Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
43. Penentu Awal dan Akhir


__ADS_3

Aku masih terluka dengan kepergian Hyujin, tetapi aku tidak bisa hanya berhenti di sini. Mereka mengatakan bahwa monster ular berhasil untuk ditaklukkan, tetapi kami juga kehabisan energi dan tenaga untuk menangkapnya, hingga dia berhasil melarikan diri. Sangat disayangkan.


Dan sekarang ini aku telah kembali ke gubuk kecil tempatku bertemu dengan kakek petapa. Aku ingin bertanya beberapa hal kepadanya, tetapi dia juga tidak kunjung datang, sedangkan aku tidak memiliki cara untuk memanggilnya.


"Huh... adakah cara lain agar aku bisa bertemu langsung dengannya?" gumamku mengacu kepada kakek petapa.


Sebelumnya aku sempat bertanya kepada para putri tentang bagaimana aku bisa bertemu dengan si petapa tua itu, tetapi mereka serempak untuk menggelengkan kepala mereka.


"Kami tidak diizinkan untuk bertemu denganmu... dan tidak tahu apa yang terjadi di dalam gubuk" Mozhawa memberikan keterangan mewakili mereka sebelumnya.


"Sampai kapan aku harus menunggu?!" aku berdiri dari dudukku dan terus terusan menggerutu, kesal karena menunggunya.


"SWUUUSSSHHH!!!"


Tiba-tiba sebuah kayu yang cukup panjang mirip tongkat melesat cepat tepat ke arah wajahku, menyebabkan mataku untuk terbelalak dan dengan cepat berusaha menghindarinya. Aku sedikit melentingkan badanku kebelakang hingga kayu tadi hanya mengenai dinding kayu di belakangku dan aku segera melihatnya terjatuh.


"Hampir saja!" gumamku yang masih ketakutan "kejutan apa lagi ini?" tambahku dengan geram.


Namun belum sampai di sini, kayu itu kembali melayang dan berdiri di udara. Tidak terlalu panjang namun cukup untuk memberikan rasa merinding jika membayangkan akan pukulan yang dihasilkan.


Aku mundur beberapa langkah menjauhi si kayu terbang itu. Masih bertanya-tanya dalam benak, siapa pemilik kayu sialan ini.


Tidak lama kemudian, kayu itu dengan cepat kembali menyerang ku, memberikan pukulannya. Aku bersiap untuk menerima serangan.


Saat kayu coklat itu menyerang ku seperti benda yang digunakan untuk memukul seseorang, aku dengan sigap memutar badan dan menghindarinya. Kembali dia menyerang dengan pukulan lain dan aku berhasil mempercepat gerakanku untuk kembali menghindar. Hingga saat dimana aku lengah dan kayu itu berhasil membuat serangan susulan. Nahas aku hanya bisa melindungi tubuhku dengan kedua lengan yang aku silangkan di hadapanku.


"BAKKK!!!"


"ADUHHH...!!! SAKIT!"


Aku mengusap kedua lenganku yang terkena pukulan dari kayu coklat sialan itu sambil meringis kesakitan. Ini benar-benar sakit, siapa makhluk sialan yang saat ini tengah mempermainkanku!.


"Tunjukkan dirimu! jangan hanya menakutiku dengan sebatang kayu jelek!" aku berteriak kepada sekitarku, berharap orang atau sosok itu menunjukkan dirinya.


Tidak lama kemudian kayu itu kembali berdiri melayang di udara, dan setelahnya sosok petapa tua terlihat berdiri di sebelahnya dan memegang kayu coklat yang tadi menyerang ku.


"Hahahaha...." kekeh kakek petapa yang diikuti getaran di seluruh badannya, mengikuti gelak tawanya.


"Ternyata kau..." sambungku dengan kesal.

__ADS_1


"Hahaha.... hahhhh..." terlihat dia menarik napas karena lelah tertawa "aku tidak menyangka, kamu lebih lambat dari dugaanku..." sambungnya dengan terus memasang gigi senyumnya.


"Aku cukup cepat dalam mengelak seranganmu tadi!" sahutku tidak terima dengan pernyataannya.


"Ya...ya...ya..., tapi kamu berhasil terluka pada serangan terakhir, itu tandanya kamu belum bisa memusatkan perhatianmu..." jelasnya dengan sabar kepadaku.


Harus kuakui, aku sangat menyenangi kakek petapa ini. Aku merasa seperti sedang bersama dengan kakekku sendiri, atau mungkin aku hanya rindu keluargaku? bahkan aku sendiri tidak pernah merasakan bagaimana berada pada kasih sayang seorang kakek. Huhh... omong kosong yang ironis.


"Tapi kamu menyerang tanpa sepengetahuanku?!" aku mencari alasan yang logis dari keteledoran ku.


"Musuhmu tidak akan memberi tahu kapan dia akan menyerang." jawabnya singkat dan tepat.


Dia ada benarnya


Aku hanya memperhatikannya berjalan dan duduk di pinggiran ranjang kayu dengan tetap memegangi tongkatnya.


"Seingatku, kamu tidak pernah menggunakan tongkat untuk berjalan?" tanyaku heran kepadanya.


"Tongkat ini?" salah satu alisnya terangkat saat bertanya kembali kepadaku.


Namun dengan sekejap mata, tongkat yang tadinya dia genggam tiba-tiba berubah menjadi sebilah pedang. Tidak terlalu bagus, tetapi cukup untuk membuatku takjub.


"Apakah itu salah satu kekuatan sihirmu?" tanyaku tertarik kepadanya.


"Tunggu dulu anak muda... sepertinya kau lupa tujuan utamamu memanggilku?"


Oh benar! aku ingin bertanya hal lain. Tetapi kemampuannya menyilaukan mataku.


Tetapi aku memang penasaran dengan kemampuannya. Dan seingatku, aku sempat diselamatkan oleh seekor burung yang berkilau keemasan sebelum terjatuh dari bukit es buatan Dayeon. Apakah mungkin-


"Yah... yah.. yahh... cukup untuk hanya memikirkannya di kepalamu, kamu perlu mengungkapkannya keluar agar orang yang ada di sekitarmu mengerti"


Benar, dia juga memiliki sihir seperti Mizhawa yang bisa mendengar pikiran orang lain.


Aku perlahan duduk di sampingnya tanpa sepengetahuanku.


"Hanya-- siapa kamu sebenarnya?" aku kembali menanyakan ujung dari setiap keingintahuanku.


"Suatu saat kamu akan mengerti siapa aku, tapi untuk saat ini aku belum bisa membantumu secara langsung. Akan ada waktu dimana kita akan saling bertukar pikiran, tetapi itu nanti hingga saatnya tiba. Dan untuk menunggu saat itu, kamu harus terus bersama dengan kesembilan cahaya, kamu harus menuntun mereka, kalian harus menyatu, karena hanya itu yang bisa membantumu" dengan kesabaran dia mengatakan semua itu. Namun aku tetaplah aku, sulit mencerna hal yang belum aku pahami.

__ADS_1


Kesembilan cahaya? apakah itu mengacu kepada kesembilan putri Daegun?


"Aku benar-benar tidak mengerti, bisakah kau menjelaskannya kepadaku? aku tidak secerdas itu untuk menangkap setiap kalimatmu!" mungkin aku terdengar tidak sopan, tapi persetan dengan itu semua, aku hanya ingin semuanya jelas di kepalaku.


"Moon Gi Tae, putra Moon Youngjae, cucu dari Moon Ha Jin sekaligus putra bayangan kegelapan. Kamu ditakdirkan untuk menjadi awal dan akhir."


"Awal dan akhir? putra bayangan kegelapan? ap- apa-maksudnya semua ini?" aku kembali bertanya dengan ekspresi iritasiku. Bahkan tanpa kusadari kedua tanganku turut melayang-layang di udara karena frustasi.


"Perlahan, kamu akan memahaminya... dan mereka adalah jembatan dari pengetahuanmu. Kalian akan saling membutuhkan dan membantu karena kalian adalah sebuah takdir." Kakek tua perlahan berdiri di akhir kalimatnya dan berbalik badan untuk kembali menatapku.


"Simpan pedang ini, gunakan saat kamu membutuhkannya... jangan lupa untuk terus berlatih agar kamu bisa mengontrol kekuatan dahsyat yang ada pada dirimu... karena kamu hampir saja menghancurkan semuanya sebelumnya!" sambungnya dengan memberiku pedang yang sekarang sudah berada di sarungnya. Dia menatapku tajam seakan mengancam ku saat mengatakan aku sempat hampir mencelakai kesembilan putri, dan akupun tidak lupa bahwa aku sudah kehilangan salah satu orang yang sangat berharga.


Nasihatnya membuatku tertunduk lesu. Aku menyadari betapa buruknya tindakanku sebelumnya.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah... ini adalah awal dari semua ujian yang akan kamu hadapi, jadi persiapkan dirimu dan kuatkan hatimu!" dengan meletakkan tangannya dibahuku, dia berusaha menguatkan ku.


Aku hanya mengangguk perlahan mengerti ucapannya.


Lalu dia kembali membalikkan badannya dan bersiap untuk menghilang. Tetapi sebelum itu "Dan jangan khawatir, racun yang aku berikan kepadamu adalah penawar dari kedua energimu yang sebelumnya lepas kendali" setelah tatapan terakhirnya dia hilang menembus dinding kayu ruangan ini.


Sesaat setelah kakek petapa itu benar-benar telah menghilang, aku kembali tertunduk meratapi kecerobohan ku.


Bagaimana aku bisa meminta mereka semua untuk mengorbankan diri di hadapan monster buas? apa yang telah merasuki pikiranku?! apakah aku ingin bertindak layaknya seorang pahlawan?!


Aku tidak sanggup untuk kembali menunjukkan wajahku kepada mereka. Aku memang tidak punya hati untuk memikirkan keselamatan orang lain. Mereka calon pemimpin Daegun, dan aku hampir mencelakai mereka.


Saat-saat setelahnya, aku hanya mengunci diriku di ruangan kecil ini. Aku sangat malu, aku yakin saat aku tidak sadarkan diri, mereka juga tengah kesulitan mengembalikan energi mereka. Dan aku, dengan leluasanya berjalan kesana kemari dan menganggap hal itu biasa saja.


Hari berganti petang dan tidak kusangka hujan turun. Ruangan ini tidak memiliki jendela, beberapa kali aku mendengar ketukan pintu dan mereka memanggil namaku, mungkin mereka khawatir. Tetapi siapa aku untuk kembali menunjukkan wajah tanpa tahu diri ini dihadapan mereka.


Hingga pagi tiba aku hanya terduduk di atas ranjang kayu. Ragu untuk melangkahkan kaki.


Aku harus bagaimana? apakah aku benar-benar pengecut?


Hampir dua bulan kami bersama-sama, tetapi aku tetap seperti ini, tidak ada kemajuan. Aku yakin mereka kecewa kepadaku.


"Dewa... apa hukumanku?!"


 

__ADS_1


__ADS_2