Boss Ku, Ayah Anakku

Boss Ku, Ayah Anakku
CML


__ADS_3

Setelah pamit pada Ardi dan Clara, Daniel dan Rara tidak langsung pulang. Mereka masih bertahan di rumah sakit. Mereka harus menemui dokter yang sudah memeriksa keadaan Rara beberapa hari yang lalu. Hari ini mereka akan mengambil hasil tes lab Rara. Beruntung rumah sakit tempat Clara di rawat adalah rumah sakit yang sama. Sehingga tidak banyak membuang waktu.


Dokter mempersilahkan Daniel dan Rara untuk duduk dan mendengarkan penjelasannya.


"Selamat siang Bapak dan Ibu. Saya akan menjelaskan hasil tes lab yang sudah di jalani oleh Ibu Rara. Saya harapkan Bapak dan Ibu tidak usah takut setelah mendengarnya. Karena kita bisa mengatasinya dengan pengobatan." Ujar dokter sambil memberikan senyumnya agar suasana tegang menjadi nyaman.


Telapak tangan Rara berkeringat. Daniel melihat kecemasan di wajah kekasihnya. Dia menggenggam tangan Rara di atas pangkuannya. Berusaha mendengar dengar baik setiap kata yang di sampaikan oleh dokter sambil mengelus lembut punggung tangan Rara. Tidak bisa di pungkiri, dia pun merasa cukup gugup.


"Apakah Bapak dan Ibu siap?" Tanya dokter lembut.


Daniel dan Rara mengangguk menjawab pertanyaan dokter.


"Seperti yang saya perkirakan dari semua keluhan yang di alami, ibu Rara mengidap penyakit CML atau Chronic Myeloid Leukemia."


Mendengar kata Leukemia, tubuh Rara menegang. Wajahnya pucat seketika. Dia hampir tidak mempercayai pendengarannya. Dia yakin dokter pasti salah diagnosa. Rara menggelengkan kepalanya.


"Sayang, kamu kenapa?" Daniel cemas melihat perubahan wajah Rara. Dia juga bisa merasakan tubuh Rara mulai bergetar.


"Gak..gak mungkin. Dokter salah kan?" Rara terus menggelengkan kepalanya dan air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Dan, ini gak mungkin kan? Katakan kalau itu gak benar?" Rara menatap Daniel sambil berurai air mata. Daniel memeluk Rara memberi ketenangan.


"Sayang, kamu tenang dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan lebih lengkap ya?" Rara masih menangis dalam pelukan Daniel.


Rara yakin ini semua salah. Dia selalu hidup sehat. Dia tidak pernah melakukan hal yang dapat merusak kesehatannya. Tapi kenyataan apa yang dia dapat hari ini. Air matanya terus membasahi pipinya.


"Maaf dok. Silahkan di lanjutkan. Isteri saya hanya terkejut." Daniel terus memeluk Rara agar tetap tenang.


"Maaf kalau tadi membuat ibu terkejut. Tapi memang hasilnya tidak salah. Penyakit ini biasanya di derita oleh wanita yang berumur 40an. Tapi kadang juga tidak menutupi untuk usia 20an. Seperti yang di alami ibu Rara sekarang." Dokter kembali menjelaskan.


"Penyakit ini termasuk langka dan berbahaya apabila tidak segera di tangani. Kejadian ini bisa mencapai 20 persen dari semua kasus leukemia. Yang menjadi penyebab utama CML adalah faktor genetika atau keturunan. Sementara faktor lingkungan hanya sekian persen mempengaruhi." Lanjutnya.


"Gejala yang sudah di alami ibu Rara itu adalah gejala umumnya. Mudah lelah, tidak nafsu makan, berat badan berkurang, sering berkeringat pada malam hari, terkadang mengalami demam. Dan juga bagian perut sedikit membesar bahkan bisa lebih besar, itu karena limpa yang ikut membesar. Jadi limpa bekerja keras saling berlawanan.

__ADS_1


Dia harus memproduksi sel darah merah


Sebanyak-banyaknya untuk mengimbangi sel darah putih yang berlebih.


Penyakit ini memiliki tingkatnya sendiri. Pada umumnya penyakit kanker di atasi dengan kemoterapi atau radioterapi. Tetapi saya mau katakan bahwa penyakit yang di derita ibu Rara saat ini berada pada tahap awal. Khusus untuk CML, hanya cukup di atasi dengan minum obat atau terapi target. Dengan minumnya obatnya teratur selama 12 bulan, harapannya kadar BCR-ABL sudah dibawah 0,1 persen. Dan tentu saja target nya tidak terdeteksi lagi."


"Jadi dalam kasus ini, ibu Rara gak usah terlalu kuatir. Asal rutin meminum obatnya seperti yang saya katakan tadi, yakin ibu pasti sembuh." Ujar dokter tersebut.


Daniel merasa lega mendengar penjelasan dokter tadi. Rara juga sudah mulai tenang. Dia mengusap wajahnya yang basah dengan tisu. Daniel juga membantu merapikan rambut kekasihnya.


"Terima kasih banyak atas penjelasannya dok. Jadi kapan isteri saya bisa kontrol lagi dok?"


Dokter itu membuka agendanya lalu melirik kalender yang ada di atas mejanya "Ibu Rara bisa kontrol lagi ke sini dua minggu lagi. Untuk obatnya silahkan tebus di apotek." Dokter itu memberikan resepnya pada Daniel.


"Baiklah. Kalau begitu kami permisi dok. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


***


Tangan Daniel terulur membelai lembut puncak kepala Rara. Lalu dia menggenggam tangan kanan Rara dengan tangan kirinya yang bebas. Sesekali dia mencium punggung tangan Rara. Daniel ingin Rara tetap semangat biar apapun terjadi.


Karena perjalanan yang cukup jauh. Rara tertidur. Dia tidak terganggu dengan alunan musik di dalam mobil Daniel. Justru itu membuatnya semakin hanyut dan terlelap.


Akhirnya Daniel sampai juga di tempat tujuan. Dia membiarkan Rara beristirahat sejenak. Daniel menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Menoleh ke arah Rara. Melihat bagaimana damainya Rara dalam tidurnya.


Daniel keluar dari mobil. Dia berdiri di depan mobilnya dengan bersedekap. Sesekali kakinya menendang batu kecil di sekitar sepatunya. Langit sore terlihat begitu indah dengan suasana pinggiran danau yang sepi.


Daniel menoleh ke belakang kala mendengar pintu mobil terbuka. Daniel menghampiri dan menuntun Rara berjalan sampai pinggiran danau. Rara terkesiap melihat pemandangan danau yang indah dan menenangkan. Ini pertama kalinya Rara ke tempat seperti ini. Rara mendongak ke atas menatap wajah Daniel yang memeluknya dari belakang.


"Kamu suka?" Tanya Daniel yang juga menunduk menatap Rara. Rara mengangguk. Kemudian dia mengecup puncak kepalanya.


"Kamu tahu ini adalah tempat favoritku beberapa tahun silam. Aku menumpahkan segala isi hati ku di tempat ini. Tempat ini memberikan ketenangan buat ku." Ujar Daniel sambil mendekap erat Rara.

__ADS_1


"Sejak kamu pergi saat itu, aku selalu kesini hampir setiap minggu. Aku menumpahkan semua penyesalanku atas perbuatanku padamu dulu di tempat ini. Aku pikir aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan kamu lagi. Tapi ternyata aku salah. Takdir masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku dan mempertemukan kita kembali." Rara terkesiap saat merasakan setetes air mata jatuh di lengannya. Dia membalik tubuhnya menghadap Daniel dan memeluknya.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku. Berjuanglah untuk sembuh."


"Aku takut." Suara Rara mulai bergetar.


"Aku takut kalau aku akan mati." Air mata Rara melaju deras.


Daniel melonggarkan pelukannya. Dia menangkup wajah Rara dengan kedua tangannya.


"Hei, sayang. Dengarkan aku. Kamu gak akan mati. Aku gak akan membiarkan hal itu terjadi. Kamu dengar kan dokter tadi bilang kemungkinan untuk kamu sembuh itu sangat besar. Berjuanglah untuk tetap hidup dan sembuh. Berjuanglah untuk anak-anak kita. Berjuanglah untukku dan juga cinta kita. Hemm?" Daniel mengecup kening Rara dan membawanya kembali dalam pelukannya.


"Dalam keadaan apapun percayalah aku akan tetap bersamamu. Aku sangat mencintai mu dan aku gak mau kehilangan kamu." Daniel membelai lembut belakang Rara.


"Aku juga sangat mencintai mu dan anak-anak. Aku akan berjuang untuk kalian."


Hati Rara sangat sedih saat ini menerima kenyataan yang hampir membuat dunianya runtuh. Tapi dia punya si kembar yang harus dia rawat dan besarkan. Dia masih ingin hidup lebih lama untuk melihat tumbuh kembang si kembar sampai dewasa dan berkeluarga. Dia beruntung memiliki Daniel yang selalu ada untuknya. Dia harus bertahan hidup dan berjuang untuk mereka. Karena mereka adalah hidupnya, nyawanya.


Rara semakin menenggelamkan wajahnya di dada Daniel. "Jangan pernah tinggalin aku hanya karena aku sakit. Aku mohon."


"Kamu ini bicara apa sayang. Tentu saja aku gak akan ninggalin kamu dalam keadaan apapun. Aku janji."


"Mungkin saja kamu pengen cari wanita lain yang gak sakit seperti diriku." Rara mengerucutkan bibirnya walaupun air matanya masih menetes.


Daniel terkekeh melihat lucunya wajah Rara. Dia mencium sekilas bibir Rara.


"Aku mencintai dirimu dalam keadaan sehat ataupun sakit. Dalam keadaan suka atau duka. Gak ada wanita lain dalam hidupku, selain dirimu, mami, dan juga putri kita."


🌼🌼🌼🌼🌼


Cepat sembuh ya Rara😒


Kita yang kaum perempuan harus tetap selalu jaga kesehatan ya. Jangan pernah kita sepelekan kalau ada sesuatu yang lain dari biasanya ada di tubuh kita. Segera periksa ke dokter.

__ADS_1


Mencegah lebih baik daripada mengobati


😊😊


__ADS_2