
Setelah 2 hari di rawat inap di rumah sakit, Rara sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Dokter juga sudah menjelaskan kondisi Rara pada Daniel. Obat yang biasa di konsumsi di ganti dengan jenis lain sesuai resep dari dokter yang menangani penyakit Rara.
Daniel juga sudah memutuskan bahwa mereka akan tinggal di rumah utama. Demi keselamatan keluarganya, Daniel sudah menyiapkan bodyguard untuk di tempatkan di setiap sudut rumah nya. Bahkan untuk keluar saja Rara atau si kembar tidak akan di ijinkan kalau bukan Daniel yang bersama mereka.
Daniel dan Rara sudah berada di dalam kamar. Dia membantu Rara untuk berbaring. Kemudian menaikkan selimut sampai batas dada Rara. Daniel mengecup sayang kening isterinya.
"Istirahat lah. Nanti aku akan kembali membawa makanan untuk mu." Ucap Daniel.
"Kamu juga harusnya istirahat. Aku tahu kamu juga lelah." Kata Rara sambil mengelus lembut wajah Daniel.
"Aku tidak pa-pa. Yang terpenting adalah dirimu."
"Kalau kamu juga sakit, lalu bagaimana dengan diriku dan si kembar." Ucap Rara dengan raut wajah sedih.
"Percayalah aku akan selalu baik-baik saja. Aku akan ke bawah dulu menyiapkan makanan untuk mu." Daniel mengecup bibir Rara lalu pergi keluar dari kamar.
Daniel bisa melihat kalau mami nya sedang sibuk di dapur memasak. Daniel datang menghampiri mami nya.
"Mana bi Rati Mi? Kenapa mami sendiri yang masak?" Tanya Daniel heran karena hanya mami nya sendiri yang bekerja di dapur.
"Tadi mami suruh bi Rati ke pasar di temani yang lain. Bahan makanan di kulkas sudah hampir habis. Gimana Rara?" Tanya mami Daniel sambil tangannya sibuk memotong sayuran.
"Rara sedang istirahat. Daniel tidak mau dia lelah." Kata Daniel.
"Kamu harus jaga dan rawat isteri kamu baik-baik. Dia menantu kesayangan mami. Gak bakalan ada yang seperti Rara lagi." Ujar mami nya mengingatkan Daniel.
"Iya Daniel mengerti mi. Cuma Rara isteri Daniel satu-satunya. Sudah pasti akan Daniel jaga dengan segenap hati Daniel." Ucap Daniel mantap.
"Awas kalau sampai Rara kenapa-kenapa kamu akan mami hukum." Ancam mami nya.
"Tidak akan mami." Kata Daniel cengengesan sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V pada mami nya.
Daniel masuk ke dalam kamar membawa makanan di atas nampan untuk Rara. Tidak lupa juga Daniel menyiapkan obat agar setelah makan Rara meminum obatnya.
"Sayang bangun dulu. Aku sudah bawa makanan." Daniel membantu isterinya untuk duduk. Daniel ingin menyuapi isterinya tapi Rara menolaknya.
"Biar aku sendiri saja." Ucap Rara.
"Baiklah." Kata Daniel. Dia memberikan makanannya pada Rara. Dia duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan isteri nya yang sedang makan. Sesekali dia menyeka sisa makanan di sudut bibir isterinya dengan tisu.
Rara sudah menyelesaikan makannya. Daniel memberikan obat dan segelas air pada Rara.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka dan nampak lah si kembar masuk ke dalam kamar. Mereka mencium bunda nya bergantian.
"Apa bunda masih sakit?" Tanya Ria.
"Tidak. Bunda hanya perlu istirahat saja." Ucap Rara sambil tersenyum pada putrinya.
"Apa bunda ingin abang pijat?" Tanya Rio sambil menyentuh kaki Rara.
"Waaahhh..apa abang sudah bisa memijat sekarang?" Tanya Rara antusias sambil menoleh suaminya lalu tertawa kecil.
"Iya. Kata opa pijatan abang hebat. Opa senang kalau abang yang pijat." Rio bercerita dengan sangat semangat.
"Baiklah. Ayo pijat kaki bunda." Kata Rara lalu membuka selimutnya dan membiarkan kakinya di pijat oleh tangan mungil Rio.
Sedangkan Ria berada dalam pangkuan ayahnya sambil memperhatikan Rio yang memijat kaki bundanya.
"Apa ayah juga ingin ade pijat seperti bunda?" Tanya Ria dengan mimik muka yang sangat menggemaskan.
"Memangnya ade bisa?" Tanya Daniel agar putrinya merasa tertarik. Ria menggangguk dengan semangat.
"Tentu saja ade bisa. Ade juga gak kalah hebat dari abang." Kata Ria yang membuat Rio menjulurkan lidahnya pada adiknya.
"Coba ade pijat ayah. Rasanya pundak ayah sangat pegal." Ujar Daniel.
"Ade tenyata hebat bunda. Pegal di pundak ayah langsung hilang karena pijitan ade." Kata Daniel pada isterinya sambil tersenyum lebar.
"Abang juga hebat ayah. Kaki bunda sekarang tidak sakit lagi. Abang memang pintar sekali memijit kaki bunda." Rara juga ikut menimpali perkataan Daniel.
Mendengar perkataan orang tua mereka yang memuji pijatan mereka, si kembar semakin semangat. Daniel dan Rara tertawa bahagia. Daniel dan Rara memberikan hadiah ciuman untuk kedua buah hati mereka. Daniel juga memberikan kecupan ringan untuk isterinya.
***
Hari ini Daniel sudah kembali bekerja. Asisten pribadi yang di minta pun sudah ada. Namanya Riko. Umurnya masih muda. Dia baru saja menyelesaikan studi S1 nya. Nita sudah menjelaskan apa-apa saja yang harus dia kerjakan sebagai asisten pribadi Daniel.
Daniel senang dengan cara kerja Riko yang cekatan dan rapi. Dia sangat mudah di ajari dan cepat mengerti dengan apa yang Daniel sampaikan padanya.
"Permisi pak. Ini ada laporan mengenai pembangunan proyek kita minggu kemarin." Kata Nita yang sedang berdiri di depan meja Daniel.
"Letakkan saja di atas meja. Nanti akan saya periksa." Ujar Daniel.
"Riko tolong kamu cek jadwal pertemuan saya hari ini. Saya ingin memastikan agar waktunya tidak terlalu sore."
__ADS_1
"Baik Pak." Ucap Riko lalu menyerahkan gadget nya pada Daniel dengan menampilkan jadwal meeting nya dengan beberapa klien hari ini.
"Batalkan meeting saya jam 3 sore. Alihkan pada jam makan siang besok." Kata Daniel. Dia tidak ingin terlambat pulang ke rumah. Karena ingin fokus merawat Rara.
"Baik Pak." Kata Riko. Dia kemungkinan menuruti keinginan bos nya. Lalu memberikan konfirmasi pada sekretaris perusahaan yang akan menjadi klien perusahaan Daniel.
Terdengar ketukan pintu. Daniel mengangkat kepalanya dan menoleh siapa tamu yang datang.
"Hei bro lama gak lihat muka lo jadi kangen gue." Ucap David sambil tertawa. Di belakangnya ada Ardi yang menyusul David.
Tanpa di persilahkan keduanya langsung duduk di sofa. Daniel tidak heran dan sudah sangat hafal dengan kelakuan sahabatnya ini.
"Ada angin apa lo berdua datang kesini?" Tanya Daniel yang kemudian menghampiri sahabatnya dan ikut bergabung dengan mereka di sofa.
"Gue dengar Rara masuk rumah sakit. Sorry gak sempat jenguk bro. Kebetulan gue di Malaysia waktu itu." Kata David.
"Dari mana lo tahu isteri gue sakit?" Daniel memberi kode untuk Riko agar meninggalkan dia dan sahabatnya. Riko pun mengerti dan segera keluar dari sana lalu memilih untuk duduk di dekat meja Nita.
"Dari Ardi." Kata Daniel sambil menunjuk Ardi dengan ujung jari telunjuknya.
"Waktu itu gue ngantar Clara cek kandungan. Pas mau pulang ketemu ama bokap dan nyokap lo. Mereka kasih tahu kalau isteri lo sedang di rawat saat itu." Ujar Ardi yang menceritakan pertemuannya dengan Papi Daniel di parkiran rumah sakit.
"Owh gitu." Daniel hanya angguk-angguk saja.
"Lalu bagaimana kondisi Rara sekarang?" Tanya David.
"Isteri gue baik-baik saja. Hampir saja nyawa isteri gue melayang."
"Maksud lo?" David sedikit terkejut.
"Hari pertama isteri gue di rawat, ada yang ingin menyuntik racun ke selang infus Rara pas gue tinggal ke kamar mandi." Kata Daniel menceritakan pada sahabatnya.
"Isteri lo gak pa-pa?" Tanya David lagi dengan antusias. Dia tidak menyangka ada yang ingin mencelakakan isteri sahabatnya.
"Untungnya gak pa-pa karena gue sempat melihat. Tapi sayangnya gue kehilangan jejaknya." Ujar Daniel sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa tindakan lo?" Tanya Ardi yang juga ingin tahu apa yang akan Daniel lakukan selanjutnya.
"Gue sedang menyelidikinya. Gue sudah minta seorang detektif melakukan penyelidikan. Gue juga sudah menempatkan bodyguard untuk menjaga keluarga gue. Gue pastiin dia bakal menyesal karena sudah berani mengusik keluarga gue." Geram Daniel saat mengingat orang itu yang ingin menyuntik racun pada isterinya.
"Syukur lah kalau Rara selamat. Kalau lo butuh bantuan gue, gue akan dengan senang hati membantu lo." Kata David.
__ADS_1
"Terima kasih bro." Ucap Daniel dengan senyumnya.
Ardi lebih banyak diam mendengarkan perbincangan kedua sahabatnya. Sepertinya ada yang di sedang dia pikirkan.