
Sepulang dari rumah sakit David mendatangi rumah Eric. Tapi pelayannya bilang kalau Eric tidak pulang dari tadi siang. Dia menghubungi ponsel Eric berkali-kali selalu saja operator yang menjawab.
David sangat kuatir dengan sahabatnya. Bagaimanapun dia juga ikut merasa bersalah karena menyembunyikan tentang hubungan Ardi dan Clara. David hanya mendesah berat dan akhirnya memilih untuk pulang ke rumahnya.
"Dan, lo dimana?"
"Gue baru sampai rumah. Kenapa?"
"Gue kuatir sama Eric. Tadi gue ke rumahnya, dia belum pulang dari tadi siang. Ponselnya juga gak aktif."
David melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dia sangat mencemaskan Eric saat ini.
"Eric butuh waktu sendiri saat ini. Bukan hal yang sederhana untuk dia bisa menerima semua kenyataannya. Gue yakin Eric pasti baik-baik saja."
"Gue harap juga begitu." Ujar David nyaris tak tertangkap pendengaran Daniel.
"Ya sudah. Besok saja kita datangin Eric ke kantornya."
"Baiklah. Sampai jumpa besok."
***
Satu minggu setelah Eric mengetahui tentang sebuah pengkhiatan, sekalipun dia sudah tahu kebenarannya dia memutuskan untuk kembali bekerja. Sudah banyak pekerjaannya yang terbengkalai karena pikirannya kacau balau. Walau hatinya masih sakit dan terluka tapi hidupnya harus terus berlanjut. Dia tidak akan menyerah pada keadaan. Dia bertekad bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tidak mungkin baginya untuk memaksa Clara menikah dengannya. Sedangkan Ardi sudah bersedia bertanggung jawab. Mengingat keduanya membuat Eric mengepalkan tangannya di atas meja. Sungguh dia tidak menyangka kisah cintanya akan seperti ini. Kekasihnya sudah menjadi milik sahabatnya.
"Aaaaaggghhhhh."
Eric mendesah berat dan menghempaskan dirinya di kursi kerjanya. Matanya menatap langit-langit ruangannya dengan tatapan yang tidak menentu. Air matanya menggenang di pelupuk matanya yang siap tumpah kapan saja.
"Haruskah rasanya sesakit ini?"
Gumam Eric sambil menyentuh dada kirinya. Air matanya pun tumpah juga kala dia membuka kembali foto-foto Clara bersama dirinya di galeri ponselnya. Begitu banyak kenangan yang dia lalui bersama Clara wanita yang sangat dia cintai.
Clara yang mampu membuatnya memiliki cinta sebesar ini. Clara yang mengisi hari-harinya selama dua tahun ini. Clara yang memberi warna dalam hidupnya. Dan Clara juga yang memberi luka ini. Bisakah luka ini sembuh? Mampukah dia melupakan Clara? Mampukah?? Eric menutup layar ponselnya.
Dia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Berdiri dan melangkahkan kakinya ke wastafel. Dia membasuh wajahnya dan menatap dirinya di cermin. Wajah yang menyimpan kecewa, luka, sangat menyedihkan. Dia membasuhnya lagi kemudian mengelapnya dengan tisu. Beranjak dari sana.
__ADS_1
Eric mengenakan jasnya, kemudian mengambil ponsel, kunci mobil dan juga dompetnya. Lalu keluar dari ruangannya dan berhenti di meja sekretarisnya.
"Tolong batalkan semua pertemuan saya hari ini." Ucap Eric kemudian berlalu dari sana.
Sekretarisnya masih menggantungkan kalimat yang ada dalam tenggorokannya yang masih belum sempat keluar dari mulutnya. Karena boss nya sudah pergi, meninggalkan dia yang masih bingung dengan perilaku boss nya yang tidak biasanya.
.
.
.
"Papa pikir kamu lupa rumah." Senyum mengembang di wajah pria paruh baya itu kala melihat putra bungsu kesayangannya datang. Sudah begitu lama putranya ini tidak datang berkunjung.
"Bagaimana kabar papa? Sehatkan?" Eric memeluk papa nya dengan kasih sayang. Karena kesibukannya dia sampai tidak punya waktu untuk berkunjung.
"Kau lihat saja betapa bugarnya papa." Eric dan papa nya tertawa lepas.
Kemudian mereka menikmati hari itu dengan makan siang bersama dan kembali duduk santai di taman belakang rumah. Sambil menikmati tehnya, Eric terus memperhatikan kegiatan papa nya yang memberi makan ikan kesayangannya.
Eric menghembuskan nafasnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Papa Eric kembali duduk di sampingnya. Dia menoleh dan melihat putranya sekilas lalu tersenyum kecil.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Tanya papa Eric.
Eric belum menjawab. Dia memainkan jari jemarinya sendiri sambil memandang langit yang cerah dari tempat duduknya cukup lama.
"Apa tawaran papa untukku mengelola salah satu cabang perusahaan di luar negeri masih berlaku?" Tanya Eric dengan suara lirihnya.
Papa nya sangat tahu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi pada putranya, hingga dia ingin mengambil tawaran itu. Sudah sangat lama papa nya meminta Eric melakukannya, karena mengingat Kakak tertua Eric cukup kewalahan dengan menangani 2 perusahaan sekaligus. Tapi Eric tetap memilih untuk tinggal di Indonesia saja. Dengan alasan supaya bisa lebih sering menjenguk papa nya. Walaupun alasan sebenarnya adalah dia tidak mau berjauhan dengan Clara. Tapi rupanya keadaan sekarang harus memaksanya untuk menerima tawaran itu.
"Kapanpun kamu mau tawaran itu masih terbuka untuk mu." Kata papa Eric.
"Biar nanti Edo yang akan mengurusnya di sini." Lanjut papa nya.
Edo adalah kakak Eric yang nomor dua. Mereka tiga bersaudara. Sedangkan kakak tertua Eric berada di Singapura.
"Kapan kamu ingin pergi?"
__ADS_1
"Aku ingin pergi lusa Pa."
"As your wish." Ujar Papa Eric.
***
Hari ini adalah hari yang di nantikan oleh Eric. Hari dimana dia akan meninggalkan Indonesia untuk memulai hidup yang baru dari awal lagi di negara lain. Seluruh karyawan di perusahaannya sudah mengetahui tentang pengunduran diri Eric. Kakak keduanya Edo yang akan menggantikan posisinya.
Banyak karyawan yang menyayangkan pengunduran dirinya. Karena mereka sangat nyaman dengan kepemimpinannya. Dia di kenal sebagai pemimpin yang baik dan juga ramah pada bawahannya. Khusus karyawati yang jomblo di buat sedih karena mereka tidak akan bisa lagi melihat boss tampan mereka setiap hari.
Sekali lagi dia menyusuri setiap sudut rumahnya. Dia mengingat semua yang terjadi di rumahnya. Mengingat semua kenangannya. Dia menatap kamarnya kembali. Menelisiknya sekali lagi. Pandangannya jatuh pada sebuah foto dengan figura cantik dia atas meja kecil dekat tempat tidurnya.
Foto itu memperlihatkan kemesraan dua insan yang sedang berpelukan dengan senyum bahagia menghiasi wajah mereka. Dia ingat foto itu di ambil satu bulan setelah mereka jadian. Cukup lama Eric memandang fotonya dan Clara. Hingga kemudian dia telungkupkan foto itu di sana.
Eric melirik jam tangannya, tidak lama lagi dia akan take off. Dia keluar dari kamar menggeret kopernya dan memasukan nya ke dalam bagasi mobil. Sekali lagi dia memandang rumahnya sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil dan memilih pergi.
Dia memutuskan pergi tanpa sepengetahuan Daniel, David, ataupun Ardi. Dia memang sengaja untuk tidak memberitahukan mereka. Dia tidak ingin itu akan membuat keputusannya gagal. Bahkan Eric juga meminta pada papa dan juga kakaknya Edo untuk tidak mengatakan kemana dia pergi.
Ketika sudah berada dalam pesawat, Eric memandang keluar dari jendela pesawat di sisinya. Memandang masa lalu yang sebentar lagi akan dia tinggalkan untuk meraih kehidupan yang baru. Dia teringat dengan perkataan papa nya sebelum dia pulang–
"Jadilah lelaki yang tegar dan kuat. Buktikan bahwa kamu mampu melewati semuanya."
Eric mendesah pelan tanpa menyadari satu tetes air matanya jatuh di punggung tangannya. Dia mengusap ujung matanya.
"Berbahagialah. Aku tinggalkan semua kenangan kita bersamamu." Gumam Eric sebelum dia memejamkan mata, menikmati perjalanannya di udara.
🌼🌼🌼🌼🌼
Bisa kalian bayangkan gimana rasanya ada di posisi Eric😢😢
Dua wanita yang dia sayangi dan dia cintai semua meninggalkannya😢
Sabar ya mas Eric..
Kalau ada yang mau, Lidya akan buat cerita khusus tentang mas Eric. Silahkan komen di bawah ya😊
Thanks a lot untuk like, vote dan juga komennya🙏
__ADS_1