
bram tidak merasa terganggu dengan itu bram bersikap tenang dan santai bram merogoh gawainya mengirim pesan pada seseorang kemudian memasukkan kembali gawainya ke dalam sakunya selepas itu bram memasang kaca mata hitam yang tersembunyi di balik jasnya.
sedangkan bunga kini baru saja keluar dari lif tampak lorong panjang setelah pintu terbuka dan berdiri penjaga di sepanjang lorong. bunga yang awalnya santai dan tenang kini mulai ragu dan khawatir tanpa di sadari tangan bunga sudah memegang bolpoin yang bram berikan sebelumnya.
" mari nona bunga....
nona bunga tidak perlu khawatir pimpinan beberapa kali menjadi incaran pembunuhan ini semua di lakukan untuk menjaga keamanan pimpinan saja. " jelas daren karna dapat merasakan jika bunga sepertinya merasa khawatir.
" oh...
baik.... mari silahkan tunjukkan jalannya saja aku akan mengikuti di belakang. " ujar bunga.
daren segera membawa bunga berjalan di lorong itu. kanan kiri dari lorong itu adalah kaca dua sisi yang mana orang yang ada di balik kaca bisa melihat orang yang di luar sedangkan yang di luar tidak bisa melihat yang di dalam.
bunga pun memasuki sebuah ruangan super megah dan mewah. tapi bunga tidak terkejut karena baginya ini biasa saja dirinya juga bahkan bisa lebih dari ini itu pun jika dirinya mau.
" tuan nona bunga sudah datang. " ujar daren.
segera seorang yang sebelumnya membelakangi keduanya berputar arah dan kini tampaklah seorang yang masih bisa di katakan baru saja berkepala tiga.
" oh... sudah datang rupanya. " segera orang itu berdiri dari kursinya dan pergi mendekat ke arah bunga.
" perkenalkan namaku sam willy. " ujar orang itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
" bunga Vasillia. " ujar bunga menjabat dan memperkenalkan dirinya.
sam yang bersentuhan dengan bunga saat berjabat tangan merasakan kelembutan dari kulit bunga. sedangkan bunga berusaha untuk melepaskan jabatan tangan itu dengan sedikit melakukan perlawanan dan tangan itu pun terlepas.
sam memberikan senyum merkah pada bunga dan segera saja mempersilahkan bunga untuk duduk.
"oh ya aku lupa maaf...
bunga silahkan duduk. " ujar sam dengan sangat ramah.
" terimakasih tuan sam. " ujar bunga segera saja duduk di kursi yang tersedia.
" tuan aku di luar jika membutuhkan sesuatu cukup panggil saja. " ujar daren.
sam tidak menjawab dia duduk di kursi yang ada di hadapan bunga. daren tidak ambil pusing dia keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"jadi tuan sam bisa kita mulai wawan caranya. " ujar bunga.
" sabar dulu kita minum saja dulu selepas itu baru kita lakukan wawan cara bagai mana. " ujar sam.
" maaf tuan sam aku ini tidak pandai dalam minun aku hanya memiliki batas sampai tiga loki saja. " ujar bunga.
" baik lah tidak masalah dengan itu walau sedikit di sayangkan. " ujar sam kemudian mulai menyangkan loki pertama pada milik bunga kemudian miliknya.
" ayo silahkan bunga di minum setelah tiga loki yang kamu katakan kita mulai wawancara. " ujar sam.
" baik lah tuan sama. " ujar bunga kemudian mengambil loki miliknya dan mulai meminumnya.
bunga muka mengecap mulutnya karena minuman yang di berikan sam sama tapi rasanya ada sedikit perubahan.
" em.... apa minuman ini ada sedikit rempah. " ujar bunga bertanya karena penasaran.
" eh.... sepertinya begitu. aku juga baru meminumnya karena ini merupakan pemberian teman jauh. " ujar sam kemudian menuangkan loki ke dua.
" seperti itu rupanya. " ujar bunga kemudian mengambil loki ke duanya dan meminumnya.
berlanjut dengan loki ketiga bunga membalik gelas lokinya menandakan jika dirinya sudah selesai.
" baik tuan sam....
akan aku usahakan untuk itu.... " ujar bunga.
" ya baiklah mari mulai saja sesi wawancaranya ujar sama. "
" baik..... " ujar bunga.
" jadi tuan sam....... " bunga tidak melanjutkan kata katanya karena matanya mulai memberat dan sedikit kabur.
" bunga apa kamu baik baik saja..... " tanya sam.
" aku aku..... " bunga berusaha berbicara tapi tidak bisa dia merasa seperti melayang.
" *ini sepertinya jebakan sial.... " ujar hati bunga. tangan berusaha menekan bolpoin pemberian sam tapi bunga merasa itu begitu keras dan sulit untuk di tekan.
dan akhir bunga jatuh dari kursi itu bolpoin itu terlepas dari tangannya bunga melihat sekitarnya dengan terus mengedip ngedipkan matanya karena ruangan itu seperti berputar putar*.
__ADS_1
sedangkan sam sudah tersenyum indah wajahnya tampak menunjukan kepuasan ada pencapaian yang telah dicapainya dan itu berhasil.
sam segera mendekati bunga sam melihat bunga yang sedang terlentang di lantai begitu cantik indah menawan. lalu sam duduk di dekat bunga dan mengambil bolpoin yang berusaha bunga raih di sisa sisa kesadarannya.
" tolong.... " ujar bunga begitu pelan dan penuh usaha.
" tenang saja bunga aku akan menolong mu dan menjagamu dengan baik. " ujar sam tangannya memainkan bolpoin yang di pegangnya kemudian menekannya sekali dan tak lama menekan lagi sekali..
bunga tidak terlalu melihat jika bolpoin itu sudah di tekan dua kali. dia begitu merasa seperti seseorang yang ada dalam pengaruh narkoboy.
di tempat lain bram yang sedang menunggu sudah mulai duduk dengan tidak tenang dia merasa sesuatu sudah terjadi sinyal yang di tingginya juga tidak kunjung di dapatkan.
bram berdiri lalu mendekat ke arah dua orang penjaga itu bram melihat sekitarnya yang sebelumnya ada segelintir orang kini sudah sepi hanya menyisakan dirinya dan dua penjaga.
"benar ini sudah tidak beres aku harus segera bertindak. " ucap hati bram.
" mau kemana. " ujar sang penjaga menahan langkah bram.
" aku mau menyusul nona bunga karena ini sudah terlalu lama. " ujar bram.
" tidak bisa kamu harus menunggu sampai orang itu turun. " ujar penjaga.
bram tidak menjawab bram hanya melihat sebentar dari balik kaca matanya lalu berbalik . tapi tiba tiba saja bram berbalik lagi dan melakukan serangan pada dua penjaga. yang mana serangan itu lolos dan membuat dua penjaga itu tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.
bram segera ke lift yang mana sepertinya memang khusus jadi bram tidak repot segera lift membawa bram. kembali di lantai atas di mana seseorang di lorong menyadari jika ada seseorang yang menggunakan lif.
" ketua ada seorang yang naik. " ujar penjaga pada daren.
" hem..... " daren kemudian memfokuskan pandangannya ke arah pintu lift.
tak lama pintu lift terbuka sosok bram berdiri dengan gagah kemudian keluar melihat sekitar dua puluh orang di hadapannya.
bram tetap tenang dia mengendorkan dasinya.
" sial mereka tidak berguna menahan dua bocah curuk ini. " ujar daren.
" kalian semua buat orang ini tidak bisa bangun lagi jangan sampai membiarkan tuan terganggu kesenangannya. " lanjut daren.
" siap ketua. " dua puluh orang itu kemudian mengeluarkan pisau dari masing masing mereka.
__ADS_1