
Mizhawa mendarat di sebuah dahan pohon yang besar setelah terbang cukup jauh. Matanya menyisir setiap jengkal tanah di bawahnya, namun belum juga menemukan keberadaan Gi Tae.
"Kemana perginya manusia idiot satu itu...!" gerutunya dengan mendesah kesal.
Sebelumnya Mizhawa secara diam-diam mengikuti rombongan Sazhawa yang menemukan jejak kepergian Gi Tae. Tetapi setelah itu, dia memutuskan untuk menyusuri kedalaman hutan yang gelap mencekam.
Dia berpikir jika Gi Tae adalah orang yang telah menghancurkan bebatuan dan pepohonan hingga berkeping seperti itu, bukan tidak mungkin kini dirinya memang tengah diselimuti energi yang kuat.
Dan mengingat bahwa hingga saat ini Gi Tae belum juga kembali, berarti energi itu salah satu yang berasal dari kegelapan. Sama seperti yang terus terdengar olehnya, bahwa dia harus menyelamatkan jiwa Gi Tae.
"Tapi kemana lagi aku harus mencarinya!" Mizhawa terus saja menggerutu.
Kegelapan hutan sama sekali tidak membantu pencariannya.
"Jika bukan karena suara yang bising di kepalaku ini, aku pasti sudah ada di alam mimpiku!" kembali gumam yang tidak terlalu jelas terdengar dari celah-celah bibir manisnya.
Setelah lama merenung, akhirnya matanya tertuju pada sesuatu yang bercahaya di kejauhan.
"Jika cahaya itu terlihat dari atas pohon ini, bukan tidak mungkin kalau itu bersumber dari sesuatu yang besar..." gumamnya penasaran "aku harus mencari tahu ada apa disana!" tambahnya seraya kembali melompat dan terbang menuju cahaya yang dilihatnya.
--
"Moon Gi Tae!" seseorang memanggil Gi Tae saat dirinya tengah memfokuskan diri bersiap untuk memasuki pusaran merah.
Gi Tae mengalihkan perhatiannya kepada sumber suara. Dia adalah Mozhawa, tetapi kali ini dia sendirian. Menyebabkan beberapa pertanyaan tumbuh di kepala Gi Tae.
"Mozha... apa yang kamu lakukan disini?" tanya Gi Tae yang terlihat kaget dan tidak senang dengan kehadirannya.
"Gi Tae, kita perlu bicara..." Mozha memintanya dengan memelas.
"Pergilah dari sini... di sini berbahaya untukmu!" meski kebenciannya tengah meningkat, namun Gi Tae tidak bisa bersikap kasar terutama kepada Mozhawa yang selalu menolongnya.
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak berniat memasuki itu!" ucap Mozhawa sembari mengarahkan perhatiannya kepada pusaran merah "karena jika kamu memasukinya, maka aku akan ikut masuk kedalamnya." tambahnya dengan tegas dan menatap tajam mata Gi Tae.
"Sayang sekali, Mozha... karena aku ingin mengetahui apa yang ada di dalamnya." sambung Gi Tae dengan tatapan pasti.
Tanpa mempedulikan Mozhawa lebih lama, Gi Tae melangkahkan salah satu kakinya untuk memasuki pusaran merah yang besar dan mengerikan.
"Gi Tae! kamu tidak boleh melakukannya!" pekik Mozhawa sambil berlari dan menarik lengan Gi Tae sekuat tenaganya.
Namun Gi Tae kembali tersulut emosi, dia merasa bahwa tindakan Mozhawa hanya ingin mengontrolnya.
"Pergilah!" Gi Tae berteriak dan menghempaskan Mozhawa dengan kasar hingga membuatnya terjatuh di tanah.
Mozhawa sungguh tidak menyangka bahwa Gi Tae bisa setega itu kepadanya.
Banyak perubahan buruk yang semakin menjadi pada Gi Tae.
Gi Tae sangat geram dengannya saat ini. Dia memanggil energi berat yang belum lama dia dapatkan dan menghantam Mozha dengan kekuatan tersebut.
"Hiaakkk!!"
Mozhawa tidak memiliki waktu untuk mengelak serangan Gi Tae. Matanya terbuka lebar saat kepulan energi yang bulat membentuk seperti sebuah bola hitam dengan asap sebagai ekornya melayang dengan pesat mendekatinya.
Sazhawa yang melihat kejadian itu dari kejauhan berlari untuk menyelamatkan Mozhawa.
Namun belum sempat energi hitam Gi Tae sampai di tubuh Mozhawa dan Sazhawa, sebuah energi berwarna kuning datang menghantamnya, hingga membuat kedua energi bertabrakan dan meledak di pertemuan.
Hyujin dengan dipenuhi rasa khawatir berlari menghampiri kedua putri Hira yang tengah ketakutan.
"Kamu benar-benar telah melampaui batas, Gi Tae!" ucap Sazhawa dengan menggelengkan kepalanya sesaat setelah berhasil membantu Mozhawa berdiri. Dia tidak mengira ini sungguh terjadi.
Energi kuning yang membentur energi hitam berat milik Gi Tae tadi berasal dari Min Hyujin.
__ADS_1
Benar, dia juga memiliki kekuatan sihir. Bagaimana seseorang bisa dengan berani memasuki hutan larangan jika tidak memiliki kekuatan apapun, bukan?
Menurut para putri, dengan adanya Hyujin akan dapat membantu tugas-tugas mereka. Karena tidak hanya ahli dalam bertarung, Hyujin juga memiliki sihir perlindungan. Dia bisa memunculkan tameng pelindung ataupun memecahkan energi sihir yang berbahaya untuknya. Ini akan sangat berguna bagi mereka kelak.
Moon Gi Tae yang melihat hal ini semakin geram. Dia benar-benar telah termakan oleh amarahnya.
"Terlalu banyak orang yang mencampuri urusanku!" dengan mata yang memerah, Gi Tae kembali memanggil energi di tangan kirinya dan hendak menghantam mereka bertiga.
"Aakhhh!!!"
Namun sebuah panah melesat begitu cepat dan menancap di punggung Gi Tae saat dia hendak kembali mengeluarkan serangan hingga membuatnya tersungkur.
Itu adalah panah sihir yang hanya dimiliki oleh putri Hira, Mozhawa langsung mengenalinya.
"Gi Tae!!"
Mozhawa berusaha berlari untuk melihat kondisi Gi Tae. Bersamaan dengan itu, Mizhawa turun dengan cara melompat dari sebuah dahan pohon yang berdiri dibelakang Gi Tae.
"Aarrghhh..."
Gi Tae mengerang kesakitan dengan terus memegangi pundaknya sembari berusaha duduk berlutut.
Sazhawa dan Hyujin ikut mendekati Gi Tae yang terlihat seperti tengah menemui ajalnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, ini tidak sedalam sebelumnya..." ucap Mizhawa dengan santainya.
Moon Gi Tae masih bisa mengarahkan pandangannya kepada Mizhawa dengan bersusah payah.
"Kau... aargh.." Gi Tae melihat Mizhawa menyeringai ke arahnya. Dia sama sekali tidak menyangka, setelah apa yang terjadi diantara mereka, Mizhawa tetap memiliki keberanian untuk memanahnya.
"Jangan banyak bergerak! aku akan mengobatimu..." ucap Mozhawa yang terlihat cemas bersamaan dengan hilangnya kesadaran Moon Gi Tae.
__ADS_1