
Villa,
Ceklek!!
"Selamat datang Tuan" ucap ibu Jani.
"Iya" ucap Arthur masuk kedalam.
"Tuan aku sudah menyiapkan makanan yang anda minta" ucap ibu Jani.
"Baiklah, tolong letakkan ini di kamarku" ucap Arthur memberikan jas dan tas kantornya.
"Baik" ucap ibu Jani mengambil brang Arthur dan menuju kamar.
Ruang makan,
Jimmy dan beberapa pengawal sudah berada diruang makan. Untuk melayani Arthur dan Chansa.
"Tuan silahkan" ucap Jimmy.
"Nona, silahkan" ucap pengawal lainnya pada chansa dan Jeremy.
"Ya Tuhan Chansa, baru kali ini aku merasakan jadi orang kaya. Bagaimana rasanya bisa makan satu meja dengan tuan muda Arthur ini" bisik Jeremy.
"Jerry jangan berlebihan ayo duduklah" uap Chansa.
Mereka menikmati makan siangnya, setelah selesai Chansa mengajak Jeremy ke taman belakang untuk memberi makan ikan dan melihat betapa indahnya taman yang luas dengan hamparan rumput yang sangat hijau. Dengan bunga-bunga yang sudah bermekaran.
"Arthur?" Panggil chansa.
"Ada apa?" Tanya Arthur.
"Apakah boleh aku mengajak Jeremy ke taman belakang untuk menurunkan makanan kami sebelum dia pulang?" Tanya Chansa.
"Tentu saja, setelah itu aku akan menyuruh Jimmy mengantarnya pulang" ucap Arthur.
"Baiklah"ucap Chansa.
Tanpa berlama-lama Chansa dan Jeremy menuju taman belakang yang luas itu. Taman yang sangat luas pemandangan dari atas villa Arthur benar-benar indah. Pohon yang dipangkas sedemikian rupa sangat apik dan indah.
Pohon rindang yang dibuat ayunan dan beberapa kursi putar yang dibuat dari kayu dengan desain ukiran yang terasa sangat nyata.
"Wahh Chansa setiap hari kau bisa merasakan kenyamanan seperti ini? Sungguh luar biasa, kau beruntung sekali" ucap Jeremy.
"Tidak terlihat seperti Yang ada dipikiranmu" ucap chansa.
"Apa maksudmu?"
"Yang kau lihat adalah kebahagiaan dari hidupku sekarang, tapi hatiku aku melakukan ini demi ibuku" ucap chansa.
"Apa kau tidak mencintai Arthur?" Tanya Jeremy.
"Dibilang cinta aku memang mencintainya, tapi siapa aku? Aku melakukan ini semua hanya karena surat kontrak dan demi ibuku, lagipula dia memiliki tunangan yang sangat cantik dan menawan dari segi penampilan saja aku kalah apalagi yang lainnya" jelas Chansa
"Hah? Tunangan? Bagaimana bisa dia sudah memiliki tunangan dan malah membuat kesepakatan seperti itu padamu? Dan lagi dia menyuruhmu tinggal bersamanya" ucap Jeremy.
"Aku juga tidak mengerti, tapi demi ibuku akan aku lakukan" ucap Chansa.
"Chansa, secara tidak langsung kau bukan hanya berkorban perasaan tapi juga berkorban diri demi ibumu" ucap Jeremy.
"Tidak masalah, apapun akan aku lakukan aku tidak akan membiarkan ibuku meninggalkan aku" ucap Chansa.
"Chansa, aku terharu sekali. Kau melakukan ini semua demi ibumu" ucap Jeremy memeluk chansa.
"Sudahlah jangan berlebihan aku baik-baik saja" ucap chansa membalas pelukan Jeremy.
"Ya aku percaya padamu, cepat atau lambat semua ini akan berakhir. Kau wanita tangguh dan kuat Chansa bertahanlah aku mendukungmu" ucap Jeremy.
__ADS_1
"Terimakasih Jerry" ucap Chansa.
"Kita sudah pergi terlalu lama dan ini sudah jam 5 sore aku harus pulang" ucap Jeremy.
"Baiklah, ayo" ucap Chansa.
****
Teras depan villa,
"Jimmy antarkan nona Jeremy kembali kerumahnya, pastikan dia baik-baik saja" perintah Arthur.
"Baik" ucap Jimmy.
"Terimakasih atas kebaikan tuan muda Arthur" ucap Jeremy.
"Chansa aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik" sambung Jeremy.
"Baiklah jangan khawatir" ucap Chansa.
"Nona Jeremy tenang saja, temanmu ini akan baik-baik saja" ucap Arthur.
"Aku percaya pada tuan muda Arthur" ucap Jeremy.
"Baiklah aku pergi dulu, sampai jumpa" ucap Jeremy masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati" ucap Chansa.
"Baik" ucap Jeremy sambil melambaikan tangan.
Brumm!! Jimmy berangkat mengantarkan Jeremy.
Chansa dan Arthur masih berdiri di teras. Arthur duduk disalah satu kursi diteras rumahnya.
"Kau berencana sampai malam ka berdiri disitu?" Ucap Arthur memecahkan lamunan chansa.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan mu sendirian dan melamun begitu? Jika kau diculik penguntit bukankah aku rugi besar?" ucap Arthur.
"Mengapa kau ini sangat menyebalkan" ucap Chansa berjalan masuk.
"Hei tungguin aku dong" ucap Arthur manja mengikuti langkah Chansa.
"Jangan ikuti aku" ucap chansa.
"Hei heii ayolah aku bercanda" ucap Arthur.
"Terserah padamu" ucap Chansa terus berjalan.
"Baiklah baiklah, maafkan aku" ucap Arthur dengan cepat menangkap Chansa dan memeluknya.
"Kau ini lepaskan aku?" Ucap Chansa.
"Tidak mau" ucap Arthur.
"Haihh mengapa ada orang sepertimu ini" ucap Arthur.
"Jika tidak ada kau tidak akan sebahagia ini" ucap arthur.
"Terserah apa katamu" ucap chansa.
"Apa kau menceritakan pada Jeremy mengapa kau tinggal bersamaku?" Tanya Arthur tanpa melepaskan Chansa.
"Iya, dia sahabatku dia selalu ada bersamaku disaat semua orang menjauhiku" ucap Chansa.
"Baiklah baiklah"
"Aku juga bilang padanya setelah wisuda aku akan pergi ke Berlin bersamamu?" Ucap Chansa.
__ADS_1
"Benarkah? Mengapa kau memberitahu dia?" Ucap Arthur.
"Dia akan bersedih jika aku tidak memberitahunya dari awal" ucap chansa.
"Mengapa kau bisa sebaik ini?"
"Karena akut Idak tahu bagaimana caranya menjadi orang jahat" ucap chansa.
"Hmm, gadis yang sangat polos" ucap Arthur.
"Baiklah, kau berencana sampai kapan memelukku seperti ini?" Ucap Chansa.
"Sampai.... Terserah padaku mau sampai kapan" ucap Arthur.
"Lepaskan, benar-benar menyebalkan" ucap chansa.
"Baiklah" ucap Arthur melepaskan pelukannya.
****
Malam harinya,
Setelah selesai mandi chansa memakai piyama nya dan duduk di sofa diruang TV dan memakan beberapa cemilan.
Arthur masih berada di ruang kerjanya dari sore tadi dan belum keluar hingga jam 7 malam. Dia bahkan belum makan malam.
Setelah Chansa mengantarkan makanan untuknya. Chansa kembali keruang TV dan bersantai bersama ibu Jani. Ibu Jani mengaku bahwa abru kali ini dia duduk di sofa bersama majikannya. Dan Chansa berkata bahwa dirinya bukan majikannya melainkan anaknya.
Ibu Jani dan chansa berbincang cukup lama dan bercanda dan tertawa bersama. Seperti layaknya seperti seorang anak dan ibu yang sangat akrab.
Pukul 09:00 malam, Arthur keluar dari ruang kerjanya dan mendapati Chansa yang sangat gembira berbincang dengan ibu jani.
"Ehem!!" Sentak Arthur membuat chansa dan ibu Jani kaget.
Ibu Jani langsung berpindah duduk dilantai.
"Kau.. membuatku kaget" ucap chansa.
"Eh? Ibu Jani mengapa pindah duduk?" Tanya Chansa.
"Tidak apa-apa nona" ucap ibu Jani.
"Lain kali jangan lakukan itu, tidak apa-apa jika ibu Jani sedang berbicara dengan Chansa di sofa aku juga tidak menyuruhmu berpindah" ucap Arthur.
"Baik" ucap ibu Jani.
"Aku permisi dulu tuan" ucap ibu Jani.
"Baiklah" ucap Arthur.
"Ehh??" Ucap chansa.
"Apa?" Ucap Arthur berbalik dan duduk disamping Chansa.
"Kau ini" ucap Chansa.
"Jangan marah, ahhh!!" Ucap Arthur berbaring Dipangkuan Chansa.
"Hei hei heii!! Bangunlah jika mengantuk ayo kekamar" ucap Chansa.
"Hmm biarkan aku berbaring sebentar aku sangat lelah" ucap Arthur.
"Haishh baiklah!!" Ucap chansa.
Pukul 10:00 Arthur tertidur di pangkuan Chansa dengan sangat pulas. Chansa menatap wajah Arthur yang sedang tertidur di pangkuannya. Chansa tersenyum sambil menatap wajah Arthur, Orang yang dia cintai.
Arthur kita diijinkan untuk bersama tetapi tidak untuk saling memiliki, ucap Chansa dalam hati yang membuat dirinya sendiri meneteskan air matanya.
__ADS_1