
Asti lo mau kemana?" Naira berteriak memanggil Asti.
Mendengar nama Asti, Rara mencari sumber suara. Tatapan Rara dan Asti bertemu. Bisa Rara lihat bagaimana bencinya Asti padanya melalui tatapan itu. Asti segera meninggalkan restauran dan pulang dalam marah.
"Lo tunggu saja Ra." Geram Asti.
Rosa menahan tangan Naira. "Udah biarin."
"Tapi Rosaโ." Ujar Naira sambil menatap Rosa bergantian juga menatap punggung Asti yang sudah tidak keliatan lagi.
"Mending kita habiskan makanan dulu. Setelah itu kita pergi." Rosa kembali menikmati makanannya.
Sebenarnya Rosa ingin sekali memarahi Asti. Tapi dia tahu bagaimana watak Asti. Dia menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Asti. Dia tidak akan tinggal diam kalau Asti berani berbuat nekat hanya karena obsesinya pada Daniel.
David melongo melihat kejadian barusan. Dia kembali melihat Daniel dan juga Rara.
"Asti kenapa? Gak kaya biasanya." Ujar David bingung.
"Kemarin dia datang ke kantor ganggu makan siang gue sama Rara juga si kembar. Kebetulan ada nyokap gue juga. Terus dia juga sempat bikin nyokap gue marah." Ujar Daniel menceritakan kejadiannya.
"Gilak tu Asti nekad banget." David tidak habis pikir dengan kelakuan Asti yang menurutnya sudah di luar batas.
"Lo harus hati-hati. Rara sama si kembar juga harus benar-benar di jaga. Menurut gue Asti gak cuma suka sama lo tapi dia udah terobsesi sama lo." Ucap David mengingatkan sahabatnya.
"Nyokap juga ngomong gitu ke gue. Kalau dia berani secuil aja nyentuh Rara sama anak-anak gue, gue pastiin hidupnya gak bakal selamat." Geram Daniel sambil mengepalkan tangannya di atas meja.
***
Dalam perjalanan pulang Daniel dan Rara mampir ke toko perhiasan langganan orang tua Daniel. Mereka memesan cincin pernikahan.
"Kamu suka model seperti apa sayang?" Tanya Daniel ketika Rara sedang melihat-lihat di etalase.
"Aku mau model seperti ini aja." Tunjuk Rara pada sebuah cincin putih yang memiliki mata kecil di tengahnya. Rara suka yang sederhana dan tidak mencolok.
"Baiklah. Mbak, tolong pesan model seperti itu." Ujar Daniel pada penjaga toko. Kemudian penjaga toko mengukur jari manis Daniel dan Rara agar nanti cincinnya pas di jari mereka.
Setelah melakukan pembayaran, Daniel dan Rara memilih untuk berbelanja sebelum mereka pulang. Tidak lupa juga Rara membeli es krim kesukaan si kembar.
"Ra, setelah kita nikah aku mau kamu resign aja ya dari kantor." Kata Daniel sambil fokus menyetir.
Rara lalu menoleh ke arah Daniel. "Koq gitu sih? Aku kan masih mau kerja. Nanti yang ada aku bosan Dan." Ujar Rara sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya maksud aku, biar kamu lebih banyak istirahat sayang. Dokter bilang kamu gak boleh capek. Lagian kalau di rumah sekalian kamu bisa jagain si kembar juga."
"Ya tapi kanโ"
"Sayang, aku mau kamu tetap sehat dan kamu cepat sembuh. Kamu dan anak-anak adalah prioritas buat aku sekarang. Penghasilan ku juga lebih dari cukup untuk biaya hidup kita. Aku mohon kamu turutin ya." Kata Daniel sambil mengusap lembut puncak kepala Rara, lalu kemudian menggenggam tangan kiri Rara.
"Baiklah. Nanti akan ku pikirkan." Ujar Rara dengan nada memelas.
Daniel hanya terkekeh melihat wajah Rara yang agak cemberut.
"Makasih sayang ya." Kata Daniel. Rara menggangguk pelan.
__ADS_1
.
.
.
"Ayaaaaaaaaaaaahhh" Ria menghambur ke dalam pelukan Daniel lalu mencium kedua pipi ayahnya, ketika Daniel dan Rara baru masuk ke dalam rumah.
"Kangen ya sama ayah?" Tanya Daniel sambil mencium gemas kedua pipi putrinya.
"Iya ade kangen sama ayah." Ujar Ria senang.
"Ayah aja nih yang di kangenin. Bunda enggak ya." Ucap Rara dengan mimik muka pura-pura sedih.
"Kangen bunda juga." Ujar Ria lalu mengecup pipi bundanya.
"Abang mana?"
"Sama oma opa di belakang." Jawab Ria.
Mereka bertiga lalu melangkahkan kaki menuju teras belakang. Di mana bisa mereka lihat Rio membantu oma nya menanam bunga. Sedangkan opa nya sedang memberi makan ikan kesayangannya.
"Wah ada yang lagi belajar jadi tukang kebun nih." Goda Daniel. Membuat mami dan Rio menoleh ke belakang.
"Ayaaaaah." Ujar Rio senang. Daniel mengecup puncak kepala putranya.
"Cuci tangan dulu. Tadi bunda sudah beli es krim untuk ade sama abang." Kata Daniel pada putranya.
"Iya ayah." Ujar Rio patuh.
***
Sehabis mandi Daniel turun ke bawah dan menuju dapur. Dia melihat Rara sedang sibuk memasak untuk makan malam. Daniel lalu menghampiri Rara dan mengecup puncak kepalanya.
"Astaga! Kamu bikin kaget aja." Rara terkejut karena Daniel yang muncul tiba-tiba. Hampir saja spatula yang di pegang Rara mendarat di kepala Daniel.
"Ddiihh, kejam amat. Kamu mau aku jadi korban KDRT ya." Kata Daniel dan sedikit menjauh dari Rara.
"Siapa suruh ngagetin." Cebik Rara kesal.
"Habisnya kamu kalau masak gini kelihatan sexy." Goda Daniel sambil mengedipkan matanya nakal pada Rara.
"Jangan mulai deh." Rara memutar bola matanya malas lalu kembali pada masakannya lagi.
"Sayang, panggil anak-anak makan malam dulu." Ujar Rara sambil menata semua masakannya di atas meja.
"Tadi kamu bilang apa? Ulangi lagi." Pinta Daniel kegirangan. Untuk kedua kalinya Daniel mendengar Rara memanggil dirinya 'sayang'.
"Apaan sih." Ujar Rara malu-malu.
"Ayo dong ulangi lagi." Daniel merayu dan menggoda Rara.
"Cepetan panggil anak-anak. Kasian mereka sudah lapar." Ujar Rara.
__ADS_1
"Panggil kaya tadi baru aku mau." Bujuk Daniel.
"Dan, jangan kaya anak kecil deh."
"Gak. Kalo kamu gak panggil aku dengan panggilan sayang, aku gak akan beranjak dari sini." Daniel tetap pada pendiriannya tidak mau beranjak dari tempat duduknya.
Rara menghembuskan nafasnya kasar dan akhirnya memilih untuk mengalah. Daripada si kembar kelaparan karena kelakuan Daniel seperti anak kecil.
"Sayang ku, Daniel Mahendra yang tampan. Tolong panggil anak-anak ya." Ucap Rara dengan mimik muka yang sengaja di buat semanis mungkin dan senyum terpaksa.
Daniel tertawa terbahak karena melihat raut wajah Rara yang lucu dan menggemaskan karena terpaksa mengulangi kata 'sayang' untuk nya. Daniel memberikan flying kiss sambil tersenyum senang dan beranjak dari duduknya memanggil si kembar dan juga kedua orang tuanya.
Keluarga Mahendra menikmati makan malam mereka dengan di selingi obrolan ringan. Orang tua Daniel senang dengan keberadaan mereka di rumah. Membuat rumah tidak sepi. Di tambah lagi Rara yang sangat rajin dan telaten mengurus keluarganya.
"Kalau boleh, mami mau setelah menikah kalian tinggal saja di sini. Biar mami sama papi gak kesepian di rumah." Kata mami Daniel.
"Nanti akan kami pikirkan Mi. Ade sama abang boleh tinggal di sini sampai kami menikah. Gimana sayang?" Ucap Daniel lalu meminta persetujuan dari Rara.
"Aku gak masalah. Asal mereka senang saja." Kata Rara.
"Ade sama abang mau tinggal dengan oma dan opa?" Tanya Daniel pada si kembar.
"Asalkan selalu ada es krim, ade mau."
"Abang juga. Asalkan ada mainan baru setiap hari."
Daniel, Rara, dan juga orang tua Daniel tertawa mendengar permintaan polos si kembar.
"Opa jamin mainan baru dan es krim selalu ada untuk abang dan ade." Ujar Tuan Arnold di selingi dengan tawa bahagianya. Karena inilah yang di inginkan orang tua Daniel, berkumpul bersama anak cucu menantunya untuk menghabiskan hari tua mereka. Sampai waktunya tiba Sang Pencipta memanggil mereka.
"Yeeeeaaaayyyyy." Sorak si kembar girang.
Selesai makan malam, Rara mengantar si kembar ke kamar. Mengajak mereka untuk menggosok gigi sebelum tidur. Si kembar membaringkan tubuh mereka di tempat tidur. Rara mengambil buku cerita dan mulai membacanya hingga si kembar terlelap. Setelah memastikan si kembar sudah tidur, Rara menaikan selimut sampai batas dada mereka lalu mematikan lampu dan keluar kamar.
"Mereka sudah tidur?" Tanya Daniel ketika Rara masuk kamar.
"Iya."
"Kamu juga istirahat. Jangan lupa minum obatnya." Daniel tak pernah bosan mengingatkan Rara untuk rutin meminum obatnya.
Rara urung ingin membaringkan dirinya kala mendengar nada pesan di ponselnya.
"Siapa?" Tanya Daniel.
"Gak tau. Nomornya gak terdaftar." Jawab Rara lalu menyerahkan ponselnya pada Daniel.
Tiba-tiba saja rahang Daniel mengeras ketika membaca pesan ancaman yang di terima Rara.
From : 08571272XXXX
Gue gak akan biarin lo bahagia
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1
Nah lho bikin dag dig dug kan.
Makasih buat like, vote dan juga komenya guys๐๐