
Kenapa sayang? Kenapa gak tidur?"
Tanya Daniel. Dia yakin pasti ada sesuatu yang di inginkan isterinya tengah malam begini.
"Aku mau es krim." Ucap Rara manja.
"Sebentar aku ambil ke bawah." Daniel ingin turun dari tempat tidur tapi di tahan Rara.
"Aku mau kamu beli dari luar." Cicit Rara
"Sayang mana ada jam seperti ini jual es krim." Kata Daniel dengan lembut.
"Aku mau es krim rasa buah naga." Rengek Rara
"Mana ada es krim rasa buah naga."
Daniel mengusak rambutnya mendengar permintaan aneh isterinya. Dimana dia bisa dapat es krim rasa buah naga.
"Jadi gini rasanya Ardi dulu ngurusin isteri ngidam tengah malam?" Batin Daniel.
"Kamu gak mau ya?" Ujar Rara sambil matanya sudah berkaca-kaca. Terang saja membuat Daniel terkesiap.
"Bukannya gak mau sayang. Tapi mana ada es krim rasa buah naga." Daniel berusaha memberikan pengertian pada isterinya.
"Tuh kan. Bilang aja kamu gak mau. Hiks." Rara menangis dengan memeluk lututnya sendiri.
"Astaga sayang. Kenapa kamu jadi nangis. Kasian anak kita kamu nangis gini." Ucap Daniel sambil bingung harus bagaimana agar Rara mengerti kalau es krim rasa buah naga itu tidak ada.
"Kalau kamu kasian sama anak kita kenapa kamu gak mau beliin yang aku minta.hiks."
Daniel mengusap wajahnya kasar dan mendesah pelan. "Aku akan belikan. Tapi cari rasa yang lain ya. Sampai bulan depan juga rasa buah naga gak ada yang jual sayang."
"Ya udah. Aku minta es krim rasa keju."
Daniel ingin sekali menenggelamkan dirinya saat ini di dalam laut berkumpul bersama spongebob dan Patrick ketika mendengar yang di minta isterinya. Di minta ganti rasa malah yang ini lebih ekstrim lagi rasanya.
"Rasa keju juga gak ada sayang." Daniel berusaha menahan rasa kesal pada isterinya.
Tangis Rara malah makin menjadi karena yang dia inginkan juga di tolak Daniel. "Kamu gak sayang aku lagi." Ujar Rara lalu membaringkan dirinya membelakangi Daniel.
Daniel menggeram tertahan. Jelas tidak mungkin dia memarahi isterinya walau sekesal apapun dirinya. Daniel mengelus dadanya pelan supaya lebih tenang menghadapi isterinya yang sangat sensitif karena sedang hamil.
"Sabar..sabar..suami sabar di sayang isteri." Batin Daniel.
"Sayang, ayolah jangan nangis ya. Aku akan belikan es krim sebanyak yang kamu mau. Tapi rasa keju juga gak ada sayang." Ucap Daniel sambil menyentuh pundak isterinya.
Rara menyibak selimutnya lalu duduk kembali. Rambutnya berantakan.
"Ya udah. Beliin aku rasa vanila dan coklat." Kata Rara sambil mengerucutkan bibirnya.
"Coba dari tadi minta yang itu." Gerutu Daniel yang tidak sadar masih di dengar oleh isterinya.
"Kamu gak mau juga ya?" Rara terisak lagi.
__ADS_1
"Astaga sayang. Iya iya ini aku mau beli." Dengan wajah kesal Daniel beranjak dari tempat tidur dan memakai bajunya.
"Tapi kenapa muka kamu kayak marah gitu sama aku?hiks.."
"Enggak sayang. Kata siapa aku marah. Lihat nih." Daniel memberikan senyum terpaksa pada Rara.
"Ya sudah. Pergi sana! Aku tidur dulu." Rara lalu berbaring lagi dan membelakangi Daniel.
Daniel hanya mendesah pelan sambil menatap isterinya sebentar. Mengambil jaketnya lalu keluar kamar mencari permintaan isterinya.
.
.
.
Jam 2 pagi baru Daniel menemukan toko yang masih buka jual es krim. Beruntung yang di minta isterinya ada semua. Untuk jaga-jaga Daniel membeli banyak es krim untuk stok apabila Rara minta lagi.
Dengan rasa lelah dan mengantuk, Daniel akhirnya sampai rumah juga. Dia bergegas masuk ke kamar untuk menemui isterinya.
"Sayang, es krimnya sudah ada nih." Daniel membangunkan isterinya.
Dengan mata yang berat Rara membuka matanya. Daniel membantu Rara untuk duduk. Lalu Daniel membuka tutup cup es krim dan memberikan untuk isterinya.
Bukannya di makan, Rara hanya menatap es krim di tangannya. Dia cium aromanya sebentar lalu di berikan nya lagi pada Daniel.
"Kenapa gak di makan?" Tanya Daniel heran.
"Sudah." Jawab Rara cuek.
"Gak pengen lagi. Kamu aja yang makan. Aku pengen tidur lagi." Tanpa peduli dengan wajah kesal Daniel, Rara justru kembali tidur.
Daniel menggeram kesal pada Rara. Tapi sekali lagi dia tidak berani memarahi isteri nya. Daniel keluar dari kamar dengan langkah sedikit di hentakan kasar karena kesal. Dia menyimpan es krim tadi di kulkas lalu kembali ke kamar.
Daniel membaringkan dirinya membelakangi Rara. Hal yang tidak pernah di lakukan Daniel sebelumnya. Ketika mata Daniel mulai terpejam, dia merasa kalau tubuhnya di tusuk-tusuk dengan jari oleh seseorang. Dia tahu itu ulah isterinya. Daniel berpura-pura tidur dan cuek. Tapi tusukan itu semakin sering di sekitar punggungnya. Daniel tetap cuek menahan dirinya untuk tidak berpaling.
"Sayang..hiks..kenapa kamu tidurnya gak peluk aku..hiks.." Suara isak tangis Rara membuat pertahanan Daniel runtuh. Dia tidak tega mendengar isterinya menangis.
Dia mengubah posisi tidurnya lalu menarik isterinya ke dalam dekapannya.
"Kamu marah ya? Hiks.."
"Enggak sayang. Aku gak marah. Aku hanya lelah saja." Jawab Daniel lembut.
"Sekarang tidurlah. Ini sudah hampir jam 3 pagi." Kata Daniel sambil membelai lembut kepala isterinya.
Rara semakin merapatkan dirinya dalam pelukan Daniel dan akhirnya terlelap juga.
***
Pagi di kantor Daniel merasa sangat mengantuk. Daniel tidak konsentrasi pada pekerjaannya. Dia tidak bisa menyalahkan Rara yang menyebabkan hal ini. Bagaimanapun itu terjadi karena Rara sedang hamil. Jadi dia harus memaklumi isterinya.
Daniel berdiri dari kursinya mengunci pintu ruangannya. Lalu melangkah menuju sofa dan berbaring disana. Daniel memejamkan matanya karena lelah dan mengantuk.
__ADS_1
Nita sempat mendengar suara kunci dari dalam. Dia mengerti kalau atasannya sedang tidak ingin di ganggu. Tadi sempat beberapa karyawan yang ingin menemui Daniel, di tolak Nita. Kemudian Nita mengatakan pada mereka untuk kembali setelah makan siang saja.
Hampir 3 jam lamanya Daniel tidur. Dia terbangun karena mendengar dering ponselnya. Tapi dia biarkan saja. Dia enggan untuk bergerak dari pembaringannya. Daniel membuka matanya masih dalam posisi telentang dalam waktu lama. Kemudian dia duduk sampai merasa tenaganya terkumpul kembali.
Daniel beranjak berdiri lalu menuju wastafel untuk mencuci wajahnya. Ketukan pintu membuat Daniel mempercepat kegiatannya lalu membuka pintu sambil mengelap wajahnya dengan tisu.
"Lo ngapain pintu di kunci segala? Lo lagi ehem ehem ya di sini?"
Daniel melempar tisu bekasnya tadi ke muka David karena kesal dengan tuduhan tidak mendasar.
"Ngomong kayak tol kagak ada remnya lo." Ucap Daniel mendengus kesal.
"Gak kayak biasanya lo ngunci pintu. Terus lo ngapain?" Tanya David penasaran.
"Terus itu muka lo kenapa kayak gak tidur semalaman." Lanjut David.
"Emang gue kurang tidur. Makanya tadi pintu gue kunci biar gue bisa tidur tenang. Tapi ternyata tetap ada aja setan yang ganggu." Ujar Daniel cuek.
"Maksud lo gue setannya?" Tanya David sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Nah itu setannya jawab sendiri." Kata Daniel sambil terkekeh.
"Dasar rese lo." David mencibir.
"Kurang tidur kenapa lo? Biasanya juga segar mulu."
"Gimana gue gak kurang tidur. Setengah 12 malam Rara bangunin gue minta di belikan es krim rasa buah naga sama keju."
David tertawa terbahak sambil memegang perutnya karena mendengar betapa menderitanya Daniel.
"Dasar teman lucnut lo." Ucap Daniel
kesal karena David menertawakannya.
"Terus dapat?"
"Sampai Rara lahiran juga gak bakal ada rasa begituan." Ucap Daniel sambil mendengus kesal.
"Ileran dong ntar anak lo. Katanya kalau gak di penuhi keinginan isteri ngidam, anaknya lahir nanti ileran." Kata David.
"Gue minta ganti rasa. Akhirnya mau rasa vanila dan coklat. Ya udah gue pergi beli. Jam 2 pagi baru nemu tu es krim. Sampai di rumah bukannya di makan, malah cuma di tatap dan di cium doang baunya. Kesel gak lo."
Tawa David semakin keras di ruangan Daniel hingga membuat Daniel melempar bantal sofa ke arah David.
"Kualat Ardi lo." Ucap David terkekeh.
"Gue sumpahin juga lo hamil Jane nanti, ngidamnya bikin lo bakal menderita lebih dari gue." Kata Daniel sambil tersenyum mengejek.
🌼🌼🌼🌼🌼
Hai pembaca setia novel Lidya👋
Gak henti-hentinya Lidya mengucapkan terima kasih buat dukungannya karena sudah memberikan vote, komen, rate 5 dan juga like nya🙏
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya readers ku sayang😊