Boss Ku, Ayah Anakku

Boss Ku, Ayah Anakku
Masa Depan Viyo


__ADS_3

"Kenapa makanannya gak di makan sayang? Dari tadi bunda lihat cuma di aduk-aduk. Kasian makanannya." Rara menegur Viyo yang sejak tadi hanya diam dan tidak sesuap pun makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Heh di tanyain bunda tuh." Ria menyenggol lengan adiknya.


"Ihh kakak apaan sih." Viyo menatap sewot kakaknya karena menganggu lamunannya.


"Di tanyain bunda malah diam. Patah hati?" Tanya Ria mencibir Viyo.


"Nah itu tahu." Jawab Viyo sambil kembali mengaduk makanannya.


"Dasar bocah." Celetuk Rio sambil memutar bola matanya malas.


"Sakit hati kenapa? Di tolak lagi?" Daniel juga ikut menimpali.


Dia sudah tidak heran dengan kelakuan putra bungsunya ini. Pasti ada saja yang di lakukan nya, entah itu menjahili kakaknya atau teman sekolahnya, atau curhat tentang cintanya yang terus di tolak.


"Coba ayah bayangin, Viyo kurang apa lagi. Ganteng iya, pintar iya, anak orang kaya iya, rebutan cewek di sekolah iya. Tapi Via gak pernah nerima cinta Viyo. Dari SD sampai SMP sekarang di tolak terus." Dengan mengerucutkan bibirnya Viyo mencurahkan isi hatinya pada Daniel.


Suara tawa menggelegar di ruang makan. Viyo mendelik kesal pada kakak-kakaknya yang menertawakannya. Bahkan Rio sampai tersedak karena tertawa.


"Rasain." Ujar Viyo pada Rio yang susah payah batuk karena tersedak.


"Kasian banget kamu de." Ria menggelengkan kepalanya sambil senyum mengejek Viyo.


Rara sedari tadi hanya bisa menahan tawa. Karena dia tahu kalau ikut tertawa maka putra bungsunya akan merajuk dan sangat susah di bujuk.


"Mau tahu kurangnya apa?otak kamu kurang bener tempatnya de." Perkataan Rio membuat Viyo mendelik sebal pada abangnya.


"Daripada abang jomblo akut." Ucap Viyo kesal.


"Biarin." Balas Rio sambil menjulurkan lidahnya pada Viyo lalu meninggalkan meja makan.


Rio sekarang sudah duduk di kelas 12. Dia sekolah di sekolah yang sama dengan sekolah kedua orangtuanya dulu. Ria juga di sekolah sama. Rio dan Ria juga menjadi pujaan di sekolah. Banyak yang berusaha untuk bisa mendekati keduanya. Bahkan ada juga yang terang-terangan menyatakan cinta pada mereka. Tapi tidak ada satupun yang berhasil. Si kembar memang fokus hanya pada pendidikan saja. Maka tidak heran mereka selalu menjadi juara kelas dan siswa yang berprestasi.


Flashback On


Viyo sedang bermain basket bersama para sahabatnya. Saat dengan tidak sengaja matanya menangkap seseorang


yang selama ini dia sukai. Vialandra Cantika.


Seperti namanya, Via memang gadis yang cantik dan juga cerdas. Hanya saja dia gadis yang dingin dan tak banyak bicara. Banyak yang menyukai Via. Tapi mereka tidak akan berani bersaing jika Viyo yang akan menjadi saingan mereka. Lebih baik mereka mundur teratur karena tidak mau mencari masalah dengan Viyo.


Via melewati lapangan basket bersama sahabatnya. Masih pagi tapi suasana sangat ramai. Karena yang di lapangan itu adalah Viyo and the genk.


Via hampir saja jatuh karena Fani menariknya ke lapangan basket. Via memberengut kesal dan ingin pergi dari sana. Tapi tangannya di tahan Fani.


"Mau kemana sih? Disini aja lihat cogan." Ujar Fani dengan mata berbinar-binar. Jangan lupakan suara Fani yang meneriakkan nama Viyo.

__ADS_1


"Viyo ganteng banget. Kamu gak pengen lihat ayank beb." Ucap Fani dengan


Dengan mengedipkan matanya pada Via.


Sambil menunjuk seorang laki-laki yang sedang mendribel bola basket dan berhasil masuk. Membuat semua gadis di sana berteriak gembira.


"Aku mau ke kelas." Ucap Via kesal.


" Kamu gak mau nyemangatin babang Viyo." Ujar Fani menggoda Via.


"VIYO! ADA VIA KASIH SEMANGAT NIH!"


Teriakan Fani membuat semua orang menatap Via. Membuat wajah Via datar dan kesal pada sahabatnya. Tanpa sengaja ketika melihat ke tengah lapangan, tatapan Via bertemu dengan tatapan Viyo yang sedang tersenyum padanya dan mengedipkan matanya sebelah.


Fani tertawa begitu bahagia melihat bagaimana wajah kesal sahabatnya. Dia paling senang melihat interaksi Viyo dan Via yang seperti tom dan jerry. Menjadi hiburan tersendiri baginya.


Viyo kemudian berhenti bermain basket lalu menghampiri Via yang berada di pinggir lapangan. Dengan muka cengirnya dia tersenyum lebar pada Via.


"Asalamualaikum masa depannya Viyo." Ujar Viyo sambil tersenyum jahil.


"Walaikumsalam." Balas Via dengan malas.


"Harusnya Via jawabnya, walaikumsalam Viyo sayang." Ucap Viyo sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil.


Via berusaha sabar dan menghela nafasnya pelan "Apaan sih gak jelas banget."


Via ingin pergi dari sana. Tapi lagi-lagi tangannya di tahan "Viyo." Via menatap Viyo tajam.


Teman-teman Viyo yang juga ada di sana bersorak girang. "Aaawwwww cie..cie..sayang..sayang."


Via menatap kesal teman-teman Viyo yang sama tidak warasnya dengan Viyo.


"Via.." Rengek Viyo.


"Apa sih" Via menatap Viyo jengah.


"Malas ah. Viyo udah ngambek." Ucap Viyo sambil berpura-pura memelas.


"Bodo amat." Ujar Via ketus.


"Aku mau minta izin sama kamu boleh gak."


"Izin apa?" Tanya Via dengan malas.


"Izin jadi imam kamu di masa depan."


"Cccooooo cwiiitttttt." Ujar teman-teman Viyo bersorak.

__ADS_1


"Ogah." Ujar Via lalu bergegas pergi dari sana.


Tapi Viyo gak mau kalah. Dia mengejar Via dan menahannya dengan berdiri tepat di depan Via. Membuat Via menabrak dada Viyo. Spontan Viyo memeluknya.


"Mimpi apa Viyo semalam bisa meluk Via kek gini." Ucap Viyo sambil tersenyum.


Via berontak melepaskan diri dari pelukan Viyo. "Viyo lepas ih."


"Viyo gak akan lepasin cinta Viyo buat Via."


Via memukul dada Viyo hingga membuat Viyo melepaskan pelukannya. "Aauuu. Untung sayang." Ujar Viyo dan mencubit pipi Via gemas.


"Via, mau kan jadi pacar Viyo?"


"Gak. Viyo ih. Dari dulu juga Via udah bilang gak mau jadi pacar Viyo." Via menatap kesal Viyo dengan penuh kesabaran tingkat akut.


"Kalau gak mau jadi pacar Viyo berarti mau jadi isteri Viyo dong." Viyo cengengesan di depan Via.


"Itu juga Via gak mau." Ucap Via dan langsung pergi meninggalkan Viyo tanpa menoleh ke belakang lagi. Viyo hanya mendesah pelan karena susahnya mendapatkan pujaan hatinya.


Flashback Off


"Memangnya Viyo beneran suka sama Via?" Tanya Daniel pada Viyo.


Viyo mendesah dan melipat tangannya di atas meja dengan muka memelas. "Viyo gak cuma suka ayah, tapi cinta. Beneran cinta sama Via. Satu-satunya di hati Viyo."


"Hueeeeeekkk." Ria berpura-pura ingin muntah mendengar ke alayan adiknya itu.


"Kakak kenapa sih? Jauh sana." Usir Viyo pada Ria. Ria pun pergi menyusul abangnya sambil tertawa meninggalkan Viyo yang kesal padanya.


"Bunda juga kenapa sih ikutan senyum-senyum gitu. Pasti mau ketawain Viyo juga." Viyo cemberut ke arah Rara.


"Siapa yang ketawain Viyo." Elak Rara lalu segera membereskan piring gelas mereka sehabis makan sambil menahan tawanya.


Daniel hanya tersenyum jahil melihat isterinya mengelak dari putranya.


"Ayah mau kasih saran buat Viyo." Ucap Daniel pada putranya.


Daniel prihatin dengan perjuangan cinta putranya yang masih duduk di bangku SMP ini.


"Jangan pernah menyerah. Maju terus pantang mundur. Kayak ayah dapetin bunda, kamu juga harus bisa dapetin dia."


Viyo terkesiap mendengar perkataan ayahnya. Membuat semangatnya kembali lagi.


"Tapi dengan satu syarat. Dapetin dia dengan cara yang bener. Jangan pernah merusak dia. Viyo harus tunjukkin kalau Viyo sungguh mencintai dia." Daniel memberi nasihat pada putranya. Dia tidak ingin kalau putranya sampai melakukan kesalahan yang sama seperti dia dulu.


"Siap ayah. Ayah memang de bes!!" Ujar Viyo lalu ber tos ria dengan ayahnya.

__ADS_1


Rara menggelengkan kepalanya melihat suami dan anaknya yang memiliki sifat dan kelakuan 11 12.


"Pasti gara-gara kemaren gak kesampaian makan es krim rasa buah naga dan keju, makanya Viyo kayak gini sifatnya." Batin Rara


__ADS_2