Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
17. Kisah yang Terungkap


__ADS_3

Gi Tae duduk dengan lesu menyandarkan tubuhnya di dinding penjara. Harapannya kepada Mozhawa seketika sirna beriringan dengan dibawanya dia ke penjara istana Hira. Tidak ada yang bisa dia harapkan lagi, bahkan Sazhawa pasti kecewa berat dengannya.


Apakah dia akan berakhir seperti ini? bukankah hidupnya juga telah berakhir sejak dia dilahirkan?


Tidak ada yang sanggup mengertikan perasaannya. Untuk apa hidup lebih lama jika semua pelarian dan persembunyiannya sia-sia. Bahkan kutukan yang bersamanya semakin lama semakin menjadi. Itu terlihat seperti tidak hanya hidupnya yang kacau, tetapi jiwanya ikut lupa akan siapa dirinya.


Saat Gi Tae tengah tertunduk getir melihat nasib dirinya. Kabut hitam yang aneh bermunculan dari sekeliling tubuhnya. Terlihat seperti energi negatif yang tengah mengitari pemiliknya.


Gi Tae terus menyesali kehidupannya yang semakin menjadi-jadi. Energi negatif terus meningkat seiring dengan kesedihan yang dia rasakan di dalam sel. Tanpa dia sadari, perlahan dirinya dikuasai kabut hitam yang mengerubunginya.


"Bangkitlah anakku"


Suara besar yang penuh perintah terdengar menggema di telinga Gi Tae.


Gi Tae yang tidak tahu dari mana asal suara itu seketika merasa merinding. Bukan ketakutan yang dia rasakan, tetapi suara itu benar-benar dapat menggetarkan siapapun yang dapat mendengarnya.


Gi Tae terus mencari sumber suara dari langit-langit tahanan. Penasaran dengan apa yang telah dia dengarkan. Dia berdiri dan terus berputar mencari siapa pemilik suara yang menggetarkan jiwa tersebut.


"Siapa kamu! tunjukkan dirimu!" Gi Tae memberanikan diri untuk menyahut suara tanpa wujud itu tetap sambil menatap langit-langit penjara.


Prajurit penjaga yang menjaga ruang tahanan terlihat keheranan melihat tingkah Gi Tae, tetapi tidak memiliki hak untuk berbicara dengan tahanan. Jadi dia hanya membiarkan tingkah aneh Gi Tae.


"Aku adalah dirimu. Jiwa yang kutanamkan padamu adalah milikku" ucap suara tanpa wujud yang semakin membuat Gi Tae kebingungan.


"Ini adalah milikku, tubuh dan jiwaku sepenuhnya milikku. Siapa kamu sebenarnya?" rasa penasaran tidak dapat dibendungnya, Gi Tae memutuskan untuk kembali bertanya.


"Ini saatnya kamu bangkit... kegelapan akan kembali dan kamu adalah kunci untuk menyambutnya. Persiapkanlah dirimu!" suara itu kembali muncul dan mengganggu pikiran Gi Tae.


Suara yang menggema terasa begitu kuat hingga Gi Tae harus menutupi telinganya dengan rapat-rapat. Tidak tahu apa yang terjadi padanya, dia hanya terus merintih meminta suara tanpa wujud itu berhenti. Itu seperti sesuatu tengah menjalari tubuhnya. Sesuatu dengan energi kegelapan yang teramat kuat.


"Hentikan! aku tidak ingin mendengamu! kumohon hentikan!" pintanya sembari memejamkan mata dan menutupi telinganya. Tidak tahan dengan gema suara yang terlalu kuat itu.

__ADS_1


"Kamu harus bangkit! inilah saatnya kita merebut kembali apa yang seharusnya menjadi takdir kita...! bangkitlah anakku!" suara besar itu terus memerintah Gi Tae yang sudah tidak tahan lagi dengannya.


Dua penjaga melihat Gi Tae tengah kesulitan dan menutupi telinganya. Salah satu diantara mereka mendekat dan menanyakan keadaannya.


"Hey! apa yang terjadi?" penjaga yang tidak diketahui namanya terlihat cukup khawatir dengan keadaan Gi Tae.


"Tolong bantu aku! ada suara yang mengerikan disini! cepat bawa aku dari sini kumohon!" Gi Tae serta merta mendekat dan memohon-mohon seperti seseorang yang baru saja melihat setan.


"Kamu jangan berulah! kami tidak akan melepaskanmu hanya karena kebohongan mu lagi!" ucap penjaga satunya yang berdiri tidak jauh dari sel tahanan. Dia menganggap Gi Tae hanya berpura-pura agar dapat keluar dari penjara.


Penjaga yang tepat berada di depan sel tahanan Gi Tae sepertinya percaya dengan perkataan Gi Tae, karena dia melihat wajah Gi Tae saat ini benar-benar menunjukkan ketakutan. Matanya memerah dan wajahnya pucat, seperti seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan.


"Kamu tunggu disini, aku akan memanggil tuan putri Mozhawa" petugas yang merasa kasihan dengan Gi Tae memberitahukan kepada temannya untuk berjaga selagi dia menemui Mozhawa.


"Kamu percaya dengan kebohongannya? ckckck..." rekan penjaga hanya berdecak tidak percaya dengan yang dia lihat.


Gi Tae hanya terduduk lemas dan kembali menutupi telinganya, seperti suara tanpa wujud itu kembali mendatanginya.


Benar saja, suarnya datang kembali. Namun kali ini lebih kuat dan lebih memerintah.


"BANGKITLAH ANAKKU! INILAH SAATNYA!"


"Aaaargg!!!" Gi Tae tidak tahan dan hanya berteriak terus menerus "HENTIKAN!! KUMOHON HENTIKAN!" rintihnya dengan sekuat tenaga.


"BANGKITLAH!!"


Suara itu terus menerus berputar dan menggema tanpa henti.


Rekan penjaga yang tesisa melihat tingkah Gi Tae yang semakin menjadi. Dia lalu mendekatinya karena tidak tahan dengan kebohongan Gi Tae.


"Hey! berhenti! aku tidak akan melepaskanmu hanya karena tipuanmu!" dia membentaknya dengan emosi.

__ADS_1


Gi Tae yang tengah terselimuti energi hitam perlahan menatapnya dengan mata yang begitu merah. Terlihat wajah yang pucat kini berubah mengikuti warna matanya. Dia menatap penjaga itu dengan penuh amarah.


Penjaga yang melihat hal ini sontak merasa merinding. Tatapan Gi Tae terasa dipenuhi dengan dendam dan kebencian.


"He-hey! kaa-kamu!" si penjaga terbata saat hendak bertanya kepada Gi Tae yang telah dikuasai energi lain.


Gi Tae mengatupkan rahangnya dan menatap geram kepada si penjaga. Saat Gi Tae akan menyerangnya, penjaga tersebut lari ketakutan dan berteriak meminta bantuan.


--


Semua putri dan beberapa prajurit lainnya segera berlari menuju tahanan dimana tempat Gi Tae berada setelah mendengar laporan yang diberikan oleh para penjaga.


Pikirkan para putri dari ketujuh kerajaan tengah kacau, mereka berharap agar bayangan kehancuran yang selama ini mereka takutkan tidak terjadi hari ini.


Sebelum laporan dari penjaga tahanan terdengar, mereka tengah berdiskusi tentang langkah yang hendak mereka ambil untuk mengatasi masalah Moon Gi Tae. Tetapi hal tak terduga justru mengganggu dan merusak rencana. Membuat mereka lebih memfokuskan dengan keadaan Gi Tae.


Namun sesampainya di penjara, mereka nampak begitu kaget melihat Gi Tae sudah tidak lagi berada didalamnya.


"Dia telah melarikan diri!" ucap Jeong Ra menarik kesimpulan. Kemarahannya dapat dirasakan oleh yang lainnya.


"Kita harus menemukan dan menghukumnya!" tambah Chu Yi yang mempererat pedang yang ada di genggamannya.


Mizhawa yang melihat hal ini seketika memutuskan untuk pergi tanpa sepengetahuan putri lainnya. Dia menyelinap keluar istana untuk mencari seseorang.


Para putri lainnya hanya menatap kosong ke dalam penjara yang kini tanpa penghuni.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2