Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku

Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku
#Episode 30


__ADS_3

Keesokan harinya,


Dengan tirai yang masih terbuka lebar dan masih terduduk disofa. Arthur masih tertidur pulas dengan nafasnya yang terdengar ditelinga chansa membuat chansa terbangun dan terkejut.


Chansa menutup tirai agar sinar matahari tidak mengenai wajah Arthur.


Chansa kembali duduk disamping Arthur dan menatap wajahnya.


"Arthur? Tahukah kau? Betapa bahagianya aku bisa melihatmu begitu aku bangun Dipagi hari?" Ucap chansa pelan dengan menggenggam tangannya didadanya.


Chansa berjalan menuju kamar mandi, setelah itu dia berjalan ke dapur dan melihat ibu Jani yang sedang memasak sarapan pagi. Pagi itu pukul 6 pagi, Arthur mengambil cuti kantor selama 3 hari karena sedikit lelah dengan pekerjaannya.


Dengan cepat Chansa membantu ibu Jani memasak. Sudah biasa bagi Chansa untuk membantu ibu Jani setiap pagi. Hanya saja ibu Jani yang tidak terbiasa dibantu oleh chansa.


Hari itu chansa juga ijin tidak ke kampus, semakin lama semakin sulit untuk pergi ke kampus. Terkadang chansa merasa seperti dia adalah istri sah Arthur. Tapi terlintas kembali dalam pikirannya. 'aku hanyalah kekasih rahasia' ucap Chansa dalam hati yang selalu membuyarkan kebahagiaanya.


Saat Arthur membuka matanya, dia mencari chansa disetiap sudut kamar yang terlalu besar tapi tidak menemukannya. Arthur langsung menuju dapur dan melihat chansa sedang membantu ibu Jani.


Pagi itu terasa sangat sunyi, ibu Jani yang diam dengan mempersiapkan sarapan pagi dan chansa terlihat murung dengan mengaduk sup dagingnya. Pagi yang terlihat sangat asing.


Baru kemarin Arthur melihat Chansa tertawa dan bahagia, seakan-akan Chansa adalah nyonya rumah itu. Dan hari ini Chansa malah terlihat seperti pelayan pribadi Arthur. Tanpa senyuman dan tawanya, hidup arthur terasa sangat sepi.


"Tuan muda" sapa ibu Jani.


"Hmm" ucap Arthur dingin dan duduk di meja makan.


"Kau sudah bangun" ucap Chansa mendekat kearah Arthur.


Tanpa melihat kearah chansa Arthur menarik tangannya dan menempatkannya dipangkuannya.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap Chansa.


"Aku belum puas memelukmu, biarkan aku memelukmu sampai aku puas" ucap Arthur memeluk Chansa dan memejamkan matanya.


"Lepaskan aku, ayo makan dulu" ucap chansa mencoba melepaskan diri.


"Hmm" ucap Arthur tidak mendengarkan apa yang chansa bilang.


"Tuan muda Arthur ayolah lepaskan aku, ada para pengawal dan pelayan disini" bisik chansa.


Arthur mengangkat kepalanya dan menatap chansa.


"Kau memanggilku apa?" Ucap Arthur.


"Tuan muda Arthur" ucap Chansa ketus.


"Kau melupakan sesuatu nona Chansa" ucap Arthur.


"Apa?" Ucap chansa tidak sadar.


"Sepertinya sudah lama kau tidak mendapat hukuman" bisik Arthur.


"Apa maksudmu" ucap chansa bingung.


"Jika kau lupa akan aku ingatkan" ucap Arthur memeluk pinggang chansa dengan erat.


Chansa tersadar dan terlompat dari pangkuan Arthur.


"A...aku mengerti aku mengerti" ucap chansa.


"Bagus" ucap Arthur tersenyum nakal.


"Menyebalkan sekali" ucap chansa berbalik dan menyajikan sup.


Arthur hanya tersenyum melihat chansa. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya dan ada rasa bahagia bisa melihat Chansa disetiap paginya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan dan bersiap Arthur mengajak Chansa ke sebuah tempat dimana mereka bertemu 15 tahun yang lalu. Pergi ketempat-tempat yang selalu mereka kunjungi 15 tahun yang lalu.


Ke taman kota ke pinggiran danau yang airnya sangat jernih taman bunga tulip dan taman bunga aster. Semuanya sangat indah dan menakjubkan. Berbagai warna warni kehidupan sangat terasa nyata seperti 15 tahun yang lalu.


Semuanya masih sama seperti dulu, Arthur dan Chansa juga masih sama orang yang sama dan rasa cinta yang tetap sama. Hanya saja semakin berjalannya waktu semua akan berubah seperti dedaunan yang berjatuhan di musim gugur.


Chansa berjalan menyusuri pinggiran sungai dengan bunga tulip yang tumbuh disekitar danau. Arthur hanya bisa tersenyum melihat chansa begitu.


"Tu..tuan muda?" Panggil Jimmy memecahkan lamunan Arthur yang menatap Chansa.


"Ada apa?" Ucap Arthur.


"Tuan muda, tadi Presdir Arya menelfon ingin bertemu dengan anda" bisik Jimmy karena Chansa mulai melihat mereka.


"Apa?" Ucap Arthur kaget.


Arya adalah direktur perusahaan permata hijau perusahan yang merupakan saingan dari bank kara. Arya dan Arthur adalah musuh sejak ayah mereka yang menjadi direktur. Arya selalu kalah dalam tender yang diadakan Arya juga selalu mengincar kedudukan pertama sebagai perusahaan terkaya di negara A.


"Iya tuan. Presdir Arya baru pulang dari Chicago dan ingin bertemu langsung dengan anda. Saya sudah bilang bahwa anda sedang tidak ingin diganggu" ucap Jimmy.


"Katakan padanya hari ini aku tidak bisa" ucap Arthur.


"Mengapa tidak bisa?"


Suara seseorang yang berbicara dari jarak yang agak jauh dari Arthur. Yang berdiri tepat dibelakang Chansa.


Arthur berbalik dan mencari asal suara itu karena suara itu sangat tidak asing baginya. Arthur melihat seorang pria tepat berdiri dibelakang Chansa. Dengan mata Chansa tertuju padanya karena kaget mendengar dia berada dibelakangnya.


"Kau!!" Ucap Arthur dengan mata yang sangat tajam.


"Hallo, Arthur" ucap Arya dengan senyuman licik nya.


Arya berjalan menghampiri Arthur.


"Jimmy berikan 2 pengawal untuk mengawasi chansa. Aku takut ******** ini menyakitinya" bisik Arthur pada Jimmy.


"Baik tuan muda" ucap Jimmy.


"Arthur, bagaimana kabarmu?" Ucap Arya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Jangan berbasa basi, katakan saja apa maumu?" Ucap Arthur dingin.


"Ahaha.. kau masih sama seperti dulu Arthur, benar-benar angkuh" ucap Arya tertawa licik.


"Ya tentu saja, menghadapi orang sepertimu memang harus seperti itu" ucap Arthur dingin.


"Katakan untuk apa kau mencariku" sambung Arthur.


"Bukan untuk apa-apa, aku dengar-dengar kau memiliki wanita cantik sebagai kekasih rahasia" bisik Arya.


"Apa urusanmu untuk itu?" Tanya Arthur.


"Aku hanya ingin bilang, kau sudah memiliki Liana dia Tunanganmu dan akan menjadi istrimu. Jangan terlalu memberi harapan dengan gadis cantik seperti chansa itu" ucap Arya.


"Bagaimana kau bisa tahu namanya?" Ucap Arthur mulai menahan amarah.


"Arthur tenanglah, menurutmu apa yang tidak aku ketahui?" Bisik Arya.


"Apa yang tidak kau ketahui? Yang tidak kau ketahui adalah, rahasia dari kesuksesan perusahaanku!" Ucap Arthur kembali berbisik pada Arya dan tersenyum licik.


"Kau sangat pintar Arthur" ucap Arya terpaksa senyum dalam keadaan mulai menahan amarahnya.


"Tentu saja" ucap Arthur.


"Arthur kau jangan melupakan satu hal, kau dan Liana adalah sepasang kekasih yang sudah terumbar keseluruh negara, gadis itu terlalu cantik dia akan berharap besar padamu jika kau memberikan harapan padanya. bagaimana jika gadis itu berikan saja padaku, aku tidak akan menyakitinya" ucap Arya.

__ADS_1


"Lancang!! Berani sekali berbicara begitu. Pergilah jika tidak ada urusan lain" ucap Arthur menahan suaranya agar tidak terdengar oleh chansa.


"Yooo.. Tuan muda Arthur yang terhormat mulai marah. Biarkan waktu yang menentukan!" Ucap Arya berjalan pergi dan menepuk bahu Arthur.


"Pergilah!!" Ucap Arthur menepis tangan Arya.


Arya dengan senyuman licik yang mengembang sempurna di bibirnya.


"Sampai bertemu lagi Arthur" ucap Arya.


"Aku berharap tidak bertemu denganmu lagi'' ucap Arthur.


Chansa berjalan mendekati Arthur, ternyata meskipun Chansa sibuk dengan bunga-bunga tetapi dia mendengar semua pembicaraan Arthur dengan Arya. Chansa hanya berpura-pura sibuk agar tidak dibilang menguping.


"Arthur?" Panggil Chansa lembut.


Arthur terkejut saat melihat Chansa tepat berada dibelakangnya dan menepuk pundaknya.


"Iya?" Ucap Arthur berbalik dan memegang tangan Chansa.


"Siapa dia?" Tanya Chansa.


"Dia.. teman.. dia temanku" ucap Arthur.


"Benarkah?"


"Iya dia temanku.. jangan cemas" ucap Arthur.


"Tidak aku tidak cemas" ucap Chansa.


"Baiklah, hari semakin sore. Ayo kita pulang" ucap Arthur.


"Baik"


****


2 bulan kemudian,



Arthur menghadiri acara wisuda Chansa tetapi chansa tidak mengetahui hal itu, Chansa terlihat sedih karena semua mahasiswa didampingi oleh ibu dan ayahnya sedangkan chansa hanya sendirian. Jeremy juga sedang bersama kedua orang tuanya.


Chansa terduduk di bawah pohon yang rindang disebuah kursi sendirian setelah acara. Dan melihat seluruh mahasiswa berfoto dengan keluarga mereka.


"Andai ibu baik-baik saja dan ayah masih hidup pasti mereka akan melihat ini" ucap Chansa pada dirinya sendiri dengan tersenyum pahit.


"Chansa kau gadis kuat jangan menangis, ayahmu pasti bangga kau bisa menjadi sarjana" ucap Chansa mengusap air matanya.


Arthur terdiam dibelakang chansa melihatnya dari kejauhan, Arthur mengetahui bahwa chansa merasa sangat sedih.


"Jimmy?"


"Ya Tuan muda?"


"Siapkan seluruh dokumen dan beberapa berkas, Minggu depan aku akan ke Berlin. Dan siapkan acara pernikahan" perintah Arthur yang masih pada posisi menatap Chansa dari kejauhan.


"Tuan, ini... Pernikahan.. untuk siapa?" Ucap Jimmy bingung.


"Untukku dan Chansa, bulan depan harus siap" ucap Arthur.


"Tuan, apa anda yakin?"


"Lakukan saja apa yang aku katakan"


"Baik"

__ADS_1


__ADS_2