
Daniel harus cepat pulang setelah mendapat telepon dari isterinya. Rio merengek karena ingin bertemu dengan Nana nya. Daniel memijit pelipisnya. Bagaimana bisa anak sekecil Rio bisa bucin begitu. Ardi harus tanggung jawab sampai membuat putranya menangis hanya karena ingin bertemu dengan putrinya yang masih bayi.
"Kenapa lo ketawa?" Daniel kesal karena mendengar Ardi tertawa terbahak di seberang sana setelah mendengar kalau Rio menangis ingin bertemu putrinya.
"Gue gak nyangka masih bayi saja anak gue sudah bisa bikin anak lo klepek-klepek. Apalagi kalau sudah dewasa nanti." Ujar Ardi masih tertawa.
"Lo di mana? Gue mau ke rumah lo sama si kembar."
"Bentar lagi gue pulang."
"Oke. Bye."
Daniel merapikan semuanya agar tertata rapi kembali sebelum dia pulang. Dia menoleh sebentar ke arah Riko. Lalu mengenakan jas nya.
"Riko tolong email kan buat saya draf rencana pembangunan apartemen dengan Graha Group. Saya harus pulang segera." Ujar Daniel.
"Baik pak." Ucap Riko sambil memberi hormat dengan sedikit menundukkan dirinya pada Daniel.
***
Daniel dan keluarganya tiba di rumah Ardi. Rio keluar dengan girang dari mobil.
"Nanaaa...Nanaaa..abang Rio datang." Kata Rio langsung masuk ke dalam rumah saat pintu di buka.
Daniel menepuk jidatnya saat melihat kelakuan Rio. Sedang kan Ardi terkekeh.
"Abang. Jangan teriak. Nanti adik bayinya bangun." Tegur Ria pada kakaknya.
"Namanya bukan adik bayi. Tapi Nana." Ujar Rio mendengus pada adiknya.
"Tante, Nana mana?" Ujar Rio yang tidak sabar ingin bertemu Nana nya.
"Sana di box sedang bobo." Ucap Clara sambil menyiapkan minuman untuk Daniel dan keluarganya.
"Abang. Jangan ganggu Nana sedang tidur. Tunggu dia bangun ya sayang." Ujar Rara pada putranya.
Tapi Rio malah tetap melangkahkan kakinya menuju box bayi tempat Baby Queena tidur nyenyak. Mata Rio berbinar kala melihat Nana nya terlihat cantik walau sedang tidur.
"Abang, kenapa berdiri di sini? Ade mau datang bunda." Ujar Ria
"Pergilah. Abang mau sama Nana." Ucap Rio tanpa mengalihkan pandangannya dari baby Queena.
Clara datang bergabung sambil membawa minuman dan juga cemilan. Clara duduk di samping suaminya. Dari kejauhan Clara bisa melihat Rio yang masih setia berdiri di dekat box bayi putrinya. Dia terkekeh dan membuat Ardi bingung lalu menoleh pada isterinya.
"Sayang, kenapa?" Tanya Ardi.
"Lihat sana." Clara menunjuk Rio sambil tersenyum geli.
"Anak lo kenapa Dan, bucin banget sama anak gue." Kekeh Ardi.
__ADS_1
"Lo tanya aja sendiri sama orangnya." Kata Daniel sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Semoga saja abang kalau udah gede gak kayak ayahnya." Celetuk Rara yang membuat Daniel tersenyum jahil ke arahnya.
"Tapi kamu suka kan." Daniel mencubit pipi Rara gemas.
"Ayah pipi bunda merah tuh." Kata Ria cemberut lalu mengelus sayang pipi bunda nya.
"Habis bunda ngegemesin banget." Ucap Daniel mencubit pipi Rara lagi.
"Sssttt..masih ada orang di sini." Sindir Ardi pada Daniel.
"Gue kira tadi patung." Ujar Daniel sambil mencibir.
Rara dan Clara terkekeh melihat kelakuan suami mereka seperti anak-anak.
"Jadi gimana? Tanggal berapa tahun berapa?" Tanya Daniel sambil tertawa kecil
"Tanggal berapa tahun berapa apaan?" Ardi mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan Daniel.
"Pernikahan anak kita." Jawab Daniel dengan tertawa terbahak.
"Oke. Kita jodohin anak kita kalau gitu mulai dari sekarang. Biar Queena ada yang jaga." Kata Ardi juga sambil terkekeh.
"Gimana sayang kamu setuju gak?" Tanya Daniel pada isterinya.
"Biarkan saja mereka dekat dengan sendirinya. Kalau memang jodoh, mau kemana juga pasti bakal ketemu." Kata Rara.
"Genit ya." Ujar Rara mendengus pada suaminya.
"Aku setuju sama Rara. Biarin aja mereka menikmati hidup mereka dari sekarang sampai mereka dewasa nanti. Lagian kami juga akan di tinggal di luar negeri. Kalau memang jodoh mereka pasti bertemu lagi." Ujar Clara sambil tersenyum.
"Kalau mereka memang jodoh gue senang banget." Kata Ardi lalu merangkul isterinya. Dan di iyakan juga oleh Daniel.
"Tante, Nana bangun." Ujar Rio menghampiri keluarganya.
"Queena pasti lapar. Makasih ya abang sudah jagain Nana." Ujar Clara tersenyum lalu berdiri melangkah menuju kamarnya.
"Iya tante." Ucap Rio dengan tersipu malu.
"Astaga! Anak ayah sejak kapan malu-malu gitu." Kata Daniel lalu mengacak rambut putranya dengan gemas.
"Mending anak lo punya malu. Lah elo kagak punya malu." Ujar Ardi tertawa terbahak yang di balas Daniel dengan tatapan kesal. Membuat Rara juga ikut tertawa.
"Kali ini aku setuju sama kamu." Ujar Rara pada Ardi. Hingga membuat Daniel menampilkan wajah merajuk ala Daniel.
"Kamu gitu sih sayang sama suami sendiri." Ujar Daniel sambil mukanya sengaja di buat cemberut.
"Gak usah lebay deh." Ucap Rara cuek.
__ADS_1
Clara datang membawa baby Queena. Membuat semangat si kembar ingin mendekatinya. Terutama Rio. Clara meminta Ardi untuk menyediakan tempat agar baby Queena bisa di letakkan di lantai. Setelah Ardi meletakkan kasur bayi di lantai, Clara meletakkan Queena di sana. Sehingga membuat si kembar bisa bermain dengannya.
"Adik bayi..adik bayi..ayo bermain bersama ade ya." Ajak Ria sambil memainkan jari mungil Queena.
"Sayang, hati-hati ya jangan kuat pegang tangan adik bayinya." Ujar Rara memperingati putrinya.
"Iya bunda."
"Nana sama abang ya. Nanti abang yang jagain Nana." Ujar Rio yang terus memperhatikan Queena menggerakkan kaki dan tangannya.
"Nana jangan isap kaus tangannya. Itu kotor." Kata Rio karena melihat Queena yang sering memasukkan kaus tangannya ke dalam mulut.
Sedangkan ke empat orang dewasa yang ada di situ hanya tersenyum bahkan kadang tertawa karena melihat kelucuan anak mereka.
"Bunda, kenapa Nana gak bisa di kasih tau jangan isap kaus tangan." Ujar Rio mengerucutkan bibirnya.
Rara tidak bisa lagi menahan tawanya. Lalu mendekati putranya sambil mengelus lembut puncak kepala Rio.
"Abang, Nana masih bayi. Jadi masih belum bisa mengerti apapun. Abang waktu masih bayi juga kayak Nana." Ujar Rara memberi pengertian pada putranya.
"Tapi abang gak nakal kan bunda?" Tanya Rio lagi.
"Tentu saja abang gak nakal. Ade sama abang anak-anak yang pintar dan patuh sama bunda juga ayah."
Rara menemani si kembar bermain dengan baby Queena. Hati Daniel menghangat kala melihat isteri dan anak-anaknya saling menyayangi satu sama lain.
Clara menyandarkan kepalanya di dada Ardi. Dia tidak menyangka kehadiran seorang anak di usianya sekarang malah membuat hidupnya merasa lengkap. Ardi memeluknya dan mencium puncak kepala Clara.
"Kenapa?" Tanya Ardi lembut.
"Gak. Aku hanya gak nyangka sekarang aku sudah jadi wanita seutuhnya." Ujar Clara sambil mendongak menatap Ardi yang juga menatapnya.
"Kehadiran Queena membuat perubahan dalam hidup kita. Kamu dan Queena adalah prioritas utama bagiku." Ujar Ardi sambil memperat pelukannya pada isterinya. Terserah dunia ingin menghakimi dirinya seperti apa. Karena bagi Ardi dia hanya peduli pada kebahagiaan keluarganya sekarang dan selamanya.
***
Asti sedang menikmati latte di cafe favorit nya. Suasana sore yang lumayan sejuk. Karena cuaca agak sedikit mendung. Sebuah kursi bergeser dari tempatnya. Seseorang kini sedang duduk berhadapan dengannya.
"Sorry gue telat. Banyak yang harus gue kerjain." Ucap Riko.
"Lo mau pesan apa?" Tanya Asti.
"Samain aja sama lo." Lalu Asti memanggil pelayan cafe dan memesan seperti yang Riko mau.
"Gimana perkembangannya? Ada peluang?" Tanya Asti sambil menyesap latte nya.
"Minggu depan Daniel ada jadwal perjalanan bisnis ke luar negeri selama 3 hari." Ujar Riko santai.
"Lalu?"
__ADS_1
"Ya lo pikirin sendiri gimana. Gue sudah kasih lo peluang." Kata Riko sambil bersedekap dada.
"Gue gak akan sia-siakan kesempatan ini."