
Aku kembali membuka mataku tetapi kini sepertinya aku benar-benar telah berada di duniaku yang sesungguhnya. Tidak ada seorangpun disekitarku saat aku terbangun dari mimpi panjangku.
Aku melihat sekelilingku, kamar yang aku tempati terbuat dari kayu berwarna kecoklatan dan terbilang cukup sempit. Aku bangkit dari ranjang kayu tempatku terbaring sebelumnya dan berjalan keluar ruangan untuk mencari tahu dimana aku berada.
Saat aku sampai diruang tamu terdengar sayup orang tengah berbincang dari teras bangunan yang terlihat seperti pondok sederhana ini. Karena penasaran, akupun memberanikan diri untuk keluar dan melihat siapakah mereka.
"Oh... kamu sudah bangun? bagaimana perasaanmu?" dia adalah Ji-hyeon yang mengalihkan perhatiannya dari Mozhawa, lawan bicaranya, saat melihatku keluar menuruni tangga kayu menghampiri mereka.
Aku sedikit membungkuk kepada mereka untuk memberikan rasa hormatku.
"Aku baik-baik saja, apa yang terjadi? mengapa kalian berada disini? dan bagaimana aku bisa ada disini?" aku menanyakan semua hal yang ingin ku ketahui sejak awal mataku terbuka.
"Kamu banyak bertanya bukan?" ucap Ji-hyeon dengan sedikit tertawa dan menggelengkan kepalanya.
Mozhawa hanya tersenyum kepadaku melihat keadaanku yang seperti ini. Dia terlihat seperti seorang dewi saat ini. Betapa beruntungnya aku dapat bertemu dengan mereka para dewi di dunia nyata. Andai saja pertemuanku dengan Mizhawa tidak seburuk itu, pasti aku juga bisa melihatnya tersenyum seperti saudaranya.
"Masih terlalu awal untuk menceritakan semuanya, dan kulihat sepertinya kamu masih belum terlalu baikan... ada baiknya kamu masuk dan beristirahat, Gi Tae" Mozhawa dengan halus memintaku untuk beristirahat.
Tidak terlalu buruk hanya kepalaku masih sedikit berdenyut, mungkin karena aku baru saja bangun dari tidurku.
Maksudku aku tidak terlalu kesakitan saat ini dan aku begitu penasaran dengan apa yang tengah terjadi, karena terakhir kali bertemu mereka, pengalaman kami tidak begitu menyenangkan. Bahkan mungkin saja saat ini aku adalah buronan.
"Aku tidak apa-apa Mozhawa, ini hal kecil yang tidak perlu dikhawatirkan" ucapku dengan tersenyum tipis untuk menghapus kekhawatirannya.
"Kamu tidak sadarkan diri selama satu minggu Gi Tae... bagaimana mungkin ini hal kecil? kamu jelas membutuhkan waktu untuk memulihkan diri!" Ji-hyeon menyahut pembicaraan yang membuatku terkejut.
"Aku, tidak sadarkan diri selama seminggu? bagaimana mungkin? memangnya apa yang telah terjadi padaku?" benakku terus bertanya-tanya.
Tidak lama kami mengobrol, terlihat Chaeyun berlari dari kejauhan menuju halaman depan pondok dengan memasang wajah terkejutnya.
"Gi Sung!" Chaeyun menyadari perubahan wajah Ji-hyeon dan Mozhawa saat lupa memanggilku dengan namaku yang sebenarnya "mm--maksudku Gi Tae!" dia terlihat kesulitan sendiri dalam memanggilku saat terhenti dihadapan kami.
Aku tidak menyalahkannya, ini semua murni kebohonganku bukan. Begitupun denganku, aku tidak memiliki masalah dengan nama yang mereka berikan kepadaku, baik itu Gi Tae maupun Gi Sung, aku tetaplah orang itu, orang yang membawa kutukan bersamanya.
"Chaeyun, kau juga disini?" aku memecahkan kecanggungan diantara mereka dan bertanya keheranan sambil menunjuk Chaeyun.
__ADS_1
"Tentu saja! aku sudah berjanji padamu bukan, bahwa aku akan menunjukkan jalan pulang ke Sun Gu?" jawab Chaeyun dengan kembali memasang wajah sombongnya.
Tidak kusangka, gadis sesadis dia bisa menunjukkan rasa khawatir dengan keberadaanku. Meski tidak mengatakannya secara langsung, tetapi aku bisa merasakan bahwa kalimatnya menunjukkan bahwa dia masih peduli denganku.
Tetapi sebenarnya akupun penasaran dengan alasan mereka berada bersamaku. Apakah mereka akan membawaku kembali ke penjara setelah aku sadarkan diri? oh tidak... ini tidak boleh terjadi. Apakah aku harus lari dari mereka.
"Jangan berpikir kamu bisa lari lagi dari kami...!"
Aku terbangun dari lamunanku setelah mendengar suara Mizhawa yang datang entah dari mana. Dia berjalan dengan melipatkan kedua lengannya di atas dada saat mendekatiku melewati Chaeyun, Ji-hyeon dan juga Mozhawa yang berdiri dihadapanku. Wajahnya tanpa ekspresi, tetapi bagaimana bisa seseorang yang begitu dingin dapat terlihat begitu cantik secara bersamaan.
Kami semua menatapnya dengan pandangan yang sama, yaitu khawatir. Karena terakhir kali dialah yang mengetahui kebohonganku dan membuatku dipenjara. Aku tidak membenci Mizhawa, aku hanya merasa kurang nyaman berada disekitarnya.
"Mizha..." Mozhawa terhenti untuk melanjutkan kalimatnya karena isyarat dari tangan Mizhawa.
Mizhawa menatap Mozhawa untuk sesaat, lalu kembali menatapku dengan sangat dingin.
"Kamu tidak akan bisa pergi lagi dari kami! karena mulai sekarang kamu adalah bagian dari kami...!" lanjut Mizhawa sembari tersenyum tipis dengan ujung bibirnya sedikit naik.
Aku hampir tidak percaya ini, apakah dia tersenyum? dia sungguh tersenyum? aku tidak bermimpi bukan... dia tersenyum kepadaku!.
"Berhenti memikirkan hal konyol, Gi Tae! aku bisa mendengarnya!" Mizhawa kembali memasang wajah kesalnya.
Oh, aku lupa dia bisa mendengarkan isi kepalaku. Harus kutaruh mana wajahku! ini sungguh memalukan.
Aku hanya tertunduk malu. Mungkin saat ini rona merah dapat terlihat oleh mereka. Aku harus segera pergi dari sini.
"Uhuk..!" tenggorokanku tiba-tiba gatal, membuatku tersedak dan terbata-bata "uhmm... aku- aku harus beristirahat, sepertinya ak-" belum sempat ku lanjutkan kalimatku, Ji-hyeon sudah menyerobotnya terlebih dahulu.
"Hey... hey!! tenangkan dirimu... Apakah kamu malu kepada Mizhawa? aaah~ aku tahu! kamu pasti menyu-!" aku segera menutupi mulutnya dengan tanganku, tidak ingin mendengarnya lebih lanjut.
Gerakanku yang secara tiba-tiba membuat yang lainnya terkejut, terlebih dengan Ji-hyeon yang saat ini tengah meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Apa yang sedang Ji-hyeon pikirkan!.
Aku hanya memasang senyum canggungku kepada mereka.
--
__ADS_1
Setelah keadaan cukup membaik, Ji-hyeon memintaku untuk ikut berkumpul dihalaman depan pondok.
Setelah kuperhatikan lagi, ternyata halaman pondok tempat kami menginap terlihat cukup luas, hingga cukup untuk digunakan sebagai arena berlatih beladiri.
Ya, aku mengetahui fakta bahwa kesembilan putri dari ketujuh kerajaan saat ini berada bersamaku, mereka yang menjagaku saat aku tidak sadarkan diri selama satu minggu ini.
- flashback -
POV. Orang Ketiga
Mizhawa mengikuti kata hatinya untuk pergi ke sebuah hutan di wilayah perbatasan antara Hira dan Cho Gu yang berada di wilayah bagian Timur Daegun. Konon didalam hutan itu bersembunyi sekelompok penyihir ilmu hitam dengan tingkatan tinggi. Dimana masyarakat sangat dilarang untuk menjelajahi hutan tersebut demi keamanan mereka.
Tetapi Mizhawa memasukinya tanpa rasa takut. Tidak perlu diingatkan lagi, Mizhawa memang tidak memiliki ketakutan kepada apapun, kecuali satu hal.
Saat sampai di sebuah pintu gua, Mizhawa melihat Gi Tae yang tengah melayang di udara dengan dada terangkat. Tubuhnya terlihat seperti orang yang tertidur tetapi sesuatu membuatnya melayang.
Mizhawa mendekati tubuh Gi Tae yang melayang tinggi dihadapannya. Saat dia berhasil melihat Gi Tae dengan seksama. Betapa kagetnya Mizhawa, karena dia menyaksikan asap hitam disekitar tubuh Gi Tae mengerubunginya. Perasaannya tidak enak, dia berpikir bahwa dia harus menghentikan ini.
"Gi Tae! bangunlah!" Mizhawa meneriaki tubuh Gi Tae dari bawah.
Namun tidak ada perubahan dari tubuh Gi Tae. Dia tetap melayang tanpa kesadaran.
Mizhawa mencari cara untuk dapat menghentikan ini, dia terbang keatas mendekati tubuh Gi Tae dan duduk diatasnya lalu menggoyang-goyangkan wajah Gi Tae, berharap ini dapat membantu.
Didalam kepala Mizhawa, dia merasa Gi Tae tengah menjawab panggilannya. Wajah khawatir Mizhawa seketika berubah. Kini dia lebih memiliki harapan pada ekspresinya.
"Ya! ini aku, bangunlah! sebelum semuanya terlambat!" dada Mizhawa terlihat naik turun mengikuti ekspresi bahagia yang bercampur dengan khawatirnya. Dia yakin, Gi Tae dapat mendengarnya, hanya saja tubuhnya tengah terkunci oleh sesuatu.
Tidak lama kemudian datang seorang pria tua yang juga melayang dihadapan Mizhawa. Mizhawa yang melihat hal ini sontak terkejut dan menyingkir dari tubuh Gi Tae.
"Jangan takut anakku... kini takdirmu telah dimulai. Kuatkan dirimu, pemuda ini adalah satu-satunya jalan untuk menuju kesembilan cahaya. Jangan sampai bayangan hitam berhasil mendapatkan jiwanya. Kalian harus bersatu..."
- end of flashback -
----
__ADS_1