Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku

Bos Angkuh Itu Adalah Suamiku
#Episode 17


__ADS_3

Keesokan harinya,


Ciut cuit!! Suara burung Dipati hari mentari yang menyinari bumi menambah semerbak harus bau dedaunan hijau dan bunga-bunga dipagi hari. Mentari yang menyilaukan mata Chansa membuat Chansa terbangun.


Chansa membuka matanya dengan perlahan dan melihat Arthur tertidur pulas dihadapannya.


(Dia? Saat tertidur bukan hanya terlihat sangat tampan tapi, dia tidak terlihat seperti CEO yang angkuh) ucap Chansa dalam hati.


"Ini? Kenapa aku tidur bersamanya?" Ucap chansa pelan.


Glug glug!! Chansa meminum air putih di meja di samping tempat tidur.


Chansa bergerak sangat pelan agar Arthur tidak terbangun.


"Ini jika aku bergerak cepat pasti dia terbangun, jika dia bangun bagaimana jika dia memarahiku bergeraklah lebih pelan Chansa!" Ucapnya pada dirinya sendiri.


"Aaaa!" Teriak Chansa saat Arthur menariknya.


"Ka...kau..?" Ucap chansa terbata-bata.


Chansa tepat berada diatas tubuh Arthur.


"Aku kenapa?" Tanya Arthur menarik dekat chansa ke pelukannya.


"Ka...kau bukannya sedang tidur nyenyak ke..kenapa... Umm!" Ucap Chansa terpotong saat Arthur menciumnya.


"Ka..kau keterlaluan sekali!" Ucap Chansa menyeka bibirnya.


"Apa? Aku keterlaluan apa? Aku Hanay mencium wanitaku, apakah salah?" Tanya Arthur menatap chansa.


"Ka..kau mengapa melihatku seperti itu?" Tanya Chansa memalingkan wajahnya.


Arthur tersenyum melihat wajah Chansa memerah karena malu.


"Apa kau tahu apa kompensasi atas perbuatanmu ini" tanya arthur.


"Aku? A..aku melakukan apa?" Tanya Chansa.


"Ini kau berada diatas tubuhku, apa kompensasi Nyang cocok untukmu?" Ucap Arthur.


"Kau! Kau yang menarikku kenapa malah berkata begitu?" Ucap Chansa berusaha melepaskan diri.


Arthur membalikan badan dan berpindah tempat dan Cup! Arthur mencium chansa

__ADS_1


"Umm!" .


Arthur mencium Chansa cukup lama. Chansa tidak bisa bergerak karena sekarang Arthur berada diatasnya.


Krekk!! Pintu terbuka.


"Tua muda waktunya..."


Arthur melepaskan ciumannya dan menoleh kearah pintu.


"Aaa! Tu..tuan muda ma...maaf!" Ucap ibu Jani


Brak! Dengan cepat ibu Jani menutup pintunya. Chansa merasa malu dan mendorong Arthur.


"Ka..kau mengapa tidak mengunci pintu" tanya Chansa malu.


Arthur kaget mendengar Chansa berkata begitu.


"Jadi? Kau berharap malam berikutnya aku mengunci pintunya? Begitu?" Tanya Arthur.


"Bu..bukan begitu maksudku" ucap Chansa.


"Akan aku kabulkan" ucap Arthur.


"Tu..tunggu maksudku.. Bu..bukan begitu" ucap Chansa menarik tangan Arthur.


"Ti..tidak" ucap Chansa menutup tubuhnya dengan selimut.


Arthur hanya tersenyum melihat wajah Chansa memerah.


"Jangan menutup wajahmu dengan selimut kau harus membantuku memakai pakaian setelah ini" ucap Arthur menarik selimut.


"Tunggu... Itu.. a..aku bukan istrimu" ucap Chansa terbata-bata dan berhati-hati jika Arthur marah.


"Kau memang bukan istriku tapi ini adalah keinginanmu sendiri" ucap Arthur dingin.


Brak!! Arthur menutup pintu kamar mandi.


(Dia benar! Aku yang memilih jalan ini. Meskipun aku bukan istrinya tapi, ini lah yang tertulis di surat kontrak itu) ucap Chansa dalam hati.


Selagi Arthur masih mandi Chansa membereskan seisi kamar.


Jas dan kemeja Arthur yang tergantung di kursi dibereskan. Chansa juga menyiapkan baju yang akan dipakai Arthur ke kantor.

__ADS_1


Krekk! Arthur melihat Chansa membereskan lemari yang berisi seluruh pakaian Arthur.


"Lemari ini? Apakah ibu Jani tidak membereskannya? Mengapa berantakan begini! Dasi ikat pinggang ini pun penjempit dasi dan pin mawar ini ya tuhan!" Keluh Chansa sambil membereskan lemari.


"Aaa!" Teriak Chansa karena kaget tangan besar yang melingkar ditangannya dan nafas yang hangat di lehernya membuatnya terkejut.


"Kau!" Chansa melepaskan tangan Arthur.


"Lepaskan aku!" Ucap Chansa.


"Tidak mau!" Ucap Arthur seolah manja pada Chansa.


(Pria ini, baru semalam terlihat seperti psikopat dan pagi ini terlihat seperti anak kecil?) Ucap Chansa dalam hati.


"Aku sedang membereskan lemari mu lepaskan aku" ucap Chansa.


"Bereskan ya bereskan saja aku tidak mau melepaskan" ucap Arthur mencium leher belakang chansa.


"Kau menggangguku bagaimana bisa aku membereskan bajumu ini" ucap chansa.


"Ya ya ya baiklah aku lepaskan" ucap Arthur berbalik dan mengambil pakaiannya diatas kasur.


Chansa berbalik dan melihat Arthur.


(Apa dia marah?) Tanya Chansa dalam hati pada dirinya sendiri.


Chansa berjalan kearah Arthur dan memeluk Arthur dari belakang.


"Kau marah?" Tanya Chansa memeluk Arthur dari belakang.


"Tidak" ucap Arthur singkat.


Chansa melepaskan pelukannya dan berjalan ke depan Arthur dan mengancing kemejanya.


"Jangan marah!" Ucap chansa lembut dengan mengancing kemeja Arthur.


Arthur kaget melihat tingkah Chansa yang berinisiatif untuk melakukan hal seperti yang dilakukan oleh seorang istri.


"Aku tidak sengaja, aku tidak bisa diganggu saat sedang membereskan sesuatu" ucap Chansa memakaikan dasi Arthur.


"Jangan mudah marah atau aku akan menangis saat kau marah padaku, jujur saja aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak menangis" ucap chansa memutar dasi Arthur.


Cup! Arthur mencium kening chansa.

__ADS_1


"Aku tidak marah untuk apa aku marah" ucap Arthur Dengan memeluk pinggang chansa.


****


__ADS_2