
Setelah selesai acara Arthur berpura-pura menjemput Chansa dan mengajak Chansa ke cafetaria untuk makan dan menghiburnya untuk melupakan kesedihannya.
Cafetaria,
"Selamat datang Tuan Nyonya" sambut pelayan cafetaria.
"Chansa?" Panggil Lusi. Lusi adalah rekan kerja Chansa semasa Chansa masih bekerja dicafetaria.
"Lusi" ucap chansa dengan gembira.
"Kau apa kabar" sambung chansa.
"Aku baik, kau?"
"Aku juga baik"
"Wahh kau sudah wisuda ya? Selamat ya chansa" ucap Lusi menggenggam tangan Chansa.
"Terimakasih" ucap Chansa senang.
"Kau mau pesan apa? Duduklah akan aku buatkan sesuatu yang spesial" ucap Lusi.
"Tuan silahkan" sambung Lusi pada Arthur.
"Terimakasih" ucap Chansa.
Setelah Lusi pergi dan membuat pesanan untuk Arthur dan chansa Arthur memerintah Jimmy untuk menemani chansa mengganti pakaiannya. Setelah beberapa menit chansa kembali dan Lusi sudah membawa pesanan mereka.
"Terimakasih Lusi"
"Ahh kau terlalu sungkan, aku pergi dulu selamat menikmati" ucap Lusi.
"Terimakasih"
"Kau terlihat akrab dengannya" ucap Arthur.
"Dia rekan kerjaku saat aku masih bekerja disini, dia yang selalu membantuku juga" ucap Chansa.
"Aku cemburu!" Ucap Arthur.
"Uhukk uhukk, apa? Cemburu?" Chansa tersedak ketika mendengar Arthur mengatakan cemburu.
"Iya!" Ucap Arthur sambil mengunyah makanan.
"Dia kan wanita, bagaimana bisa kau cemburu" ucap Chansa.
"Kau terlalu banyak bicara dengannya kau mengabaikan aku seolah-olah aku tidak ada" ucap Arthur.
"Ya Tuhan kekanak-kanakan sekali kau ini" ucap Chansa.
"Tidak mau minta maaf?" Ucap Arthur.
"Iya baiklah, maafkan aku" ucap chansa.
__ADS_1
"Baiklah" ucap Arthur tanpa melihat kearah Chansa.
"Ayolah berhenti marah padaku" ucap Chansa.
"Aku bercanda! Ahaha" ucap Arthur.
Chansa terdiam melihat Arthur tertawa seperti itu sebelumnya dia hanya melihat wajah seperti gunung es di wajah Arthur.
"Keterlaluan sekali" ucap chansa mengerutkan dahinya.
"Pfftt!! Makanlah lalu kita akan segera kembali" ucap Arthur.
"Ya ya" ucap chansa makan dengan cepat karena merasa kesal.
Arthur hanya terkekeh melihat chansa dengan mudahnya ditipu.
Villa,
Setelah seharian penuh diacara wisuda dan makan bersama Arthur. Sesampainya dirumah. Chansa langsung terbaring dan tertidur dikamar.
"Chansa?" Panggil Arthur.
"Kau sedang apa heii!" Sambung Arthur masuk ke kamar.
"Chan..." Arthur melihat chansa tertidur pulas hanya suara nafasnya yang terdengar sangat letih. Arthur hanya tersenyum dan berjalan mendekati chansa.
Arthur duduk dipinggiran tempat tidur dan mengelus kepala Chansa. Arthur memandangi wajah chansa yang masih terlihat make up yang dipakainya.
Arthur mengambil handuknya dan menuju ke kamar mandi. Dia membiarkan chansa tertidur dan tidak berniat membangunkannya.
Hari ini chansa cukup sedih melihat seluruh mahasiswa wisuda didampingi orang tuanya. Wajahnya terlihat sedih namun box smile yang dimiliki chansa saat tersenyum membuat semuanya menjadi baik-baik saja meskipun hatinya terasa sakit.
Setelah selesai mandi Arthur kembali ke kamar, Chansa masih tertidur. Arthur berjalan mendekati Chansa yang masih tertidur dan berbaring disampingnya sambil memeluk Chansa.
Karena tubuh Arthur yang masih dingin membuat chansa kaget dan terbangun, chansa melihat Arthur tersenyum lebar dibelakangnya.
"Kau?"
"Hmm?"
"Kau sudah bangun?" Sambung Arthur.
"Menurutmu?"
"Ya kau sudah bangun" ucap Arthur mencium chansa.
"Kau mengejutkan aku" ucap chansa berbalik berhadapan dengan Arthur.
"Benarkah? Maaf!" Ucap Arthur tersenyum.
"Aku mau mandi dulu" ucap Chansa.
"Baiklah" ucap Arthur.
__ADS_1
Setelah beberapa menit chansa keluar kamar mandi dengan sudah memakai pakaiannya. Dan kembali duduk disamping Arthur.
Arthur memeluk Chansa dari belakang yang sedang menyisir rambutnya.
"Aku mau membicarakan sesuatu padamu" ucap Arthur.
"Mau bicara apa" ucap chansa mengentikan kegiatannya menyisir rambut.
"Ayo kita menikah" ucap Arthur membuat chansa terkejut.
"Menikah?" Chansa berbalik menghadap kearah Arthur.
"Iya"
"Kau yakin? Apa ibumu sudah setuju?" Ucap chansa berharap.
"Aku tidak memberitahu dia" ucap Arthur.
"Lalu bagaimana bisa kita menikah tanpa restu, lalu Liana? Dia Tunanganmu" ucap Chansa.
"Chansa, dia memang Tunanganku tetapi yang aku cintai itu kau. Aku hanya ingin menikah denganmu" ucap Arthur.
"Ibumu tidak akan setuju" ucap chansa.
"Kita kan menikah diberlin satu bulan lagi, aku sudah menyuruh Jimmy untuk mempersiapkan semuanya" ucap Arthur.
"Bu..bulan depan? Apa maksudmu kita menikah diam-diam?"
"Tidak diam-diam aku akan memberitahu seluruh media masa dan mengundang seluruh kerabat ku" ucap Arthur.
"Ibumu dan Liana juga?"
"Tidak"
"Apa maksudmu?"
"Aku akan mengundang semua orang kecuali ibu dan Liana"
"Apa ini tidak salah? Ibumu akan marah besar nanti" ucap Chansa.
"Semua akan baik-baik saja! Kau hanya perlu menjadi pengantin yang cantik dan berdiri disampingku" ucap Arthur mengecup kening chansa.
"Arthur? Aku takut..."
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, semua akan baik-baik saja, sebelum kita ke Berlin kita akan ke Amerika untuk bertemu ibumu dan meminta restunya" ucap Arthur.
"Benarkah?"
"Tentu saja" ucap Arthur.
"Baiklah" ucap Chansa memeluk Arthur.
"Percayalah padaku, tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk bersama" ucap Arthur.
__ADS_1