
Jam pulang kantor,
Pukul 05:00,
Setelah Arthur selesai rapat Arthur kembali keruang kerjanya dan melihat chansa tertidur pulas di sofa. Arthur membangunkannya dengan sangat lembut dengan mengecup keningnya. Tetapi chansa terlihat sangat lelah dan letih. Dengan cepat Arthur menggendong chansa dengan pelan dan membawanya ke mobil.
Seluruh mata tertuju pada Arthur yang menggendong Chansa dengan tangannya sendiri.
Jimmy dan beberapa pengawal lainnya mengikut Arthur dari belakang.
"Itu gadis kecil itu, pasti sangat ganas di ranjang sehingga Presdir memperlakukannya dengan sangat baik"
"Iya itu benar"
"Gadis itu masih terlihat kecil tetapi lihai sekali diranjang"
Arthur menghentikan langkahnya.
"Jimmy?"
"Ya tuan muda?"
"Pecat orang-orang yang berbicara tentang chansa besok aku tidak ingin melihat mereka" perintah Arthur.
"Baik" ucap Jimmy.
Arthur berjalan ke mobil dan menidurkan Chansa di pangkuannya. Sementara Jimmy mengurus apa yang diperintahkan Arthur. Arthur pulang dengan Geovani dan Gery.
Diperjalanan Chansa terbangun dan kaget karena dia sudah berada didalam mobil dan melihat Arthur memainkan ponselnya diatas kepalanya.
Chansa terbangun dan terduduk disamping Arthur, Arthur sampai terkejut dibuatnya.
"Kau sudah bangun?" Ucap Arthur.
"I..iya" ucap chansa.
" Sejak kapan aku tertidur?"
"Sejak di kantor tadi" ucap Arthur tersenyum.
"Apa aku membuatmu repot?"
"Tentu saja tidak" ucap Arthur.
"Tidurlah lagi jika masih mengantuk" sambung Arthur.
"Tidak tidakk aku sudah tidak mengantuk"
"Baiklah" ucapan arthur melanjutkan memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Kau terlihat sangat sibuk" ucap Chansa.
Arthur langsung meletakkan ponselnya dan berbaring di pangkuan chansa.
"Kau.."
"Aku mengantuk sekarang giliran ku yang tidur" ucap Arthur.
"Menyebalkan" ucap Chansa.
"Bagaimana jika aku menghukum mu nanti" ucap Arthur.
"Tidak tidak, tidurlah" ucap chansa.
"Begini baru benar" ucap Arthur tersenyum.
Villa,
Pukul 07:00 malam,
Chansa membantu ibu Jani menyiapkan makan malam dan memasak makanan kesukaan Arthur. Chansa juga membuat roti kacang hijau yang disukai Arthur dan jus wortel. Arthur masih berada diruang kerjanya dengan dokumen dan beberapa surat yang harus ditandatangani.
Chansa berjalan keruangan Arthur untuk memanggilnya makan malam.
Arthur bersandar dikursi putarnya dia terlihat sangat lelah.
"Arthur?" Panggil chansa lembut.
"Waktunya makan malam, ayo" ucap chansa.
"Aku belum lapar" ucap Arthur.
"Tapi makanlah dulu, kau pasti lelah dan lapar kan tapi kau bohong" ucap chansa.
"Bagaimana bisa aku bohong" ucap Arthur berjalan kearah Chansa.
"Aku akan makan tapi nanti" menatap Chansa.
"Terserah padamu" ucap Chansa membelakangi Arthur.
"Kau mau makan atau tidak usah makan sekalian" sambung Chansa.
"Heh?? Mengapa kau marah? Hm?" Ucap Arthur memeluk Chansa dari belakang.
"Ayolah aku tidak bisa dimarahi olehmu" sambung Arthur.
"Lepaskan aku" ucap Chansa.
"Heii jangan marah, baiklah baiklah ayo kita makan" ucap Arthur menggendong Chansa.
__ADS_1
"Turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri" ucap Chansa.
"Tidak mau" ucap Arthur.
Ruang makan,
"Arthur turunkan aku semua sedang melihat kita" ucap Chansa pelan namun dengan nada kesal.
"Biarkan saja mereka melihat" ucap Arthur.
"Kau ini keterlaluan sekali" ucap Chansa menutup wajahnya.
Arthur terkekeh mendengar Chansa berbicara seperti anak kecil dan malu malu seperti itu.
Arthur menurunkan chansa dan duduk dimeja makan berdampingan dengan Chansa.
"Tuan muda?" Panggil ibu Jani membuat Arthur berbalik.
"Ada apa?"
"Itu... Tadi nyonya besar menelfon" ucap ibu Jani.
"Dia bilang apa?" Ucap Arthur dengan menguyah bistik.
"Nyonya besar mencari anda ingin membicarakan soal nona Liana" ucap ibu Jani.
"Apa soal tadi siang?"
"Sepertinya begitu" ucap ibu Jani.
"Apa dia menyuruhku menelfonnya?" Ucap Arthur.
"Iya tuan muda" ucap ibu Jani.
"Gadis yang merepotkan, apapun selalu lapor" ucap Arthur kesal.
"Katakan padanya jika dia menelfon lagi aku sedang sibuk" ucap Arthur.
"Tapi.. tuan muda ini..."
"Ikuti saja apa kataku" ucap Arthur mulai kesal.
Chansa memegang pundak Arthur mencoba berbicara padanya agar mendengarkan ibunya.
"Telfon lah ibumu setelah makan" ucap chansa memegang pundak Arthur.
"Tidak mau" ucap Arthur.
"Dia ibumu, bicaralah padanya" ucap Chansa.
__ADS_1
"Haiihhh, baiklah" ucap Arthur mengehela nafas panjang.