Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku

Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku
#Episode 29


__ADS_3

Ruang kerja Arthur,


Tutt tutt tutt!!


📱:"Hallo?"


📱:"Arthur?" Ucap ibunya.


📱:"Hmm? Kenapa ibu menelfon ibu Jani?"


📱:"Arthur datanglah kerumah 3 hari lagi ayahmu ulang tahun datanglah bersama Liana" ucap ibunya.


📱:"Hanya itu? Aku akan datang tapi tidak dengan Liana" ucap Arthur.


📱:"Mengapa?"


📱:"Arthur datanglah ibu juga ingin membicarakan sesuatu padamu" sambung ibunya.


📱:"Aku akan datang" ucap Arthur.


📱:"Arthur? Apa kau membela wanita miskin dan memarahi Liana, ibu sudah tahu semuanya. Jawab apa itu benar?"


📱:"Itu benar" ucap Arthur enteng.


📱:"Keterlaluan sekali, Liana adalah Tunanganmu dan gadis miskin itu bukan siapa-siapa. Kau tega memarahi Liana demi wanita itu, Arthur kau sangat keterlaluan" ucap Jenny.


📱:"Ibu aku akan menjelaskannya padamu saat aku datang aku tidak mau berbicara ditelfon" ucap Arthur.


📱:"Arthur kau kenapa berubah semenjak gadis miskin itu datang! Haa?" Ucap jenny mulai marah.


📱:"Sudah ku katakan aku akan menjelaskannya nanti" ucap Arthur.


📱:"Ibu.. terserah apa katamu, aku sibuk sekarang dan lagi aku sudah bilang akan menjelaskannya nanti saat aku datang. Jadi tutup telfonnya dan aku akan mengerjakan tugas kantorku" ucap Arthur.


📱:"Baiklah kau harus datang dan menjelaskan semuanya" ucap jenny mematikan telfon.


Tutt tutt tutt!!


"Heh!! Terserah!!" Ucap Arthur melempar ponselnya.


Arthur meneguk segelas jus semangka yang dibuat Chansa, tanpa disadari Chansa mendengar pembicaraan Arthur dan jenny.


Chansa terduduk lemas di depan pintu ruang kerja Arthur dan mulai menjatuhkan air matanya. Chansa merasa apa yang dikatakan jenny itu benar. Dia hanya gadis miskin dan demi ibunya dia melakukan hal yang salah.


"Arthur!" Ucap Chansa meneteskan air matanya.


"Maaf!" Ucap Chansa menahan sesak di dadanya.


Ding dong,


Bunyi bel rumah, chansa mengusap air matanya dan berjalan melihat siapa yang datang.


Sesampainya diruang tamu chansa melihat seorang wanita cantik dengan pakaian anggun.


Wanita itu mulai memasuki rumah dan berjalan ke sofa.


"Nyonya besar" ucap ibu Jani sontak kaget melihat jenny menerobos masuk.


Chansa terkejut melihat bahwa itu adalah jenny. Baru saja dia telfonan dengan Arthur dan dia sudah tiba didepan rumah.


"Mana Arthur?" Tanya jenny dingin.


"Ny..nyonya tuan muda berada diruang kerjanya" ucap ibu Jani.


"Dan dimana gadis murahan itu?" Ucap jenny.


Ya, yang dia maksud adalah chansa.

__ADS_1


"Nona chansa.." ibu Jani melirik ke atas.


Jenny mengikuti arah mata ibu Jani dan dia melihat chansa berada ditangga lantai 2. Dengan pakaian sederhana yang dia kenakan dimalam hari, jenny menatap Chansa dengan senyuman sinis.


Chansa mulai menuruni tangga dan mencoba menyapa jenny.


"Nyonya" sapa chansa.


"Oh jadi kau yang bernama chansa!" Ucap jenny.


"Benar nyonya" ucap Chansa.


"Dimana putraku" ucap chansa.


"Nyonya, Arthur berada diruang kerjanya" ucap chansa.


"Apa?" Ucap jenny berdiri.


"Kau sebut putraku apa? Arthur? Dimana tata kramamu? Dia putraku, presiden bank kara terbesar di kota ini, dan kau gadis biasa berani memanggil putraku dengan sebutan Arthur?" Ucap jenny.


"Ma..maaf!!" Ucap chansa terbata-bata.


"Arthur terlalu baik padamu, makanya kau melebihi batasan mu" ucap jenny menyenggol bahu chansa dan berjalan menuju ruang kerja Arthur.


Chansa sontak terjatuh dilantai dan ntah sejak kapan air matanya mulai menetes lagi.


"Aku tahu aku tidak pantas" ucap Chansa pelan.


"Nona apa kau baik-baik saja?" Ucap ibu Jani membantu chansa berdiri.


"Aku baik-baik saja" ucap chansa.


"Nona, itu nyonya besar" ucap iBu jani.


"Aku tahu" ucap Chansa tersenyum tipis.


"Ibu Jani, kau bukan orang biasa. Akulah orang biasa" ucap Chansa.


"Nona.." ucap ibu Jani.


"Aku tahu hubunganku dan Arthur tidak akan pernah disetujui oleh ibunya Arthur, aku selalu sadar diri dan melihat diriku sendiri" ucap Chansa.


"Nona.. jangan seperti ini, aku sedih melihatmu seperti ini.. aku tahu kau tidak seperti yang dipikirkan oleh nyonya besar, hanya saja nyonya adalah wanita karier yang sangat angkuh" ucap ibu Jani.


"Kau percaya apa dia percaya?" Ucap Chansa.


"Nona, tuan muda sangat menyayangimu, dia tidak akan mau kehilangan dirimu" ucap ibu Jani.


"Aku tahu itu, aku sudah mengenalnya sejak 15 tahun yang lalu. Meskipun banyak perubahan selama tidak bertemu tapi dia masih Arthur kecil yang aku kenal. Ibu Jani, aku dan Arthur memang saling mencintai tapi tidak pernah diijinkan untuk saling memiliki" ucap Chansa tersenyum pahit.


"Nona..." Ucap ibu Jani memeluk Chansa.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir" ucap Chansa memaksakan tersenyum padahal hatinya sangat hancur.


Ruang kerja Arthur.



Brakk!! Jenny membuka pintu dengan keras.


Sontak Arthur kaget, karena posisinya dia sedang menelfon sekretarisnya.


"Chansa sayang mengapa kau..." Ucap Arthur terhenti saat melihat jenny tepat dibelakang kursinya.


"Ibu!!" Ucap Arthur kaget.


"Hmm" ucap jenny dingin dan duduk dengan anggun di sofa dekat meja Arthur.

__ADS_1


"Ibu...kau.. bukankah kau brusan menelfonku dan.. mengapa kau ada disini?" Ucap Arthur.


"Dan apa... Ibu kemari karena takut kau kepincut dengan gadis miskin itu" ucap jenny.


"Apa maksud ibu" ucap Arthur.


"Kau pasti mengerti dan jangan berpura-pura" ucap jenny.


"Ibu, kau..."


"Ya ya ya, ibu harus pulang sekarang" ucap jenny beranjak pergi.


"Tunggu!" Ucap Arthur.


"Ada apa anakku sayang" ucap jenny.


"Ibu, katakan padaku sejam yang lalu ibu masih menelfonku dan sekarang ibu sudah berada diruang kerjaku, apa yang ibu rencanakan?" Tanya Arthur dengan ekspresi marah.


"Putraku sayang, jangan marah begitu.. sini duduklah, akan aku beritahu" ucap jenny duduk kembali.


Arthur berjalan dan duduk disamping Jenny.


"Arthur, saat ibu menelfonmu ibu berada dijalan menuju villa mu, dan ibu mau melihat seberapa cantiknya wanita bernama chansa itu... Sampai membuat putraku jatuh hati dan rela membentak tunangannya" ucap jenny.


"Jadi.. maksud ibu.. ibu sudah merencanakan untuk datang kemari?"


"Sebenarnya tidak, ibu baru pulang dari pesta jamuan teman ibu jadi sekalian saja kemari" ucap jenny.


"Ibu.. kau..."


Ucapan Arthur terpotong karena pengawal pribadi Jenny masuk.


"Nyonya?" Panggil Thomas.


"Bisakah kau mengetuk sebelum masuk?" Ucap jenny dingin.


"Maaf nyonya" ucap Thomas.


"Ada apa?" Ucap jenny.


"Nyonya, saatnya kita kembali kerumah. Hari semakin larut" ucap Thomas.


"Hmm kau benar, waktunya pulang.. Arthur waktuku tidak banyak. Ayahmu dirumah sedang menungguku. Minggu depan dia berulang tahun kau harus datang dan kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali" ucap jenny beranjak dari tempat duduknya.


"Terserah padamu Bu" ucap Arthur mengantar jenny keluar.


Arthur tidak melihat chansa, setelah jenny pulang rumah terasa sepi Arthur juga tidak tahu dimana Chansa sekarang.


Arthur berjalan ke kamar dan menemukan chansa terduduk di sofa dengan memeluk bantal sofa dan menatap bulan yang berbentuk lingkaran sempurna.


Tirai kamar yang terbuka lebar, kamar yang gelap dan hanya ada cahaya bulan yang menyinari lewat dinding kaca kamar. Chansa terdiam menatap rembulan yang menyinari kota dengan sempurna.


Cahaya bulan yang menyinari seluruh kota terlihat sangat jelas dan sempurna.


Arthur berjalan mendekati Chansa dan duduk disampingnya dan memeluknya.


"Ada apa? Hm?" Ucap Arthur lembut membuat chansa terkejut.


"Kau sedang apa disini?" Tanya Chansa membalikkan wajahnya yang hampir mengenai bibir Arthur.


"Harusnya aku yang bertanya, mengapa mematikan lampu kamar dan membuka tirai selebar itu" ucap Arthur.


"Aku.. hanya ingin melihat keindahan kota" ucap chansa kembali membalikkan wajahnya ke arah dinding kaca.


"Begitukah?"


"Ya"

__ADS_1


Chansa terdiam bersandar didada Arthur, suara detak jantung Arthur terdengar sangat jelas. Chansa sesekali tersenyum pahit dan meneteskan air matanya. Mengingat ibunya dan Merakan kehangatan dari orang yang sedang bersamanya. Sesekali mengingat ucapan jenny yang masih terdengar ditelinganya


__ADS_2