
POV. Orang Ketiga
"Ggrhhh... Aauuuuunggggrrrhhh!!!" sosok monster buas itu melolong dengan begitu keras sehingga membuat Gi Tae dan kedua putri menutup telinga dan memejamkan mata mereka rapat-rapat.
Gema dari suaranya dapat terdengar dari seluruh penjuru hutan, membuat burung-burung dan binatang lainnya terusik dan pergi meninggalkan sarang mereka dalam kegelapan.
Jarak antara sosok monster dengan Gi Tae dan kedua putri bersaudara tidak begitu jauh, hanya sekitar 10 meter. Jika sosok mengerikan itu berlari, dalam beberapa langkah saja dia bisa langsung menghabisi ketiga manusia yang ada di hadapannya.
"Kita harus melakukan sesuatu!" ucap Sazhawa kepada Gi Tae dan Mizhawa dengan bergegas.
Sedangkan Gi Tae yang berada diantara kedua putri sama sekali tidak bergeming dari posisi awalnya, dia hanya berdiri dengan menatap horor kepada si monster.
"Gi Tae! sadarlah!" dari sebelah kirinya, Mizhawa memanggil Gi Tae untuk membangunkannya.
"Gi Tae!" tambah Mizhawa yang kesal dengan situasinya, hingga dia memukul kepala Gi Tae dengan tangannya berharap dia segera sadar.
"Aargh!" Gi Tae tersadar dan langsung menatap Mizhawa dengan geram "apakah kau tidak tahu sopan santun...? ini sangat sakit bodoh!" tambahnya dengan mengumpat kepada Mizhawa.
Ekspresi Mizhawa langsung berubah, dari cemas menjadi semakin marah. Dia mengatupkan rahangnya dan hendak menghajar Gi Tae yang berani menyebutnya bodoh.
Mizhawa membuang obor dari tangannya dan bersiap untuk melakukan penyiksaan terhadap Gi Tae. Tetapi Sazhawa tidak memiliki waktu untuk melihat pertengkaran mereka.
"Teman-teman...! aku sarankan kalian untuk melanjutkan urusan itu nanti saja. Karena dia saat ini berjalan kemari!" ucap Sazhawa dengan khawatir untuk menghentikan pertengkaran mereka.
"Kamu benar!" pangkas Gi Tae dengan kembali menatap sosok mengerikan yang kini tidak jauh lagi dari mereka.
"Lari!" perintah Mizhawa yang langsung memutar badan dan berlari diikuti oleh Gi Tae dan Sazhawa.
Saat ini sosok buas itu tengah mengejar mereka dengan terus mengeluarkan lolongan bising yang mengganggu telinga dan membuat merinding sekujur tubuh.
Dalam kegelapan hutan dan hanya dengan pencahayaan dari sinar bulan, Gi Tae dan kedua putri Hira terus berlari menjauh dari monster pemburu melewati pepohonan yang tinggi menjulang.
"Kita tidak bisa terus berlari, Sazha cepat gunakan sihirmu!" Gi Tae yang semakin merasa lelah menyarankan mereka untuk teleportasi ke tempat lain menggunakan sihir yang dimiliki oleh Sazhawa.
__ADS_1
"Idiot! sihirku tidak bisa dikeluarkan jika aku dalam keadaan buruk seperti ini!" jawabnya dengan galak.
"Bagaimana bisa? apakah kamu yakin memiliki sihir padamu?" tanya Gi Tae dengan terengah-engah dan terus berlari di belakang Mizhawa.
"Dalam mengeluarkan sihir kita memerlukan energi, jika energi kita tidak cukup maka sihir tidak bisa dimunculkan! dan jika aku memaksakan untuk mengeluarkannya, maka nyawaku menjadi taruhan...! Mangkanya kamu harus memiliki ilmu sihir supaya kamu tau!" bentaknya dengan semakin kesal.
"Apakah kamu sekarang sedang menghinaku?" tanya Gi Tae yang terlihat tidak terima dengan ucapan Sazhawa.
"Kalian! diam dan berpikir! dia semakin dekat!" potong Mizhawa menghentikan pertengkaran mereka.
"Kita harus bagaimana?" Sazhawa kembali melihat belakang dan semakin ketakutan "aku tidak mau dimakan olehnya! aku bahkan belum menikah!" tambahnya, membuat Mizhawa malas mendengarnya.
"Sazhawa, jika nanti aku pergi, tolong selalu ingat bahwa senyummu telah membantuku bangkit dari dunia yang buruk ini!" Gi Tae berhenti dari larinya "kalian pergilah, aku akan mengorbankan diriku untuknya!" tambahnya dengan memasang wajah pasrah.
"Apakah kamu bodoh?!" Mizhawa ikut terhenti dan memarahinya.
"Kamu tidak akan sendiri... kita harus menghadapinya bersama" tambah Sazhawa yang juga ikut berhenti.
Dan mereka tidak membawa senjata apapun, baik busur sihir maupun pedang. Kondisi yang sempurna untuk mengantarkan nyawa.
--
Dalam waktu yang sama di pondok tengah hutan, tempat dimana para putri saat ini berkumpul dan menyembunyikan Gi Tae dari jangkauan bayangan hitam, putri Jeong Ra dari Yang Gu memberikan sebuah informasi penting terkait hasil pelatihannya dengan Moon Gi Tae.
"Jadi bagaimana, Jeong Ra? ku dengar sesuatu terjadi di tempat latihan?"
Dengan hanya diterangi oleh beberapa lilin di sekitar dinding dan di meja kecil tempat mereka berkumpul membentuk lingkaran sembari duduk bersila, Ji-hyeon selaku pemimpin para putri dari ketujuh kerajaan menanyakan perkembangan Gi Tae.
"Tidak banyak, hanya saja satu kekuatan aneh berhasil muncul dari tubuhnya... aku rasa akan ada kekuatan lainnya lagi yang berpotensi menjadi senjata besar bagi kita..." jawab Jeong Ra dengan memaparkan informasi yang dia lihat.
"Kekuatan aneh? memangnya kekuatan itu seperti apa? apakah salah satu ilmu sihir?" tanya Mozhawa yang penasaran dengan penjelasan Jeong Ra.
"Setelah ku amati kembali, itu sepertinya sebuah sihir langka yang telah hilang beribu abad lalu... Oh ya, aku membawa kitab sihir langka yang disembunyikan di perpustakaan utama tadi siang" Jeong Ra mengambil sesuatu dari balik bajunya "Ini kitabnya" tambahnya dengan meletakkan kitab sihir langka yang dia bawa ke tengah meja.
__ADS_1
Ji-hyeon mengambil buku yang diberikan oleh Jeong Ra dan mengamatinya.
Buku yang bertuliskan bahasa kuno dengan arti Kitab Sihir Langka itu telah usang, warna sampulnya coklat tua dengan isi kertas kuning yang kaku dan terlihat begitu tua.
Chu Yi, Mozhawa, Na Yeong dan Jeong Ra memperhatikan Ji-hyeon yang tengah membuka lembaran kitab tersebut.
Dayeon dan Chaeyun tidak ikut berkumpul di pondok karena mereka sedang melaksanakan tugas yang diberikan oleh Ji-hyeon di suatu tempat.
Kitab kuno itu mengisahkan tentang perjalanan seorang pemuda dari beribu abad sebelumnya. Seorang pemuda tidak diketahui namanya, memiliki kekuatan sihir dengan tingkatan tertinggi di dunia. Dengan kemampuannya, dia menjadi tak terkalahkan seakan dunia bisa digenggam olehnya.
Pemuda itu terus bertarung memerangi angkara murka yang dia temukan di setiap sudut bumi. Dia mengeluarkan cahaya biru tua dari tubuhnya saat menghabisi musuh-musuhnya dengan membuat mereka menjadi abu dalam sekejap mata. Sihir langka itu disebut orang dengan nama sihir pemusnah. Dia bisa memusnahkan apapun yang dia inginkan.
Kabar tentang kekuatannya menyebar hingga ke dunia langit. Salah satu dewa yang tinggal di langit bernama Gaumi mendengarnya. Dia penasaran dan risih dengan rumor yang menyebar tentang hebatnya makhluk bumi itu hingga dia memutuskan untuk turun ke bumi untuk menyaksikan sendiri kemampuan dari penyihir itu.
Pada suatu malam, Dewa Gaumi datang kepada pemuda hebat tersebut dan mengajaknya beradu sihir.
Si pemuda dengan senang menerima tantangan Dewa Gaumi dan mereka mulai bertarung.
Namun tidak disangka Gaumi kalah dari sang pemuda, tetapi si pemuda tidak memusnahkan dewa Gaumi karena dia menyadari batasannya kepada penduduk langit. Melihatnya dipermalukan oleh mahluk bumi, dia segera meminta dewa langit lainnya menghukum pemuda itu. Gaumi mengatakan bahwa keberadaan manusia sepertinya harus dihilangkan agar kekuasaan langit tidak terancam.
Dan pada akhirnya pemuda dengan kekuatan sihir tak tertandingi itu hilang dari muka bumi. Tiada yang tahu kemana perginya, yang orang tahu dia telah menghilang tanpa kabar.
-
"Buummmm!!!"
Dentuman dahsyat terdengar dari kedalaman hutan tempat dimana Gi Tae dan dua putri Hira berada, membuat Ji-hyeon dan yang lainnya sontak beranjak dari tempat duduk mereka dan berlari keluar pondok.
Mereka melihat cahaya biru terang memancar dari kejauhan di suatu tempat di dalam hutan.
"Itu dia! Moon Gi Tae berhasil bangkit!"
__ADS_1