Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
25. Kebisingan Tiada Henti


__ADS_3

Di sebuah pondok kayu kecil rahasia yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan pondok tempat Gi Tae tinggal, terlihat tiga sosok bayangan manusia tengah berbincang.


Hanya dengan sebuah lilin bambu di tengah meja bundar kecil sebagai sumber pencahayaan, ketiga sosok tersebut terlihat tengah serius dalam pembicaraan mereka.


"Kira-kira berapa lama lagi waktu yang kita butuhkan?" tanya sosok yang terlihat seperti pemimpin dari lainnya itu bertanya, dia adalah Ji-hyeon.


"Kita tidak memiliki banyak waktu lagi... sesuai dengan informasi tambahan yang kami dapatkan, diperkirakan energinya akan segera bangkit, hanya saja kita harus lebih waspada agar energi yang bangkit bukan dari bayangan hitam. Jika itu terjadi, maka kehancuran pasti akan datang." Chaeyun menjelaskannya dengan ekspresi yang serius. Biasanya Chaeyun adalah orang yang banyak bermain-main, tetapi pembahasan kali ini adalah pengecualian baginya.


"Aku semakin khawatir, hari ini dia telah gagal mengontrol emosinya... itu bisa menjadi pelatuk pemicu untuk energi dari bayangan hitam yang ada padanya" tambah Dayeon dengan refleksi cahaya lilin di bola matanya.


"Aku harap kita semua bisa menjaga emosinya tetap stabil, agar dia segera menguasai kekuatan sihir langka yang tersimpan padanya" gumam Ji-hyeon dengan penuh harap.


--


Moon Gi Tae sama sekali tidak mengerti dengan apa yang para putri gila itu pikirkan. Bagaimana mungkin mereka membiarkan seseorang yang hampir saja menghilangkan nyawa temannya tinggal bersama dengan mereka. Ini seperti sebuah penghianatan.


Di malam hari yang gelap, Gi Tae menyendiri di tepi sebuah danau kecil yang tidak terlalu jauh dengan pondok. Dia menemukan danau itu ketika perjalanan menuju kedalaman hutan di malam sebelumnya.


Dia melihat pantulan cahaya bulan yang membias pada permukaan air danau. Tangannya saling mengait lemah di atas lututnya, merenungkan semua yang terjadi di hidupnya.


"Mengapa aku seperti ini?" gumamnya sembari mengingat kembali hal-hal yang baru saja dia lakukan.


"Apakah itu kesalahanku jika aku membenci monster itu? apakah aku kecewa dengan mereka? ataukah mereka yang kecewa terhadapku?" tangannya menggapai sebuah batu kecil yang ada disampingnya dan melemparnya ke dalam danau. Menciptakan sebuah bunyi nyaring dari pantulan air.


"Apakah kamu benar-benar seorang laki-laki?" sebuah suara yang terdengar familiar mendatangi Gi Tae dalam lamunannya.


Gi Tae sontak memalingkan pandangannya ke samping menuju sumber suara.


Disana berdirilah Mizhawa dengan kedua lengan yang terlipat di atas dadanya disertai ekspresi yang biasa dia tunjukkan, acuh tak acuh.


"Ck..! apakah kamu harus melihatnya agar percaya bahwa aku laki-laki?" Gi Tae berdecak malas dan kembali memalingkan perhatiannya ke danau dengan wajah terganggunya. "Pergilah... aku sedang ingin menyendiri..." tambahnya tanpa basa-basi.


"Itu sedikit menjijikan" ucap Mizhawa dengan menyipitkan mata merasa jijik dengan jawaban Gi Tae "tapi harus ku akui... semakin hari keberanianmu semakin bertambah bukan? terakhir kali kuingat, kau mengatakan bahwa aku bodoh... dan sekarang kamu dengan tanpa pertimbangan menyuruhku untuk pergi, betapa kasarnya..." tambahnya menggerutu dengan wajah masamnya.


Mizhawa berjalan mendekat dan duduk di sebelah Gi Tae tanpa memedulikan pandangan aneh yang Gi Tae lontarkan kepadanya.


"Selain bodoh kau juga tuli rupanya..." kembali Gi Tae bergumam.

__ADS_1


Namun kali ini Mizhawa terlalu malas untuk meladeni kekonyolan Gi Tae. Dia membiarkan perkataannya berlalu begitu saja.


"Aku juga ingin melihat danau ini ketika perjalanan kemarin malam, hanya saja kurasa waktunya kurang tepat" Mizhawa menghela napas merasakan angin malam yang dingin tetapi cukup membuat pikiran menjadi lebih tenang.


Setelah beberapa saat Gi Tae menatap gadis yang ada disampingnya, dia memiliki pertanyaan dalam benaknya.


"Pasti sulit menjadi kamu..." Gi Tae mencoba membaca raut wajah Mizhawa. Dia berpikir bahwa hidup menjadi Mizha tidak kalah beratnya dengan dirinya "bukankah kepalamu terasa berisik?" tambahnya dengan menatap Mizhawa yang tengah menikmati pantulan cahaya rembulan.


Saat tenang seperti ini, wajah Mizhawa terlihat lebih teduh dan mengagumkan. Pantulan rembulan dimatanya terlihat begitu indah dan menyejukkan.


Bagaimana seseorang bisa dengan tetap tenang saat dia bisa mendengarkan pikiran setiap orang yang ditatapnya. Dia telah melewati hari-hari yang tidak terkira selama hidupnya.


Akhirnya Mizhawa mengalihkan pandangannya. Saat ini matanya memandang Gi Tae dengan penuh sukacita. Tatapan yang belum pernah dia rasakan dari sesosok Mizhawa yang terkenal dingin dan tidak memiliki hati.


Ternyata mereka salah, Mizhawa tentu mendengar tanpa orang-orang itu perlu mengungkapkannya. Selama ini yang terjadi di dalam kehidupannya hanyalah kepedihan. Dia tidak memiliki pilihan selain membiarkan doktrin itu melekat padanya. Dia tidak bisa menjelaskan kepada mereka tentang apa yang seharusnya mereka ketahui tentangnya. Dan itu tentu semakin membuatnya terluka.


Gi Tae melihat itu semua dari sorot mata Mizhawa. Dia melihat luka di hidupnya malam itu.


Mizhawa tidak kalah senang ketika merasakan bahwa masih ada seseorang yang begitu mengerti keadaannya.


Semua terasa asing, tetapi begitu akrab bagi Mizhawa. Dia ingin berterimakasih kepada Gi Tae, meskipun tidak mengobati semua luka masa lalunya, tetapi Gi Tae ada untuk menemaninya bukan?.


Perlahan tangan Mizhawa menggapai wajah Gi Tae yang masih terheran dengan yang terjadi.


Gi Tae menunduk ke arah mata Mizhawa, menatap aneh sekaligus khawatir kepada keadaanya, karena saat ini dia melihatnya tengah berkaca-kaca.


Tiba-tiba waktu terasa berhenti saat Mizhawa menutup matanya dan menarik wajah Gi Tae. Mizhawa menempelkan bibirnya ke bibir Gi Tae yang tengah terperangah.


Gi Tae yang tengah berada di ambang kebingungannya tidak mengetahui harus melakukan apa.


Tetapi Mizhawa semakin menarik kepala Gi Tae untuk memperdalam ciumannya, membuat Gi Tae menghilangkan ragunya dan mengalah untuk mengikuti alur.


Bibir yang terasa lembut dan penuh kasih sayang yang belum pernah dia rasakan. Tentu Gi Tae berulang kali mengecup bibir seseorang, tetapi itu semua tanpa dia dasari dengan sedikitpun perasaan didalamnya. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai sang pembawa kutukan berkah.


Kali ini, kecupan dari Mizhawa terasa sangat berbeda. Itu membuat Gi Tae merasakan seakan hanya mereka yang hidup disana. Seperti sebuah janji yang akan terus terpenuhi. Hatinya luluh tanpa sepengetahuannya.


Saat Mizhawa tersadar dengan apa yang telah dia lakukan, diapun berhenti dan seketika berdiri. Matanya terbuka lebar-lebar dengan menatap terkejut kepada Gi Tae. Dari tatapannya terdapat kekhawatiran dan ketakutan secara bersamaan.

__ADS_1


Gi Tae yang tidak tahu apa yang tengah terjadi juga ikut berdiri.


"Apa yang terjadi?" tanya Gi Tae dengan keheranan.


Sebelumnya bahkan Gi Tae bisa terlelap dalam tatapan sendu Mizhawa, tetapi kini Mizhawa menatapnya seolah dia menyesal telah melakukan ini.


"Mizhawa... apakah semua baik-baik saja?" kembali Gi Tae memastikan keadaannya.


"Aku harus pergi! ini belum boleh terjadi... aku sudah melanggar kesepakatan!" ucapnya dengan takut.


"Hey hey...! tenangkan dulu dirimu... tidak ada kesepakatan yang dilanggar. Ini kemauan hati kita..." tambah Gi Tae untuk menenangkan Mizhawa.


"Kamu tidak tahu! aku tidak boleh menciummu, jika tidak maka bayangan hitam akan bangkit!" dada Mizhawa terlihat naik turun mengikuti kekhawatirannya.


"Bayangan hitam? apa maksudmu?" kembali Gi Tae sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Bayangan hitam? kebangkitan? apakah ini ada kaitannya dengan kejadian dipenjara? dia harus bisa menemukan jawabannya.


"Mizhawa!" seseorang yang datang dari balik pepohonan memanggilnya.


Dia adalah Chu Yi, posturnya yang tinggi dapat dengan mudah diketahui dari kegelapan malam.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Chu Yi dengan menatap heran kepada Gi Tae dan juga Mizhawa.


"Kami-"


"Plakkkk!!!"


Belum sempat Gi Tae melanjutkan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya.


Mizhawa yang terlihat gugup dan tidak tahu harus melakukan apa akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan itu. Dia menampar Gi Tae dengan keras meski wajahnya tidak bisa berbohong bahwa dia merasa bersalah seketika itu juga.


Namun karena kekhawatirannya lebih besar, dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


"Mizha! tunggu!" pekik Chu Yi dengan berlari mengejar arah perginya Mizhawa.


Moon Gi Tae hanya berdiri dengan mulut yang terbuka lebar dan mata yang menatap aneh kedua putri, terutama Mizha. Pipinya jelas terasa begitu sakit. Perempuan gila macam apa yang menampar seorang lelaki setelah mencium mereka!.


 

__ADS_1


__ADS_2