
Keesokan harinya,
Arthur membuka matanya dan tidak menemukan Chansa didalam kamar. Pakaian kantornya sudah tertata rapi tergantung diatas sofa.
Dasi dan pin penjepitnya dan pin bunga mawar juga sudah tertata rapi diatas meja. Sepatu dan kaos kakinya pun sudah disiapkan.
Handuk yang tergantung diatas sofa dekat ranjang sudah disiapkan, kamar terlihat sangat rapi. Pagi itu pukul 05:30 pagi. Tapi kamar Arthur sudah sangat rapi.
Arthur berjalan membuka lemari dan melihat isi lemari tertata rapi dasi jas kemeja dan kaos kaki. Semuanya berada di satu tempat yang sama dan tersusun rapi.
"Chansa!" Ucap Arthur.
Selagi Arthur mandi chansa masuk ke dalam kamar dan membawakan sarapan pagi dengan segelas jus jambu.
Chansa merapikan tempat tidur yang berantakan.
Ceklek!! Arthur keluar dari kamar mandi dan melihat chansa melipat selimut.
"Selamat pagi!" Sapa chansa.
"Pagi" ucap Arthur.
Setelah beberapa menit Arthur memakai celana dan kemejanya. Dengan cepat Chansa mendekatinya dan memakaikan dasinya. Memakaikan pin penjepit dasi dan pin bunga mawar.
Arthur terdiam melihat chansa dengan wajah yang terlihat sangat cantik di pagi hari wangi tubuh Chansa membuat Arthur ingin menciumnya.
"Aku membawakan sarapan untukmu" ucap Chansa mengambilkan sepiring roti isi yang dia buat.
Arthur mengambil roti itu dan memakannya. Chansa mengelap bibir Arthur yang ada sisa makanan dibibirnya.
"Duduklah, akan aku pakaikan sepatumu" ucap Chansa.
Arthur terdiam melihat chansa memperlakukannya seperti seorang suami. Kejadian kemarin membuat Arthur merasa bersalah pada Chansa.
Arthur membantu chansa berdiri dan Cup!
Arthur mencium bibir chansa.chansa hanya terdiam dan tidak bergeming tidak membantah ataupun melawan.
"Chansa maafkan aku" ucap Arthur.
"Bukan salahmu, maafkan aku aku yang terlalu berharap. Maaf!" Ucap chansa.
"Hari ini aku ijin tidak ke kampus lagi" sambung chansa.
"Mau mencoba kabur lagi?" Ucap Arthur.
"Tidak, aku hanya sedikit tidak enak badan aku tidak akan pergi kemanapun tanpa ijin darimu" ucap Chansa pasrah.
__ADS_1
"Bagus" ucap Arthur.
"Jimmy?" Panggil Arthur keras.
Ceklek!!
"Tuan muda?" Ucap Jimmy.
"Awasi dia dan beritahu aku jika ada sesuatu yang dia lakukan" perintah Arthur.
"Baik" ucap Jimmy.
"Gery?"
"Ya tuan muda" ucap Gery.
"Kau antar aku ke kantor" ucap Arthur.
"Baik"
Brakk! Arthur dan Gery keluar kamar dan berangkat ke kantor.
"Nona?" Jimmy mencoba memanggil Chansa yang melamun menatap pengunungan dipagi hari dengan air mata yang menetes.
"Aku baik-baik saja, Jimmy kau boleh keluar" ucap Chansa.
(Apa ini? Chansa sadarlah mengapa kau menangis? Ini.. apa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya?) Ucap chansa dalam hati.
****
Tap tap tap!!
Chansa menuju ke pintu taman belakang.
"Nona?" Panggil Jimmy.
"Ya?" Ucap Chansa tanpa melihat kearah Jimmy.
"Itu.. nona mau kemana?" Tanya Jimmy berdiri dibelakang Chansa.
"Aku.. hanya ingin duduk ditaman belakang. Kau boleh mengikutiku jika kau takut aku kabur" ucap Chansa.
"Baik" ucap Jimmy mengikuti langkah Chansa.
Chansa berjalan ke arah jembatan ditaman belakang.
Duduk di sebuah batu besar dekat kolam ikan hias dengan tanaman air yang merambat disekitar kolam. Chansa menatap bayang-bayang wajahnya didalam air dan tersenyum.
__ADS_1
(Ini wajahku ini?) Ucap Chansa dalam hati dengan menyentuh air.
"Nona?" Panggil Jimmy.
"Aku baik-baik saja" ucap Chansa.
"Baik"
Sepanjang hari itu Jimmy menemani Chansa berkeliling taman membiarkan Chansa bergerak dan berjalan sesukanya. Bahkan seharian itu Chansa belum makan apapun bahkan Jimmy sudah menawarkan beberapa kali untuk kembali dan makan namun chansa menolak semua itu. Hingga tanpa terasa hari semakin sore.
"Tuan Jimmy?" Panggil ibu Jani.
"Ada apa?"
"Itu... Tuan muda sudah kembali dan memanggil anda" ucap ibu jani.
"Baik saya akan segera kesana, nona.. anda..?"
"Kalian pergilah aku tidak akan kabur sebentar lagi aku akan kembali" ucap Chansa.
"Baik nona" ucap Jimmy dan ibu Jani pergi meninggalkan Chansa.
Hari semakin gelap matahari pun mulai terbenam. Villa Arthur yang berada diatas gunung broten membuat pemandangan yang sangat indah saat matahari terbenam, benar-benar indah.
Angin disore hari dan cuaca yang cukup dingin. Chansa masih belum kembali ke villa dan masih terduduk dibawah pohon besar dan memandangi matahari terbenam.
Tap tap tap!!
Arthur memeluk Chansa dari belakang dengan memakaikan jasnya ke tubuh Chansa dan mencium kepala Chansa.
"Hari semakin sore dan semakin dingin. Mau sampai kapan kau duduk disini?" Ucap Arthur.
"Mengapa kau kemari?" Tanya Chansa menatap matahari terbenam.
"Apa karena khawatir padaku?" Sambung Chansa.
Arthur hanya tersenyum dan duduk disamping Chansa merangkulnya dengan lembut.
"Ikutlah denganku!" Ucap Arthur.
"Kau akan pergi dan mengajakku?" Tanya chansa.
"Aku seharusnya bicara dari awal bahwa kaulah wanita yang aku cari" ucap arthur.
"Apa maksudmu?" Tanya Chansa mengangkat kepalanya dan menatap Arthur.
****
__ADS_1