
Villa gunung broten,
Villa Arthur,
Ruang baca,
Tok tok tok!
"Tuan muda?" Panggil Jimmy.
"Masuk" ucap Arthur.
"Ada apa?" Sambung Arthur.
"Tuan, nona chansa menerima tawaran anda dan sudah menandatangani surat perjanjian" jelas Jimmy.
"Biar ku lihat!" Ucap Arthur.
Jimmy memberikan surat perjanjian kepada Arthur yang sudah ditandatangani oleh Chansa.
"Bagus sekali, simpan surat ini dengan buat salinannya sebanyak 10 rangkap. Dan kirim nyonya Fanny ke Amerika untuk pengobatan lebih lanjut. Disana fasilitasnya lebih baik" perintah Arthur.
"Baik tuan muda" ucap Jimmy.
"Dan... Bawa Chansa kemari dia akan tinggal bersamaku" perintah Arthur.
"Baik tuan muda" ucap Jimmy keluar ruang baca.
(Permainan dimulai!) Ucap Arthur dalam hati.
Rumah chansa,
Ding dong! Ding dong!
"Sebentar" ucap Chansa.
Krekk!
"Tu..tuan Jimmy?" Ucap Chansa kaget.
"Ada apa anda kemari?" Tanya Chansa.
"Nona, tuan muda menyuruh kami menjemput nona untuk tinggal bersama tuan muda di villanya" ucap Jimmy.
__ADS_1
"A..apa? Tinggal bersama dengannya? Ta..tapi kenapa?" Tanya chansa takut.
"Nona, nona sudah menandatangani surat perjanjian. Dan nona sudah menyetujui semua persyaratan yang tertulis dikontrak itu, dalam hal ini nona sudah menjadi wanita tuan muda" ucap Jimmy.
"A..aku wanitanya? Ta..tapi itu hanya selembar surat kontrak dan aku akan melakukan apapun yang dia mau tanpa harus tinggal bersamanya" ucap chansa menolak.
"Nona mohon jangan mempersulit kami, kami hanya menjalankan tugas jika nona ingin meminta kompensasi nona bisa membicarakan ini dengan tuan muda" ucap Jimmy.
"Pengawal bawa nona Chansa ke mobil" perintah Jimmy.
"A...aku belum mengemasi barang-barang ku!! Heii apa yang kalian lakukan??" Teriak Chansa.
"Nona mohon jangan mempersulit kami" ucap Jimmy.
"Masalah barang-barang kami akan membelikannya yang baru" sambung Jimmy.
"A..aku bisa berjalan sendiri lepaskan aku" ucap Chansa berontak.
"Bawa ke mobil" ucap Jimmy.
****
Villa,
"Umm Umm!" Chansa berontak.
(Ya Tuhan apa yang akan mereka lakukan padaku) ucap Chansa dalam hati.
Tap tap tap! Pengawal dan Jimmy membawa chansa menuju kamar Arthur.
Tok tok tok!!
"Masuk" ucap Arthur.
"Baik" ucap Jimmy membuka pintu dan membawa chansa masuk.
Arthur duduk dikursi putar di dekat jendela dan memegang gelas anggur ditangannya dan kemudian berputar melihat kearah chansa.
Tanpa ekspresi dan tanpa senyuman Arthur menatap chansa.
(Tuhan jangan biarkan dia menyakitiku) ucap Chansa memejamkan matanya.
"Tinggalkan kami berdua, kalian boleh keluar" perintah Arthur.
"Baik Tuan muda" ucap Jimmy dan pengawal.
__ADS_1
Dalam keadaan tangan yang masih terikat dan mulut yang masih dibungkam dengan sapu tangan, Chansa terduduk dilantai dan terdiam denhan memejamkan matanya.
Arthur berjalan mendekati Chansa.
"Selamat datang sayang!" Bisik Arthur ditelinga chansa.
Chansa tidak bergeming dan tidak mengangkat wajahnya Chansa masih terdiam dengan memejamkan matanya.
"Heii! Apa kau takut?" Tanya Arthur mengangkat wajah Chansa. Dan membuka ikatan sapu tangan yang membungkam mulutnya.
Wajah Chansa terlihat sangat takut dan memerah, nafas Arthur terasa panas ditelinga Chansa.
"A..aku aku.."
"Ssttt, jangan berbicara lagi" ucap Arthur kemudian menggendong Chansa dan mendudukkannya di sofa dan melepaskan ikatan tangannya.
"Ka..kau kenapa membawaku kemari?" Tanya Chansa sedikit menjauh dari Arthur.
"Memangnya kenapa kau sudah menandatangani surat itu, mulai dari ko menandatangani surat itu kau sudah menjadi milikku" ucap Arthur dengan nada dingin dan wajah tanpa ekspresi.
"Ta..tapi aku.. aku bukan milikmu se..setelah kontrak itu selesai aku dan kau bu...bukan apa-apa lagi" ucap Chansa terbata-bata.
Arthur terlihat sangat marah dan wajah tanpa yang dingin membuat chansa semakin takut untuk menatapnya.
"Dengar baik-baik, mau tidak mau terima tidak terima kau adalah milikku!!" Ucap Arthur tegas dan dengan nada pelan namun sangat kasar.
"Kau boleh bilang bahwa kau bukan milikku tapi ibumu...." Ucap Arthur berbisik ditelinga Chansa.
Chansa membuka matanya lebar-lebar dan menoleh kearah Arthur yang bibirnya hampir mengenai bibir Arthur.
Chansa memundurkan wajahnya dan menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat pasrah dan tidak bisa berkata apapun lagi.
"Aku... Lakukan saja sesuai keinginanmu, aku milikmu sekarang!! Apapun yang kau inginkan aku akan melakukannya. Tapi berjanjilah padaku jangan biarkan ibumu meninggal. Aku mohon!" Ucap chansa meneteskan air matanya.
"Begini baru benar!" Ucap Arthur.
Cup!
Arthur mencium pipi chansa! Chansa hanya terdiam dan pasrah akan semua ini. Dan dia merasa bahwa Arthur yang dia temui waktu itu sangat berbeda dengan yang dia temui hari ini. Namun demi ibunya chansa rela melakukan apapun yang Arthur minta.
"Itu! Kamar mandinya ada disana... mandilah yang bersih dan lemarinya ada disana ada pakaian wanita yang baru dibeli, aku akan menunggumu diluar untuk makan malam" bisik Arthur membuat telinga chansa memerah.
"Ya" ucap Chansa singkat dengan menundukkan kepalanya.
"Jangan membuatku menunggu terlalu lama, atau kau akan tahu akibatnya" ucap Arthur.
__ADS_1
Brak!! Arthur keluar kamar.
****