
" bram.... " panggil bunga setibanya di taman.
" ya nona apa kita akan pergi ke luar. " tanya bram.
" tidak...
aku ingin berlatih beladiri.... " ucap bunga.
" eh...
apa akun tidak salah nona....
itu maksudku mengapa nona harus repot belajar beladiri aku akan selalu melindungi mu nona jadi tidak perlu khawatir. " ujar bram.
" bram apa kamu membantah ku. " ujar bunga dengan nada sedikit tinggi.
" tidak nona. " jawab bram.
" jadi tak perlu menceramahi ku. cukup ajari saja aku bela diri. " ujar bunga.
" sesuai permintaan mu nona. " ujar bram pun setuju saja.
" bagus....
jadi apa yang pertama harus aku lakukan. " tanya bunga.
" boleh aku bertanya nona... " bukan menjawab bram malah mengajukan pertanyaan.
" ya katakan. " jawaban bunga.
" apa nona sebelumnya sudah pernah belajar beladiri. " tanya bram.
" tidak ini yang pertama kali. " jawab bunga.
" baik jika ini yang pertama makan kita belajar dasar terlebih dahulu. "
" ya ayo lakukan" ujar bunga sudah siap dalam posisi bertarung.
" lau mengapa nona seperti itu. " tanya bram
" lah lalu bagai mana bukankah belajar beladiri harus bertarung. " ujar bunga.
" tidak nona....
coba perhatikan aku dulu aku akan menunjukkan gerakan dasar beladiri. " ujar bram merasa lucu dengan bunga.
" dan ingat ini nona titik lemah setiap musuh. " lanjut bram.
Selama 5 jam bram mengajar bunga pelatihan dasar untuk pemula.
" nona aku rasa ini sudah cukup kita bisa belajar lagi esok. " ujar bram.
__ADS_1
" tidak aku masih ingin lanjut.
coba ajar kan sesuatu yang lain padaku. " ujar bunga.
" baik lah nona mari kita coba belajar melepaskan diri dari kuncian musuh.
" em...
ayo lakukan.... " ujar bunga mengelap keringatnya.
" sungguh keindahan yang luar biasa hanya dengan mengelap keringat saja aku sudah....
bram sadar apa yang kamu pikirkan. " pikiran bram sedikit travelling.
" bram apa aku terlalu keras. " ujar bunga bertanya.
" santai saja nona aku baik baik saja. " ujar bram karena menahan sesuatu di bawah sana yang terasa ngilu di bagian alat kelaminnya.
" oh bagus lah jadi kita masih bisa lanjutkan sekarang. " ujar bunga sepertinya masih ingin lanjut walau sudah tau dirinya sudah berpeluh-peluh.
" apa tidak sebaiknya lanjut besok saja nona aku lihat nona sudah lelah dan juga nona baru saja pulih. " ujar bram.
" ya tapi tolong beberapa gerakan lagi setelah itu berhenti. " ujar bunga.
" nah gerakan itu bisa nona coba jika musuh mengunci gerakan tangan nona dari belakang. tapi beda lagi jika nona di kunci di bagian leher. " ujar bram.
" ayo lakukan. " ucap bunga.
" ya tak apa. asal jangan sampai kurang ajar. " ujar bunga dingin.
" baik nona, mari lakukan." ujar bram
bram segera melakukan sebuah kuncian leher pada bunga dari belakang. bram yang begitu dekat bica mencium bau dan merasakan kelembutan dari kulit bunga.
" lalu apa bram....
bram....
bram..... " ujar bunga tapi tidak ada respo bunga segera menginjak kaki bram dengan sangat keras.
" aduh.... " ujar bram mengaduh.
" bisa fokus tidak alihkan pikiran kotormu itu aku tau kau sedang berpikir yang lain kan. " ujar bunga.
" ah tidak nona maaf maaf.....
baik jadi seperti ini nona jika kuncian ini yang nona alami nanti nona jangan berusaha melepaskan tangan yang mengunci nona karena itu akan menguras tenaga dan nona akan lebih cepat pingsan.
cara terbaiknya nona bisa sedikit bergeser sedikit kesamping. nah benar seperti itu nona lalu nona selipkan kaki nona ke bagian belakang kaki musuh. nah benar nona kemudian gunakan siku nona untuk memberikan rasa sakit agar kuncian di leher melonggar dan saat pukulan itu nona juga lakukan sapuan pada kaki musuh agar musuh terjatuh setelah terjatuh ambil tindakan cepat cari titik lemah yang bisa nona jangkau dengan kaki seperti lutut atau ppangkal paha lakukan ini dengan cepat agar musuh tidak bisa bersiap. " ujar bram menjelaskan.
" baik nona kita lakukan dengan gerakan cepat dan jangan pernah ragu lakukan seperti nona mengalami ini sungguhan. " lanjut bram
__ADS_1
" em.... baiklah aku mengerti. " jawab bunga
segera saja bram melakukannya setelah bunga siap bunga juga setelah menerima kuncian itu segera melakukan sesuai dengan apa yang diajarkan bram tadi dan saat bram sudah terjatuh sasaran bunga saat itu adalah pangkal paha bram segera berguling saat sudah terjatuh untuk anti sipasi.
benar saja bunga melakukan serangan terakhir dengan sangat kejam bram bersyukur karena masih sempat berguling jika tidak hilanglah aset masa depannya itu.
" bagus nona itu sudah sangat baik jika di latid dengan tekun maka itu akan jauh lebih sempurna nanti. " puji bram dengan memegang bekas sikuan di bagian ulu hatinya.
" hah....
ternyata menyenangkan belajar beladiri. ayo kita lanjutkan saja aku mau seharian ini di habiskan dengan belajar beladiri saja. " ujar bunga.
" tidak nona itu tidak baik untuk nona yang baru saja memulai kita membutuhkan tahapan agar tidak terjadi kesalahan yang berakibat fatal pada tubuh kita. " alasan bram saja.
" oh...
begitu rupanya....
sayang sekali aku masih begitu ingin berlatih. " ujar bunga.
" nona bisa belajar kapan saja, jadi nona santai saja" ujar bram menikmati kecantikan bunga hingga sebuah serangan mengarah ke perut bram dilakukan oleh bunga.
bram yang masih bisa mengantisipasi segikit menggeser tubuhnya kemudian memberikan kuncian leher dan tangan pada bunga. bunga juga tak diam bunga segera menginjak bram dengan keras dengan tumitnya dan membenturkan kepalanya tepat di hidung bram.
bram segera melepaskan kuncian itu dan mundur. bunga seperti tidak mau melepas bram bunga segera melakukan tendangan belakang yang dengan tepat mengenai dada bram hingga membuat bram jatuh ke tanah.
" hahaha...
rupanya aku begitu jenius bisa menjatuhkan orang yang mengajariku. " ujar bunga kemudian meninggalkan bram begitu saja.
bram duduk dengan hidung yang berdarah melihat kepergian bunga dengan senyuman.
" wanita memang tidak terduga. lain kali aku tidak boleh tertipu dengan kecantikan. karena itu baru saja membuat ku lengan. eh bukan lengah tapi itu sengaja. " ujar bram lalu bangkit dari duduknya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
di dapur bram berpapasan lagi dengan bunga yang memegang segelas air.
" nona. " ujar bram. "
" hidungmu berdarah bram. " bunga
" ini sudah biasa nona tenang saja. " ujar bram.
" kamu yakin. " bunga
" ya nona. " bram.
bunga pun pergi dari sana tidak melanjutkan percakapannya dengan bram. bram pun melanjutkan langkahnya ke dapur di dapur ada bik asih rupanya.
" ya ampun bram apa yang sudah terjadi. "
" aku menjadi samsak tinju nona untuk berlatih beladiri. " ujar bram dudk.
" oh.... apa sakit bram. " ujar bik asih kemudian meletakkan segelas air di depan bram
" sudah biasa. " ujar bram kemudian meminum air itu.
__ADS_1
" ya sudah bik aku kekamar, aku rasa aku perlu membersihkan diriku. dan terimakasih airnya. "
" ya pergilah.