereka dibantai oleh orang terkutuk itu, dan hanya tersisa satu dari pemburu... lalu dialah yang menyebarkan ceritanya ini!" tambahnya dengan tersenyum puas karena menceritakan sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya.


"Itu sangat mengerikan!" sahutku dengan bergidik merinding.


"Hhhh... omong kosong!" Mizhawa bergumam dengan suaranya yang terdengar jelas sambil terus berjalan.


Benar-benar sangat lihai dalam memperburuk suasana.


Malam semakin gelap dan banyaknya ranting dari tumbuhan liar semakin mempersulit kami dalam memilih jalan. Ditambah dengan dingin yang mulai terasa membuat kami sulit memusatkan perhatian kepada tanah disekitar untuk mendapatkan akar rempah yang kami cari.


"Itu, disana!" setelah lama menyusuri hutan, akhirnya Sazhawa yang berjalan di sampingku tiba-tiba berteriak dan menunjuk ke gundukan tanah yang berada di bawah sebuah pohon yang rindang.


Mizhawa mengarahkan pencahayaan obor kepada arah yang ditunjuk oleh Sazhawa, akupun memusatkan pandanganku yang terbatas dengan bersusah payah.


Sazhawa berlari mendekat ke gundukan tanah tersebut dan berjongkok untuk memastikan bahwa itu adalah akar yang kita cari, diikuti olehku dan Mizhawa dari belakangnya.


"Sazhawa benar, ini yang kita cari" ucapku dengan tersenyum lebar kepada Mizhawa.


"Hmm... yasudah, sana ambil!" perintah Mizhawa dengan acuh tak acuh membuatku menggelengkan kepala entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Hhhhrrgggghh...!"


Saat aku hendak berjongkok untuk mengambil akar rempah, terdengar suara erangan yang sangat berat.


Suara itu sontak membuat kami kembali waspada. Sazhawa juga kembali berdiri dan kami melihat sekitar untuk mengetahui sumber suara erangan itu.


"Hhhhhrrrrggghhhhhh....!!!!"


Suara berat itu kembali datang tetapi lebih panjang dan lebih menggema dari sebelumnya. Mizhawa berulang kali mengarahkan obornya ke kiri dan ke kanan untuk memberikan penerangan kepada pencarian kami.


"Kalian mendengarnya juga kan?" tanya Sazhawa dengan terlihat begitu khawatir.


Aku dan Mizhawa mengangguk kepadanya dengan ekspresi yang tidak jauh berbeda dengannya.


"Sudah lama aku tidak memangsa manusia... daging binatang membuatku bosan! hrrrrghhh!"


Sesuatu berwarna hitam muncul dari semak belukar, dan saat dia berdiri dihadapan kami betapa terkejutnya kami.


Tubuhnya dipenuhi bulu dengan mata menyala merah. Taringnya melengkung dari bawah ke atas dan atas ke bawah. Wajahnya terlihat seperti seekor serigala hutan yang mengerikan tetapi dengan badan besar dan ekor yang begitu panjang seperti monyet raksasa. Dia menyeringai kearah kami bertiga mengalirkan rasa merinding di sekujur tubuh.


Darahku mengalir cepat, jantungku berdetak begitu keras. Aku bisa merasakan bahwa saat ini nyawaku sedang mengkhianati tubuhku dan pergi begitu saja. Membuat wajahku memucat dengan mata tanpa berkedip.


----

__ADS_1


__ADS_2