Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku

Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku
#Episode 24


__ADS_3

Keesokan harinya,


Dipagi yang cerah dan indah Arthur terbangun dan tidak melihat chansa berada disampingnya. Pakaian Arthur sudah tertata rapi diatas kursi serta dari dan kaus kaki dan pin bunga mawarnya dan sepatu yang disemir hitam.


Arthur berjalan menuruni tangga dan melihat Jimmy dan beberapa pengawal sudah berada di depan kamarnya.


"Selamat pagi tuan muda" ucap Jimmy.


"Ya" ucap Arthur berjalan menuju dapur.


Arthur mendengar samar-samar suara tawa Chansa dan ibu Jani yang berasal dari dapur. Dan semerbak bau masakan yang sangat menggoda mengundang kedatangan Arthur.


Ahahaha!!! Suara tawa ibu Jani dan chansa yang terlihat sangat akrab dengan memasak.


Arthur berjalan dan memeluk Chansa dari belakang membuat Chansa terkejut.


"Ahh!! Kau.." ucap Chansa.


"Hmm" ucap Arthur menyandarkan dagunya di bahu Chansa dan mengecup pipi Chansa.


"Heii aku sedang memasak jika kau begini tanganmu akan terkena" ucap chansa.


"Nona, berikan padaku biar aku yang melanjutkannya" ucap ibu Jani.


"Baiklah" ucap Chansa.


Chansa berbalik dan melihat Arthur yang masih berantakan dengan mata tertutup.


"Heii!! Bangunlah sudah pagi bersiaplah dan sarapan" ucap chansa.


"Hmm" Arthur masih bermanja ditubuh Chansa dan tidak mendengarkan apa yang chansa katakan.


"Kau ini" chansa menarik Arthur ke kamar dan menyuruhnya bersiap.


"Baiklah aku akan bersiap" ucap Arthur mengambil handuknya dan menuju kamar mandi.


Chansa menunggu Arthur di kamar dan merapikan pakaiannya.


Beberapa menit kemudian Arthur kembali.


Krekk!!


"Ini pakailah" ucap Chansa memberikan pakaiannya.


Setelah berpakaian Chansa memakaikan dari dan pin bunga mawar pada Arthur dan mengajak Arthur untuk sarapan.


"Aku akan ke kampus hari ini" ucap Chansa.


"Apa skripsi mu sudah selesai? Jika belum akan ku bantu" ucap Arthur.


"Sudah ku selesaikan dari awal" ucap Chansa.


"Baiklah, aku akan menyuruh Jimmy mengantarmu ke kampus" ucap Arthur.


"Tidak perlu aku akan naik taksi saja" ucap chansa.


"Sekali aku bilang berarti..." Ucap Arthur terpotong dengan tangan chansa.


"Baiklah tuan muda Arthur" ucap Chansa.

__ADS_1


Chansa berjalan mengambilkan jas Arthur dan memakaikannya, Arthur hanya tersenyum melihat Chansa yang bertingkah seperti seorang istri. Dan Arthur berfikir, betapa indahnya jika chansa adalah istrinya.


"Mengapa kau menatapku begitu?" Ucap chansa.


"Ikutlah denganku" ucap Arthur.


"Kemana?" Tanya chansa.


"Berlin" ucap Arthur dengan memeluk chansa dari belakang.


"Be..Berlin? Lalu bagaimana dengan kuliahku" ucap chansa.


"Kita akan pergi setelah kau wisuda" ucap Arthur.


"Tapi itu masih 2 bulan lagi" ucap Chansa.


"Tidak masalah, kita akan pergi 2 bulan lagi setelah kau wisuda" ucap Arthur.


"Baiklah, lalu ibuku bagaimana keadaanya?" Tanya Chansa.


"Kondisi ibumu semakin membaik, jangan khawatir" ucap Arthur.


"Baiklah" ucap Chansa.


"Sekarang pergilah ke kantor" ucap chansa.


"Okeh" ucap Arthur mencium chansa.


****


Kampus,


"Chansa?" Panggil Jeremy.


"Jerry" ucap Chansa menutup bukunya.


"Ya tuhan aku merindukanmu kemana kau beberapa hari ini" ucap Jeremy memeluk Chansa.


"Tenanglah, aku dirumah" ucap chansa.


"Dirumah tuan muda Arthur?" Tanya Jeremy.


"Iya" ucap chansa.


"Apa dia melukaimu" ucap Jeremy khawatir.


"Tidak tidak aku baik-baik saja" ucap chansa.


"Syukurlah, aku sempat berfikir kau kenapa-kenapa" ucap Jeremy.


"Aku tidak apa-apa" ucap Chansa tersenyum.


"Hah baguslah" ucap Jeremy duduk disamping chansa dan membuka botol airnya.


"Jerry?"


"Hmm?"


"Jika aku pergi ke Berlin apa kau akan baik-baik saja" ucap Chansa.

__ADS_1


"Prufftt!!!" Jeremy menyemburkan air yang ada dalam mulutnya.


"Kau mau ke Berlin? Mau apa?" Tanya Jeremy.


"Tenanglah, aku ke Berlin tidak untuk apa apa hanya saja Arthur mengajakku kesana, jika aku tidak menurutinya aku takut ibuku yang menjadi sasarannya" ucap Chansa.


"Lalu bagaimna dengan kuliahmu?" Tanya Jeremy.


"Itu.. Arthur bilang kami akan pergi setelah aku wisuda" ucap chansa.


"Haihh, Chansa hidupmu benar-benar sulit" ucap Jeremy.


"Mau bagaimana lagi" ucap chansa.


"Aku akan baik-baik saja kau pergilah tenang aku akan selalu baik" ucap Jeremy.


"Ya Tuhan Jerry??? Dimana aku harus menemukan teman seperti dirimu" ucap Chansa.


"Kau tidak perlu mencarinya kau sudah menemukannya hanya ada aku dan tidak ada orang lain lagi" ucap Jeremy memeluk chansa.


"Aku benar-benar terharu" ucap Chansa.


"Berhentilah begitu, ayo kita kekelas sekarang" ucap Jeremy.


"Baiklah ayo ayo" ucap Chansa.


****


Pulang kampus,


Pukul 13:00 siang


Chansa dan Jeremy menuju ke halte bus dan menunggu bus.


Dari kejauhan Arthur melihat Chansa dan Jeremy menunggu dihalte bus. Dan segera menghampiri mereka.


Cittt!!


Arthur berhenti tepat didepan mereka.


Arthur menurunkan kaca mobilnya.


"Kalian sedang apa?" Tanya Arthur.


"Kau.." ucap Chansa.


"Naiklah aku akan mengantarkan kalian" ucap Arthur.


"Itu.. aku dan Jeremy mah ke cafe sebentar" ucap chansa


"Makan dirumah dan ajak Jeremy juga tidak masalah, nanti aku akan menyuruh Jimmy mengantarkannya pulang" ucap Arthur.


"Apa nona Jeremy tidak keberatan?" Tanya Arthur.


"Ti..tidak" ucap Jeremy melongo.


"Baiklah baiklah" ucap chansa.


"Ya Tuhan Chansa, apa aku bermimpi? Tuan muda Arthur menawarkan tumpangan dan makan dirumahnya" bisik Jeremy pada chansa.

__ADS_1


Arthur chansa dan Jeremy menuju ke villa Arthur. Ibu Jani memasak makanan kesukaan Arthur dan chansa. Sebelumnya Arthur menyuruh ibu Jani memasak makanan yang lebih karena Jeremy ikut makan siang bersama.


__ADS_2