Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
35. Kutukan dan Ramalan (1)


__ADS_3

"Musuh Daegun...?"


Kesembilan putri Daegun bersama dengan Gi Tae dan Hyujin berkumpul di ruangan utama pondok kayu.


Mereka ingin menyelesaikan kegundahan hati mereka, terlebih lagi Gi Tae tidak memiliki petunjuk apapun mengenai ramalan dan energi bayangan hitam yang selama ini dibicarakan oleh kesembilan putri Daegun itu.


"Sesuai dengan yang kamu minta, Gi Tae. Disini aku akan menjelaskan tentang ramalan dari kutukan berkah yang menyertaimu... Tetapi sebelum ini lebih lanjut, aku ingin mengetahui apa saja yang telah kamu ketahui tentang kutukan yang ada padamu, bisakah kamu menjelaskannya kepada kami? Meskipun tidak bisa, aku akan tetap memaksamu untuk menjelaskannya..."


Ji-hyeon sebagai pemimpin para putri dari ketujuh kerajaan berbicara kepada Gi Tae dengan suara yang penuh kharismatik dan memerintah. Dia memiliki jiwa kepemimpinan yang begitu menonjol diantara delapan putri lainnya. Meskipun diantara mereka juga nantinya akan memimpin kerajaan masing-masing, tetapi Ji-hyeon adalah sosok yang menggambarkan kebijaksanaan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan pertimbangan. Perintahnya adalah aturan yang harus diikuti oleh rakyat maupun para putri lainnya.


"Baiklah... jadi--"


Terdapat jarak waktu beberapa detik untuk dia melanjutkan kalimatnya. Gi Tae merasa kurang nyaman dengan 10 pasang mata yang saat ini menatapnya dengan tajam. Tetapi dia harus mengatakan kepada mereka tentang apa yang terjadi padanya.


"Aku tidak mengetahui apapun kecuali takdir yang kubawa. Seperti yang telah kalian lihat... untuk me---ngecup bibir korban kutukan sihir hitam sebagai penawar sihir hitam yang ada pada mereka" percayalah, itu sangat sulit untuk memberikan penjelasan yang terdengar tabu tapi wajar untuk diceritakan.


Membuat kesembilan putri dan juga Hyujin mengalihkan pandangan mereka dari Gi Tae. Suasananya berganti menjadi canggung saat Gi Tae melirik mereka dengan penuh kecanggungan "dan itu harus terjadi di sepanjang hidupku, begitulah kakekku mengutukku" tambahnya dengan menghela napas dalam-dalam.


Dia merasa sesuatu yang berat yang selama ini mengganjal di dadanya sedikit terangkat seiring saat dia menceritakan rahasia hidupnya.


Jika selama ini kedua orang tua Gi Tae berusaha keras menutupi identitas Gi Tae yang sebenarnya, tetapi kini dia tidak memiliki pilihan lain untuk mengatakan yang sejujurnya kepada orang-orang yang dia pikir akan membantunya mengatasi keanehan-keanehan yang belakangan ini terjadi kepadanya. Itulah harapannya.


"Itu saja?" kembali Ji-hyeon bertanya dengan mengernyitkan keningnya dan mengangkat salah satu alisnya.

__ADS_1


Melihat sikap Gi Tae, Ji-hyeon merasa dia belum mengatakan semuanya kepada mereka.


"Yah... hanya itu" jawab Gi Tae dengan mantap.


"Lalu mengapa keberadaanmu tidak pernah diketahui?" kali ini Na Yeong ikut bersuara menyampaikan rasa penasarannya.


Bukan tanpa alasan Na Yeong mengatakannya, bahkan para putri lainnya juga memiliki pemikiran yang sama sepertinya. Rahasia untuk diketahui, bahkan mereka juga telah berusaha mencari-cari keberadaan sang 'Blessing Curse' untuk menjalankan niatan mereka sebelumnya. Tetapi sejauh mereka berpetualang, mereka tidak menemukan sedikitpun petunjuk tentang keberadaannya.


"Itu karena keberadaanku tidak boleh diketahui oleh siapapun..." jawab Gi Tae dengan menatap melas kepada Na Yeong "itu semua demi keselamatanku sendiri." tambahnya dengan ragu-ragu. Bahkan di dalam hidupnya, Gi Tae sebenarnya juga ingin hidup normal dan pergi sesuai kehendaknya, seperti halnya para putri itu lakukan saat ini. Kepercayaannya selama ini adalah, orang tuanya hanya menginginkan keselamatannya.


"Tapi... bagaimana caramu menyembuhkan kutukan mereka jika keberadaanmu sendiri disembunyikan?" tanya Chaeyun yang tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan Gi Tae lebih lengkap sembari mengerutkan dahinya.


Datanglah saat dimana dia harus menjelaskan semuanya dari awal. Meskipun Gi Tae sangat bosan dan lelah untuk mengatakannya, namun dia harus menceritakan bagaimana kehidupan dia sebelumnya kepada mereka.


Jawabannya membuat setiap orang terdiam sebagai respon. Namun tidak sepenuhnya, karena di dalam kepala mereka sedang terproses pikiran-pikiran yang sedang bergelut menarik dan membentuk setiap benang yang terjuntai rumit.


"Apakah mungkin..." Mizhawa bergumam, suaranya yang lirih membuat tidak ada seorangpun yang mendengar gumamannya yang menggiringnya menuju lamunan. Namun berbeda dengan Sazhawa yang duduk tepat di sebelahnya. Dia menangkap perubahan pada ekspresi wajah Mizhawa yang sepertinya tengah mengetahui sesuatu.


"Mizhawa, apakah kau mengetahui sesuatu?" tanya Sazha yang seketika membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka kepada Sazhawa dan Mizhawa.


Mizhawa sontak terbangun dari lamunannya "huh? a--apa yang kau tanyakan barusan?" jawab Mizhawa seperti orang linglung.


Sazha menghela napas dalam-dalam seolah terganggu dengan ketidakfokusan sang adik.

__ADS_1


"Apakah kamu mengetahui atau menyimpan sesuatu?" kembali Sazha bertanya namun dengan penekanan nada yang terdengar malas.


"Oh itu..." Mizhawa memalingkan perhatiannya dari Sazhawa dan malah menanyakan hal yang mengganggu pikirannya kepada Gi Tae "apakah kamu tahu apa yang dikatakan oleh petapa tua itu, Gi Tae?" tanya Mizha dengan sungguh-sungguh kepada Gi Tae.


Gi Tae terlihat berpikir keras, mengingat hal-hal yang mungkin saja dia lewatkan dalam menjelaskan.


"Aku sempat mendengar orang tua dari korban kutukan sihir hitam itu mengatakan "temuilah cucu dari bayangan putra kegelapan yang terbuang, dapatkan kecupan darinya maka putrimu akan mendapatkan kembali matanya..." kira-kira seperti itu. Memangnya ada apa?" jawab Gi Tae seraya kembali bertanya kepada Mizhawa.


Tanpa Gi Tae sadari, mereka terkesiap mendengar penjelasannya. Lagi dan lagi wajah mereka terlihat seperti orang-orang yang sedang menatap iblis di hadapannya, hingga membuat Gi Tae keheranan.


"Itu adalah hal yang sama yang terdapat di dalam ramalan...!" ucap Jeong Ra dengan menutup mulutnya kaget.


Gi Tae semakin tidak mengerti, mereka selalu membicarakan tentang ramalan, ramalan, dan ramalan. Tetapi tidak ada yang memberikan penjelasan sedikitpun kepadanya, hingga membuatnya merasa frustasi.


"Sebenarnya ramalan apa yang kalian bicarakan! aku benar-benar tidak mengerti!" ucap Gi Tae dengan menaikkan nada suaranya frustasi dan meremas rambutnya yang pendek dengan salah satu tangannya.


"Kruuuukkk... kruuuukk..."


Seketika konsentrasi dan ketegangan mereka terganggu saat sebuah suara perut keroncongan terdengar begitu keras dari arah Gi Tae.


"Hehe... mungkin ini waktunya untuk sarapan??" Gi Tae benar-benar berusaha menahan rasa malunya saat perutnya berbunyi di saat yang tidak tepat. Wajah dan telinganya memerah saat semua mata menatapnya aneh yang diikuti dengan para mata yang memutar kesal dan ******* malas.


Mungkin berteriak dan mengeluarkan energi hitam di pagi hari membuatnya kehabisan tenaga.

__ADS_1


 


__ADS_2