
Maaf ya guys kalau ada sedikit kekerasan dan ketidak wajaran dalam perkataan 🙏😁 jangan bosan membaca ya guys happy reading 🙏😊
****
"Chansa ada apa ini?" Tanya ibuku.
"Ibu akan aku jelaskan nanti ibu kita harus pergi dari kota ini" ucapku.
"Kenapa Chansa" tanya ibuku.
"Ibu percayalah padaku" ucapku.
Aku membawa ibuku pulang kerumah lama kami dan mengemasi barang-barang kami.
Setelah mengemasi barang-barang aku dan ibu menuju halte bus untuk pergi ke bandara. Salam perjalanan aku terdiam dan mengingat kata-kata bahwa Liana adalah tunangannya.
Benar juga, memangnya aku ini siapa? Hanya gadis biasa yang tidak sebanding dengan Arthur tuan muda dari perusahaan besar. Aku tidak bisa mengharapkan cinta yang tulus darinya. Sebelum cinta ini semakin dalam aku harus pergi. Cinta yang tumbuh ini harus ku siram dengan racun agar cepat mati.
Selamat tinggal Tuan muda Arthur.
"Chansa?" Panggil ibuku.
"Ibu? Ada apa?" Tanyaku.
"Dada ibu sakit" ucap ibuku.
"Ibu bertahanlah, saat kita sampai dikota A aku akan membawa ibu kerumah sakit. Soal biaya ibu tenang saja" ucapku menenangkan ibu.
"Chansa..." Ucap ibuku.
"Aku baik-baik saja Bu" ucapku.
Bandara,
Tuhan biarkan aku pergi meninggalkan apa yang memang bukan untukku.
Aku dan ibu akan hidup seperti dulu aku dan ibu dan ayah! Dengan memegang foto ayah aku meneteskan air mata dan memeluk ibuku.
"Ibu, aku akan pergi membeli air untukmu tunggulah disini"
"Baik" ucap ibuku.
Beberapa menit setelah aku membeli air aku tidak bisa menemukan ibuku bahkan barang-barang kamipun tidak ada. Aku mencari disetiap sudut bandara yang luas itu pesawat menuju kota A akan berangkat sebentar lagi tapi aku belum menemukan ibuku.
"Ya Tuhan pesawat tujuan Amerika sudha berangkat dan sebentar lagi pesawat yang menuju kota A dimana ibuku" ucapku pada diri sendiri yang bingung mencari ibuku.
"Mencari siapa?"
Suara ini tidak asing, Arthur!!
Aku berbalik dan melihat Arthur tepat berada dibelakangku.
__ADS_1
Wajahnya terlihat sangat marah dan terlihat seperti akan memakanku.
"Nona Chansa Rosemary, beraninya kau kabur dari rumah" ucap Arthur dengan menggenggam tanganku dengan sangat kuat berbicara dengan nada pelan namun sangat mengiris hatiku.
Cengkraman tangannya kuat sekali! Sakit sekali!!!
"A..aku..."
Plak!!
Arthur menamparku dengan cukup keras. Bukan hanya hatiku yang terasa sakit bahkan jiwaku seakan akan terasa sangat mati rasa. Air mata yang sudah tidak dapat ku bendung meluncur dengan cepat. Ini sangat memalukan dan menjadi pusat perhatian semua orang.
"Jimmy, bawa wanita keras kepala ini ke villa" perintah Arthur.
"Ingat, setelah hari ini kau Tidak bisa pergi kemanapun" ucap Arthur yang berbisik di telingaku.
"Ibu..ibuku"
"Ibumu sudah ku kirim ke Amerika untuk pengobatan lebih lanjut dan kau akan tahu apa hukuman untuk wanita seperti dirimu ini" ucapannya membuatku tercengang. Apa yang dia maksud dengan wanita seperti diriku?
****
Villa Arthur,
Chansa tak mampu mengucapkan apapun lagi hanya bisa terdiam dan terdiam.
(Habis, habislah semuanya. Ibuku dikirim ke Amerika dan aku tidak bisa kemanapun lagi. Aku hanya wanita simpanan disini) ucap chansa dalam hati dengan meneteskan air matanya.
"Ikat wanita ini di kamarku" perintah Arthur.
"Baik"
Chansa hanya bisa menangis tanpa suara, terdiam dan memejamkan matanya dan menerima apapun yang akan dia dapatkan.
"Nona, maafkan aku" ucap Jimmy akan mengikat Chansa.
"Tidak apa-apa, lakukan saja sesuai perintahnya" ucap Chansa pasrah.
"Nona sebenarnya tuan muda sangat khawatir padamu, tapi mengapa kau malah membuat tuan muda begitu marah" ucap Jimmy dengan mengikat chansa.
"Tuan Jimmy"
"Nona bisa memanggilku Jimmy" ucap Jimmy.
"Aku.. apa yang akan dia lakukan padaku mengapa dia menyuruhmu mengikatku seperti ini?" Tanya Chansa dengan wajah pasrah.
"Apa dia akan membunuhku?" Sambung Chansa.
"Nona..."
Brakk!! Arthur membanting pintu dengan sangat keras.
__ADS_1
"Jimmy kau boleh keluar" ucap Arthur.
"Baik"
Jimmy keluar kamar dan hanya ada Chansa dan Arthur. Chansa masih meneteskan air matanya berusaha agar tidak menangis dihadapan Arthur.
Arthur berjalan mendekati chansa dengan tatapan yang menakutkan.
Arthur mencengkram wajah Chansa dengan sangat kuat.
"Heh!! Berani sekali kau kabur dari rumah bahkan membawa ibumu pergi ke kota lain, sudah tidak ingin melihat ibumu lagi?" ucap Arthur.
Chansa masih terdiam menahan air mata agar tidak jatuh dan menahan sakit yang dia rasakan. Bukan hanya hatinya namun cengkraman yang diberikan Arthur sangat mengiris dipipinya. Dia tidak bisa melihat ibunya pergi seperti ayahnya.
"Jawab aku Chansa!!!" Bentak Arthur.
"Kenapa? Kenapa tidak menangis? Hmm? Takut jika aku menyakiti ibumu?" Tanya Arthur dengan wajah dingin.
"Lakukan saja sesuai keinginanmu, apapun yang kau mau lakukan saja. Jika mau membunuhku bunuh saja" ucap Chansa meneteskan air matanya.
"Kau..." Tangan Arthur terhenti saat melihat Chansa meneteskan air matanya.
"Hukuman apa yang pantas untuk wanita sepertimu ini?" Tanya Arthur dengan memegang lengan tangan Chansa dengan sangat kuat.
"Aku... Akan melakukan apapun.. apapun yang kau inginkan" ucap Chansa lemah dengan suara serak yang menahan air matanya.
Arthur melonggarkan cengkraman nya dan berbalik.
"Jimmy" panggil Arthur.
Krekk!
"Ada apa tuan muda?" Tanya Jimmy.
"Lepaskan ikatannya" perintah Arthur.
"Baik"
Beberapa menit kemudian,
"Tuan aku sudah membukanya"
"Kau boleh pergi" ucap Arthur.
"Baik"
"Chansa sekarang katakan padaku apa yang membuatmu ingin kabur dari rumah ini" ucap Arthur.
Chansa terdiam dan memandangi pemandangan diluar jendela. Melihat pepohonan dan lautan yang berada dibawa villa itu. Meskipun mendengar apa yang diucapkan Arthur tapi Chansa tetap terdiam dan tidak bergeming.
****
__ADS_1