
Chansa pov,
"Hiks hiks, ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi pada hidupku, ibuku.. dia sakit separah ini dan dia.. dia memperlakukan aku seperti ini! Ya Tuhan sembuhkan lah ibuku biarkan aku dan ibu hidup seperti dulu jika ibu sudah sembuh aku akan pergi dan menghilang dari kota ini, menjauh dari pria psikopat ini" ucapku dengan menutup wajahku dengan kedua tangan.
Aku tidak tahu harus berbuat apalagi, Arthur? Pria itu? Sangat berbeda dengan Arthur yang pertama kali ku temui. Arthur yang saat itu sangat perhatian padaku tapi Arthur yang sekarang tidak lebih dari bayangan psikopat.
Aku tidak bisa melawannya nyawa ibuku ada di tangannya. Tuhan bantulah aku panjangkan lah umur ibuku. Sembuhkan dia tuhan!
Setengah jam kemudian,
Tap tap tap!!
Aku menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Aku melihat Arthur membanting semua piring dan memarahi para pelayan dan koki yang memasak makan malam.
"Bagaimana cara kerja kalian? Haaa? Koki terbaik tapi hanya begini rasa masakan kalian?" Bentak Arthur.
"Jimmy" teriak Arthur.
"Ya..yaa tuan muda" ucap Jimmy sedikit takut.
"Pecat semua koki ini dan rekrut koki lain" perintah Arthur.
"Tuan muda, tolong jangan pecat kami maafkan kami. Kami akan memasak makanan lain" ucap salah satu koki.
"Pengawal, usir mereka" perintah Arthur tanpa merespon kata-kata koki itu.
Aku tidak berani mendekat kearah Arthur atau aku juga akan dimarahi olehnya. Tiba-tiba dia melihatku berdiri ditangga bawah dan memegang tiang didekat tangga! Tatapan yang sangat mengerikan aku baru kali ini melihat orang dengan tatapan seperti ini. Rasanya seperti dia akan memakanku.
"Kalian semua pergi dari sini, Jimmy siapkan mobil" perintah Arthur dengan nada sedikit merendah.
"Ba..baik tuan muda" ucap Jimmy.
Detik berikutnya,
"Kemari" ucapan Arthur.
Apa dia berbicara padaku?
"Apa kau tuli? Aku berbicara padamu! Kemari!!" Ucap Arthur dengan nada yang masih terlihat sangat marah.
"A..aku datang"
Aku berjalan kearahnya dengan hati-hati aku takut jika dia melakukan hal yang membuatku menjadi mayat.
"A..ada apa?"
Syuhhh!! Cup!!
Ci..ciuman pertamaku!! Arthur??...
__ADS_1
Ini.. mengapa dia menciumku sangat lama.
"Umm"
"Bibir yang sangat manis" ucap Arthur dengan menyeka bibirnya.
Apa?? Bibir yang sangat manis?? Pria ini, dia telah mengambil ciuman pertamaku. Ya Tuhan kenapa aku begitu sial.
"Kau...!"
"Apa? Mau marah? Hmm?" Tanya Arthur mengangkat daguku.
"Lihat! Wajahmu sangat merah! Apa kau menikmatinya? Hmm?" Sambung Arthur.
"Heii! Mengapa diam saja? Kau terlihat sangat marah namun tidak bisa marah padaku, apa itu tadi.. ciuman pertamamu?" Sambung Arthur menyeringai.
"Bu..bukan urusanmu"
"Mau coba lagi?" Tanya Arthur mendekatkan wajahnya.
"Ti..tidakk" teriakku.
(Pria ini kenapa bisa begitu cabul)
"Jangan melihatku seperti itu, kau pasti memikirkan hal yang aneh-aneh bukan?" Tanya Arthur.
"A..aku tidak memikirkan apapun" ucapku spontan.
"Ta.."
"Jangan berbicara lagi atau aku akan menciummu hingga besok pagi" ucap Arthur dengan memalingkan wajahnya.
(Apaa?? Apa dia gila?)
"A..aku akan mengganti pakaianku" ucapku dengan cepat berbalik dan menuju ke kamar dengan cepat.
Beberapa menit kemudian,
"Jimmy pergilah ke kamar dan lihat wanita itu, hanya memakai pakaian saja sampai selama ini" perintah Arthur yang sudah mulai marah.
"Baik tuan muda" ucap Jimmy.
Tap tap tap! Jimmy menaiki tangga untuk memanggil Chansa.
Tok tok tok!!
"Nona?" Panggil Jimmy.
"I..iya?" Ucap Chansa gugup.
"Nona tuan muda sudah menunggumu begitu lama apa yang kau lakukan didalam?" Tanya Jimmy.
__ADS_1
"Emm.. ituu.. aku.. baju ini sulit di kancing aku sedang berusaha tunggulah sebentar" ucap Chansa.
"Nona apa butuh ku panggilkan pelayan untuk membantumu?" Tanya Jimmy.
"Tidak..tidak perlu, tunggu sebentar lagi" ucap chansa.
"Baik"
Jimmy kembali ke ruang tamu untuk memberitahu Arthur, Arthur yang sudah sangat marah karena menunggu terlalu lama Arthur langsung menuju kamar dengan wajah dingin.
Brak!!!
Chansa tidak mendengar bahwa Arthur masuk ke dalam kamar. Chansa masih sibuk dengan gaun yang tidak bisa dikancing karena kandungannya terlalu susah digapai.
(Gadis ini!!!) Ucap Arthur dalam hati saat melihat Chansa berusaha mengancing gaunnya.
Arthur mendekat dan mengancingkannya.
Sreeeeettt!!
Chansa terkejut saat melihat Arthur ada dibelakangnya dari cermin besar yang ada dihadapannya dan mengancingkan gaunnya.
"Ka..kau?"
"Apa? Jika aku tidak datang berapa lama lagi kau sibuk dengan gaun ini? Mengapa tidak memanggil pelayan untuk membantumu?" Ucap Arthur dengan nada tinggi dan sangat kasar.
"A..aku..."
"Cukup!!" Ucap Arthur membuat chansa kaget. Arthur menarik Chansa menuruni tangga menariknya dengan sangat kasar dan menggenggam tangan chansa dengan sangat kuat.
(Sakit sekali!!!) Ucap Chansa menahan air matanya agar tidak jatuh.
Diruang tamu Jimmy dan Gery melihat Arthur menarik Chansa dan melihat chansa meneteskan air matanya.
"Tuan muda... Itu... Nona chansa..." Ucap Jimmy terpotong saat chansa meletakkan jarinya di mulutnya menyuruh jimmy untuk diam.
Arthur berbalik dan melihat Chansa menangis air matanya sudah membanjiri pipinya.
Arthur semakin marah melihat Chansa dalam kondisi seperti itu dengan tegas Arthur menyuruh Jimmy dan Gery membatalkan ruang VIP di cafe.
"Jimmy, Gery batalkan makan malam yang sudah aku pesan!" Ucap Arthur dengan tegas.
"Tuan muda tapi ini...."Jimmy.
"Bayar saja jika mereka meminta dibayar" ucap Arthur.
"Baik tuan muda" ucap Jimmy.
"Dan kau!!" Ucap Arthur melihat ke arah Chansa dengan wajah tanpa ekspresi dan terlihat benar-benar marah.
****
__ADS_1