
Moon Gi Tae POV.
Sesampainya di halaman depan pondok bersama dengan Ji-hyeon, aku melihat Jeong Ra dan Chu Yi tengah berdiri berhadapan tidak jauh dari sebuah batu yang berukuran sedang disamping mereka, seperti sedang membicarakan sesuatu.
Kedatanganku dengan Ji-hyeon mengalihkan perhatian mereka, akupun sedikit membungkuk untuk memberi hormat karena walau bagaimanapun mereka tetaplah para putri.
"Gi Tae sepertinya sudah lebih membaik dan siap untuk berlatih." Ji-hyeon menginformasikan keadaanku tetapi aku justru tidak mengerti maksudnya.
"B-berlatih?" tanyaku keheranan sambil mengerutkan dahiku kepadanya.
"Ya, berlatih. Karena kami menyadari bahwa kamu membutuhkannya, sedangkan kami para putri akan menjadi gurumu dalam proses pelatihan" Ji-hyeon mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum lebar.
Jeong Ra dan Chu Yi mengangguk mengiyakan kalimat Ji-hyeon.
Berlatih dengan mereka? kebaikan apa yang telah kulakukan hingga aku mendapatkan anugerah sehebat ini? setahuku yang kulakukan hanya menipu dan membuat onar.
Apakah ini suatu keuntungan bagiku ataukah mereka memiliki maksud tersembunyi?
"Baiklah... aku akan berlatih bersama kalian" tunggu! aku tidak bermaksud mengatakan itu.
Ah! ini pasti ulah Jeong Ra yang membuatku mengiyakan Ji-hyeon.
"Senang mendengarnya!" mata Ji-hyeon menyipit karena senyumannya "jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengabariku atau yang lainnya. Aku pastikan kita akan terus bersama-sama..." tatapannya begitu tulus hingga tanpa kusadari hatiku ikut bergetar melihat ketulusan di matanya.
Aku mengangguk perlahan dengan mulut yang terperangah dan mata yang tidak bisa kukedipkan.
--
"Kling...! kling!!"
Dengan dikelilingi pepohonan tinggi menjulang di halaman pondok kayu, Jeong Ra terus menyerangku tanpa ampun. Dengan pakaiannya yang berkibaran tertiup angin, dia mengayunkan pedangnya kearahku membuat pedang kami berbenturan dan mengeluarkan suara gerencang.
Tentu saja aku bisa menangkis dan menghindari semua serangannya. Maksudku jika untuk kemampuan bela diri pertahanan, aku tentu bisa melakukannya, aku bahkan sering mengadakan sparing dengan ayahku dulu.
__ADS_1
Tapi semakin lama kami berlatih, tenagaku juga semakin terkuras.
"Jangan lengah!" pekiknya dengan mengayunkan pedang ke arah kanan dari tubuhku.
Aku dengan sigap menghindari serangannya dengan membungkukkan dan memutar tubuhku ke arah yang berlawanan.
Jika dia terus-terusan begini, maka aku bisa saja cidera.
"Cukup! huhh..!" aku mengehentikan serangan Jeong Ra dan mengangkat tanganku kearahnya dengan napas yang ngos-ngosan.
Badanku membungkuk dengan menempatkan kedua tangan di lututku untuk beristirahat sejenak. Jika berlanjut lebih lama, aku pastikan pingsan dihadapannya.
"Ayolah... ini baru permulaan!" gumam Jeong Ra yang seketika membuat mataku terbelalak.
"Permulaan!?" tanyaku dengan kaget "kamu menyerangku selama lebih dari empat jam dan kamu berkata ini permulaan?" ekspresi kesal jelas nampak diwajahku saat ini. Bagaimana bisa dia berkata demikian? "aku tidak percaya ini. Aku pergi! aku akan mencari Ji-hyeon dan berbicara dengannya!" apakah aku marah? ya! tentu saja. Dia bahkan tidak memberi arahan tentang apa yang sedang kita pelajari dan malah menyerangku tanpa ampun.
"Hanya sebatas ini? hahahah...!" aku mendengarnya terkekeh saat aku hendak pergi dari tempat latihan kami, dan itu tentu saja membuatku terhenti dan menatapnya dengan heran.
Apa yang salah dengan gadis ini? apakah dia tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan sejauh ini?
"Hahahah...! Gi Tae... Gi Tae... kamu adalah satu-satunya pemuda yang sangat rewel yang pernah aku temui" kembali, sembari menggelengkan kepala, Jeong Ra menertawakan kekesalanku kepadanya "baiklah-baiklah... jika kamu ingin mengadu kepada Ji-hyeon ibumu itu, silahkan saja. Aku sangat yakin bahwa dia akan melakukan sesuatu yang lebih parah dari yang telah kuajarkan padamu...! heehh...!" tambahnya dengan menyeringai dan menyombongkan diri.
"Memangnya apa yang telah kau ajarkan?" tanyaku dengan mendekat kearahnya seraya menantang.
Salah satu alis Jeong Ra terangkat, dia termakan tantanganku.
Aku tidak tahu apa yang tengah dia rencanakan saat ini, tetapi dari sorot matanya, aku yakin itu adalah sesuatu yang bisa membuatku menyesal.
"Berlututlah padaku dan meminta maaf!" perintahnya dengan menyilangkan kedua lengannya di dada.
Namun otakku seakan mengikuti ucapannya. Oh aku lupa satu hal, dia bisa memanipulasi pikiran seseorang. Pasti saat ini dia tengah menggunakan sihir itu kepadaku.
Aku berusaha menolak perkataannya dikepalaku, tetapi sihirnya terlalu kuat hingga sesuatu terasa tengah menarik kedua lututku untuk berlutut dihadapannya.
__ADS_1
"Akk- aku- ahh!" mulutku hendak mengatakan apa yang diperintah oleh Jeong Ra, namun aku berusaha menolaknya sekuat tenaga.
Seringai dibibir Jeong Ra semakin menjadi. Dia terlihat begitu menikmati pemandangan yang ada dihadapannya.
Dengan posisiku yang berlutut dan mengalami kesulitan dalam menolak sihir Jeong Ra, sesuatu seperti sebuah energi mengalir di tubuhku.
Dari dasar dadaku, aku merasakan energi itu menjalar menuju kedua lengan dan menyebar menuju kedua kakiku.
Energi itu semakin kuat kurasakan hingga terasa begitu panas di sekujur tubuhku. Kepalaku mendongak ke atas dengan mata terpejam karena tubuhku tidak kuat menahan panas yang teramat ini.
"Fokuskan kekuatanmu! jangan biarkan energi yang ada di tubuhmu itu menguasai dirimu!" aku mendengar suara Jeong Ra dari sela kesulitan yang tengah kurasakan.
Aku mencoba memahami kalimatnya. Benar! aku harus dapat memfokuskan diriku!
Setelah beberapa saat, akhirnya aku dapat merasakan energi yang menyebar diseluruh tubuhku perlahan menyatu dengan denyut nadi aliran darahku. Meskipun belum sepenuhnya dapat kukendalikan, setidaknya aku bisa mengatasi energi ini untuk saat ini.
Aku merasa lebih ringan dan dapat berdiri dengan bantuan energi asing yang mengalir di tubuhku ini. Seakan aku bisa mengatasi efek sihir yang diberikan oleh Jeong Ra sebelumnya.
Aku melihat pada kedua lenganku. Mereka diselimuti asap berwarna biru muda yang membuatku takjub.
"Selamat Gi Tae, akhirnya kamu dapat memunculkan energi yang tersembunyi dari dalam tubuhmu" aku mendengar Jeong Ra bertepuk tangan dan memujiku "tetapi sepertinya ini masih sebagian kecil, dan kamu masih butuh usaha lagi untuk mengendalikannya..." tambahnya dengan terlihat tengah berpikir dalam-dalam.
"Apakah ini berarti aku memiliki kemampuan sihir?" aku bertanya padanya layaknya murid yang penasaran dengan langkah sang guru selanjutnya.
"Hmmm... kita akan melihatnya, jika kamu dapat mengendalikan kekuatan ini, bisa jadi kamu akan memiliki ilmu sihir langka yang telah hilang beribu tahun lalu. Tetapi jika energi ini yang mengendalikanmu, maka kamu yang akan menghilang olehnya" jawabnya dengan begitu tenang.
Sihir yang telah hilang? bagaimana aku bisa memilikinya? apakah ini efek dari kutukan atau memang sejatinya aku memiliki ini dari leluhurku?
"Baiklah... sepertinya latihan kita sampai disini dahulu. Besok kita akan melanjutkannya"
Saat aku tertarik dengan topik yang dia mulai dan hendak menanyakan hal ini lebih lanjut, Jeong Ra meminta latihan kami hari ini dicukupkan. Aku sedikit kecewa, tetapi masih ada hari esok bukan.
----
__ADS_1