
Kami bersiap dalam formasi menyerang. Satu monster yang luar biasa besarnya, melawan sebelas manusia yang terkena kutukan.
"Dayeon, lakukan sekarang!" titahku dengan tatapan meyakinkan kepadanya.
Dayeon mengangguk dan mengeluarkan sihirnya.
Sebuah bukit es mulai terbentuk setelah Dayeon mengucapkan mantra sihirnya. Dimulai dari pangkal es yang berada pada permukaan tanah. Permukaan yang dingin pada tanah dapat dirasakan oleh siapapun yang berada di dekatnya. Hingga udara sekitar juga turut mengikuti dinginnya suhu yang disebabkan oleh dahsyatnya kekuatan sihir Dayeon. Perlahan sebuah bukit es yang tinggi mulai terlihat, melebihi dari tingginya sang monster ular. Aku takjub melihatnya.
"Chaeyun, aku rasa bola apimu dapat mengaburkan fokus monster itu... bisakah kamu membuatnya dengan ukuran yang lebih besar?" tanyaku kepada Chaeyun berharap energinya masih tersisa.
"Tentu saja, bagaimana mungkin aku bisa membakar sebuah residen jika sihirku hanya sebatas bola kecil itu?" sahutnya dengan percaya diri.
Bola kecil? bahkan sedari tadi dia membuat bola api setara dengan ukuran seekor singa. Apalagi yang tidak bisa dia lakukan?
"Lakukanlah sesukamu, buat dia ngamuk dan hilang kendali... aku akan mengambil alih setelahnya" sambungku dengan nada optimis.
"Gi Tae... ini sangat berbahaya, dia bukan monster biasa..." untuk sesaat terselip kekhawatiran di sela kalimatnya, tetapi dia cepat-cepat menghilangkan rasa itu "dan aku yakin, kita pasti bisa mengalahkannya!" sambungnya dengan mengembalikan ekspresi percaya dirinya.
"Aku bisa menjamin itu..." pungkasku dengan menyunggingkan senyum kecil.
Lalu dengan cepat aku berlari menaiki bukit es buatan Dayeon. Dengan mudah aku sampai pada puncak bukit es masih bersama dengan perisai buatan Ji-hyeon. Dari sini aku bisa melihat semuanya dalam posisi siaga, menunggu aba-aba dariku.
Chaeyun mulai sibuk menghantam sang monster dengan terbang kesana dan kemari. Dia cukup lincah dalam hal ini.
Aku harap semua ini akan berjalan sesuai rencanaku.
Beberapa kali sang monster ular melakukan serangan balik kepada Chaeyun, tetapi dengan sigapnya dia menghindari serangan itu.
Hingga pada akhirnya aku melihat sedikit celah dari serangan sang monster. Sepertinya dia mulai hilang kendali, karena serangan-serangan yang diberikannya kepada Chaeyun mulai tidak stabil dan selalu meleset.
"Dayeon! berikan aku sebuah lintasan!" aku berpikir untuk sedikit bermain-main dengan monster menyebalkan ini.
Dayeon langsung membuatkanku lintasan es yang berbentuk memutar dengan sang monster ular ditengahnya.
Setelah Chaeyun mundur, aku mengambil alih pengecohan. Aku berlari menuju lintasan sambil meneriakinya.
"Monster ular sialan! kau sungguh jelek!"
Aku mempertaruhkan nyawaku dengan terus berlari sembari melindungi diriku dengan perisai. Sesekali aku hampir terkena serangan, namun dengan sigap aku berusaha sebisaku untuk menghindarinya.
"KHIIIKKKKKKK!!!
"BUMMMM!!!"
__ADS_1
Monster itu terus menerus menyemburkan asap panasnya ke arahku dan menghancurkan lintasan dibelakangku menggunakan ekornya.
Luasnya lingkungan kami bertarung membuat lintasan es milik Dayeon terasa panjang, hingga sampailah aku pada titik semula, yaitu bukit es.
Selain kami semua yang kelelahan, fokus sang monster juga terlihat mulai buyar.
Kesempatan kami telah tiba!
"Kalian, ambil posisi di udara! Dayeon, bekukan dia sekali lagi! setelah dia berhasil menghancurkan es, kalian harus menyerangnya secara bersama!" dengan terengah-engah aku meneriaki mereka.
Setelah mereka memahami perintahku, secara bersamaan mereka terbang dan mengitari monster itu.
Dayeon segera mengeluarkan sihirnya menggunakan energinya yang tersisa, dia mulai membekukan monster ular di dalam penjara esnya.
Untuk sesaat, monster ular itu terperangkap didalamnya. Aku benar, dia sudah mulai hilang kendali.
Saat sang ular tengah berada di dalam es, aku segera mengumpulkan seluruh energiku. Namun ada yang aneh dari pergerakan energi yang ada di tubuhku. Seperti kedua energi tengah beradu didalamnya. Tetapi aku harus bisa mengendalikannya. Aku kembali memusatkan pikiranku.
Namun setelahnya, monster ular kembali menghancurkan penjara es milik Dayeon dan mengeluarkan suara seram yang menggelegar. Pertanda dia sangat marah.
Degup jantungku begitu cepat, aku tidak tahu apakah ini bentuk reaksi dari semangatku, atau ketakutanku.
Dengan energi yang terpusat pada kedua lenganku, aku mencoba mengendalikan apapun yang ada didalam tubuh dan pikiranku.
"Kalian...! lakukan sekarang!" aku meminta kepada mereka untuk menyerang secara bersamaan.
Jeong Ra dan Na Yeong mengarahkan pedang mereka yang diiringi dengan cahaya putih menyertai pedang mereka.
Chu Yi dengan kemampuan telekinesisnya mampu mengangkat sebuah batu yang begitu besar diarahkannya tepat di atas kepala sang ular.
Chaeyun melakukan penyerangan terakhirnya dengan bola api lebih besar dari ukuran sebelumnya.
Hyujin bersiap untuk melindungi kami dari tempat dia berdiri.
Setelah mereka semua menyerang bersamaan, aku dapat melihat monster ular semakin ngamuk dan melakukan penyerangan secara membabi buta.
"Oy! Aku disini! berikan serangan terbaikmu!" teriakku untuk mengalihkan perhatiannya tanpa lupa melemparkan perisaiku yang mengenai tepat dikepalanya.
Aku dapat merasakan tatapan dari wajah-wajah khawatir mereka. Aku juga berharap ini akan segera berakhir.
Inilah saatnya!
Aku mengumpulkan kekuatan yang telah ku pusatkan sedari tadi pada kedua tanganku. Energi ini aneh, aku bisa merasakan energi yang berbeda pada masing-masing lenganku.
__ADS_1
Persetan dengan itu semua! aku akan menyerangnya.
Monster ular berteriak sekencang-kencangnya, setelah itu dia mengeluarkan semburan asap yang membentuk gas hitam panas kearahku dengan penuh amarah.
Pada saat yang bersamaan, aku mengeluarkan kedua energi yang ada di tubuhku dari atas bukit es.
Dan benar saja, pada telapak tangan kananku keluar sebuah energi dengan cahaya biru terang, dan pada telapak tangan kiri keluar energi berat dengan asap hitam pekat.
Keduanya menghantam tepat pada energi yang dikeluarkan monster ular. Kami saling beradu kekuatan. Sinar yang dihasilkan dari energi kami membuat sekitar menjadi terang benderang.
Asap yang menyebar dari hantaman energi kami terasa panas dan membakar dikulitku. Aku ragu, akankah aku bisa lebih lama menahannya.
Tetapi mereka sangat berharap kepadaku. Aku tidak mungkin mengecewakan harapan mereka.
Energi kami terus beradu, menyebabkan udara disekitar menderu-deru. Dedaunan kering terangkat dan pepohonan yang meskipun letaknya cukup jauh ikut terbawa derunya angin.
"Khiaaaakkkk...!"
Aku masih terus menahan serangannya, namun rasa panas ini terlalu menyakitkan untukku. Aku tidak bisa terus seperti ini.
Setelah kurasa serangannya sedikit melemah, aku mengambil kesempatan ini. Aku sedikit menarik kekuatanku sehingga energiku terlihat menyusut. Tetapi memang itu yang kuinginkan agar bisa melakukan serangan tiba-tiba.
Saat ini, pasti dia merasa akan menang.
Aku terus menarik hingga lebih dari setengahnya. Namun, hal yang tidak kuprediksi sebelumnya, energi yang diberikannya justru semakin menguat.
Gawat, aku tidak boleh termakan trikku!
Kembali kukumpulkan energi yang tersisa ditubuhku. Aku menaikkan tekanan pada seranganku dan itu cukup berhasil. Meskipun hanya sedikit tetapi terlihat energiku kini lebih mendominasi.
Cukup lama kami beradu kekuatan, belum ada yang ingin mengalah, justru panasnya benturan energi semakin kurasakan. Bahkan aku tidak akan kaget jika aku gagal melawannya.
Namun kini sepertinya serangannya benar-benar melemah. Apakah dia hanya berpura-pura lagi? tapi sepertinya tidak. Apakah tadi itu keseluruhan energinya hingga kini dia benar-benar kehabisan tenaga? Aku harap itu yang terjadi.
Ini tidak bisa lebih lama, aku merasa semakin kepanasan.
"HIYAAAAAAAKKKKK!!!"
Dengan hentakan kuat yang kuberikan kepada kedua lenganku, aku berhasil mengacaukan serangannya. Dan kini energiku mengenai tepat pada rongga mulutnya.
Disaat yang bersamaan dengan kalahnya sang monster, akupun kehabisan tenaga dan melemah.
Sedikit yang ku ingat sebelum mataku sepenuhnya tertutup, aku terjatuh dari bukit es, namun sebuah burung besar keemasan terbang melayang kearahku.
__ADS_1