Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
33. Harapan yang Hilang?


__ADS_3

Di pondok tempat para putri dari ketujuh kerajaan dan Gi Tae tinggal, kesembilan putri tengah berkumpul di ruangan utama.


Fajar hampir tiba di ufuk timur, tetapi gelap malam masih dapat dirasakan oleh mereka yang tengah serius dalam pembicaraan mengenai permasalahan Moon Gi Tae. Hanya dinding kayu dan cahaya dari beberapa lilinlah yang menjadi saksi bisu dari pembahasan mereka.


"Ku kira kita sudah lebih dari sebuah keluarga, tetapi mengapa kalian tidak memberitahukan hal sepenting ini kepada kami? apakah kami semua ini masih orang asing untuk kalian?" Chaeyun tampak merasa tersinggung dengan yang telah ketiga putri Hira sembunyikan darinya. Diapun angkat bicara menyuarakan kekecewaannya.


Ketiga putri Hira, Mozhawa, Sazhawa dan Mizhawa duduk berhadapan dengan keenam putri lainnya yang duduk membentuk setengah lingkaran. Mereka seperti tengah diadili akan kesalahan yang telah mereka perbuat.


"Sekali lagi, kami meminta maaf kepada kalian... kami tidak bermaksud untuk melakukan itu. Kamu tau sendiri kan, kami begitu menyayangi dan mempercayai kalian layaknya saudara..." rasa bersalah begitu nampak pada wajah Mozhawa. Sebagai yang tertua dari putri Hira lainnya, dia merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar, terutama dengan kesalahan seperti ini.


"Aku mengerti kekhawatiranmu, Mozha... tetapi ini bukanlah kamu. Kamu selalu membicarakan apapun kepada kami semua sebelum mengambil tindakan..." kali ini Ji-hyeon juga tidak dapat menahannya. Meskipun dia sudah mencoba untuk menutupi kekecewaannya, tetap saja nada bicaranya tidak dapat berbohong.


"Ya... aku tahu aku telah melakukan kesalahan besar. Aku yakin kalian telah kecewa kepadaku..." dengan tertunduk lesu, Mozhawa tidak dapat lagi melakukan pembelaan.


"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Mozha" Mizhawa tidak tahan melihat semua ini, diapun angkat bicara.


"Apa maksudmu?" Na Yeong yang sedari tadi menahan kekesalannya kini mengalihkan perhatiannya kepada Mizhawa. Begitu pula dengan yang lainnya.


"Mozha telah menanyakan pendapat Sazhawa sebelum mereka pergi mencari Gi Tae. Dan tentu saja dialah yang menyarankan agar mereka berdua saja yang mengetahui permasalahan itu" ucapnya dengan acuh tak acuh "oh, dan satu hal lagi... Hyujin. Dia juga lebih mengetahui hal ini ketimbang kalian." tambahnya dengan santai, membuat suasana kembali menegang.


Menurut Mizha, Sazhawa lah yang memiliki pertanggungjawaban besar dalam permasalahan ini. Pertama, dialah yang membuat Gi Tae kesal dengan selalu membawa Hyujin kemanapun dia pergi. Kedua, setiap perkataan Sazhawa selalu membuat Gi Tae kecewa. Dan yang terakhir, dia yang menyarankan semua rencana pencarian Gi Tae malam tadi.


Sementara Hyujin tengah berjaga diluar dan tidak ingin mencampuri urusan mereka para putri. Karena menurutnya ini bukanlah ranahnya.


"Apakah kamu sudah tidak waras, Mizhawa?" tanya Sazha dengan tidak percaya "aku dan Mozha justru melakukan ini semua karenamu!" tambahnya dengan menunjuk geram ke arah Mizhawa yang duduk di sebelah Mozhawa.


Hal ini membuat Mozhawa panik. Dia tidak ingin kedua adiknya kembali berseteru, terutama apa yang dikatakan oleh Sazha akan memancing putri lainnya untuk menanyakan permasalahan sesungguhnya.


"Sazha cukup! hentikan omong kosongmu!" perintah Mozhawa yang terlihat khawatir dan menyembunyikan sesuatu.


Sementara itu, keenam putri lainnya semakin dibuat bingung oleh pernyataan Sazhawa.


"Cukup kamu bilang?" Sazhawa kali ini tidak bisa tinggal diam setelah apa yang Mizha katakan sebelumnya "aku dan kamu berusaha melindunginya, Mozha!" tambahnya menatap Mozhawa dengan mata yang berkaca-kaca "tetapi kamu lihat sendiri kan? dia sama sekali tidak berterima kasih dan malah menunjuk semua kesalahan ini padaku!" emosi yang bercampur dengan kekecewaan begitu nampak padanya.


Mozhawa yang duduk diantara kedua adiknya pun tidak dapat menahan rasa iba kepada Sazhawa. Dia memang benar, tetapi Mizhawa juga tidak sepenuhnya salah. Dan kini dirinya berada di ambang kebingungan.


"Apa yang kamu maksud Sazha? tolong jelaskan kepada kami... aku benar-benar tidak mengerti satu hal pun!" Ji-hyeon merasa frustasi dengan keadaan mereka saat ini.

__ADS_1


"Apakah ini ada kaitannya dengan Mizhawa dan Gi Tae?" Chu Yi angkat bicara sehingga menarik perhatian yang lainnya.


Terlihat Mozhawa semakin panik dengan matanya yang terlihat membesar. Dia tidak ingin mereka tahu bahwa Mizhawa sedang dalam masalah.


Sebagai seorang kakak, Mozha tentu lebih mengetahui bagaimana kedua saudaranya. Mereka tumbuh bersama dan menjalani hidup bersama-sama. Jadi bagaimana mungkin Mozha tinggal diam dengan perubahan yang terjadi kepada Mizhawa. Saat itu dia hanya ingin memastikan jawabannya dengan bertanya langsung kepada sumbernya, yaitu Moon Gi Tae. Karena baginya bertanya kepada Mizhawa akan sama halnya dengan bertanya kepada angin.


"Apa maksudmu, Chu Yi?" Dayeon yang terlihat sangat bijak pun akhirnya juga kalah dengan rasa penasarannya.


"Malam itu aku melihat Gi Tae dan Mizhawa di pinggir danau... hanya saja aku tidak mengetahui apa yang tengah mereka lakukan, karena begitu gelap dari tempatku berdiri. Dan ketika aku mendekati mereka, Mizhawa menampar Gi Tae lalu pergi begitu saja." jelas Chu Yi yang membuat semua orang fokus dengan setiap kata yang dikeluarkannya.


"Aku tidak yakin jika Mizhawa akan menampar Gi Tae tanpa sebab..." Na Yeong meragukan yang terjadi "jadi, Mizha... bersediakah kau untuk menjelaskannya kepada kami?" tambahnya dengan menyipitkan matanya kepada Mizhawa. Berharap dia berlapang dada untuk menjelaskan detail kejadian.


Ini bukan hanya persoalan Gi Tae dan putri Hira semata. Ini akan menyangkut keberlangsungan hidup Daegun dan orang-orang yang ada di dalamnya.


"Tidak ada yang terjadi diantara kami." dengan dingin dan tegas Mizhawa menjawab pertanyaan Na Yeong.


"Berhentilah berkelit! Mizhawa, aku benar-benar lelah dengan sikapmu! lihatlah Mozha yang selalu menanggung semua akibat dari perbuatanmu!" Sazhawa tidak sanggup lagi menahan gejolak amarahnya dan mengeluarkan semua yang selama ini dia pendam "bahkan sejak kecil, kamu sama sekali tidak pernah membebaskan kami dari masalah!" tambahnya dengan air mata yang menetes satu demi satu.


Mozhawa berusaha menenangkan Sazha dengan terus memegangi lengannya. Dia tidak ingin kedua adiknya memulai perpecahan diantara mereka.


"Apakah aku pernah meminta bantuan kepada kalian?!" sahut Mizha yang juga tersulut emosi "kalian bahkan tidak menanyakan apapun kepadaku sebelum menentukan apapun yang harus kulakukan! kalian pikir aku senang memulai masalah? tidak Sazha! justru kalianlah yang membuatku seperti itu!" tambahnya dengan dada yang terlihat naik turun mengikuti amarahnya.


"Kalian semua! tolong hentikan! ini bukan saatnya untuk perang saudara!" Ji-hyeon tidak tahan lagi dengan situasi yang terjadi dan menggebrak meja dengan kuat untuk menghentikan perseteruan diantara putri Hira.


"Jika saja kamu tidak terlahir menjadi saudaraku!" gumam Sazhawa sembari mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Aku memang tidak pernah ingin terlahir menjadi saudaramu!" ucap Mizhawa yang mendengar perkataan Sazha dan langsung berdiri dari duduknya.


Dengan penuh emosi Mizha mengeluarkan panah sihirnya dan membidik Sazha dengan anak panahnya.


Tentu para putri lainnya terkejut melihat hal ini. Mereka tentu saja pernah bahkan sering beradu mulut, tetapi kali ini Mizhawa benar-benar memiliki keberanian untuk menyakiti saudaranya sendiri.


Dengan cepat Sazha menghindari panah yang melesat ke arahnya dan segera berteleportasi ke sisi Mizhawa. Secepat kilat dia mencengkram leher Mizha dan mendorongnya dengan kuat hingga membentur dinding pondok. Menyebabkan Mizhawa menjatuhkan busurnya dan memegangi lengan Sazha yang saat ini tengah mencekiknya.


Mizhawa meringis kesakitan menahan cengkraman yang ada di lehernya.


"Sazhawa! Mizhawa! hentikan!!" teriak Mozhawa yang tengah berdiri dengan panik dan kalut.

__ADS_1


Keenam putri lainnya turut panik melihat hal ini. Mereka ikut meneriaki kedua putri Hira yang tengah saling menyakiti.


Sazhawa dan Mizhawa tidak menggubris suara-suara yang menghawatirkan mereka dan terus saling melemparkan tatapan kebencian.


Mizhawa menyerang perut Sazhawa dengan lututnya, sehingga menyebabkan Sazha untuk melepaskan cengkeramannya dan memegangi perutnya kesakitan.


Mizhawa mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri. Dia berlari dan terbang ke halaman pondok, dengan begitu mereka bisa beradu kemampuan tanpa menyakiti yang lainnya.


Hyujin terkejut saat melihat Mizhawa terbang dengan tergesa-gesa. Sebelumnya dia tengah berjaga di sekitar halaman pondok seperti biasa saat dia tidak memiliki tugas lain dari para putri.


"Jangan harap kamu bisa melarikan diri, seperti yang biasa kamu lakukan setelah memulai kesalahan!" ucap Sazhawa dengan sinis setelah berteleportasi di hadapan Mizhawa.


"Senang melihatmu menghadapiku kali ini, karena mereka bisa mengetahui sifat aslimu!" timpal Mizha sembari menyeringai sinis.


Mozha dan yang lainnya berlari mengikuti mereka. Dengan wajah-wajah khawatir, mereka hanya bisa berharap bahwa kedua putri Hira bisa mengehentikan apapun yang tengah terjadi diantara mereka.


"Baammm!!!"


Saat Mizhawa dan Sazhawa kembali mengambil posisi untuk menyerang, tiba-tiba sebuah energi hitam meledak ditengah-tengah mereka. Menyebabkan keduanya terpental dan asap hitam mengepul di sekitar mereka.


Ledakan itu tidak begitu besar, tetapi cukup untuk menaklukan keduanya.


"Kalian berisik sekali! hingga membuatku terbangun...!" terdengar suara maskulin dan agak serak keluar dari pintu pondok dengan mengucek mata, layaknya orang yang baru terbangun dari tidur nyenyaknya.


Dia adalah Moon Gi Tae, pria yang menyebabkan kedua putri Hira terpental di tengah ketegangan.


Para putri membalikkan badan mereka untuk melihat sumber suara, begitu pula dengan Hyujin yang juga kaget melihat serangan tiba-tiba.


Sebelumnya Hyujin mengira bahwa itu adalah energi dari sihir hitam yang dapat mengancam keberadaan mereka. Tetapi tidak disangka, ternyata itu milik tuannya sendiri, Moon Gi Tae.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? bukankah ini saatnya untuk bangun pagi?" Gi Tae bertanya kepada seluruh mata yang menatapnya aneh setelah meregangkan tubuhnya.


Tidak dirasa, fajar telah menyingsing berganti suasana pagi yang dingin dan sejuk. Diskusi yang berujung perkelahian diantara kedua putri Hira memang memakan waktu yang cukup lama rupanya.


Tetapi yang mereka khawatirkan saat ini bukanlah itu. Mata mereka yang terbelalak disebabkan oleh kekuatan yang baru saja mereka lihat.


Ya, ledakan yang disebabkan energi hitam. Karena kini mereka yakin, Gi Tae lebih dulu memperoleh kekuatan dari bayangan hitam.

__ADS_1


 


 


__ADS_2