
"Gi Tae, kamu..." Chaeyun terhenti saat dia menyadari bahwa energi bayangan hitam yang ada di tubuh Moon Gi Tae benar-benar telah bangkit.
Mizhawa dan juga Sazhawa yang telah kembali berdiri juga tidak menyangka bahwa ledakan dari asap hitam yang baru saja mereka lihat berasal dari Gi Tae.
Mungkin bagi Moon Gi Tae energi yang dikeluarkannya terbilang sedikit, hanya untuk menghentikan pertikaian diantara kedua putri Hira itu. Tetapi bagi Mizhawa dan Sazhawa, energi itu terasa begitu kuat dan cepat, jika tidak, mereka pasti memiliki waktu untuk menghindarinya alih-alih terpental karena ledakan yang bahkan cukup jauh dari jarak mereka berdiri. Karena sejauh ini, tidak ada yang bisa meremehkan kemampuan putri Hira, terutama Mizhawa.
"Kenapa kalian diam saja? apakah ada yang salah dariku?" akhirnya Gi Tae membuka mulutnya setelah menyadari bahwa mereka hanya memandanginya dengan horror. "Baiklah-baiklah... aku meminta maaf kepada Mizha dan juga kamu Sazha, aku melakukan itu untuk menghentikan kalian" sambungnya dengan menatap melas kepada kedua putri Hira itu "Karena yang kulihat, mereka menghawatirkan kalian." tambahnya dengan memasang wajah bersalah kepada putri lainnya.
Pagi yang sunyi sangat langka untuk terjadi. Hanya suasana tegang yang menyelimuti mereka di pondok yang terlihat tua namun begitu kokoh itu.
Setelah beberapa saat, Sazhawa akhirnya memberanikan diri untuk berjalan perlahan menaiki tangga kecil yang berada di teras pondok untuk menghampiri Gi Tae yang tengah kebingungan.
"Gi Tae... benarkah energi tadi berasal darimu?" tanya Sazha dengan lirih. Wajah sedihnya tidak bisa dihindarkan. Meskipun dia dan yang lainnya telah mengetahui jawabannya, tetapi jauh di lubuk hatinya, dia menginginkan kata tidak untuk pertanyaannya.
Gi Tae tidak berani menatap matanya, dia hanya memalingkan penglihatannya kesana dan kemari dengan canggung, sembari menggaruk kepalanya bagian belakang yang sebenarnya tidak gatal.
"Ermm... aku-" Gi Tae tidak menemukan alasan apapun "itu memang milikku, Sazha... tapi bukankah kau seharusnya senang? bukankah kalian seharusnya senang?" lanjutnya dengan menatap senang kearah para putri yang berada di belakang Sazhawa saat ini. "aku akhirnya dapat memanggil sebuah energi dari tubuhku, meskipun aku tidak tahu apa nama energi sihir itu, tetapi aku yakin itu adalah salah satu kemampuanku!" tambahnya dengan wajah yang begitu bahagia dan tersenyum lebar.
"Apakah kamu sudah tidak waras?!" Mizhawa yang sedari tadi melihat kebodohan Gi Tae tidak bisa lagi terdiam "bagaimana mungkin kami harus senang jika energi yang kamu agung-agungkan itu bukan dari sihir baik!" nada emosi begitu terdengar dari setiap kata yang dikeluarkannya disertai dengan tatapan tajam yang menusuk Gi Tae. Kakinya melangkah mendekati Gi Tae dan Sazhawa hingga membuat Gi Tae mundur secara perlahan.
__ADS_1
Meskipun Gi Tae kini memiliki salah satu kemampuan, tetapi dia tidak cukup berani untuk menghentikan Mizhawa kali ini. Nyalinya menciut dan keringat dingin terlihat bercucuran dari dahinya. Mizhawa terlihat sangat berbahaya.
"Mizhawa..." Sazha memangilnya lirih saat Mizha berada tepat di sebelahnya. Sazhawa tidak ingin ada energi sihir hitam lainnya yang keluar dari Gi Tae.
"Ap--apa yang k-kau maksud, Mizha?" tanya Gi Tae dengan gugup kepada Mizhawa.
Dari apa yang telah didengarnya, Mizhawa mengatakan bahwa dia mengeluarkan energi yang bukan dari sihir baik. Apakah itu artinya...
"Apakah aku mengeluarkan energi dari sihir hitam?" tanya Gi Tae dengan wajah yang terkejut.
Selama 24 tahun dia hidup, dan setelah dinanti-nantikan akhirnya mampu mengeluarkan kekuatan, tetapi mengapa itu harus sihir hitam.
"Mizhawa benar, Gi Tae..." Na Yeong yang awalnya ikut terkejut dengan apa yang telah dilihatnya, kini hatinya melemah melihat Gi Tae yang terlihat seperti seorang anak kecil kehilangan mainannya.
Na Yeong berjalan mendekati Gi Tae, begitu pula dengan yang lainnya.
Setelah melihat diri Gi Tae yang sesungguhnya, mereka yakin bahwa dia sendiri juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Mereka turut merasa iba kepadanya.
Sementara yang lain terhenti tepat di hadapan Gi Tae, Na Yeong terus berjalan dan merangkul tubuh Gi Tae yang terlihat melemas.
__ADS_1
Na Yeong memahami kesedihannya, karena dulu dia juga sempat merasakan apa yang sedang dialami oleh Gi Tae. Itu adalah masa lalu yang menyakitkan baginya.
Itu sungguh menyakitkan ketika sesuatu yang tidak diinginkan justru menjadi nyata dalam hidup.
Saat berada di pelukan Na Yeong, Gi Tae terus berpikir. Bagaimana bisa dia memiliki kekuatan dari sihir hitam sedangkan dari silsilah keluarganya, tidak ada yang memiliki kemampuan dari sihir hitam.
"Itu mungkin saja terjadi saat kamu adalah pembawa kutukan berkah." ucap Mizhawa memecah keadaan. dan membuat para putri lainnya memalingkan perhatian mereka kepadanya, begitu pula dengan Gi Tae.
Gi Tae melepaskan pelukan Na Yeong perlahan dan berjalan ke hadapan Mizhawa.
Setelah beberapa saat para putri lainnya akhirnya mengetahui maksud Mizhawa. Dia tentunya mendengar suara batin Moon Gi Tae.
"Apakah aku benar-benar memiliki kemampuan dari sihir hitam?" tanya Gi Tae kepada Mizhawa dengan sungguh-sungguh.
"Dari fakta yang ada dan alasan yang akurat, kamu tentu memilikinya..." jawab Mizhawa yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya "tetapi kembali lagi, selama hidupmu... kamu hanya bisa menyembuhkan kutukan dari sihir hitam, itu berarti kamu juga memiliki kemampuan energi dari sihir baik." tambahnya dengan lugas, membuat putri lainnya dan juga Hyujin mengangguk tanda mengerti.
"Akan menjadi pilihanmu sendiri, apakah kamu mau menjadi penyelamat atau menjadi musuh bagi Daegun..." Ji-hyeon membuka suara dengan wajah penuh harap yang membuat hati Gi Tae kembali teriris.
----
__ADS_1