
Nyawa Dayeon dalam bahaya!
Integritas sebagai seorang putri bukanlah hal biasa. Mereka tentu memiliki kemampuan yang melebihi masyarakat pada umumnya. Selain dari pada itu, mereka juga merupakan keturunan raja dengan ilmu sihir murni yang terjaga sejak berabad lamanya.
Jadi dalam kondisi sepanik apapun, mereka pasti akan tetap memiliki cara bukan? setidaknya Chaeyun masih memiliki kesadarannya.
--
Sebelum monster ular dapat meraih Dayeon yang berdiri membatu, Chaeyun berlari untuk menyelamatkannya, diiringi dengan pemberian serangan api kepada kepala sang monster. Serangan Chaeyun mampu memberikan sedikit gangguan kepadanya.
"WUSSSHHH... BRUUKKK!!"
Aku bisa sedikit bernapas lega setelah Chaeyun berhasil menyelamatkan Dayeon.
Mereka berhasil mendarat meskipun dengan tersungkur.
Hampir saja...!
Kita harus membuat rencana!
Selagi monster ular melancarkan penyerangan-penyerangan, aku berpikir cepat untuk menyusun rencana.
"Baiklah, ini seharusnya berhasil!" gumamku setelah menemukan sebuah ide.
Ini harus dimulai dengan Chu Yi dan Jeong Ra, karena mereka bisa dikatakan sebagai barisan terdepan.
"Jeong Ra, Chu Yi!" aku memanggil mereka dengan suara lantangku "kalian alihkan perhatiannya!" sambung ku dengan merujuk kepada monster ular yang kembali bersiap dalam posisi menyerangnya.
Chu Yi dan Jeong Ra mengerti maksudku. Syukurlah, mereka cepat tanggap dalam menangkap situasi dan segera melakukan penyerangan-penyerangan kepada monster ular.
"Mizhawa! kamu dibelakangku, untuk berjaga!" kembali aku memanggil Mizhawa yang berdiri tak jauh dariku dengan busurnya.
Dia mengangguk dan segera berlari ke belakangku, menuruti perintahku.
"Ji-hyeon, aku butuh perisai, dan tolong berikan Na Yeong senjata!" perintahku kepada Ji-hyeon yang terlihat sedikit kebingungan, tetapi tetap melakukan apa yang kuperintahkan.
Dia melemparkan ku sebuah perisai yang terbuat dari besi dan cukup berat. Aku dengan sigap menangkapnya. Dia juga memberikan Na Yeong sebilah pedang.
"Dayeon, apakah kamu bisa kembali bertarung?" tanyaku kepada putri yang tengah menenangkan diri dari kepanikannya itu.
"Gi Tae! Dayeon baru sa-"
"Aku bisa melakukannya!"
Terlihat Chaeyun terperangah dengan ucapan Dayeon yang memotong kalimatnya.
"Tapi Dayeon-"
"Kita tidak memiliki banyak waktu, Chu Yi dan Jeong Ra hampir kehabisan tenaga!" teriakku menghentikan perdebatan Chaeyun dan Dayeon.
Terlihat Chaeyun kesal dengan perintahku. Apa yang menakjubkan, aku meminta bantuan tenaga dari seseorang yang baru saja tertimpa trauma. Persetan dengan trauma! mereka harus bangkit dan bersama agar bisa mengalahkan monster ini bukan.
Dayeon mengangguk dan kembali bersiaga, begitu pula dengan Chaeyun yang tidak memiliki pilihan lain.
"Hyujin, lindungi formasi kita!" titahku padanya.
Meskipun aku masih membencinya, tetapi dia cukup berguna dengan sihirnya di saat-saat seperti ini.
"Mozhawa, Sazhawa bersiaplah dengan busur kalian... dan kamu Ji-hyeon, buatlah senjata sebanyak mungkin untuk penyerbuan serentak!"
Semua telah siap dalam posisi. Aku melihat Chu Yi dan Jeong Ra kelabakan menerima serangan-serangan monster ular yang semakin bengis.
"Chaeyun! sekarang!" pekikku mengisyaratkan Chaeyun untuk melakukan penyerangan.
Chaeyun mengangguk dan terbang mengeluarkan bola api ke arah kepala sang monster.
__ADS_1
"Aku sudah menduga ini, serangan mereka hanyalah gangguan-gangguan kecil baginya" gumamku saat melihat monster itu tidak mendapatkan dampak yang signifikan dari serangan Chaeyun.
Tetapi, tunggu sebentar... sepertinya perhatian monster itu sedikit terpecahkan ketika menerima bola api Chaeyun.
"Chaeyun...! teruslah memberikan gangguan kepadanya!" kembali aku berteriak agar dia tidak menghentikan penyerangan.
Dan kini monster ular sedang membalikkan badannya, bersiap untuk menyerang Chaeyun.
"Ji-hyeon terus terbangkan semua senjata yang kamu buat!" perintahku kepada pemimpin tertinggi dari perkumpulan para putri itu.
Ji-hyeon langsung meluncurkan senjata buatannya yang berupa pedang dan pisau dalam jumlah banyak.
"Dayeon, kerahkan semua energimu untuk mengurungnya di dalam batu es!"
"Akan aku coba..." pungkas Dayeon dan langsung berlari kedepan, bersamaan dengan pendaratan Chaeyun.
Jika ini belum juga berhasil, maka mustahil bagi kami menaklukannya...
"Jangan berpikir seperti itu! kamu sudah membuat kami banyak berkorban! maka bertanggungjawablah untuk dapat menaklukannya!" aku lupa masih ada Mizhawa yang selalu tahu isi kepalaku.
Dia benar, aku harus bisa menaklukkannya. Aku sudah memikirkan ini sebelumnya, kekuatan dari sihir hitamku, sepertinya aku harus menggunakan itu.
"Apa kamu mau mengeluarkan sihir hitam?!" aku sedikit terkejut ketika Mizhawa menatapku tajam.
"Aku harus menggunakannya, sepertinya hanya itu satu-satunya cara!" bantahku kepadanya.
"Jika kamu menggunakannya lagi, maka selamanya kamu akan menjadi penyihir ilmu hitam!"
"Mizhawa... aku menyadari hal itu, tetapi bahkan kemampuan sihir kalian belum bisa menaklukannya!" rintihku kepadanya.
"Aku tidak akan mengizinkan hal itu terjadi!" dengan keras kepala Mizhawa melarangku.
"Lalu bagaimana?!"
"Gi Tae! kami tidak sanggup lagi!" teriak Dayeon yang terlihat kualahan menahan serangan.
Na Yeong terlihat pontang panting dengan pedangnya, sedangkan Mozhawa dan Sazhawa terus menerus mengeluarkan panah sihir yang sama sekali tidak bisa menembus kulit sang monster.
Semuanya kacau, aku tidak bisa membiarkan hal ini. Aku harus mencari titik kelemahannya.
Mizhawa masih setia disampingku untuk melakukan penjagaan dari serangan yang akan kulancarkan.
Aku harus membuat monster itu kehabisan tenaga. Jika dia lengah, akan ada celah untukku melakukan penyerangan di titik terlemahnya.
"Mizhawa, ayo!" ucapku kepadanya secara tiba-tiba.
Aku berlari menghampiri sang monster dan mengamatinya begitu sampai dihadapannya.
Bahkan dalam jarak sedekat ini, dia terlihat lebih dari menyeramkan.
"SHHRRRKKK KEEEEKKKK!!!"
Apakah aku harus mengecupnya juga, siapa tahu dia juga salah satu korban sihir hitam.
"Jangan konyol!" bentak Mizhawa yang mendengar isi kepalaku "dia bukan wujud kutukan, dia terlahir sebagai monster ular!" tambahnya dengan wajah kesal.
Kami masih memperhatikan monster ular, bersamaan dengan serangan dari yang lainnya.
"Mizhawa, bukankah setiap mahluk memiliki kelemahan?"
"Aku mengerti maksudmu, aku sedang membantumu mencari titik lemahnya..."
Oh, benar. Seharusnya aku tidak usah bertanya padanya.
"Dia monster ular yang biasa tidur seribu tahun lamanya..." ucap Jeong Ra yang tiba-tiba mendarat di dekat kami.
__ADS_1
Aku sedikit terkejut mendengar ini, bagaimana bisa ular yang tertidur seribu tahun bisa mendadak sampai disini.
"Pasti sesuatu telah membangunkannya!" jawab Mizhawa yang membaca pikiranku.
Aku kembali memusatkan perhatianku kepada monster ular, hampir tidak mempercayai ucapan Jeong Ra.
"Apakah kamu akan diam saja dan menunggu kami mati satu persatu?" Jeong Ra sepertinya memahami raut wajahku.
"Aku akan melakukan sebisaku..." pungkasku tidak yakin.
Aku belum bisa terbang seperti mereka, tetapi apakah aku sudah pernah mengatakan ini? aku cukup lincah dalam kecepatan.
Melihat semuanya sudah tidak kondusif, aku semakin berlari kehadapan monster ular itu untuk mengalihkan perhatiannya. Dan dalam sekejap mata dia sudah memusatkan perhatiannya kepadaku.
"Hey! monster jelek! beraninya sama perempuan! sini lawan aku kalau kamu memang jantan!" walaupun dirundung rasa takut, aku tetap memberanikan diri untuk mengecohnya.
"Apakah dia sudah tidak waras?" aku tidak tahu pasti, mungkin itu suara Chu Yi.
"Entahlah, dia sudah gila sejak lahir..." celetuk Mizhawa yang bersiaga tidak jauh dariku.
Aku tidak menggubris omelan mereka. Yang aku pedulikan sekarang ialah, mencari titik terlemah monster ular yang merepotkan ini.
Monster ular mengarahkan kepalanya kepadaku dengan sangat cepat, membuatku kembali waspada.
Saat kepalanya berada tepat dihadapanku, aku berguling dengan menggunakan perisai sebagai pelindung untuk menghindari serangannya. Hal itu membuatnya kesal dan kembali mengeluarkan suara yang mengganggu.
"KIIIIKKKKK!!!"
"Tidak hanya wajahmu yang jelek, tetapi suaramu juga menyedihkan!" teriakku setelah melepaskan tanganku dari telingaku.
Tempatku berdiri sepertinya terlalu dekat dengan ekornya, hingga dia memutuskan untuk menyerang ku dengan mengibaskan ekornya kepadaku.
Ekornya gagal mengenaiku, tetapi aku tidak berhasil mendarat sempurna dari lompatanku, hingga membuatku terguling.
"GI TAE!!!"
Aku tidak menggubris teriakkan mereka. Aku tidak mempedulikan apapun kecuali menaklukan ular ini.
"Aku tidak bisa hanya berdiri saja, aku akan membantu tuan Gi Tae!" aku mendengar Hyujin khawatir denganku dan membiarkan dia melakukan yang ingin dilakukannya.
"Aku akan membantumu, mengikutinya berlari membuatku bosan...!" Mizhawa ikut bergabung dengan Hyujin.
"Kami akan melakukan sisanya!" ucap Ji-hyeon yang juga tidak bisa tinggal diam.
Yang lain ikut mengangguk dan bersiap untuk melakukan penyerangan.
--
"Butuh bola untuk teman bermain?" ucap Chaeyun yang mendarat disampingku.
"Sepertinya akan menarik..." sahutku dengan seringai nakal.
"Aku akan membuatkanmu lintasan agar lebih menyenangkan..." sambung Dayeon yang ikut bersemangat.
Aku mengangguk dengan tatapan pasti kepadanya.
"Kalian... serang dia saat aku memintanya!" perintahku kepada yang lainnya kecuali Dayeon dan Chaeyun.
"Bagaimana denganku, aku bisa membawamu menghilang!" teriak Sazhawa yang terlihat cemberut karena ingin bergabung dengan formasiku.
"Aku akan memintamu nanti..." jawabku dengan tatapan yang meyakinkan.
Dapat kukatakan, tekad mereka begitu kuat. Aku mulai mendapatkan irama dari persatuan mereka. Aku yakin, kali ini kami akan berhasil.
__ADS_1