
"Uahhhh... akhirnya..!" gumam Gi Tae dengan membuang napas begitu keras saat berhasil menyelesaikan putaran terakhirnya.
Meskipun harus kelelahan, dia tetap menyelesaikannya. Gi Tae tidak ingin Chu Yi berubah pikiran dan membuatnya berlari mengelilingi halaman pondok 30 kali lagi. Tidak! meski jika itu hanya terjadi di dalam mimpi.
"Saatnya untuk beristirahat sejenak, kamu bisa makan siang setelah itu kita kembali berlatih..." ucap Chu Yi sembari bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke pondok.
Gi Tae yang penuh keringat segera memperbesar langkahnya dan berjalan disebelah Chu Yi.
"Menjauhlah... manusia dengan keringat adalah hal yang menjijikan!" cetus Chu Yi dengan dingin.
"Wah... sulit dipercaya! padahal kaulah yang membuatku seperti ini.." pangkas Gi Tae dengan menggerutu "tapi ngomong-ngomong, Chu Yi... bagaimana kau bisa terus berada disini, dari yang kudengar kerajaanmu terletak sangat jauh bukan? bahkan bisa sampai tiga minggu perjalanan untuk sampai ke timur... apakah sesuatu sedang terjadi?" tambahnya tanpa berpikir dua kali.
Hal ini membuat Chu Yi sontak terhenti dari langkahnya dan menatap kosong ke depan.
Gi Tae memang selalu penasaran. Jika sebelumnya dia memendam semua pertanyaannya di dalam kepala, tetapi seiring waktu berjalan serta pertemuannya dengan kesembilan putri membuatnya lebih terbuka dan semakin berani. Ini adalah progres yang baik dari sisi para putri.
Melihat Chu Yi yang tiba-tiba berhenti membuat Gi Tae turut berhenti dengan keheranan.
"Chu Yi... ada apa?" tanya Gi Tae dengan penuh perhatian.
Chu Yi sempat terdiam beberapa saat, hingga akhirnya dia menggelengkan kepalanya seperti membuang sebuah pikiran yang tidak sengaja terlintas di benaknya.
"Tidak apa-apa..." pangkasnya dengan kembali tenang "oiya, apa yang terjadi denganmu dan Mizhawa semalam di danau? mengapa Mizha terlihat begitu aneh?" Chu Yi mengalihkan pembicaraan mereka sembari melanjutkan langkahnya.
Pembahasan tentang kejadian di danau yang tiba-tiba seperti ini membuat Gi Tae kesusahan berbicara, dia tidak bisa menjawabnya.
"Uh... itu- anu.. shmm, sebenarnya... tidak terjadi apa-apa" Gi Tae terus mencari alasan. Telinganya yang memerah dapat terlihat dengan jelas.
Gi Tae sebenarnya tidak ingin berbohong, baik kepada Chu Yi maupun yang lainnya. Hanya saja mengingat kembali perkataan Mizhawa, dia tidak ingin memberikan kesan buruk dengan apa yang telah mereka lakukan.
__ADS_1
Jika Gi Tae mengatakan yang sebenarnya, maka mereka akan menganggap Mizhawa telah melanggar sesuatu yang Gi Tae sendiri tidak tahu apa itu. Tetapi jika dia berbohong maka mereka akan curiga dengan sikapnya. Ini membuatnya kebingungan.
Tetapi seperti yang semua ketahui, hanya Mizhawa yang bisa membaca pikiran seseorang, jadi menurutnya ini masih aman-aman saja.
"Aku tidak melakukan apa-apa..." tambah Gi Tae dengan mencoba tetap tenang.
Tetapi justru itu membuat Chu Yi semakin curiga.
"Apakah aku bertanya kamu telah melakukan sesuatu?" kembali Chu Yi terhenti dan kini menatap Gi Tae dengan matanya yang semakin menyipit.
"Mam-maksudku... tidak terjadi sesuatu tadi malam... hanya saja, yah... seperti biasa" jawab Gi Tae dengan terbata "aku membuat Mizhawa kesal denganku" tambahnya dengan menaikkan kedua pundaknya.
"Sudah kuduga..." ucap Chu Yi yang membeli kebohongan Gi Tae lalu masuk ke dalam pondok.
Sesampainya di pondok hal yang pertama mereka lihat adalah wajah Mizhawa.
Gi Tae tentu kembali teringat kejadian semalam di danau. Bagaimana tidak? bahkan setelah kejadian itu, dia sendiri sulit untuk tertidur karena terus terbayang tatapan dan kecupan Mizhawa. Hingga wajah dan telinganya kembali memerah.
"Uhm... mem-mereka sedang ada urusan" jawab Mizhawa dengan sedikit terbata namun wajah tenangnya begitu nampak.
Jika dibandingkan dengan Gi Tae, Mizhawa masih lebih pandai dalam menghadapi keadaan. Meski terkejut, dia tetap bisa menjaga emosinya agar tetap stabil di saat seperti ini.
Tentu saja Gi Tae hanya terdiam dan canggung dengan situasi yang terjadi.
--
Saat Gi Tae melanjutkan latihannya bersama dengan Chu Yi sebagai instruktur, Sazhawa dan Hyujin datang dari arah depan halaman pondok. Hal ini membuat Gi Tae berhenti dari latihannya yang saat itu tengah menarik sebuah batang kayu besar menggunakan tali yang dikailkan di kedua pundaknya. Wajah masam Gi Tae kembali terlihat saat perhatiannya terpusat kepada mereka.
Chu Yi yang juga melihat kedatangan mereka ikut mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Kalian sudah kembali?" tanya Chu Yi yang tenang dengan kedua tangan yang dia kaitkan di belakang badannya.
Sazhawa dan Hyujin menghampiri Chu Yi dan Gi Tae. Wajah Sazhawa terlihat berseri-seri, dia seperti menikmati pendampingan dari Hyujin.
"Iya... Ji-hyeon menyuruhku untuk kembali, sedangkan Chaeyun dan Dayeon masih dalam pekerjaan mereka..." jawab Sazhawa dengan tersenyum manis.
Kali ini Gi Tae tidak begitu suka dengan senyum Sazha, karena menurutnya senyum itu berasal dari waktunya bersama Hyujin.
"Dan kau mengajaknya pergi bersama kalian? betapa cerobohnya, huh..." seringai kesal tidak dapat tertahan dari bibir Gi Tae yang menunjuk Hyujin hanya dengan mulutnya.
"Ada apa denganmu? apa kau lupa dengan kesalahanmu sendiri?" kembali, Sazhawa mengungkit masalah yang terjadi sebelumnya. Kini senyumnya menghilang setelah mendengar kalimat Gi Tae.
"Sazhawa... uhmm... aku tidak bermaksud untuk menentangmu, tetapi kamu tidak seharusnya menyudutkan tuan Gi Tae seperti itu" ucap Hyujin menenangkan Sazhawa.
Min Hyujin tetap menganggap Gi Tae sebagai tuannya, karena janji yang telah dia ucapkan. Sedangkan Gi Tae tidak peduli dengan apapun yang Hyujin katakan atau lakukan untuknya. Dia tetaplah orang asing baginya.
"Terimakasih atas pembelaanmu, tetapi sungguh... aku tidak membutuhkannya" tambah Gi Tae dengan santainya.
"Moon Gi Tae! kamu benar-benar...!!!" sepertinya hari cerah Sazhawa hanya sampai di sini. Kini berganti dengan kemarahan yang menyelimutinya.
"Sazha... sebaiknya kamu beristirahat" Chu Yi melerai pertikaian yang hendak terjadi "dan untukmu Hyujin, bisakah kamu mengambil air karena persediaan kita hampir habis..." tambahnya untuk menyelesaikan situasi genting.
"Baik, Chu Yi!" sahut Hyujin dengan sedikit membungkukkan badan untuk memberi hormat sebelum pergi melaksanakan perintah Chu Yi.
"Aku tidak mengenalmu seperti ini, Gi Tae... kamu bukan pemuda yang kutemukan di Sun Gu lagi. Emosimu telah memakanmu..." ucap Sazhawa dengan menatap tajam ke dalam mata Gi Tae lalu ikut pergi meninggalkannya. Gi Tae semakin benci melihat hal ini, dia ingin sekali menghabisi orang yang telah membuat Sazhawa kehilangan senyuman kepadanya.
Chu Yi merasa bahwa energi Gi Tae sedang berada di fase labilnya. Jika sedikit saja kesalahan mereka perbuat dan Gi Tae tidak bisa mengendalikan kekuatannya lagi, bisa jadi yang terlebih dahulu bangkit adalah energi dari bayangan hitam. Dan itu akan membahayakan kelangsungan rencana mereka.
Di masa-masa seperti ini, ada baiknya Chu Yi dan yang lainnya menjaga agar energi yang dihasilkan dari pelatihannya adalah yang murni, yang berasal dari sesuatu yang terpendam dalam diri Gi Tae, bukan yang ditanamkan oleh kakeknya.
__ADS_1