
Keesokan harinya,
Rumah yang bertempat disebuah bukit yang dihiasi berbagai macam tanaman dan tumbuhan yang hidup disekitar rumah membuat suasana Dipagi hari sangat cerah dan menarik.
Rumah tersebut memiliki enam kamar tidur dan sepuluh kamar mandi. Teras rumah terbuat dari kayu hias yang memiliki ukiran rumit dan cetakan mahkota.
Rumah tersebut dilengkapi dengan enam perapian. Salah satunya ada di ruang makan. Bagian dapur dibuat lebih kasual. Sementara ruang keluarga terlihat sangat nyaman dengan perapian bercorak biru.
Di lantai atas, terdapat kamar suites dengan jendela menghadap Rockford Park dan Parkway.
Sementara bagian luar terdapat fasilitas kolam renang, teras, wisma, dan taman yang dirancang oleh Arsitek Lansekap Rodney Robinson.
Pagi itu pukul 07:00 chansa masih tertidur dengan pulas dan Arthur menyuruh pelayan menyiapkan sarapan pagi untuk Chansa.
Pagi itu Arthur berenang di kolam renang belakang rumah dengan sinar matahari yang menghangatkan tubuh terasa sangat pas untuk berenang pagi itu.
Chansa terbangun dan melihat 5 pelayan yang menunggunya dikamar. Makanan dan pakaian serta air hangat untuk mandi sudah siap.
Setelah chansa mandi dan memakai pakaian Chansa langsung mencari Arthur dan meninggalkan sarapannya.
"Nona.. nona mau kemana? Tuan muda menyuruh kami untuk mengantar sarapanku" ucap salah satu pelayan yang bernama sita.
"Dimana Arthur? Aku tidak melihatnya sejak tadi" ucap Chansa.
"Nona, Tuan muda sedang berada ditaman belakang" ucap Jimmy yang baru saja dari taman belakang.
"Sedang apa dia disana?"
"Tuan muda sedang berenang nona" ucap Jimmy.
"Tolong antarkan aku kesana" ucap Chansa.
"Nona, Tuan berpesan jika kau belum makan sarapanmu nona tidak boleh bertemu dengan Tuan muda" ucap Jimmy.
"Dia bilang begitu?"
"Iya nona" ucap Jimmy.
"Keterlaluan sekali!" Ucap Chansa mengambil sandwich dari tangan sita.
"Aku akan makan" sambung Chansa berjalan duduk dimeja makan.
Setelah selesai sarapan Jimmy mengantarkan chansa ke taman belakang untuk bertemu Arthur.
Dibelakang Arthur sedang berjemur di pinggiran kolam dengan 3 pelayan yang melayaninya.
"Arthur?" Panggil Chansa.
__ADS_1
"Sayang? Kau sudah bangun? Sudah sarapan? Kau cantik sekali" ucap Arthur.
"Hentikan omong kosong itu" ucap Chansa berjalan kearah Arthur dan duduk dipinggiran kolam.
"Kau marah?" Tanya Arthur.
"Tidak!"
"Kenapa seperti itu, kau terlihat jelek saat marah" ucap Arthur.
"Kalian boleh pergi" ucap Arthur pada pelayannya.
"Baik"
Arthur menarik chansa dan tercebur ke kolam.
"Heii, apa yang kau lakukan" ucap Chansa kedinginan.
"Aku baru saja mandi kau malah membuatku basah" sambung chansa.
"Benarkah? Temani aku berenang" ucap Arthur.
"Keterlaluan sekali, aku tidak bisa berenang" ucap chansa.
"Akan aku ajari, sini berikan tanganmu" ucap Arthur mengambil tangan chansa.
"Tunggu! Bukankah kau ada rapat hari ini?" Ucap Chansa.
"Bagaimana jika kau terlambat ini bukan dikantormu sendiri" ucap Chansa.
"Kau cemas sekali" ucap Arthur.
"Bukan itu aku tidak mau jadi penghalang pekerjaanmu saat diluar negeri" ucap chansa.
"Justru kau semangat ku" ucap Arthur.
"Haihh, bicara denganmu memang sangat sulit" ucap Arthur.
"Kau sudah tau itu" ucap Arthur dengan mengajari chansa berenang.
Pukul 08:30 pagi setelah selesai berenang Arthur langsung bersiap untuk pergi ke perusahaan Berlin.
Chansa menyiapkan keperluan Arthur seperti biasanya.
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan segera pulang" ucap Arthur mencium kening Chansa.
"Aku akan selalu menunggumu" ucap Chansa.
__ADS_1
"Geovani ada dirumah, kau bisa mencarinya jika memerlukan sesuatu" ucap Arthur.
"Baik" ucap chansa.
Setelah Arthur pergi Chansa penasaran dengan sudut rumah yang begitu besar. Chansa masuk ke setiap ruangan yang sudah dibereskan dan dirapikan dengan sangat menarik.
Ruang kamar lain sedikit lebih kecil dari kamar tidur yang ditempatinya dan Arthur namun dengan tataan kamar yang sangat rapi kamar jadi terlihat klasik dan sangat luas. Chansa ditemani oleh Geovani dan sita.
Chansa menemukan ruang baca yang didalamnya terdapat banyak buku sejarah dan buku-buku kuno yang sangat langka. Buku-buku yang ditulis langsung oleh penulis ternama yang sudah menjadi buku kuno masih tersimpan dan tertata rapi.
Ruang baca yang begitu besar dengan tangga yang menjulang keatas untuk mengambil buku diketinggian. Setiap tiang yang diukir dengan sangat detail dengan berwarna coklat keputihan dan warna keemasan. Dengan lampu kuno yang terpajang dan beberapa lukisan yang dilukis oleh pelukis ternama.
"Ruangan ini besar sekali, bahkan lebih besar dari ruang tamu" ucap Chansa kagum melihat rak buku dengan nama-nama nya tersendiri.
"Nona, ruangan ini didesain langsung oleh arsitektur dari Amerika serikat" ucap sita.
"Kau tahu sejarah rumah ini" tanya chansa.
"Hanya sedikit" ucap sita.
"Benar-benar menakjubkan" ucap chansa.
Saat Chansa melihat-lihat buku dan membaca beberapa buku Chansa melihat ada tombol merah dibalik buku yang terpasang dirak buku itu.
"Ini? Tombol apa?" Ucap chansa.
Chansa menekan tombol itu dan meja bundar besar ditengah ruangan itupun berputar dan membentuk tanggga-tangga menuju ruang bawah tanah.
Chansa terkejut melihat itu semua. Sita dan Geovani saling bertatapan saat tahu Chansa menekan tombol itu.
"Ini... Apa ini..." Ucap Chansa kaget.
"Nona, ini adalah ruang bawah tanah dari rumah ini" ucap Geovani.
"Ruang bawah tanah? Ada apa didalam sana?"
"Didalam terdapat penyimpanan anggur dan pusat kebugaran" ucap Geovani.
"Bahkan ada pusat kebugaran dirumah ini? Luar biasa" ucap chansa.
"Apa aku boleh melihatnya?" Sambung chansa.
"Maaf nona, kami butuh persetujuan tuan muda untuk masuk kedalam" ucap Geovani.
"Hmm.. baiklah, padahal aku ingin melihatnya" ucap chansa mengehela nafas panjang.
"Bagaimana cara menutupnya?" Sambung chansa.
__ADS_1
"Biar saya saja yang melakukannya" ucap Geovani.
"Baiklah" ucap Chansa.