Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku

Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku
#Episode 22


__ADS_3

•••Flashback off•••


15 tahun yang lalu,


Perlombaan seni lukis,



"Bagaimana bisa kau kalah dengan gadis kecil miskin itu?" Marah jenny.


"Mama, aku sudah berusaha, tapi harus akuin juga bahwa gadis itu sangat pandai dalam melukis" ucap Arthur.


"Arthur, mama sudah memasukan kau di kursus melukis terbesar dan terbaik di kota ini. Bagaimana bisa Hanay lomba begini kau kalah dari gadis miskin" ucap Jenny.


"Mama, bagaimanapun aku sudah membuat lukisan terbaik. Walaupun mendapat juara dua" ucap Arthur.


"Mulai besok kau harus kursus lebih baik lagi" ucap jenny pergi meninggalkan Arthur.


"Tapi aku tidak berminat pada seni" ucap Arthur.


Jenny tidak mendengarkan apa yang putranya inginkan. Jenny menginginkan Arthur menjadi seperti dirinya. Memiliki beberapa museum di berbagai negara yang sangat terkenal. Dengan adanya lukisan kuno dan berbagai prasasti lama.


Dan juga jenny memiliki beberapa cabang tempat pameran lukisan terkenal yang di buat olehnya dan beberapa pelukis terkenal dari berbagai penjuru dunia.


Arthur terduduk dibawah pohon mangga yang sangat rindang dan lebat dengan memegang lukisannya. Lukisan Arthur yang dilukis dengan cat cair terbaik dan dibuat seteliti mungkin. Pepohonan dan gunung yang dibuat berwarna hijau dan kaitannya yang memantulkan cahaya biru kuning menambah lukis Arthur semakin indah.


Gubuk coklat dan padi yang dilukis sedatail mungkin dengan pematang sawah yang sangat indah. Berbagai macam pohon dan tumbuhan tumbuh dibawah pegunungan yang tinggi.


"Tuan muda kecil" panggil ibu Jani.


"Ya?" Ucap Arthur.


"Mari kita kembali kerumah" ucap ibu Jani.


"Aku masih ingin duduk disini, pemandangan disini cukup indah" ucap Arthur memandang sungai yang mengalirkan air yang sangat jernih. Dengan rumput yang tumbuh di pinggiran sungai menambah keindahan alam yang ada disekitaran sungai.


"Tuan.. tapi ini sudah siang. Waktunya makan siang" ucap ibu Jani.


"Aku belum lapar" ucap Arthur murung dan bersandar di pohon mangga.


"Laki-laki tampan mana boleh bersedih"

__ADS_1


Arthur terkejut mendengar suara yang begitu lembut nya dibawa angin menembus telinganya. Arthur berdiri dan mencari darimana asal suara itu.


Seorang gadis kecil berdiri di sebrang sungai memegang lukisannya dan menatap Arthur dengan senyuman manisnya yang membuat dirinya semakin imut.


Arthur menatap gadis kecil itu dengan heran. Bukankah dia gadis kecil yang mendapat juara pertama? Ucap Arthur dalam hati.


"Kau.." ucap Arthur.


Gadis kecil itu berjalan menghampiri Arthur melewati jembatan yang dibuat seapik mungkin.


"Hai.. aku Chansa. Maaf aku merebut juara pertamamu" ucap gadis itu memperkanalkan dirinya.


"Apa maksudmu?" Tanya Arthur.


"Maaf tadi aku tidak sengaja mendengar kau dimarahi oleh ibumu, jadi aku memutuskan untuk menghiburmu" ucap Chansa.


"Itu bukan salahmu, dari awal aku sudah bilang aku tidak tertarik pada bidang seni" ucap Arthur kembali duduk dibawah pohon.


"Lalu?"


"Aku ingin menjadi seperti ayahku, menjadi tuan muda hebat yang berpengaruh dikota ini dan menjadi pengusaha yang sukses. Tapi mamaku menyuruhku menjadi seperti dirinya" ucap Arthur.


"Menjadi seperti dirinya?" Tanya chansa.


"Apa nama ibumu itu jenny?" Tanya chansa.


"Ya itu ibuku" ucap Arthur.


"Ya Tuhan, aku tidak percaya ini. Aku bisa berbincang dengan anak dari seorang pelukis idolaku" ucap chansa bahagia.


"Oh, benarkah? Kau mengidolakan ibuku?" Tanya Arthur tidak heran.


"Ya tentu, dia pelukis idolaku aku belajar melukis karena bermimpi suatu saat bisa bekerja sama dengan ibumu.


"Yaa itu ide yang bagus" ucap Arthur.


"Heii"


"Hmm"


"Jangan bersedih cepat atau lambat ibumu akan mengerti dimana kemauan mu untuk melanjutkan masa depanmu. Ibumu hanya mencoba untuk membuat hidupmu lebih baik nantinya" ucap Chansa.

__ADS_1


Arthur terdiam mendengar ucapan chansa. Meskipun chansa masih berusia kurang lebih 6 tahun tapi pemikirannya cukup dewasa.


"Mengapa kau berkata begitu?" Tanya Arthur.


"Ibuku juga dulu menginginkan aku menjadi chef terkenal, tapi aku lebih menyukai seni lukis dibanding memasak. Dulu aku juga seperti dirimu. Mengikuti lomba masak tetapi hanya mendapat juara 2 ibuku tidak pernah marah hanya saja dia memahami kalau keahlianmu bukan di bidang memasak. Jadi ibuku mengijinkan aku mengikut kursus lukis didesa ku berawal dari situ aku mulai mengenal semua pelukis terhebat dan mempunyai impian untuk bertemu mereka aku yakin aku bisa bertemu mereka. Dan benar saja aku bertemu dengan ibumu ya meskipun tidak berhadapan dengannya. Tetapi itu cukup bagiku" ucap Chansa.


"Aku yakin suatu saat jika aku menjadi pelukis ternama aku bisa mewujudkan semua yang aku impikan, intinya harus berusaha dan bekerja keras" sambung chansa.


Arthur menatap chansa dengan keseriusan Arthur tidak menyangka bahwa gadis kecil yang dia temui ini memiliki pemikiran yang sangat sederhana tetapi memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan impiannya.


"Aku akan mendukungmu" ucap Arthur membuat chansa tertegun dengan menatap Arthur.


"Benarkah?"


"Tentu saja, kau memiliki impian yang begitu besar, dan aku juga memiliki impian yang besar. Mengapa kita tidak saling mendukung?" Ucap arthur.


"Kau baik sekali, tapi apa kau tidak malu berteman dengan gadis miskin sepertiku?" Tanya chansa.


"Memangnya kenapa? Apa orang kaya hanya boleh berteman dengan yang kaya juga?" Tanya arthur.


"Kau manis sekali,Apa boleh aku memanggilmu kakak?" Tanya Chansa.


"Tentu saja" ucap Arthur.


Dari saat itu Arthur dan Chansa berteman dan saling mendukung. Chansa pun mengajari Arthur bagaimana cara melukis secara detail dan indah. Membuat sketsa yang menarik dan cara mewarnai dengan baik. Dan Arthur pun mengajari beberapa pelajarn yang menyangkut tentang perusahaan pada chansa.


Chansa dan Arthur selalu bertemu dipinggiran sungai untuk melukis bersama. Saling mendukung bermain dan melakukan hal hal yang menyenangkan. Hingga akhirnya jenny mengetahui bahwa putranya berteman dengan gadis kecil yang miskin.


Jenny langsung membuat keputusan untuk pindah ke Chicago. Dan menetap disana sampai Arthur berusia 23 tahun dan mulai menghandle perusahaan ayahnya. Jenny pasrah dengan keputusan Arthur yang memilih untuk melanjutkan perusahaan ayahnya.


Memasuki umur 24 tahun Arthur kembali ke kota Y untuk mengembangkan bisnisnya yang sempat tertunda dan mencoba mencari chansa kembali.


Ibu Jani yang merawat Arthur dari kecil selalu mengikut Arthur kemanapun Arthur pergi termasuk kembali ke kota Y. Jimmy yang termasuk pengawal serta tangan kanan Arthur selalu berada disamping Arthur.


Arthur mencari Chansa keseluruh kampus karena perbedaan usia antara Chansa dan Arthur adalah 4 tahun seharusnya Chansa masih berusia 20 tahun.


Arthur selalu memberikan seminar ke seluruh universitas di kota Y dan mencari chansa namun tidak pernah menemukannya. Hingga Jimmy mendapatkan kabar bahwa Chansa adalah mahasiswi di universitas XXXX kota Y. Dan membawakan biodata Chansa. Universitas XXXX memang sudah pernah mengundang Arthur untuk mengisi seminar namun selalu ditolak.


Karena Arthur berfikir Chansa tidak mungkin masuk ke universitas XXXX karena chansa menginginkan seni lukis bukan kedokteran.


Arthur langsung menerima undangan dari universitas XXXX untuk memberikan seminar. Dan benar saja Arthur langsung bertemu dengan Chansa saat Chansa diganggu oleh kelompok Roby.

__ADS_1


•••Flashback on•••


__ADS_2